Sakura menundukkan kepalanya ketika dia mengingat kata-kata yang sangat menyakitkan baginya. Kata-kata yang tidak ingin dia dengar.
"Mohon maaf, kami sudah mendapatkan kandidat sesuai yang kami cari." Kata salah seorang HRD yang mewawancarai Sakura.
Sakura bangkit dari duduknya. Dia berjalan pelan menuju arah pulang. Dia memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Selain ingin menyendiri itu juga bisa menghemat ongkos untuk pergi besok. Karena besok dia masih harus pergi lagi sampai dia dapat pekerjaan.
Sakura mempercepat langkahnya karena dia ingin segera sampai di rumah dan bertemu dengan Papanya. Karena ini sudah waktunya jam makan siang.
***
Pandu terdiam di dalam. Mobil. Dia memikirkan ucapan Papanya yang sepertinya tidak menyetujui rencananya. Namun dia sudah memikirkan rencana itu dengan matang. Dan dia juga sudah memikirkan resiko serta keuntungan yang akan dia dapat.
Tok tok tok...
Kaca jendela kacanya diketuk oleh seseorang. Pandu yang semula menundukkan kepalanya ke setir mobil kini bangun untuk melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya.
Pandu membuka kaca jendela mobilnya begitu tahu siapa orang yang mengetuk itu.
"Ngopi yuk." Ajak orang itu dengan semangat sambil menunjukkan dua gelas kopi dan dua bungkus kebab daging kepada Pandu.
Pandu menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian orang itu memutari mobil dan membuka pintu mobil untuk duduk di samping Pandu. Dia memberikan segelas kopi dan satu kebab kepada Pandu.
"Lo kelihatannya lemes banget." Kata Gilang mengomentari. Ya, orang itu adalah Gilang. Sepupunya yang sangat dia percaya dalam mengurus urusan kantor.
"Gue lagi bimbang." Jawab Pandu jujur.
"Pasti tentang rencana baru Lo yang mau bikin liburan sepaket itu kan?" Tebak Gilang tanpa basa-basi. Sebenarnya dia sudah tahu dari Papanya Pandu yang meminta bantuannya untuk membatalkan rencana yang sudah dibuat oleh Pandu.
Pandu menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Papa pasti udah bilang ke kamu kan."
"Iya, tadi Om Bambang telvon aku." Jawab Gilang dengan jujur.
"Gue tetep lanjutin rencana gue. Kalaupun nanti rugi gue yang akan tanggung jawab." Kata Pandu yang seakan-akan sudah memutuskan dan sudah tidak bisa ditawar lagi.
"Lo mau nutup kerugian dengan harta pribadi Lo?" Tanya Gilang dengan nada yang tidak suka.
"Kalau itu harus terjadi ya gue nggak bisa menghindar." Jawab Pandu dengan enteng. Dia seperti tidak masalah jika harus kehilangan beberapa asetnya untuk mengganti kerugian.
"Itu bukan jiwa pebisnis. Kalau Lo bener-bener bisnisman Lo bakalan mikirin keuntungan yang akan Lo dapat. Bukan malah ganti kerugian." Kata Gilang mengingatkan.
"Sebelum mengambil keputusan semua orang akan memikirkan itu dengan matang. Tapi gue bukan Tuhan yang bisa membuat keputusan dengan sempurna tanpa kegagalan. Gue hanya mengantisipasi saja kalau semisal gue rugi, gue bakal ganti kerugian itu." Jawab Pandu. Dia menebak jika saudaranya ini tidak mengerti maksudnya.
"Tapi tetep saja Lo harus mikirin itu lagi." Sahut Gilang yang terus berusaha membuat Pandu berubah pikiran.
"Gue sebenernya sependapat dengan bokap Lo. Lo nggak bisa bikin keputusan dengan asal seperti itu." Kata Gilang lagi.
"Gue tau kenapa Lo ngajakin gue ngopi, Lo mau bikin gue berubah pikiran kan. Lo pasti disuruh sama bokap gue." Kata Pandu langsung. Sedikit demi sedikit dia paham dengan tujuan Gilang mendekatinya.
"Gue hanya nggak ingin Lo salah ambil keputusan. Itu menyangkut masa depan perusahaan. Jangan sampai keputusan Lo yang gegabah itu akan membuat investor kecewa dan mencabut Investasi mereka." Kata Gilang mengingatkan.
"Itu akan terjadi jika keputusan gue salah. Tapi gue yakin keputusan gue nggak bakal salah. Perusahaan bakal terima laba yang besar." Jawab Pandu dengan yakin. Ya, dia sudah memikirkan itu dengan matang bahkan dia belum pernah mendengar jika perusahaan lain membuat diskon seperti rencananya. Itu yang membuatnya yakin jika rencananya akan sukses.
"Terserah Lo aja deh. Susah ngomong sama Lo." Kata Gilang putus asa. Dia membuat pintu mobil dan keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun lagi.
Pandu hanya diam saja. Dia yakin jika dia akan berada diposisi seperti ini. Ini bukan pertama kalinya keputusan yang dia buat akan ditentang oleh orang tuanya. Namun Pandu selalu bisa membuktikan jika keputusan yang dia buat adalah keputusan yang tepat. Dia percaya program yang dia buat saat ini akan berhasil dan sukses.
***
Sakura menyiapkan makanan untuk makan malam. Itu sudah menjadi rutinitas Sakura setiap hari. Setelah pulang dari bekerja dia langsung menyiapkan makanan untuk Ibu dan saudara tirinya. Tidak peduli tubuhnya lelah dia tetap memasak karena jika dia membantah, Papanya yang menjadi sasaran.
"Lama banget masaknya. Udah laper nih." Kata Tasya yang baru masuk dapur. Tangannya menggenggam ponsel tipisnya dengan pakaian sederhana ala rumahan.
"Sebentar lagi. Sayurnya udah mateng kok itu." Jawab Sakura dengan tangan yang masih repot dengan spatula.
"Cepetan." Bentak Tasya lagi. Gadis itu berjalan pelan ke meja makan. Dia mendaratkan bokongnya di sana dengan tangan yang memainkan ponsel. Sesekali dia melirik Sakura untuk memastikan jika Sakura benar-benar sedang memasak.
Tidak butuh waktu lama Sakura sudah selesai memasak. Dia menata hasil masakannya itu di atas meja. Dia menghidangkan hasil masakannya dengan baik. Walaupun sederhana namun dia menghidangkannya dengan tulus. Dia sudah menganggap ibu dan saudara tirinya seperti keluarganya sendiri walaupun mereka sudah sering menyiksa Sakura dan memperlakukan Papa Sakura dengan tidak baik.
Sakura menghidangkan makanan itu dalam diam. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Dia ingin cepat menyelesaikan pekerjaan itu agar dia juga cepat istirahat. Karena esok hari dia harus kembali mencari pekerjaan dan sore harinya bekerja di kafe.
"Gimana cari kerjanya? Udah dapet?" Tanya Elmi dengan sinis. Dia menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Belum." Jawab Sakura pelan.
Tasya dan Elmi tertawa bersama. Dia sudah mengira jika Sakura akan gagal mendapatkan pekerjaan. Walaupun Sakura pintar dan bisa menyelesaikan kuliah sebelum waktunya, itu tidak cukup membantu untuk dia mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Persaingan di dunia kerja sangat sulit. Para pencari kerja juga sangat banyak, maka hanya ada beberapa peluang untuk Sakura bisa mendapatkan pekerjaan. Dan itu semua juga dibantu dengan keberuntungan.
"Kan gue sama Mami udah bilang kalo cari kerja tuh susah. Mending Lo fokus aja kerja jadi pelayan kafe." Kata Tasya merendahkan.
"Ini baru permulaan. Ditolak satu perusahaan bukan menjadi akhir bagi aku." Jawab Sakura membantah. Dia menyemangati dirinya sendiri. Walaupun diluar sana tidak ada yang membantunya, namun dia masih punya orang tua yang selalu mendoakan dia dan punya Tuhan yang adil kepada umat-Nya.
"Ngimpi aja Lo." Kata Tasya lagi.
"Di perusahaan ada lowongan jadi bagian kebersihan. Kalau mau nggak usah masukin lamaran pekerjaan, besok langsung masuk kerja aja." Ucap Elmi dengan nada merendahkan.
"Nah cocok tuh buat kamu. Daripada Lo kerja di kafe mending di perusahaan aja kan lebih gede gajinya." Sahut Tasya lagi.
"Suatu saat aku akan kerja di sana sebagai pimpinan karena itu memang hak aku." Kata Sakura dengan tegas.
"Kayaknya Lo punya banyak waktu buat halu ya." Ejek Tasya lagi.
Sakura hanya diam. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Ibu dan saudara tirinya. Karena itu semua tidak akan berhenti tapi malah membuat hatinya bertambah sakit.
Sakura pergi dari ruang makan. Dia masuk ke dalam kamarnya dan menenangkan dirinya di sana. Kata-kata hinaan dan merendahkan yang selalu dia terima dari Ibu dan saudaranya membuat Sakura bertekad jika dia akan lebih sukses dari mereka. Dan Sakura bertekad jika dia akan kembali merebut perusahaan Papanya yang kini dikuasai oleh Ibu tirinya.
"Aku pasti berhasil. Aku akan membungkam mulut mereka dengan kesuksesanku." Kata Sakura dengan semangat.