8. Olimpiade Bareng

1880 Kata
Kelas XI MIPA 2 di selimuti kesunyian. Kebiasaan yang harus berada di jiwa anak Ipa, jika pelajaran berlangsung semuanya diam bak patung. Pelajaran Matematika yang di pegang Guru paling kejam seantero Asian's International School ini, selalu berjalan khidmat. “Perhatian bagi Siswa yang bernama Salsa Dyvia Almahdhoor, di harap segera datang ke Ruang Guru. Sekali lagi—“ Bunyi pengeras suara yang berasal dari Ruang Guru, memecahkan konsentrasi para Siswa di XI MIPA 2. Serentak mereka semua menolehkan pandangan ke meja Salsa berada. Salsa yang di tatap seluruh Siswa, menelan saliva susah payah. Salsa merasa gugup. “Ayo, loh... Ngapain lo sampe di panggil ke Ruang Guru? Lo punya masalah apa, Salsa?” bisik Dwi misterius, menambah rasa cemas di diri Salsa. “Salsa Dyvia Almahdhoor!” Panggilan dari si Guru killer Matematika, menggelegar di seluruh ruangan kelas yang berbentuk persegi panjang itu. Guru pria yang memiliki tubuh besar tinggi itu, berjalan mendekati meja Salsa. Salsa mendongakkan kepala. Menatap ngeri tubuh gempal guru berkepala botak itu. “Tak dengar kuping kau itu? Tuli kau? Nama kau itu di panggil, begerak cepat lah kau itu, jangan pulak diam-diam di sini.” ucap Guru itu, dengan logat Bataknya yang begitu kental. “Eh, i—iya, Pak! Iya!” jawab Salsa gagap. Secepat mungkin Salsa berdiri. Wanita itu mulai beranjak pergi. “E... Sa—saya permisi, P—pak!” Guru itu mengangguk tanda memberi izin. “Iya, cepatlah kau pergi sana! Lama kali!” Sesuai intruksi yang di beritahukan Guru dari pengeras suara, Salsa melangkah menuju Ruang Guru. Selama perjalanan, hati Salsa harap-harap cemas. Otak Salsa terus berpikir, mengapa ia sampai di panggil ke Ruang Guru secara mendadak. Jarang sekali ia di panggil ke sana, kecuali memang ada urusan penting. “Permisi, Ibu Farida... Assalamu'alaikum...” ujar Salsa, setelah mengetuk pintu sopan. Sosok Guru berhijab panjang, yang diketahui memanggil Salsa itu tersenyum. Guru wanita itu menyuruh Salsa duduk di dua kursi yang tersedia di depan meja kerjanya. “Silahkan duduk, Nak Salsa.” “Eh, iya, Bu. Terima kasih.” balas Salsa, memberi seulas senyuman tipis. Salah satu kursi yang tersedia, Salsa tarik. Salsa mendaratkan bokongnya di kursi itu. Dengan tenang, Salsa duduk di sana. Ia menatap Ibu itu. Menunggu Ibu itu berucap sesuatu, mengapa memanggilnya kemari. “Tunggu sebentar, ya? Gak apa kan, Salsa?” “Ah, gak apa kok, Bu. Gak apa.” jawab Salsa cepat. Ibu Guru itu lantas tersenyum. Mereka berdua di selimuti keheningan. Salsa duduk diam menuruti perintah Ibu Guru ini, yaitu menunggu sebentar. Entah menunggu apa, yang pastinya Salsa sudah tidak sabar ingin balik ke Kelas. “Assalamu'alaikum...” Bariton seorang Pria yang barusan memberi salam, sontak menggerakkan kepala Salsa untuk menoleh ke sumber suara. Di ambang pintu, berdiri Afiq. Pria jangkung itu, Salsa tatap dengan wajah aneh. “Nih, orang kenapa bisa ada di sini coba? Why?!” batin Salsa emosi. “Wa'alaikumsallam... Ayo, Nak Afiq. Silahkan duduk di sebelah Salsa.” titah Ibu Farida yang dituruti Afiq. Ibu Farida memperbaiki letak posisi duduknya. Beliau pun, mulai memberitahu maksud memanggil mereka berdua kemari itu apa. “Jadi, maksud Ibu memanggil kalian berdua, karena ingin menyampaikan perihal Olimpiade tingkat Nasional yang akan Sekolah kita ikuti. Kalian berdua tahu benar, bahwa setiap ajang Olimpiade berlangsung, Sekolah kita pasti ikut dan selalu memenangkan juar tiga besar.” Arah tatapan Ibu Farida, menoleh ke Salsa. “Tahun kemarin kamu kan, Salsa, yang memenangkan juara pertama Olimpiade Kimia tingkat Nasional bersama Yusuf?” Salsa mengangguk mengiyakan. Memang tahun lalu saat ia dan Yusuf pertama kali menginjakkan kaki di SMA, mereka bisa meraih juara pertama Olimpiade Kimia tingkat Nasional. Sebuah pencapaian yang fantastic seukuran Anak baru di Sekolah Menengah Ke Atas. “Nah, lalu Salwa dan Ceyda yang juga memenangkan juara pertama Olimpiade Fisika tingkat Nasional, dan di susul pula Dwi dan Devan yang memenangkan juara pertama Olimpiade Biologi tingkat Nasional.” sambung Ibu itu, yang bagi Afiq sengaja menyombongkan para Siswanya. Pendengaran Afiq risih saja, atas ucapan sombong si Ibu Farida. Afiq merasa juga pantas, menjadi salah satu Siswa berbakat di antara mereka semua. “Langsung saja, Ibu menyuruh kamu kemari karena ingin membahas masalah Olimpiade yang di adakan tahun ini. Kamu, Salwa, Dwi, Yusuf dan lainnya terpilih kembali sebagai Siswa yang akan mengikuti Olimpiade tingkat Nasional tahun ini. Kali ini Ibu menyandingkan kamu dan Afiq untuk mengikuti Olimpiade Kimia bersama.” Mendengar penjelasan dari Ibu Farida, kedua mata Salsa melotot lebar. Sejenak ia menatap ke sebelah, di mana Afiq berada. Salsa menatap Afiq tak percaya, setelahnya menatap Ibu Farida lebih tidak percaya. “Ibu nggak lagi bercanda, kan?” Pertanyaan dari Salsa, menimbulkan ekspresi bingung di wajah Ibu Farida. “Bercanda? Nggak. Ibu nggak lagi bercanda. Ibu sangat serius.” “Terus, kenapa saya malah di sandingkan sama dia?” Salsa menunjuk Afiq yang kebingungan. “Dia itu kan, masih anak baru, Bu. Masa udah main di tunjuk aja ikut Olimpiade? Emang prestasi dia udah terjamin apa? Lagi pula, tahun kemarin saya Olimpiade bareng Yusuf. Kenapa tahun ini saya gak Olimpiade bareng dia aja sih, Ibu?” Segala macam ocehan di curahkan Salsa, berharap Ibu Farida mengurungkan niatnya tadi. Tapi, Ibu Farida merupakan orang keras kepala. Jika ia sudah mengambil keputusan, maka tak ada penolakan. “Salsa, justru karena Afiq ini Anak baru, skill nya harus kita uji. Ibu juga sudah melihat nilai raport rata-rata Afiq di Sekolah lamanya, dan... Nilainya tinggi banget, kok. Cocok-cocok aja lah, dia ikut. Secara juga dia pindahan dari USA, pasti pinter, dong. Dia kelasnya di atas kamu pula, Salsa. Kelas sebelas MIPA satu. Jadi, kenapa nggak,  dia ikutan Olimpiade?” Balasan ucapan dari Ibu Farida, membuat Salsa terdiam kesulitan menjawab. Afiq di sana yang sedari tadi diam, merasa bangga atas pujian dari Ibu Farida atas dirinya. Ekor mata Afiq melirik ke Salsa yang terdiam, tak menyahuti ucapan Ibu Farida. Diamnya Salsa, menimbulkan senyuman kemenangan di bibir Afiq. Afiq membatin dalam hatinya, “Mampus, lo! Makan tuh, Olimpiade. Sombong amat sih, jadi cewek. Hahaha...” “Terus, Yusuf? Dia Olimpiade bareng siapa?” agak lama terdiam, akhirnya Salsa berani buka suara. Biasanya Salsa malas memikirkan nasib Pria itu, tetapi situasi berbeda kali ini. Salsa malah penasaran dengan Pria itu. Penasaran sekali Salsa, dengan rekan seperjuangannya semasa Olimpiade tahun kemarin. Anehnya hati wanita itu. “Oh, mengenai Yusuf... Tahun ini dia Olimpiade bersama Salwa Kembaran, kamu. Ibu menempatkan mereka berdua mengikuti Olimpiade Fisika tingkat nasional.” ucap Ibu Farida berjeda beberapa detik, sebelum ia melanjutkan ucapannya yang menjadi akhir obrolan mereka di sini. “Waktu kalian hanya dua bulan untuk belajar dengan benar, sebelum Olimpiade di adakan. Ibu harap, kalian semua yang terpilih bisa memenangkan juara pertama semua.” Kedua orang itu spontan terbelalak. Tentunya terkejut mendengar permintaan Ibu Farida yang di rasa tak masuk akal. Ini Olimpiade Tingkat Nasional. Akan sangat sulit mendapatkan peringkat pertama, mengingat seluruh Sekolah Indonesia yang mengikuti. Jika masalah Olimpiade tahun kemarin mengapa mereka semua bisa mendapatkan peringkat pertama, itu kuasa Tuhan mungkin. Mereka yang mengikuti ajang tersebut pun, sampai sekarang masih belum tahu mengapa bisa menang peringkat pertama semua. “Kenapa Ibu minta kalian semua yang mengikuti seluruh mata pelajaran Olimpiade mendapatkan peringkat pertama? Karena siswa sekolah yang mendapatkan peringkat pertama itu-lah, yang menjadi perwakilan Indonesia di ajang Olimpiade Internasional di Australia.” Jiwa mereka berdua semakin dibuat terguncang mendengar adanya ajang Olimpiade Internasional yang berlangsung di Australia. °°° Bersama dua orang itu keluar dari Ruang Guru. Kebetulan kelas mereka bersebelahan, jadinya pulang pun berduaan. Sepanjang perjalanan menuju kelas, Salsa terus memikirkan pasal Olimpiade ini. Bukan karena susahnya materi pelajaran yang harus Salsa terima, namun mengenai rekan Olimpiadenya kali ini. Hubungannya bersama Afiq sangat tidak baik, sungguh tidak etis jika mereka di sandingkan. Kata pepatahnya bagai kucing dan tikus. Mereka pasti akan terus bertengkar jika disatukan. “So, kapan kita bisa mulai belajar barengnya?” suasana hening, terpecahkan oleh Afiq yang memulai obrolan. Tiga detik Salsa menatap Afiq. Tatapan yang menyirat ketidaksukaan. Lantas, Salsa membuang muka ke segala arah. “Gak tau.” Mendapati jawaban Salsa yang ketus, Afiq menghela napas kasar. “Oke, gue tau lo gak suka kalo kita Olimpiade bareng. Asal lo tau, gue juga sama gak suka di sandingkan sama, lo. Tapi, demi sekolah, bisa gak lo turuni ego dikit aja? Lupain hubungan kita yang gak baik. Lo bukan Anak-anak lagi. Cobalah bersikap dewasa.” Celotehan Afiq, menyentil hati nurani Salsa. Salsa merasa sekarang tengah mendengar penuturan Abinya yang setiap hari ia dengar. Persis sekali ucapan Afiq sama seperti Reza yang memarahinya. Abinya yang selalu mengeluhkan keegoisannya, kekanak-kanakannya, intinya segala hal buruk di diri Salsa. “Gue gitu banget, ya?” tanya Salsa yang menimbulkan lipatan bingung di dahi Afiq. “Gitu banget maksudnya?” “Begitu kekanak-kanakannya kah, gue? Gue kurang dewasa, kah?” ulang Salsa lirih. Melihat kedua kelopak mata Salsa yang di penuhi genangan air, itu membuat Afiq panik. Sudah pernah di katakan, Afiq paling benci melihat wanita menangis. Sudah dua kali Afiq terjebak dalam situasi begini. Kemarin Saudara kembarnya, sekarang Salsa sendiri. Apakah nasib Afiq selalu dihadapkan dengan  kegundahan hati seorang wanita? “Eh, Salsa... Sumpah, lo jangan nangis, dong... Ya Allah, gue gak ada maksud buat lo nangis, kok!” Bukannya menghalau tangisan, Salsa malah pasrah membiarkan air matanya tumpah. Bahkan wanita itu berubah posisi dari berdiri menjadi berjongkok. Tepatnya meringkuk, menangis segugukan. “AllahuAkbaarr! Malah tambah nangiiisss!” Afiq mengacak rambutnya frustasi. Kepala Afiq menoleh ke segala arah, untuk memastikan tidak ada orang yang lewat. Takut saja jika ada yang lewat, lalu orang itu menuduh ia sembarangan kalau melihat Salsa menangis begini. “Syuuuttt! Syuutt, syuuuttt! Salsa cantik... Diem yah, pinter... Diem dong, Salsa...” Afiq mulai kehabisan ide, bagaimana lagi cara yang ampuh mendiamkan Salsa. Ternyata lebih sulit meredakan tangisan Salsa dari pada Salwa. Sebuah ide muncul begitu saja di otak Afiq. Afiq ikut berjongkok. Ia mensejajarkan posisinya ke arah Salsa yang membenam wajahnya di lipatan tangan. “Salsa, yuk, kita beli coklat! Lo mau gak? Gue deh, yang beliin.” Secepat kilat, tangisan Salsa berhenti. Kepala Salsa mendongak. Menatap Afiq dengan wajah sembab sehabis menangis. Cukup lama Salsa menatap Pria itu, seakan melihat kejujuran dari ucapannya tadi. “Lo beneran... Mau beliin gue coklat?” tanya Salsa serak, memastikan ucapan Afiq tadi. Afiq mengangguk pasti. “Iya...” “Gue mau mintanya tiga, gimana? Lo masih yakin?” “Iya, yakin...” Afiq beranjak berdiri, di susul Salsa. “Jadi gak nih, beli coklat?” Roknya yang sedikit kotor, Salsa bersihkan. Lalu, Salsa membalas pelan pertanyaan Afiq. “Jadi, lah... Kan, elo... Yang beliin. Iya, kan?” “Iya...” sekali lagi Afiq menjawab pasti. Mereka pun berbelok arah menuju Kantin. Melupakan adanya Guru yang masih membahas materi di Kelas. Janjinya pada Salsa lebih penting saat ini. Secara curi-curi pandangan, Afiq menatap Salsa yang berjalan menunduk di sebelahnya. Menyadari tingkah Salsa yang aneh setelah menangis tadi, menimbulkan pertanyaan di benak Afiq. Afiq membatin, “Kenapa nih cewek mendadak jadi pendiem? Eum, kalo diliat-liat... Dia lumayan cantik pas lagi diem begini.” Pemikiran aneh yang tengah mengerubungi otaknya, segera Afiq buang jauh-jauh. Berkali-kali Afiq menggelengkan kepala. Tingkah Afiq rupanya Salsa sadari. Salsa lantas bertanya, “Lo kenapa? Lo pusing, ya?” “Eh, nggak, kok.” seulas senyuman tipis, Afiq tunjukkan supaya Salsa tak curiga. Sejujurnya Salsa sedikit ragu atas jawaban Afiq, namun ia memilih mengiyakan saja. Salsa tak terlalu ambil pusing. “Eh, iya, Salsa. Gue kan, bakalan kasih elo coklat nih, ceritanya.” Mata Salsa melirik curiga ke arah Afiq di sebelah. “Hm, terus?” Afiq terkekeh hambar. Menggaruk kepalanya salah tingkah. Dari pandangan Salsa, Afiq tampak sulit mengutarakan ucapannya yang berikutnya. “Eum... Jadi... Gue boleh dong, ya, dapat nomor Salwa? Hehehe...” “Sekali lagi lo bahas masalah ini, lo gue gampar beneran. Sumpah, gak bohong gue.” ancam Salsa di sertai raut wajah yang benar-benar serius. Terlebih telapak tangannya ia dekatkan ke pipi Afiq. Sontak Afiq menjauhkan wajahnya. “Eh, iya-iya... Selo, dong. Masa rekan Olimpiade sendiri mau di gampar? Tega bener...” “Bodo!” °°° Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN