The Girl That Got Away - 4

1526 Kata
  Foto Mia di aplikasi i********: menuai banyak pujian lagi. Teman-teman dan pengikutnya berkomentar memuji kecantikan Mia dan mengatakan bahwa pacarnya beruntung memiliki dia. Pasti yang dimaksudnya adalah Nathan. Nathan melemparkan ponselnya ke tempat tidurnya. Seharusnya hal ini tidak mempengaruhinya, tapi kenapa sekarang ia merasa marah kalau ada yang memuji Mia di depannya? Ini pasti karena ia merasa, sebagai kakaknya sudah seharusnya ia melindungi Mia dari cowok-cowok b******k yang mengincarnya dan ingin memanfaatkannya. Nathan meraih gitarnya dan membunyikannya asal.  "b******k!" geramnya kesal. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi ia belum juga bisa memejamkan matanya. Model bikini? Yang benar saja? Ponsel Nathan tiba-tiba berbunyi, sebuah pesan dari Mia masuk. Aku kok enggak bisa tidur ya? Kamu udah tidur belum Nath? Nathan segera membalasnya, Belum. Nath, menurut kamu aku buang-buang waktu enggak sih ngejar-ngejar kamu? Nathan menghela napasnya sebelum menulis jawabannya, Iya. Jawaban Mia masuk dengan cepat, Oya? Jadi menurut kamu, aku memang lebih baik menyerah aja? Sementara itu di ujung sana Mia menunggu dengan cemas jawaban Nathan, ia berjanji pada dirinya sendiri, kalau kali ini jawaban Nathan menginginkan dirinya menyerah, maka ia akan menyerah. Mungkin apa yang dikatakan sahabatnya ada benarnya, bahwa mencintai satu pihak itu hanya akan menyakiti diri sendiri dan buang-buang waktu, terlebih kalau orang yang kita cintai itu memang sama sekali enggak ada perasaan apapun... Ponsel Mia berbunyi, pesan Nathan masuk. Aku udah bilang itu dari dulu. Kepala Mia manggut-manggut sambil menahan dadanya yang sakit. Menyerah? Kamu enggak pernah bilang, kamu cuma menyiratkan. Cari pria lain yang benar-benar cinta sama kamu Mi. Perut Mia bergejolak, Kamu yakin, Nath? Karena aku enggak mau lakuin itu kalau kamu enggak yakin. Yakin. Kamu yakin membiarkan aku cinta sama pria lain? Ya. Mia menahan air matanya jatuh. Oke, kalau kamu yakin. Aku menyerah Nath. Aku akan berusaha cinta sama cowok lain. Thanks Mi.   Air mata Mia pun jatuh. . . . Profil Ben cukup menarik, ia tinggi dengan tubuh yang proporsional. Ia sangat Perhatian dan mencintai Mia. Ben sudah menaruh hati pada Mia sejak pertama kali masuk sekolah W International High School ini. Namun ia mundur karena Mia ternyata sudah jadi milik seseorang. Ketika ia mendengar kabar bahwa hubungan Nathan dan Mia sudah kandas, maka tidak ada hal lagi yang menghalangi untuknya mendekati Mia. Sudah satu minggu sejak Mia menyatakan bahwa ia menyerah mengejar cinta Nathan, dan ia bisa bertahan untuk tidak berlari ke arah Nathan ketika melihat Nathan dari kejauhan. Ia bisa melewati masa kritisnya berkat teman-temannya. Satu minggu adalah waktu terlama yang pernah ia lalui tanpa berbicara atau bertatap muka dengan laki-laki yang selalu ada dalam hatinya itu, selama 10 tahun pengejaran cintanya. Ia tidak pernah melewati harinya tanpa berkomunikasi dengan Nathan. Bahkan seingatnya ia hampir setiap hari harus bertatap muka dengan Nathan. Mia mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa, walaupun dirasa sangat sulit. Seminggu ini ia membawa bekal sendiri dari rumah, karena ia menghindari ke kantin, menghindari bertemu Nathan. "Hallo Tamia," sapa Ben di depan kelas Mia. Mia tersenyum menatapnya. Ben menyatakan perasaannya beberapa hari lalu, namun ia mengerti bahwa Mia baru saja berpisah dari Nathan, setidaknya itu yang ia tahu. "Hai Ben" jawab Mia. "Pulang bareng aku yuk" ajak Ben. Mia mengangguk lemah, ia juga mengikuti Ben dan pasrah saja ketika Ben menggandeng tangannya. Pemandangan ini benar-benar baru bagi Nathan, melihat Mia dengan pria lain. Melihat Mia disentuh pria lain. Ia sudah membiarkannya dan memintanya untuk mencari pria lain dan Mia secepat itu mendapatkannya? Nathan menelan ludahnya. Ada tangan yang merangkul bahunya. "Jangan menyesal sekarang Bro, Ben itu katanya udah dari awal masuk suka sama Mia. Dan ternyata dia enggak mensia-siakan waktu sama sekali" ujar Zack. "Gue mau lo selidikin tu cowok, Zack!" ujar Nathan sambil melangkah menjauh dari teman-temannya menuju parkiran. Zack dan Rino berpandangan kemudian berdiri tegak dan berkata, "SIAP BOSS!" jawab mereka berbarengan. "Mas Bro cembokur kayaknya..." sambar Rino. "Iyalah, cuma gede di gengsi tuh si mas Bro mah! Payah!" sambung Zack. Nathan masih di dalam mobilnya ketika melihat  Mia dan Ben melewati tempat parkirnya. Ia melihat Mia masuk ke dalam mobil Ben dan mereka pergi meninggalkan sekolah. Nathan menghela napasnya panjang. Dan setir mobilpun menjadi bulan-bulanan kegundahannya. "b******k!!!" makinya lebih kepada diri sendiri. . . . Nathan sudah seperti penguntit yang mengikuti mobil Ben yang pergi bersama dengan Mia di dalamnya. Ternyata Ben benar-benar mengantarkan Mia ke rumahnya. Yang membuat Nathan makin dongkol adalah Ben ternyata tidak langsung pulang, ia ikut turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah Mia. Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan akhirnya ia memutuskan untuk turun juga dari mobilnya yang diparkir agak jauh dari rumah Mia. Rumahnya tanpa pagar, jadi Nathan bisa leluasa masuk ke pekarangannya. Berhubung ia juga sangat hapal detail rumah Mia, maka Nathan memilih masuk melalui pintu belakang. Nathan bertemu Mbok Jum, pembantu rumah tangga di rumah Mia. "Mas ganteng? Lho? Kok lewat pintu belakang?" sapa Mbok Jum. Nathan memberi kode dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Mbok Jum mengangguk mengerti. Nathan terus masuk lebih dalam ke dalam rumah, tentu saja Ben hanya bisa sampai ruang tamu, karena Sasy tidak mengizinkan anak laki-laki selain Nathan untuk masuk kamar Mia. Satu tiket Nathan pegang. Terkadang alis Nathan berkerut mempertanyakan apa yang sedang ia lakukan sekarang di kamar Mia? Sudah tiga atau empat tahun Nathan tidak masuk ke kamar Mia, sekarang kamarnya terkesan lebih dewasa dengan perpaduan warna putih dan soft blue yang menyejukkan. Balkon dan pemandangan ke arah danau pernah menjadi tempat favorit Nathan dan Mia untuk bersenda gurau  saat masih kecil dulu. Rumah Mia tidak bertingkat, namun cukup luas, hanya ada garasi di ruang bawah dan juga studio melukis milik Sasy. Sasy tetap bekerja sebagai wanita karir, karena ia tidak bisa berdiam diri saja di rumah dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Jadi Mia memang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah keluarga Nathan, karena ia tidak punya adik atau kakak kandung. Nathan menutup pintunya perlahan dan matanya bergeser ke dinding di sampingnya, ada bingkai kecil-kecil tertata rapi di sana. Kebanyakan foto dirinya dan Mia, yang ia sendiri tidak ingat kapan foto itu dibuat? Kepalanya menggeleng dan senyum tersungging di wajahnya secara tidak sadar. Apa ia senang ketika mendapati foto dirinya masih terpajang di kamar Mia? Walau Mia sekarang sedang berduaan dengan laki-laki lain di ruang tamu? Nathan meraih buku komik yang ada di sofa Mia. Ia memang menyukai cerita komik yang romantis, Nathan berdecak membaca judul komiknya. Ia memilih merebahkan dirinya di atas kasur Mia yang lembut. Nathan menghela napasnya dan menertawakan diri sendiri. Baru seminggu yang lalu ia bilang supaya Mia mencari pria lain, dan sekarang ia berada di kamar Mia? Untuk apa? Nathan juga masih bingung untuk apa dia sekarang menunggu Mia untuk kembali ke kamarnya? Berapa lama Mia akan menemani Ben? Satu jam, dua jam atau malah sampai malam? Nathan melihat ke arah jam tangannya dan mendengus cepat, sudah dua jam?! Dan Mia belum ke kamarnya juga? Memangnya membicarakan apa sih mereka? Nathan penasaran dan membuatnya keluar dari kamar Mia menuju ke ruang tamu. Benar saja, beberapa meter sebelum ruang tamunya ia bisa mendengar suara tawa Mia yang riang gembira, kemudian disambung suara tertawa Ben. Banci! Makinya kesal. Kakinya terus melangkah ke ruang tamu. Ia melihat Mia membelakanginya dan Ben berada di sofa panjang sisi kanan Mia, Ben yang melihat Nathan terlebih dulu dengan pandangan mata yang melebar. Kenapa ada Nathan di sini? Dan dari dalam rumah Mia? Batin Ben. Mata Mia mengikuti pandangan Ben yang seketika membeku melihat ke arah di belakangnya, Mia pun ikut terperanjat melihat Nathan ada di rumahnya. "Udah sore, kenapa lo enggak pulang-pulang?" tanya Nathan dingin. Ben berdiri, "Sorry, tapi kenapa lo bisa ada di rumah Mia ya?" tanya Ben. "Nathan?" suara Mia, "kamu...kenapa kamu dari dalam?" Nathan menatap Mia dan menghela napasnya, "Suruh pulang dulu temen kamu itu, nanti aku kasih tahu" sahut Nathan. "Gue bukan temennya, tapi pacarnya sekarang" tegas Ben seraya menatap Mia minta dukungan. Mia sempat canggung sesaat, namun dia mengangguk dengan cepat ketika mata Nathan menatapnya tajam, "I--iya, Ben pacar aku sekarang...kita kan udah putus, ya kan?" Nathan menarik napasnya dalam-dalam, "Kita baru seminggu yang lalu putus Mi, dan sekarang kamu udah pacaran lagi sama cowok lain?" Nathan mengikuti drama yang diperankan Mia. Giliran Mia yang bungkam tidak bisa berkata-kata. Matanya mengerjap menatap Nathan dan Ben bergantian. Secara teknis, benar Mia menyatakan mundur seminggu yang lalu untuk mencari cintanya dari pria lain. Itupun atas dasar keinginan Nathan sendiri. Tapi kalau ditilik secara moral, memang terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja putus dan seminggu kemudian sudah menjalin hubungan lagi dengan orang lain. "Eh, tapi---" "Mia itu masih bingung karena putus sama gue, lo  bisa-bisanya ngambil kesempatan!" hardik Nathan pada Ben. "Emang lo enggak takut cuma dijadiin pelarian aja sama Mia?" Mata Mia melebar menatap Nathan, "Dia bukan pelarian, aku akan suka sama dia!" Ben tersenyum penuh kemenangan. "Tapi Mia---" "Kita udah selesai Nath, aku selesai---sama kamu..." "Kayaknya mantan kamu ini sumo ya Tamia---aaah" kerah baju Ben sudah dalam cekalan Nathan. Namun Mia menarik Nathan agar menjauh dari Ben dan sekarang Mia berada di depan Ben, membentenginya. "Please Nath, ini kan yang kamu mau?" cetus Mia. Sekali lagi Nathan menarik napasnya dan berjalan keluar rumah Mia dengan cepat dengan perasaan yang aneh, yang ia sendiri masih bingung mencernanya.       PART 5
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN