Tatapan John benar-benar datar saat tangannya masih sibuk memberikan hadiah pada tawanannya. Hadiah yang seumur hidup tidak akan pernah terlupakan. John begitu lihai menggerakkan tangannya pada pipi pria yang saat ini sedang menjerit kesakitan, akibat kaca yang terus menggores kulit wajahnya. Matanya melotot akibat sakit dan perih yang di rasakannya. Seolah nyawanya sedang dipermainkan. John memang tidak pernah main-main dalam memberikan hadiah untuk para tawanannya. "Tuan, saya rasa sudah cukup." Suara Griffin membuat John menghentikan pergerakan tangannya. Dia menoleh dengan tatapan yang tajam, seolah memberitahu bahwa tidak ada yang bisa mengaturnya. Seketika Griffin langsung menundukkan kepalanya untuk mengakui kesalahan. "Maaf, Tuan." Tepat setelah itu, John kembali menatap pria

