Satu
Ruang kerja yang luas dengan cat berwarna abu-abu serasi dengan perabotannya membuat ruangan ini terlihat gelap. Walaupun ada cahaya lampu yang menyala, tetap saja terasa gelap dan sunyi. Ac yang menyala memenuhi ruangan menambah kesan yang dingin dan seperti tak berpenghuni. Namun nyatanya, di ruangan itu ada pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap deretan huruf di dalam dokumen, tangannya memegang bolpoint untuk mengoreksi dokumen itu jika ada yang kurang benar.
Pandu Dirgantara, pria dewasa dengan usia yang sudah matang untuk menikah, pekerjaan yang menjanjikan, keluarga yang terhormat, dan juga wajah yang tampan namun dia masih saja betah melajang. Bukannya dia tidak tertarik dengan perempuan namun dia memiliki rahasia yang harus dia simpan rapat-rapat.
Pandu menggoreskan tinta hitam itu ke dokumen. Membubuhkan tanda tangannya tanda dia menyetujui laporan itu. Dia adalah direktur utama disebuah perusahaan Tour&Travel terkenal di Jakarta. Semua keputusan dia buat dengan banyak pertimbangan dan ketika keputusannya sudah bulat tidak ada orang yang bisa menggagalkannya. Perusahaan itu berada dalam genggamannya namun sayang, tidak semua karyawannya tahu direktur utama mereka.
“Ke ruanganku sekarang.” Kata Pandu dengan datar. Dia menutup telvonnya kembali ketika mendengar jawaban dari seberang telvon.
Tidak lama kemudian pintu diketuk, Pandu tahu siapa pelakunya karena hanya orang itu yang dapat masuk ke dalam ruangannya atau mendekati ruangannya.
“Masuk.” Ucap Pandu sedikit keras.
Pintu terbuka, menampilkan laki-laki yang tingginya hampir seperti dia dengan baju yang rapi khas orang kantoran. Laki-laki itu menghampiri Pandu setelah dia menutup dan mengunci kembali ruangan itu.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya laki-laki itu dengan santai. Dia duduk di depan meja Pandu dengan kaki kiri yang dia tumpangkan ke kaki kanannya. Laki-laki itu bernama Gilang, dia adalah sepupu Pandu yang selalu Pandu percayai.
Pandu melemparkan dokumen yang sudah selesai dia tanda tangani tadi. Gilang yang mengerti itu langsung membuka dokumen itu dan tersenyum.
“Oke, Bro aku akan segera menggelar rapat dengan semua kepala bagian.” Kata Gilang dengan tersenyum.
Gilang bangkit dari duduknya, dia bermaksud untuk keluar dari ruangan yang seperti mati itu. Karena dia sendiri tidak betah untuk berlama-lama di dalam ruangan itu tapi Pandu sangat suka, buktinya setiap hari dia mengendap di dalam ruangan gelap tersebut.
“Tunggu.” Kata Pandu pelan.
“Ada lagi?” tanya Gilang penasaran.
“Sampaikan kepada semuanya saat rapat besok kalau perusahaan akan membuat program menghabiskan hari bersama orang terkasih.” Kata Pandu lagi. Dia meletakkan sebuah proposal di atas meja.
Gilang yang penasaran dengan program itu langsung menghampiri Pandu. Dia mengambil proposal itu dan membacanya sekilas. Ada beberapa poin yang masih belum dia pahami.
“Sebentar lagi hari kasih sayang, aku ingin membuat program itu untuk mereka yang tidak punya banyak waktu dengan keluarganya karena sibuk. Saat weekend kita wujudkan impian mereka untuk berlibur bersama keluarga atau pasangan. Berikan mereka diskon 50 persen.” Kata Pandu menjelaskan, dia seperti sudah paham jika Gilang tidak mengerti dengan maksud proposal itu.
“50 persen itu banyak, apakah nanti perusahaan kita nggak bakal mengalami kerugian yang besar?” tanya Gilang yang tidak terima dengan ide gila sepupu sekaligus atasannya itu.
“Nurut saja, aku sudah merinci semuanya.” Jawab Pandu datar.
Pandu bangkit dari duduknya, dia menuju ruang kecil rahasia yang ada di dalam ruang kerjanya. Ruang kecil itu ternyata menghubungkannya dengan lift pribadi yang langsung menuju parkiran mobilnya. Bahkan Pandu juga memiliki parkiran mobil pribadi yang hanya bisa dia pakai dan tidak ada orang yang bisa ikut memakainya bahkan orang tuanya sendiri.
“Semakin hari Pandu semakin gila.” Geram Gilang sambil mengepalkan tangannya.
^^^
Gadis cantik dengan rambut hitam lurus sebahu yang dia gerai membuatnya terlihat lebih muda dari usianya. Dengan wajah tanpa polesan make up membuatnya terlihat lebih natural. Bibirnya yang merah alami dan kelopak matanya yang berwarna seperti menggunakan eye shadow membuatnya terlihat cantik alami. Kakinya melangkah dengan ringan dan bibirnya yang menyanyikan sebuah lagu favoritnya. Lagu milik salah satu Diva pop indonesia yang berjudul sama seperti namanya, yaitu Sakura.
Sakura membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Baru masuk rumah dia sudah disambut ucapan tidak enak dari Mama dan saudara tirinya. Ucapan yang pedas dan perlakuan yang kasar sudah seperti langganan bagi Sakura. Setiap hari Sakura mendapatkan perlakuan yang buruk dari mereka berdua. Walaupun Sakura sakit hati tapi dia tetap mencoba ikhlas menerima takdir yang sudah tertulis untuknya.
“Bagus, ya dari pagi sampai malam keluyuran.” Kata Elmi dengan keras. Dia bersedekap d**a dengan mata yang melotot seperti hampir copot.
Sakura menutup pintu rumah perlahan. Dia hanya diam tidak menyahut ucapan Mama tirinya karena semakin dia membantah dan memberi tahu yang sebenarnya maka masalah akan terus berlanjut. Terkadang Sakura hanya bisa mengucapkan kata maaf dan melakukan hukuman yang diberikan oleh Mama tirinya agar dia bisa segera lepas dari omelan Mama tirinya itu.
Sakura Anetha, gadis muda dengan segudang prestasi yang dia dapatkan, bahkan dia hanya butuh waktu 3 tahun untuk menyelesaikan pendidikan strata satu yang dia tempuh di Universitas Negeri di Jakarta. Itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh Sakura. Pasalnya dia harus membagi waktu antara kuliah, bekerja paruh waktu, dan juga mengurus Papa tercintanya yang sedang lumpuh. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja dia mengurus Papanya terlebih dahulu, setelah itu dia berangkat bekerja hingga sore dan sore hari sampai menjelang malam dia kuliah. Dia memang mengambil kuliah malam agar dia juga bisa bekerja untuk membiayai kuliahnya dan kebutuhannya sehari-hari. Memang berat dirasakan oleh Sakura namun dia terus mencoba untuk bertahan dan berusaha hingga akhirnya dia lulus kuliah dengan waktu yang cepat.
“Dari mana saja kamu?” tanya Elmi sinis.
“Ara baru pulang bekerja, Bu.” Jawab Sakura pelan.
“Jangan bohong kamu. Tadi Tasya lihat kamu ada di kafe.” Kata Elmi dengan galak.
“Tadi Ara ada sedikit urusan di sana, setelah urusan Ara selesai, Ara langsung balik ke tempat kerja.” Jawab Sakura mencoba menjelaskan.
“Sudah pintar berbohong ya sekarang. Dari pada kamu keluyuran nggak jelas lebih baik kamu urusin Bapak kamu yang lumpuh itu.” Kata Elmi dengan kasar.
Sakura merasa sakit hati setiap kali Mama mertuanya berkata buruk tentang Papanya. Dia memang tidak menyangkal jika Papanya lumpuh hanya saja dia merasa tidak suka jika Mama tirinya berkata seperti itu.
“Maaf, Bu. Sakura ke dalam dulu mau ngurusin Papa.” Kata Sakura sopan. Dia berlalu dari hadapan Elmi dan juga Tasya. Bagi Sakura lebih baik dia segera pergi dari hadapan mereka dari pada terus berada di sana dengan hati yang semakin terluka.
“Habis itu masak buat kami.” Teriak Tasnya dengan keras.
Sakura tidak menjawab teriakan Saudara tirinya itu. Mengurus rumah yang besar itu seorang diri sudah menjadi rutinitas Sakura. Setelah dia selesai dengan semua aktivitasnya dia masih harus membersihkan rumah dan memasak seorang diri. Bukannya Mama tirinya itu tidak mampu untuk menyewa pembantu namun dia sengaja untuk menjadikan Sakura sebagai pembantu mereka.