4. Orang Tua Si Kembar

1625 Kata
Bibirku maju dua senti. Kedua tanganku bersedekap d**a, dengan posisi tubuh yang menyender di tembok. Tatapanku tak terlepas menatap Wanita yang berada di hadapanku ini. Sedangkan kupingku mendengarkan suara gaduh yang berada di dalam ruang Kepala Sekolah. “Lo nyari masalah mulu! Liat, tuh! Para orang tua jadi berantem karena, lo!” “Kok, karena aku, sih?! Kan, dia yang——“ “Bully, lo?” potongku cepat. Aku menatapnya penuh kesinisan. “Lo aja yang lemah! Gunain tangan lo itu! Jangan lo gunain air mata dong! Wajar lo di injak-injak!” Salwa, dia memang lemah. Buktinya, dia malah menangis sekarang. Entah apa yang membuatnya menangis. Tidak salah aku membencinya. Gadis lemah. Karena kelemahannya dia di injak-injak. Saking lemahnya, dia tidak mampu menghadapi masalah sendiri.  Masalahnya itu dia berikan kepada orang tua. Contohnya sekarang. Abi dan Umi datang ke sekolah. Beserta orang tua Chantika. Perlakuan tak senonoh yang di lakukan Chantika, di ketahui oleh salah satu Guru. Karenanya pihak sekolah mengambil jalan tengah, dengan cara memanggil para orang tua murid. “Salsa, lo jangan marah-marah. Harusnya lo dukung, Salwa. Beri dia semangat.” Dwi bersuara, dari diamnya dia sedari tadi. Kini giliran mataku menatapnya sinis. “Lo ngomong gitu, karena lo juga di bully sama mereka! Pantes aja, sih, di bully. Kalian sama-sama lemah!” Raut wajah dua orang di hadapanku ini tampak terkejut. Ucapanku barusan, aku akui terasa menyakitkan untuk di dengar. Apa lagi, untuk Dwi——Sahabatku sendiri. Namun, aku sudah terlanjur kesal. “Heh, kalo gue jadi kalian berdua, udah bonyok muka Chantika and the gengnya itu! Kalian bukan Cinderella, yah?! Kalian punya hak untuk marah! Apa lagi kalo udah main fisik! Itu udah keterlaluan banget menurut gue,” Selepas aku mengeluarkan seluruh unek-unek yang terpendam, aku memilih untuk diam. Lebih baik aku mendengarkan percakapan dari dalam. Sebuah tangan menepuk pundakku pelan. Sontak karenanya aku menoleh. Orang itu Dwi. “Maaf, Sal. Bukan karena lemah. Gue gak mau aja... Alter ego keluar dan... Ujung-ujungnya berbuat buruk sama mereka.” “Sama. Aku juga gak mau bertindak lebih, karena takut dia datang. Dia suka banget ngeliat aku emosi.” sahut Salwa yang di angguki Dwi. Emosiku yang semula sudah reda, mendadak naik lagi mendengar percakapan sampah dari mereka. Selalu saja mereka membicarakan hal aneh. Percakapan yang hanya mereka saja mengetahuinya. Isi percakapan itu di luar logika semua manusia. “Selain g****k, kalian juga gila, ya? Kalian cocok, deh! Sama gilanya!”  amarahku terhenti dikarenakan urusan para orang tua telah selesai di dalam. Begitu Abi dan Umi keluar, kami meluruskan tatapan sepenuhnya pada mereka. Raut wajah Abi sangat merah setelah keluar dari sana. Sementara Umi sibuk menenangkan Abi. “Salwa, Salsa, ikut Abi keluar. Ada yang mau Abi omongin.” ucap Abi. Napasnya terdengar tak beraturan. Seperti tengah memendam sesuatu yang berat. “Ngomongin apaan sih, Abi?” "Ikuti aja apa kata Abimu, Salsa.” balas Umi tegas. Untuk yang pertama kalinya Umi berbicara dengan intonasi tinggi padaku. Aku mengangguk. Memilih mengikuti kehendak Abi. Dwi juga permisi masuk kelas. Sesampainya di luar, Abi langsung memulai apa yang katanya ingin di bicarakan. “Salsa, Abi tau, kalo kamu mengetahui Kakakmu di bully. Benarkan? Lalu kenapa kamu gak kasih tau Abi?” Aku menatapnya tak percaya. Aku kira dia membawa kami untuk memberi Salwa nasihat atau memarahinya, tapi malah aku yang di marahi. Aneh sekali. Yang terkena kasus siapa, yang mendapatkan imbasnya siapa. “Salwa punya mulut, Abi. Dia gak bisu. Dia sendiri bisa ngomong ke Abi, tanpa Salsa yang harus bilang. Jangan manja, deh! Apa-apa butuh bantuan orang!” berupaya aku berucap dengan intonasi dari biasanya. Ini di khalayak ramai. Aku masih mempunyai malu. Aku tak ingin menjadi sorotan banyak orang. “Bukan masalah manja, Salsa! Kamu harusnya pengertian dong, sama Kakakmu! Dia itu introvert! Sebagai Adik yang baik, bantu Kakakmu!” “Ini yang bermasalah sebenarnya siapa, sih? Salsa atau Salwa? Kok, Salsa yang malah di marahi?” jawabku membuatnya tak bisa berkata-kata. Pertengkaran di antara kami terjadi lagi. Awal permasalahan juga sama. Berawal dari Salwa. Dan orang yang bersalah ujung-ujungnya aku. Abi mengusap wajahnya kasar. Dia melirik jam tangannya sekilas, lalu beralih menatap Umi. “Umi aja yang ngomong sama Anak brutal ini. Abi udah capek. Dia gak bisa di omongin baik-baik!” Umi mengangguk. Sedetik setelahnya ia menatapku. Cukup lama dia menatapku. Kedua matanya yang sendu itu, berhasil sedikit demi sedikit memadamkan api amarah di hatiku. Tangan Umi memegang kedua bahuku. “Salsa. Nak, dengar. Abi dan Umi sudah mengambil keputusan, kalo kami akan...” ucapan Umi menggantung. Umi melirik ragu-ragu ke arah Abi. Sekian detik kemudian, Umi memfokuskan pandangannya lagi padaku. “... Kami akan memindahkan kalian ke sekolah yang baru.” “Hah, apa?!” sontak aku melepaskan secara kasar kedua tangan Umi yang berada di bahuku. Mataku menatap mereka berdua tajam. Aku marah dan sangat tidak setuju dengan keputusan yang mereka ambil. Seenaknya mereka mengambil keputusan tanpa persetujuan dariku? Jelas aku marah besar akan hal ini. “Gak! Salsa gak mau pindah dari sekolah ini! Salwa yang berbuat, kok Salsa yang kena?! Gak mau! Salsa tetap Sekolah di sini! Terserah kalian mau terima atau nggak, Salsa gak perduli!” Umi tetap membujukku. Jangan harap dengan seribu rayuan yang dia beri, aku akan luluh! Tak akan! “Nak, kamu harus mengerti kali ini. Kami takut hal yang sama menimpa Salwa terjadi lagi.” Umi berusaha meraih lenganku, tapi secepat kilat aku menjauh. “Salsa udah sering pengertian sama kalian, ya, Umi! Kalian itu yang gak pernah pengertian dengan Salsa!” butiran bening jatuh dari pipiku. Aku menangis. Aku tak terima ketidakadilan yang mereka beri. Mereka tak pernah memikirkan perasaanku. Aku hanya di anggap pemeran figuran di dalam keluarga. “Nak, Umi mohon...” “GAK MAU, UMI! UDAH, JANGAN PAKSA SALSA BISA, GAK?!” emosi mengambil sebagian dari diriku. Tanpa sadar, aku jadi meneriaki Umi. Padahal itu hal yang terlarang bagi setiap anak. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Umi menatapku penuh kecewa. Abi yang berada di sebelah Umi, langsung menenangkan Umi dalam dekapannya. Untung saja lapangan sekolah sepi. Para Siswa sedang berada di dalam kelas masing-masing. Perseteruan ini aku ketahui akan berlanjut terus. Maka dari itu, aku buru-buru pergi dari hadapan mereka. Anggap saja aku mengalah dengan cara ini. Dapat aku dengar suara mereka yang terus menerus memanggil namaku dari arah belakang. Panggilan mereka tak akan bisa membuatku berbalik. °°° Di sudut ruangan yang berdekatan dengan jendela, Afiq tampak serius membaca sebuah buku yang tebal. Bisa di ketahui ini adalah Perpustakaan. Perpustakaan ini sangatlah besar. Dapat menampung banyak siswa untuk membaca di dalam sini. Afiq sering berkunjung kemari di saat waktu luangnya kosong. Atau guru bidang studi tidak masuk dalam kelasnya. Seperti sekarang ini. Guru Fisika tidak hadir di karenakan sakit. Tidak sengaja mata Afiq melirik ke arah luar kaca. Arah luar yang mengarah tepat ke lapangan sekolah. Mata Afiq menangkap empat orang yang tampak serius membicarakan sesuatu. “Eh, kayaknya gue kenal... Cewek aneh itu, kan? Tapi, kok... Ada dua yang pakek hijab? Bukannya dia Siswi yang satu-satunya berhijab di sini?” Afiq terus menatap empat orang yang berada di luar sana. Ruang perpustakaan ini berada di lantai atas. Jadi, dia hanya bisa menatap mereka dalam jarak jauh. Buku yang dia baca, tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Pensil yang berada di atas buku, lambat laun berdiri tegak. Setelahnya pensil itu bergerak pelan membentuk sebuah garis segitiga di atas kertas buku. Melihat kejadian aneh tersebut, seluruh tubuh Afiq terasa sulit di gerakkan. “Hah... Ya Allah... Gue lelah bener ngeliat ini tiap hari. Hari ini gue cuma mau tenang, kenapa gak bisa, sih?!” Secara mengejutkan, buku beserta pena itu terlempar tepat ke arah sudut kegelapan. Dalam kegelapan itu, perlahan ada sesosok perempuan berbaju putih yang berambut panjang, muncul dari sana. Mata Afiq semakin melotot. Sosok itu mampu membuat bibirnya kelu untuk di gerakkan. “Se... Se... Hah... Se... Set.... SETAAAANNNN...” Afiq berlari kencang di antara banyak orang yang membaca dalam sunyi. Karena teriakannya yang kencang, membuat semua orang yang fokus membaca, jadi menatapnya. Tatapan semua orang aneh menatap Afiq yang berlari terbirit-b***t pergi keluar perpustakaan. Bruk! Afiq terjatuh sebab menabrak seseorang. Orang yang baru saja ia tabrak, berteriak kesakitan. “HADOOH, GUE JATOH KAYAK NANGKA BUSUK! LO GAK PUNYA MATA?! ORANG SEGEDE INI MASA GAK LIAT?!” Afiq mendongak masih dalam keadaan yang menunduk. Sedangkan Wanita itu sudah berdiri di bantu oleh temannya. Afiq segera beranjak berdiri, mengetahui siapa yang ia tabrak ini. “Eh, so——sorry! Gue bener-bener gak sengaja!” “Sorry-sorry pala lo meleduk!” celetuk Salsa sinis. “Lo sendiri gak apa, Fiq?” Dwi langsung mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, tidak ingin ada perdebatan lebih lanjut di antara Afiq dan Salsa. “Gue gak apa, kok. Cuma sesak napas aja. Capek lari-larian.” Afiq masih coba mengatur napasnya. “Salah sendiri, kenapa lo lari-larian!” sama seperti tadi, Salsa berceletuk sinis. “Lo... Lo bakalan lari-larian juga sama kayak gue, kalo ngeliat apa yang baru aja gue liat!” Afiq menunjuk tajam Salsa. Salsa menatapnya bingung. Setelahnya Wanita itu tersenyum remeh. “Ngeliat? Ngeliat apa? Ngeliat mantan yang jalan sama pacar barunya gitu? Pffftt... Hahaha, sorry, ya! Gue gak punya makhluk sampah yang bernama mantan itu!” “Makhluk astral maksud gue, b**o!” balas Afiq cepat, membuat Salsa yang tertawa jadi diam, dan wajah Dwi menegang. “Makhluk astral?” tanya Salsa yang di angguki Afiq. Detik berikutnya, Salsa kembali tertawa. Kali ini lebih keras. “Banyak nonton film hantu, lo! Masih percaya aja lo dengan hal takhayul kayak begituan! Hahaha...” Afiq yang di tertawakan, tidak terima akan hal itu. Dengan cepat ia membalas.  “Gue jamin, lo gak akan berani ngomong gitu lagi, kalo lo sendiri yang ngeliat! Lo akan tarik kata-kata sampah lo tadi!” “Apaan sih, lo?! Baperan amat. Gue kan, cuma bercanda kali. Lagian hal begituan emang gak ada. Mustahil!” Salsa memandang aneh Afiq. “Afiq bener, Sal. Mereka yang tak terlihat itu ada. Bahkan, jumlah mereka lebih banyak dari kita. Lo gak bisa memungkiri itu.” sahut Dwi, menatap Salsa penuh keseriusan. Salsa yang di tatap tanpa berkedip dengan mata Dwi yang cekung dan penuh kantong mata, membuat Wanita itu merasa tak nyaman. Alias seram. “Serah kalian, dah! Gue tetep gak percaya!” ucap Salsa, lantas setelahnya ia beranjak pergi tanpa berkata apa pun. °°° Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN