The Girl That Got Away - 5

2018 Kata
            I think the hardest kind of breakup is when two people are meant to be together, but something won't allow them to be at the moment                                                                                 - pinterest.com -   Satu minggu, dua minggu berlalu hingga satu bulan dilewati Nathan dengan perasaan gundah dan aneh. Kepalanya selalu dipenuhi dengan Mia dan Ben! Dan itu sangat membuatnya jengkel. Ia akan segera keluar dari sekolah ini dan tidak akan melihat Mia dan Ben lagi. Dadanya cukup panas bila melihat Mia dan Ben yang selalu terlihat bersama pada setiap kesempatan. "Kayak upil aja nempel terus!" gumam Nathan seraya beranjak dari kursinya di kantin dan keluar dari sana. Kedua sahabatnya yang selalu setia menemani kemanapun Nathan melihat ke arah Mia dan Ben yang sedang saling menyuapi makan siangnya. Mereka berdecak sambil ikut beranjak mengikuti Nathan. "Lo cemburu Bro?" tanya Rino. Nathan menggeleng, "Enggak" "Kalo enggak kok gerah?" timpal Zack. Nathan menatapnya, "Gue gerah karena AC di kantin tiba-tiba jadi panas, k*****t!" "Bilang aja kalau cemburu Bro..." Nathan menghela napasnya sambil berhenti mendadak dari langkahnya yang cepat tadi, membuat Rino yang ada di belakangnya kesulitan menahan diri dan malah menabraknya. "Gue bilang gue enggak cemburu!" Rino mengusap hidungnya, Ya Allah terima kasih hidung ini masih sempurna, hampir aja bengkok gara-gara nabrak batu karang, Rino bersyukur dalam hati. "Aah! Bokis lo, gue aja cemburu! Masak lo enggak?" sambung Zack. "Kenapa lo enggak pacaran juga aja sih Bro? Banyaaak cewek yang ngantri tuh!" seloroh Rino. "Enggak ada waktu ngurusin cewek!" sahut Nathan memilih duduk di kursi yang ada di taman sekolahnya. "Lu pikir bayi harus diurusin, dia bisa ngurus dirinya sendiri..." sahut Rino lagi sambil ikut duduk di sebelah Nathan. "Tuh lihat di sana tuh..." Rino menunjuk seorang wanita cantik yang sedang berjalan di seberang taman, "itu anak kelas 12 C, namanya Megan. Cantik kan?" tanya Rino. Nathan ikut melihat ke arah yang ditunjuk Rino, "Gue tahu dia..." "Nah! Apalagi lo udah tahu---pacarin gih!"  Nathan menggeleng, "Noooo, bukan type gue" "Dasar sableng! Mia enggak, Megan enggak, lo suka cewek enggak sih?!" Rino menatap Nathan dengan mata hitamnya, "jangan-jangan lo cintanya sama gue lagi?" tanya Rino asal. "Diiih! Lo juga bukan type dia Nyet!" sambar Zack mendorong tubuh Rino sampai hampir tersungkur. "Ah lo jangan cemburu gitu dong Kadal, gue setia kok..." kelakar Rino sambil mengusap tangan Zack dengan gaya melambai. "Ih, najis!" Zack bergidik ngeri dan menepiskan tangan Rino dengan kasar. Nathan tertawa terbahak melihat kelakuan dua sahabatnya ini. . . Keesokkan harinya, Nathan memilih tidak makan siang dari pada harus melihat pasangan menyebalkan itu. Ia memilih ke perpustakaan dan membaca buku mengenai desain bangunan. Tiba-tiba saja notifikasi ponselnya berbunyi. Dari Mia?   Gimana rambutku, cantik kan? Mata Nathan membesar melihat foto yang dikirim Mia. Mia memotong rambut panjangnya, tanpa memberitahunya?? Padahal sebelumnya Mia selalu minta pendapatnya kalau mau merubah model rambutnya. Dan sekarang ia membuat rambut panjangnya hilang?! Entah kenapa rahang Nathan mengeras menyadari pendapatnya tidak lagi dibutuhkan. Jari-jarinya dengan cepat mengetik sesuatu untuk membalas pesan Mia. Kenapa rambut kamu?? Kamu di mana? Sementara itu Mia yang ada di seberang sana membulatkan matanya ketika melihat pesan Nathan yang masuk. Padahal ia sedang menunggu pesan dari Ben. Mia makin gugup ketika ia sadar bahwa ia salah mengirim pesan yang seharusnya ia kirim pada Ben, pacarnya. Ya Tuhan, kenapa jadi kirim ke Nathan? Mia gelisah. Ia tahu Nathan tidak membolehkan ia memotong rambut panjangnya dan barusan ia mengirim foto dengan rambut barunya. Mia sedang tidak enak badan hari ini dan ia tidak masuk sekolah, Ben mengatakan akan menjenguknya sepulang sekolah nanti. Perihal rambut pendeknya, ini adalah keinginan Ben. Dan Mia langsung setuju karena ia memang ingin penampilan baru untuk dirinya yang 'baru'. Aku potong, bosen dengan rambut panjang. Pengin penampilan baru aja. Aku enggak sekolah. Setelah menekan tombol send. Mia berguling-guling di atas tempat tidurnya, salah tingkah dan merasa serba salah. Balasan Nathan masuk dengan cepat, Pengin penampilan baru atau keinginan Ben? Ya, Ben memang pengin aku berambut pendek juga sih... Rahang Nathan berkedut membaca balasan pesan dari Mia. Sejak kapan Mia mau dengerin omongan orang? Dan Ben bisa-bisanya meminta Mia potong rambut? Nathan memejamkan matanya menahan diri untuk tidak menghambur keluar mencari Ben dan menghajarnya habis-habisan. Nathan tidak rela kehilangan rambut panjang Mia. Eh tapi kenapa dia yang kebakaran jenggot? Memang siapa Mia baginya? Nathan menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras sambil mendengus. Ia bangkit dari duduknya dan menghentikan kegiatannya membacanya, mood-nya seketika hilang. Ia menghela napasnya panjang, merapikan bukunya dan melemparkan ponselnya begitu saja ke dalam tasnya. Ia benar-benar merasa sedang ingin menghajar seseorang sekarang ini. Nathan melenggang keluar dengan wajah tegang, membuat siapapun yang menghalangi jalannya akan minggir karena takut berurusan dengannya. Tak terkecuali Rino dan Zack yang berpapasan dengannya di pintu masuk dan melihat Nathan keluar dengan wajah gusar. Zack menatap Rino, "Nah lho, kenapa lagi tuh si Mas Bro?" tanyanya. Rino menggeleng penuh rasa iba, "Tahu tuh. Kasian gue lihat hidupnya. Ganteng tapi enggak menikmati kegantengannya, buat apa coba? Mending gue, muka pas-pasan tapi cewek banyak. Nah die, dideketin si mata biru, pura-pura enggak mau. Sekarang malah sengsara ngelihat Mia udah punya pacar...sedih---sedih---" ujarnya panjang lebar. Zack mengangguk setuju sembari menarik Rino untuk bergerak mengikuti Nathan, ia takut temannya itu nekat loncat dari gedung sekolah karena patah hati. "Nathan itu gengsi dipelihara! Pelihara tu, anjing---" ujarnya sambil menoleh ke Rino. "k*****t! Ngomong anjingnya enggak usah ke gue!" maki Zack. "Suruh makan tu gengsi temen lo!"sembur Rino, "enggak sadar apa dia, kalau selama ini sebenernya dia cinta mati juga sama Mia. Emang dianya aja sih belagu! Gayanya aja enggak mau pacaran, mau belajar! Fokus ujian! t*i emang tu Nathan! Makan tuh ujian!" sambung Rino masih memaki Nathan. "Heh! Lu kalo ngomong jorok banget sih! t*i-t*i! Kotoran gitu kek!" sahut Zack. "Kotoran ayam?!" tanya Rino. "Muka lu tuh!" "Elu!" ujar Rino meraup wajah Rino dengan tangannya yang lebar. . . . Pulang sekolah, Nathan tidak bisa menahan diri untuk tidak membelokkan motornya ke arah rumah Mia. Ia memarkirkan motornya di halaman rumah Mia. Mbok Jum menyambutnya. "Eh Mas Ganteng Nathan. Kemana aja sih? Mbok Jum sampe kangen deh" sapanya ketika Nathan turun dari motor dan membuka helmnya. Nathan tersenyum mendengar sapaan Mbok Jum. "Hallo Mbok, enggak ke mana-mana kok" Nathan merapikan rambutnya dengan jari-jarinya dan meletakkan helmnya di atas motornya, "Mia ada kan?" tanya Nathan. "Mba Mia ada di kamarnya, katanya tadi pagi hidungnya mampet. Takut enggak bisa napas katanya nanti di sekolah, Jadi Mba Mia enggak masuk deh. Eh, Mas Ganteng tahu enggak kalau kalau Mba Mia sekarang pacaran sama Mas Ben?" tanya Mbok Jum mulai ngajak menggosip. Nathan hanya tersenyum malas karena mendengar nama Ben. Ia masuk ke dalam rumah menuju kamar Mia. Mbok Jum masih memperhatikan Nathan yang melenggang sambil menggigiti gagang sapu yang dipegangnya. Padahal Mba Mia itu cocok banget sama Mas Nathan yang ganteng banget itu lho. Kenapa malah sama Mas Ben ya? Batin Mbok Jum. Nathan mengetuk pintu kamar Mia dan membukanya begitu mendengar kata "masuk" dari dalam kamar. Diam-diam Nathan berdoa semoga foto dirinya tidak digantikan dengan foto si Bento itu! Ia melihat kening Mia yang berkerut menatapnya. "Kenapa? Kamu mengharapkan orang lain yang datang?" Mia berdiri dari tempat tidurnya, "Nathan??" Nathan menuju tempat tidur Mia dan duduk di tepiannya. "Kamu kenapa enggak sekolah?" tanyanya. Mia agak canggung mendapati Nathan yang tiba-tiba jadi perhatian padanya. "Aku---ehm, enggak sakit banget sih, cuma tadi pagi agak pilek dan sumeng-sumeng gitu, jadi Mama bilang aku istirahat aja di rumah..." Mata Nathan sekarang menatap rambut Mia, ia menghela napasnya, "Papa kamu bolehin kamu potong rambut?" tanyanya. "Papa belum tahu---tapi ini kan rambut aku Nath! Kenapa aku harus minta persetujuan semua orang untuk potong rambut?" Mata Nathan membesar, "Karena selama ini kamu selalu begitu kan Mi?" "Aku sekarang beda! Aku udah besar dan bisa memutuskan sendiri, aku yakin Papa paham itu" "Ben membuat kamu berubah, kan?" Mia terlihat menelan ludahnya. Matanya berputar dan mengerjap bersamaan, ia takut Nathan mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan rapat-rapat dari siapapun. Tapi Nathan cukup peka untuk hal itu, ia malah menatap Mia makin intens. "Ada apa?!" tanyanya mengintimidasi. "Mia?" Mia pura-pura melangkah ke arah ballkon dan membuka pintunya, udara luar membuatnya bisa bernapas lega. Ia tidak mungkin memberitahu Nathan bahwa sebuah tatto kupu-kupu ada di bagian tubuhnya saat ini. Jantungnya berdetak makin kencang ketika ia merasakan kehadiran Nathan di sebelahnya. Nathan memegang pagar besi di balkon Mia dengan kedua tangannya, ia menatap Mia yang menghindari tatapannya. "Kamu bahagia sama Ben, Mi?" tanya Nathan tiba-tiba dan membuat darah Mia berdesir lebih cepat dari biasanya. Aku berusaha bahagia untuk melupakan kamu, Nath. Batinnya. Mia mengangguk, "Ya, aku happy---[Mia menelan ludahnya]---Ben bisa ngertiin aku" sahutnya. Nathan mengangguk, "Good, sepertinya begitu. Aku senang" ujarnya. Mia menoleh ke arah Nathan, "Benarkah? Kamu pasti senang aku enggak gangguin kamu lagi, kan?" Nathan manggut-manggut lagi, ia juga memalingkan wajahnya menatap mata biru Mia. Matanya sangat indah, banyak cinta untuknya---dulu. Terpaan angin menggoyangkan rambut Mia yang pendek. Mia tetap cantik dengan rambut pendeknya, hanya saja Nathan lebih suka Mia dengan rambut panjangnya. Yang membuatnya benci rambut pendek Mia sekarang adalah karena ada campur tangan Ben dalam keputusan Mia memotongnya. Ia menggeram dalam hati. Jantungnya berdebar keras karena tatapan Mia sekarang. Nathan buru-buru memalingkan lagi pandangannya ke arah danau. "Kamu tadi kirim foto, maksudnya apa? Pengin aku tahu kalau kamu potong rambut? Atau kamu sengaja mau membuat aku marah?" tanya Nathan.   "Eh, itu---aku minta maaf, Nath. Sebenernya tadi itu aku salah kirim" terangnya dan membuat Nathan melotot tidak percaya. Nathan menoleh cepat dan memicingkan matanya pada Mia, "Salah kirim? Maksudnya kamu enggak berniat kirim foto itu ke aku?" tanya Nathan memastikan. Mia mengangguk dengan ekspresi takut akan reaksi Nathan selanjutnya. Marah. "Wow!" Rahang Nathan mengeras. "Harusnya kamu kirim ke Ben?" Mia mengangguk. "Iya, maaf Nath" Dada Nathan meradang menyadari Mia yang sering mengirimkan foto-fotonya pada Ben. Padahal sebelumnya Mia melakukan hal itu padanya. Selalu mengirimkan kegiatannya lewat foto atau video ke ponsel Nathan, sekalipun Nathan tidak membalas, Mia akan terus mengirimkannya. Nathan merasa sudah terbiasa dengan hal itu. Dan sekarang ia mengirimkannya pada Ben?? Nathan mendengus kesal. Ia masuk kembali ke dalam kamar Mia, meraih jaket dan kunci motornya. Mia memanggilnya sambil mengikutinya dari belakang, "Nath..." "Semoga kamu cepat sembuh Mi..." tukasnya sambil membuka pintu kamar dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Kurang lebih tiga meter lagi jaraknya ke motornya, sebuah mobil sport warna kuning muncul di depan rumah Mia dan Nathan tahu itu adalah Ben. Dengan cepat Ben keluar dari mobilnya dan menghampiri Nathan. Mia yang ada di ambang pintu merasa was-was akan ada pertumpahan darah. "Mau ngapain lo datengin pacar gue?" tanya Ben songong. Nathan yang postur tubuhnya lebih tinggi dari Ben tidak gentar, ia malah maju mendekatkan dirinya pada Ben dan menatapnya tajam. "Bukan urusan lo, banci kepo!" Mata Ben melotot dan berniat melayangkan pukulan ke arah Nathan, tapi Mia lebih cepat menariknya menjauh dari Nathan. "Sudah Ben, Nathan mau pulang, oke...dia mau mampir memberikan titipan untuk Mama, dari Mamanya..." karang Mia sekenanya. Nathan menatapnya dengan ekspresi aneh. Mianya berubah... "Lo harusnya bisa titip aja sama Mbok Jum, enggak harus ketemu Mia kan?" Rahang Nathan berkedut lagi, ia mendekat lagi ke arah Ben, "Lo siapa ngatur-ngatur hidup gue?" "Gue pacarnya Mia, dan gue berhak ngatur Mia untuk ketemu siapa aja! Lo enggak tahu kan betapa seriusnya gue sama dia?" Ben menatap Mia sekaligus merangkul pundak Mia. Nathan tersenyum kecut. "Mia punya tatto nama gue dan sebaliknya!! Kalo lo mau tahu!" bongkar Ben dan membuat Nathan terperanjat sembari memalingkan wajahnya ke arah Mia dan menatapnya tajam. "Apa?? Itu benar Mi?" tanya Nathan memastikan. Mata Mia membesar ke arah Ben. Dasar mulut ember! Maki Mia dalam tatapannya. "Bukan, aduh---aku bisa jela---" Ben menyela, "Kenapa kamu harus kasih penjelasan ke dia? Dia kan cuma mantan kamu Tamia! Bebasin dia mau berpikir apa tentang kamu!" Nathan meraih kerah Ben, hingga Ben berjinjit, "Bisa enggak mulut lo diem sebentar?! Apa perlu sepatu gue nutup mulut lo?" Ben berusaha melepaskan cekalan Nathan, namun sepertinya tangan Nathan terlalu kuat, sehingga ia hanya bisa menggeram. "Nathan! Lepasin Ben!" jerit Mia. Nathan menatap Mianya sebentar dan menatap Ben lagi. "Lo berani sentuh Mia, lo mati!" ancamnya dan melepaskan Ben sambil mendorongnya tidak begitu keras. Ben melongo, yang pacar Mia dia atau Nathan sih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN