Dua Puluh Empat

1549 Kata
Sakura sedikit terkejut ketika melihat sebatang ratu coklat ada di depan matanya. Dia menengadahkan kepalanya untuk melihat kelakuan siapa kali ini. Dan lagi-lagi itu adalah kelakuan Pandu. "Kamu tau dari mana kalau aku ada disini?" Tanya Sakura pelan ketika melihat Pandu sudah duduk di sampingnya. "Mungkin hati kita sudah terikat." Jawab Pandu asal. Dia merasa jika jiwa-jiwa romansanya sudah kembali. Sakura tersipu malu mendengar jawaban dari Pandu. Jawaban Pandu memang sederhana namun mampu membuatnya terpana. Sakura yakin jika sampai malam nanti dia akan terus terbayang ucapan Pandu hari ini. "Ini buat aku?" Tanya Sakura pelan sambil menunjukkan sebatang coklat pemberian Pandu. "Iya, Ra." Jawab Pandu pelan. "Terima kasih." Kata Sakura sambil membuka coklat tersebut. "Haaa.." kata Sakura mengisyaratkan Pandu untuk membuka mulutnya. Pandu tersenyum sejenak dan menuruti ucapan Sakura. Dia membuka mulutnya dan sepotong coklat masuk ke mulutnya. Sakura tersenyum melihat Pandu yang menerima suapannya. "Aku rasa akhir-akhir ini kamu kelelahan terus." Kata Pandu pelan. Dia memperhatikan postur tubuh Sakura yang merendah tanda jika seseorang memang sedang lelah. "Iya, aku memang menambah jam kerja biar ada tambahan pemasukan juga." Jawab Sakura jujur. "Kamu sudah tidak mencari pekerjaan lagi?" Tanya Pandu pelan. Dia takut jika pertanyaannya akan menyinggung perasaan Sakura. "Masih, tapi tetap saja hasilnya nihil." Jawab Sakura lemas. "Tetap semangat. Besok aku bantu kamu cari kerja lagi." Kata Pandu memberikan semangat untuk pujaan hatinya. Sakura mencoba untuk menarik bibirnya menjadi sebuah senyuman. Dia memperhatikan wajah Pandu yang bagaikan sebuah candu baginya. Wajah yang selalu membuatnya ingin menatap lama. Wajah yang selalu membuatnya terus merindu. Hidunya yang mancut, mata elangnya yang tajam, alisnya yang tebal, bibir merahnya yang seksi seakan-akan sudah melekat dimata Sakura. Bahkan ketika dia memejamkan mata, dia masih bisa melihat wajah Pandu dengan jelas. Pandu benar-benar menjadi candu untuknya. "Aku mulai tau jika ini adalah tempat favorit kamu." Kata Pandu pelan. Sakura mengalihkan pandangannya ketika Pandu mulai berbicara. Dia menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Desis angin yang menerpa tubuhnya memberikan rasa segar dan nyaman. Penat yang dia rasakan karena bekerja seharian perlahan-lahan mulai menghilang. Genangan air danau mampu memberikan bayangan rembulan yang ada di langit. Hal itu membuat Sakura sadar jika sejauh apapun jaraknya dengan orang yang dia cinta, orang itu akan tetap bisa menatapnya. Seperti danau dan rembulan. Langit menjadi penghalang bagi mereka, namun danau masih bisa tetap memperhatikan rembulan. "Siapa yang mengajakku kesini?" Tanya Sakura pelan sambil tertawa. Pandu ikut tertawa mendengarnya. Dia memperhatikan Sakura yang juga masih tertawa. "Saat itu aku bingung harus mengajakmu kemana. Ini juga tempat yang selalu aku kunjungi saat aku sedang lelah." Jawab Pandu. "Dan itu sekarang menular kepadaku." Kata Sakura sambil tersenyum. "Kalau sore hari suasananya lebih enak." Kata Pandu. "Iya, ada angsa juga yang sedang berenang." Balas Sakura. Ya, mereka seperti sudah saling mengenal tentang tempat ini. "Aku antar pulang." Kata Pandu pelan. Dia tidak tega melihat Sakura yang menahan lelahnya. "Sampai depan kompleks saja ya." Kata Sakura pelan. Pandu mengernyitkan keningnya dan setelah itu menganggukkan kepalanya menyetujui. Dia tidak ingin banyak protes dan membuat Sakura menjadi menolak untuk dia antar pulang. "Ayo." Ajak Pandu sambil mengulurkan tangannya didepan Sakura. Sakura menerima uluran tangan tersebut dan mulai bangkit dari duduknya. Mereka saling menautkan tangannya satu sama lain dan mulai berjalan pelan ke arah jalan raya. Mobil Pandu dia parkirkan dipinggir jalan. Rembulan yang terang dengan ribuan lintang menjadi saksi mereka berdua. Sebuah gandengan tangan menuju jalan raya yang diharapakan bisa menjadi sebuah gandengan tangan menuju pelaminan. Karena semua tidak ada yang tau. Hukum alam tidak ada yang bisa menebaknya. *** Sakura menaikkan selimut hingga didada Papanya. Wajahnya yang lelah namun selalu Sakura sembunyikan dibalik senyuman yang lebar. Bukannya Sakura gadis yang kuat, namun dia selalu pura-pura kuat. Dia tidak boleh hanya memikirkan perasaannya saja namun dia juga harus memikirkan perasaan Papanya. Papanya tidak boleh memikirkan hal-hal yang buruk, karena itu hanya akan membuat kondisi kesehatannya memburuk. "Laalaaki-laki yyyaang baannyuin kkka..mu kem..marin ssiaappa?" Tanya Joko dengan susah payah. Sakura menatap Papanya dengan lekat. Ucapan papanya sering kali membuatnya kesulitan untuk mengerti namun Sakura selalu melihat gerak bibir Papanya agar dia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Papanya. "Dia keponakannya Bu Elmi. Baru datang minggu lalu." Jawab Sakura menjelaskan. Setiap hari Delon membantunya memandikan Joko. Bahkan dia hanya menyiapkan pakaian untuk Joko dan yang memandikan adalah Delon. Sakura sebenarnya juga merasa tidak nyaman menerima segala kebaikan Delon sedangkan dia selalu bersikap dingin kepada laki-laki itu. Namun tetap saja Delon tidak menyerah dan kini semakin cekatan membantunya merawat Papanya. Bahkan beberapa hari ini Delon memilih untuk makan siang di rumah agar bisa sambil menjaga Papanya. "Ddi..dia baik." Kata Joko pelan. Sakura menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dia juga tidak bisa menolak kebaikan Delon. Sikapnya sangat perhatian kepadanya dan juga kepada Papanya. Namun, Sakura selalu menganggapnya sebagai saudara. Dan mungkin saja sikap perhatian yang diberikan darinya sudah menjadi kebiasaan bagi Delon. "Ddii..a ooora..ngnya bbaaik." Kata Joko menilai sikap Delon. Sakura mengangguk sambil tersenyum. "Iya, dia memang seperti itu." Tambah Sakura menimpali. "Ttti...dak seperti ttante..nya" Kata Joko lagi. "Papa jangan banyak bicara dulu. Ini sudah malam, Papa harus istirahat." Kata Sakura lembut. Dia mengelus tangan Papanya dengan penuh perhatian. Joko menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia mulai menutup matanya dan mencoba untuk tidur. Walaupun pikirannya masih terbuka dan memikirkan banyak hal, namun dia masih berusaha untuk tertidur. Sakura menatap wajah Papanya yang semakin hari semakin tua. Namun wajah itu terlihat lebih tua daripada usianya. Pipinya tirus dan kerutan di wajah sudah mulai terlihat. Bahkan rambutnya juga sudah beruban. Sakura mengusap air mata yang mulai basahi matanya. Dia seperti ingin menyerah saja. Clek.. pintu kamar Papanya terbuka. Disana ada Delon yang masih lengkap dengan setelah kantornya. Sakura menebak jika laki-laki itu baru pulang bekerja. Sakura menatap datar ke arah laki-laki itu. Bibirnya tidak menyunggingkan senyum namun matanya menyorotkan kesedihan yang tidak bisa dia tahan. "Ayo makan." Kata Delon pelan. Dia sangat tahu kalau Sakura belum makan. Sakura selalu melewatkan makan malamnya demi menemani Papanya hingga tertidur dan setelah Papanya tertidur, dia lebih memilih untuk langsung mengistirahatkan tubuhnya. "Aku beli sup buntut tadi, mumpung masih hangat." Kata Delon lagi. Sakura ingin menangis. Ini pertama kalinya dia mendapatkan perhatian dari seseorang. Delon orang pertama yang menyadari jika dia selalu menahan lapar demi berada disamping Papanya. "Nangis saja tapi jangan sampai Papamu dengar." Kata Delon sambil mengulurkan sapu tangan kepada Sakura. Sakura melengos, dia bangkit dari duduknya dan mencium tangan Papanya penuh hormat. Setelah itu dia pergi meninggalkan Papanya untuk beristirahat. Delon mengikuti Sakura dari belakang. Tidak ada lelah untuk Delon memberikan perhatian kepada Sakura walaupun sikap Sakura yang dingin kepadanya. Delon menarik tangan Sakura dan mengajaknya pergi ke dapur. Sakura hanya menurut saja. Dia tidak ingin terlalu berontak dan banyak akan membuat tenaganya habis. Karena Delon akan tetap kekeh dengan keinginannya. "Duduk dulu, aku siapin makanannya." Kata Delon lembut. Semua wanita akan tersentuh diperlakukan selembut ini olehnya. Namun tidak dengan Sakura, kebenciannya kepada Ibu tirinya membuat dia tidak ingin berhubungan dengan orang yang berkaitan dengan Ibu tirinya itu. "Udah siap." Kata Delon sambil tersenyum. Dia meletakkan dua mangkok sup buntut dan dua piring nasi yang masih mengepulkan asapnya. "Lo juga belum makan?" Tanya Sakura pelan sambil memicingkan matanya. Tidak biasanya Delon makan malam di rumah, laki-laki itu sering makan malam bersama teman-teman kantornya. Hampir satu minggu tinggal bersama Delon membuatnya paham kebiasaan-kebiasaan laki-laki itu. Walaupun dia tidak memperhatikan secara jelas, namun tetap saja dia faham karena Delon tidak pernah terlihat makan malam bersama Bu Elmi dan juga Tasya. "Belum, aku sengaja mau makan bareng kamu." Jawab Delon sambil tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih. Sakura hanya memutar bola matanya malas. Dia tidak menjawab apapun lagi, tangannya langsung mengambil sendok dan menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Matanya melotot karena sudah lama dia tidak makan makanan seperti itu. Delon tersenyum melihat Sakura yang makan dengan lahap. Rasa lapar yang sedari tadi bersemayam diperutnya kini perlahan-lahan sudah kenyang dengan sendirinya. Melihat gadis pujaannya menikmati makanan yang dia beli serasa dia ikut makan bersama. Hingga sup buntut yang ada didepannya mulai dingin. "Kamu nggak makan?" Tanya Sakura dengan mata memicing. "Kamu masih mau?" Delon balik bertanya kepada gadis yang ada didepannya itu. "Ini sudah cukup." Jawab Sakura pelan. Dia kembali melanjutkan makannya. "Iya deh." Ucap Delon lirih. Delon perlahan mulai menikmati sup buntut itu. Makan dalam diam dengan suasana yang hening tanpa ada pengganggu. Malam yang dingin seakan-akan terasa hangat karena melihat senyum manis gadis pujaan. Rasa lelah yang dia rasakan seharian ini perlahan mulai memudar seiring waktu. "Jangan telat makan. Apalagi sampai tidak makan." Kata Delon pelan. "Suka-suka aku, apa urusannya sama Lo." Balas Sakura dengan ketus. Mulutnya masih mengunyah makanan yang ada belum habis. "Nanti kalau kamu sakit nggak ada yang ketusin aku." Kata Delon lembut. Sakura tersedak mendengar ucapan Delon. Dengan cepat Delon menuangkan air putih kepada Sakura. Sakura meneguknya hingga habis. "Pelan-pelan, aku nggak minta kok." Kata Delon sambil tersenyum. "Lo yang bikin gue keselek." Jawab Sakura dengan tatapan tajamnya. Delon terkekeh pelan. "Iya maaf." Kata Delon hampir suaranya tidak terdengar. Sakura membawa mangkok dan piring kosongnya. Dia meletakkannya di tempat cuci piring. Mencucinya dengan cepat tanpa menunggu Delon selesai makan. Tubuhnya terasa panas jika terus berada dekat dengan Delon. Sakura ingin segera pergi dari ruang makan dan merebahkan tubuhnya di ranjang yang usang. Kasur yang sudah tidak empuk lagi, dan selimut yang tidak memberikannya kehangatan namun masih berfungsi untuk melindunginya dari serangan nyamuk yang berterbangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN