Bagian 1
BAGIAN (1)
Cinta Anita (Season 1)
❀✿•♥•✿❀
Tangannya menggengam lembut tanganku, aku sangat bahagia waktu dia menggengam tanganku, karena ini untuk pertama kalinya dia menggengam tanganku. Tetapi aku tidak bisa membalasnya bahkan untuk mengenggamnya saja aku tidak mampu. Saat ini aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan aku tidak bisa menggerakan seluruh tubuhku. Pria yang sedang menggengam lembut tanganku adalah suamiku, ya dia suamiku yang begitu aku cintai. Aku akan sedikit bercerita awal pertemuanku denganya, pertemuan yang sangat mendebarkan hatiku tapi tidak mendebarkan hatinya saat itu.
❀✿•♥•✿❀
Flash Back...
Hari ini adalah hari paling bahagia untukku, hari ini adalah hari pernikahanku dengan Mas Raka. Pria itu telah membuatku jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama. Pertemuanku dengan Mas Raka pertama kali ketika aku tidak sengaja bertemu dengan ibuku di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, saat itu ibuku sedang arisan bersama dengan teman-temannya. Dan disana ada Mas Raka yang juga sedang menemani ibunya, wajahnya terlihat kesal. Aku tahu kenapa dia sangat kesal waktu itu karena ibunya meminta dia untuk menemaninya arisan. Kebanyakan para pria paling pantang menemani ibunya untuk datang arisan atau sekedar menemani ibu mereka ke salon. Melihat wajah cemberut Mas Raka waktu itu membuatku tertawa, wajahnya terlihat manis dan tidak mengurangi ketampanan yang dia miliki.
Pertemuanku dengannya waktu itu sangat mendebarkan hatiku, aku jatuh cinta dengannya saat dia memperkenalkan dirinya untuk pertama kalinya kepadaku. Yang membuatku sangat terkejut, ternyata aku dan Mas Raka dijodohkan, yah dijodohkan. Walaupun kami belum saling mengenal satu sama lain, aku merima perjodohan itu dengan senang hati. Mungkin itu terlihat bodoh, aku belum mengenalnya tetapi aku malah menerima perjodohan ini.
Sehari, seminggu, hingga satu bulan kami saling mengenal satu sama lain akhirnya kami menikah. Tetapi ada satu hal yang membuat hatiku miris, sepanjang waktu kami saling mengenal satu sama lain, Mas Raka tidak pernah sedikitpun bertanya tentang diriku, aku yang selalu bertanya tentang dirinya. Kadang aku berpikir Mas Raka sepertinya tidak menyukaiku. Namun, aku tepis semua pikiran itu, jika dia tidak menyukaiku pasti dia tidak akan menerima perjodohan ini. Aku sangat yakin Mas Raka menyukaiku.
Lalu aku menatap Mas Raka yang sedang sibuk berbincang dengan beberapa rekannya, pria itu tidak banyak bicara kepadaku. Saat melakukan Ijab Kabul aku melihat kesedihan diwajah Mas Raka, entah apa arti kesedihan itu.
Apa dia bahagia sepertiku? Atau malah dia tidak bahagia dengan pernikahan ini? Aku menghela napas sesaat dan berjalan menghampiri pria yang telah resmi menjadi suami ku itu.
"Mas..." Panggilku lembut dan menyentuh bahunya, pria itu langsung menatapku sesaat tanpa senyuman sedikitpun. "Aku---"
"Ohya Bro, aku harus kebelakang dulu ya. Kebelet pipis!" serunya tertawa kepada teman-temannya dan mengacuhkan aku untuk kesekian kalinya.
Aku hanya tersenyum kikuk dihadapan teman-temannya ketika Mas Raka pergi begitu saja dari hadapanku. Mas Raka selalu seperti ini, sejak awal mengenalnya dia sama sekali bersikap tidak peduli kepada ku. Bahkan mengenalkanku kepada rekan-rekannya pun tidak. Waktu itu kami pernah tidak sengaja bertemu dengan temannya di saat kami berkencan bersama, Mas Raka selalu mengatakan bahwa aku adalah teman atau saudaranya, sugguh perkataanya membuat hati ku sedikit sakit.
Tidak istimewakah aku di hatinya? Sehingga dia mengatakan kepada semua orang bahwa aku adalah temannya?
Kemudian aku mengikuti Mas Raka yang berjalan menuju kamarnya, "Mas Raka, tunggu!" panggilku ku ketika ia ingin menutup pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanyanya dengan pandangan sinis.
"A-a-aku hanya ingin--" jawabku bingung dan gugup.
"Ingin apa?! Ingin menghancurkan hidup lagi?!" bentaknya membuatku terkejut.
Menghancurkan? Sejak kapan aku menghancurkan hidupnya?
"Maksud Mas?" tanyaku bingung.
Pria itu tertawa sinis, "semua ini gara-gara kamu! Kalau saja kamu menolak perjodohan gila ini, kita tidak akan pernah menikah!” makinya penuh amarah.
Aku terperangah ketika dia bicara seperti itu, "aku kira kita, maksudku Mas juga menginginkan perjodohan ini." Kataku menatap wajahnya yang di penuhi emosi.
"Dimana pikiranmu? Apa kamu tidak lihat sikapku yang tidak suka bertemu denganmu. Apa kamu tidak merasakan kalau aku sering menghindar darimu?! Hah?!" Bentaknya dengan suara keras. "dengar, aku tidak menginginkan pernikahan ini!" Jelasnya menatapku tajam, sedetik kemudian dia membanting pintu kamarnya.
Setetes airmata jatuh di pipiku dengan hati terluka. Baru saja aku merasakan kebahagian ini, tetapi mengapa hanya sebentar? Belum sempat aku membuatnya tersenyum dengan kasih sayangku, tetapi aku sudah membuatnya kecewa dengan cinta semu ini. Aku baru saja menyandang status sebagai seorang istri, tetapi kenapa aku haru mengalami duka secepat ini Tuhan?
❀✿•♥•✿❀
Hari ke-2
Ini adalah hari kedua pernikahanku dengan Mas Raka, saat ini aku sedang menyiapkan sarapan untuk suamiku. Aku sedang membuat telur setengah matang dan roti bakar untuknya, aku berharap Mas Raka menyukai masakanku nanti.
Sedetik kemudian aku menghela napasku, malam tadi Mas Raka sama sekali tidak menyentuhku, bahkan tidur seranjang denganku saja dia tidak mau. Aku hanya tersenyum lirih jika teringat itu semua, malam pertama yang seharusnya membahagiakan malah sangat menyesakan.
Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini, ingin membicarakan masalah ini aku takut akan membuat Mas Raka semakin marah padaku. Padahal aku ingin sekali bertanya kepadanya kenapa dia menikahiku kalau dia tidak menginginkan pernikahan ini.
Saat aku sedang melamun tiba-tiba pintu kamar terbuka, aku melihat Mas Raka yang sudah rapi dengan setelan baju kerjanya. Aku mengeryitkan keningku bingung, bukannya Mas Raka hari ini cuti nikah dan seharusnya dia libur.
"Mas mau kemana?" tanyaku tersenyum.
"Bukan urusanmu!" jawabnya dengan sorotan tajam dan langsung melesat keluar rumah.
"Mas, tidak sarapan dulu?" tanyaku kembali.
Mas Raka berbalik dan menatapku tajam. "Sebaiknya kamu tidak perlu bersikap menjadi istri yang baik, anggap saja kita tidak pernah menikah walaupun kita satu rumah!" ucapnya membuatku terperangah.
Aku sangat tidak percaya dengan perkataannya barusan, aku menangis tertahan ketika dia pergi begitu saja dari hadapanku. Di hari kedua pernikahan kami, airmata ku kembali menetes.
Ya Tuhan kuatkanlah hatiku…
❀✿•♥•✿❀
Malamnya…
Mataku beberapa kali melihat jam di dinding, sudah jam sebelas malam Mas Raka juga belum pulang, aku begitu khawatir kepadanya, bahkan teleponku tidak di angkat olehnya. Akhirnya suara Mobil Mas Raka terdengar, aku langsung membuka pintu rumahku dan tersenyum hangat menyambut kedatangannya.
Seperti biasa Mas Raka menatapku penuh dengan kebencian seakan aku adalah musuh terbesarnya. Tetapi aku mencoba untuk tidak mempedulikannya, bagaimanapun juga dia suamiku yang harus ku hormati. Aku mengulurkan tanganku untuk memberi salam kepadanya, tapi dia tidak membalas uluran tanganku, dia malah menabrak bahuku kencang membuatku kesakitan.
"Mas Raka, tunggu." Kataku setelah menutup pintu rumah kami. Aku mengejarnya ketika dia berjalan cepat menuju kamar kami, "Mas, boleh aku bicara?" tanyaku hati-hati, pria itu menatapku penuh marah.
"Mau bertanya apa!?" tanyanya sinis dengan mata melebar.
Aku menghela napas sesaat. "“Jika Mas Raka tidak menginginkan pernikahan ini dan tidak mencintaiku, lalu kenapa mas tidak menolak pernikahan ini ketika ibu mas menjodohkan kita?” tanyaku
Dia berdecak kesal dengan senyuman kecut, “aku menikahimu demi kebahagian ibuku, aku tidak ingin membuatnya bersedih dan tidak ingin kehilangannya. Ibuku mempunyai penyakit serius, dia terkena kanker. Aku bisa saja menolak pernikahan ini kepadamu dan juga ibuku, tetapi aku tidak ingin membuat ibuku kecewa. Pernikahan ini terjadi bukan atas kemauan hatiku, pernikahan ini terjadi demi kebahagian ibuku!” jawabnya membuat jantungku seakan berhenti berdetak, “lalu kenapa aku tidak mencintaimu? Karena hatiku telah dimiliki oleh oranglain!” katanya lagi membuat hatiku hancur mendengarnya, "ini semua gara-gara kamu, kamu sudah menghancurkan kehidupanku! Bukan hanya itu kamu juga sudah membuat hati dia terluka! Aku sangat membenci kamu Anita!" makinya dengan rahang bergemertak, aku merasakan mataku sedikit memanas mendengar semua perkataannya, "Jangan pernah kamu berharap aku akan membalas perasaanmu walaupun seujung kuku!" bentaknya dan berlalu dari hadapanku.
Airmataku kembali terjatuh ketika dia mengatakan itu, semua perkataannya membuat hatiku sangat sesak. Jadi dia menikahiku hanya untuk membuat hati ibunya bahagia? Bukan dasar keinginan hatinya untuk menikahiku? Aku kira dia menikahiku karena dia juga mencintaiku, seperti aku yang mencintainya. Tetapi ternyata aku salah, aku terlalu percaya diri dengan perasaanya kepadaku.
Pernikahanku baru berjalan dua hari tapi kenapa rasanya sesak seperti ini? hatiku begitu hancur saat mendengar semua pengakuan dari Mas Raka.
Ternyata Mas Raka sudah memiliki kekasih dan kehadiranku telah menghancurkan kehidupannya. Sejak awal bertemu dengannya seharusnya aku menolak perjodohan singkat ini dan sekarang aku tidak mungkin menggapai cintanya walaupun aku berharap memilikinya.
Ya Tuhan apa yang harus ku lakukan?
❀✿•♥•✿❀
Seminggu kemudian...
Pagi-pagi sekali Mas Raka sudah pergi, entah akan pergi kemana dia. Diam-diam aku mengikutinya, sepasang mataku terus mengawasi mobil milik Mas Raka yang tidak jauh jaraknya dari mobil yang sedang ku kendarai. Sudah seminggu ini sikap Mas Raka kepadaku sangat menyakitkan hatiku, dia selalu saja membentakku ketika aku memberi perhatian untuknya.
Aku menghentikan mobilku ketika Mas Raka membelokan mobilnya di Rumah sakit. Aku mengeryitkan keningku bingung, mau bertemu siapa Mas Raka disini? Aku langsung memarkirkan mobilku ketika Mas Raka masuk ke dalam rumah sakit itu dengan langkah terburu-buru. Aku keluar dari mobilku dan mengejar Mas Raka sebelum aku kehilangan jejaknya.
Setelah aku berhasil mengejarnya dengan jarak yang lumayan dekat aku melihat Mas Raka masuk ke dalam salah satu ruangan, kemudian aku berjalan menghampiri ruangan itu, lalu aku mengintip ruangan itu dari balik jendela. Napasku tercekat ketika melihat suamiku mengecup kening seorang wanita yang sedang terbaring lemah disana. Wajah wanita itu terlihat pucat.
Apa jangan-jangan Wanita itu kekasihnya?
Membayangkan itu saja membuat wajahku memanas. Air mataku menetes ketika Mas Raka tersenyum sambil menggengam tangan wanita itu. Senyuman Mas Raka begitu tulus kepada Wanita itu, selama aku mengenalnya Mas Raka tidak pernah tersenyum seperti itu kepadaku.
Ya Tuhan aku ingin Mas Raka bisa tersenyum seperti itu kepadaku. Batinku lirih.
"PERGI!!" teriak wanita itu tiba-tiba mendorong tubuh Mas Raka, "Aku bilang pergi!!" teriaknya kembali.
"Tania, aku mohon Tania maafkan aku..." Mohon Mas Raka berusaha memeluk Wanita itu.
"Maaf?! Semudah itu kamu minta maaf kepadaku?! Kamu menikah dengan wanita lain dan meninggalkanku! Aku ingin bunuh diri saja! Aku ingin bunuh diri!" Seru Wanita itu mendorong tubuh Mas Raka, kemudian Wanita itu langsung mengambil sebuah pisau untuk memotong buah dan mendekatkan pisau itu ke nadinya.
"Tania tenang!!" Seru Mas Raka dengan wajah begitu panik dan cemas. Dengan gerakan cepat Mas Raka merebut pisau itu dan membuangnya kesembarang tempat.
Aku yang melihatnya langsung memanggil salah satu suster yang lewat, "Sus, tolong di ruangan ini ada yang ingin bunuh diri." Kataku gemetar, Suster itu langsung berlari ke kamar inap wanita itu.
Setelah suster itu masuk, aku memperhatikannya dari luar. Wanita itu terus berontak di pelukan Mas Raka dan teriakannya semakin terdengar kencang. Lalu wanita itu di beri obat penenang oleh suster itu. Wajah Mas Raka begitu cemas di sana. Setelah wanita itu tenang, Mas Raka membopong tubuh wanita itu dan meletakannya pelan di atas ranjang. Napasku berhembus kencang dengan senyuman lirih saat melihat Mas Raka mengusap kening wanita itu dengan penuh kasih sayang, dari wajahnya aku bisa melihat Mas Raka begitu mencintai wanita itu.
Tidak lama suster yang menangani wanita itu keluar, aku memundurkan langkahku ketika pintu ruangan terbuka, "Sus, bolehkah saya tahu mengapa wanita itu ingin bunuh diri tadi?" tanyaku penasaran saat suster itu ada di hadapanku.
"Nyonya itu ingin mencoba bunuh diri, sudah berapa luka perban di pergelangan tanganya. Sepertinya lelaki itu telah mengkhianatinya dan membuat Nyonya itu stress." Jawab suster dengan hembusan napas.
Aku yang mendengar perkataannya sangat terkejut dan aku merasakan hatiku sangat sakit. Setelah suster itu pergi dari hadapanku, aku menangis tertahan dan mengepalkan kedua tanganku. Ini semua salahku, seandainya aku tidak menyetujui perjodohan dan pernikahan ini, wanita itu tidak akan pernah mencoba bunuh diri.
Apa yang harus ku lakukan Tuhan? Aku telah mengahancurkan hati wanita yang sangat dicintai suamiku.
Aku memejamkan kedua mataku, Mas Raka tidak pernah mencintaiku bahkan pernikahan ini dia tidak menginginkannya. Aku terlalu egois mengorbankan perasaanya demi kebahagianku, seharusnya aku bertanya dulu kepadanya tentang perjodohan ini. Seharusnya aku juga bertanya kepadanya, apakah dia mencintaiku? Wanita itu adalah korban dari keegoisan ku, aku telah merebut kebahagiannya.
Aku menyerka airmataku, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa mengapai Mas Raka dan memilikinya, karena aku tahu Mas Raka bukan untukku.
Sedetik kemudian aku menyerka airmataku ketika sebuah pikiran muncul dibenak ku. Aku akan meminta Mas Raka untuk menikahi wanita itu, aku rela berbagi cinta dengannya, karena cinta itu harus berkorban demi kebahagian orang yang kita cintai, walaupun hatiku sendiri harus terluka.
Tuhan, semoga keputusanku ini benar…
❀✿•♥•✿❀