Part 18 - Keputusan

919 Kata
Fianer menghela nafas. “Lalu kita harus bagaimana?” tanyanya. Dia menopang pelipis yang disangga tangan di lengan sofa. Sedari tadi kakinya selonjor di pangkuan Egar di sofa depan tv apartemennya. Egar terdiam. Jujur, dia tak suka mengingat kejadian kemarin. Entah kenapa, semakin lama, keadaan menjadi semakin sulit. Saat Egar melamarnya pertama kali, kadar kebencian Erfan rasanya tak sebesar sekarang. Namun sekarang dia tahu, bahwa kemarahan ini berhubungan erat dengan ayahnya. Ayahnya telah memberikan alasan pada Erfan untuk lebih membencinya. “Keadaan memburuk,” Egar berdecak tanpa sadar. “Do something.” pelan Fianer putus asa. Egar tak menjawab, tapi tangannya memijat telapak kaki Fianer lembut, membuatnya nyaman. Sehingga tak perlu tegang memikirkan ini. “Kamu mau menunggu mereka berbaikan?” Fianer menghela nafas, lalu menggeleng. “Aku tidak mau menunggu lagi.” desahnya. Kali ini Egar yang menghela nafas. “Kalau begitu tidak usah pedulikan. Kita tetap akan menikah.” Fianer mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Bolehkah?” Egar mengangguk. “Kita mulai saja persiapan pernikahannya.” Fianer terkejut. Jantungnya berdebar dengan pemberontakan ini. “Ini serius?” tanya Fianer memastikan. “Aku sudah meminta pada Ayahmu dua kali, kurang serius apa?” tanya Egar datar. Seketika, Fianer tersenyum lebar. Melihat senyum itu, Egar menjatuhkan kaki Fianer ke bawah. Kemudian Egar langsung menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Fianer. Fianer tersenyum sambil mengusap rambut Egar lembut. Sementara itu Egar mencari chanel yang bagus untuk ditonton. Dia menjatuhkan pilihan ke permainan bola yang disiarkan salah satu stasiun TV. “Memang tidak ada yang lain?” Fianer protes. “Tidak ada.” kata Egar datar. “Gaar, ganti dong. Siapa tahu ada film bagus.” “Aku tidak suka sinetron.” “Bukan sinetroon. Film, film.” “Sama saja.” Egar tetap tenang menonton bola sambil bersidekap. Fianer mendengus. Sebal. Tapi dia memilih mengalah. Lebih suka mengusap rambut Egar. Memperhatikan Egar yang menonton bola dengan serius. Dia tidak pernah tahu Egar suka bola. Dan sejujurnya, dia tak tahu banyak hal yang Egar sukai. “Gar ... “ “Tidak ada yang bagus.” potong Egar langsung. Fianer berdecak. “Aku tidak minta ganti chanel. Aku cuma mau tanya.” “Oh, apa?” “Kamu suka warna apa?” Egar menoleh tiba-tiba. Dahinya berkerut bingung. “Kenapa tiba-tiba tanya warna?” Fianer menggeleng. “Tidak tahu. Setelah dipikir-pikir aku tidak banyak tahu tentang kamu. Bahkan aku baru tahu kalau kamu suka bola.” Memang. Selama mereka berpacaran, mereka selalu disibukkan oleh masalah-masalah yang membuat mereka lupa mencari tahu hal lain. Apa yang disukai, apa yang tidak disukai. Mereka hanya tahu hal-hal yang terlihat saja. Selain itu, sebenarnya mereka tak tahu apa-apa. Egar setuju itu. “Aku suka hitam.” katanya. “Sama seperti mata kamu ... “ pelan Fianer. Egar menatap Fianer yang juga menunduk menatapnya. “Mata kamu cokelat muda. Bukan berarti itu warna kesukaan kamu kan?” Senyum Fianer terkulum dan dia menggeleng. “Tebak ...” “Putih.” Tebakan Egar benar. Dia berhasil menjawab di tebakan pertama. Fianer memang lebih suka warna putih. Hitam ... putih. Dua warna yang sangat berlawanan, kontras. Hitam dan putih ... kedua warna yang tanpa warna. “Tema wedding kita bisa memakai dua warna itu.” Egar mengangguk. “Boleh.” Jari-jari Fianer masih mengusap rambut Egar penuh sayang. “Aku ingin pesta pernikahan kita sederhana. Tapi bener-bener tentang kita.” “Like what?” “Outdoor ... anggrek cattleya di mana-mana ... hanya warna hitam, hanya warna putih ...” Senyum Fianer mengembang. Ya ... “Sound’s great.” Keduanya tersenyum, memikirkan dan membayangkan seperti apa pernikahan mereka nanti. Walaupun mereka menyadari, seantusias apapun mereka membahasnya, ada satu lubang menganga di hati mereka. Kesedihan yang diam-diam meretas. Ketiadaan restu Erfan membuat kebahagian mereka berkurang ... membuat semua rasa yang seharusnya ada tak begitu terasa. Tapi mereka mengabaikannya. --- “Kalian berdua gila?!” Fier  menggeleng tak percaya. “Keadaan masih belum kondusif, bagaimana kalian masih berpikir bisa melangsungkan pernikahan di situasi seperti ini?” Fianer dan Egar saling pandang. Egar sendiri hanya bisa menatap Fier dengan tenang. Seakan tidak peduli dengan kata-katanya. “Apa tidak menunggu keadaan tenang dulu?” tanya Fiandra. Fianer menggeleng cepat. “Kalau menunggu Ayah dan Om Rudolf akur pasti lama sekali.” Fier dan Fiandra terdiam. Egar tahu kalau keduanya ragu. Tapi Egar benar-benar tak ingin mengulur waktu lagi. “Kami tidak butuh persetujuan. Kami hanya memberitahu.” kata Egar. Fier dan Fiandra menatap Egar dengan mata yang sama serius. Mereka berdua tahu, setuju atau tidak, Egar dan Fianer akan tetap melangsungkan pernikahan mereka. Fiandra menghela nafas. “Oke, apa yang bisa Bunda bantu?” Senyum Fianer merekah. Akhirnya ... --- Erfan terkejut menyadari Fianer sudah memulai persiapan pernikahan tanpa meminta persetujuannya. Di dalam ruangannya, Erfan hanya bisa diam menatap jendela. Pandangannya menerawang jauh. Senyumnya terkadang tipis, sinis. Bagaimana Fianer bisa melakukan ini padanya? Satu bahunya disentuh seseorang. Aroma lembut kesukaannya tercium, dia tak perlu menoleh untuk tahu bahwa istrinya yang ada di sampingnya. Tatapannya masih jauh ke depan. “Mereka akan menikah bulan depan,” bisiknya. Erfan tak menjawab. Fiandra ikut duduk di samping Erfan, bersandar di tepi meja. “Apa sangat sulit untuk ikhlas melepaskannya?” tanyanya. Erfan menoleh pada istrinya. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan. Hanya saja sakit itu masih mengendap di sana. Ingat saat melihat putrinya kehilangan dirinya sendiri, kehilangan tawanya, mengasingkan diri. Kemarahan itu masih belum pudar sepenuhnya. Erfan mengangguk lemah. Fiandra tersenyum, lalu berdiri di hadapan suaminya. Lembut, namun tegas, membawa suaminya untuk bersandar di bahunya, memeluknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN