Part 19 - Rama

1345 Kata
"Nanti malam ada waktu?” tanya Egar. Egar fokus ke dokumen di depannya, membolak baliknya, sambil satu tangan memegang ponselnya. “Aku free. Tidak ada tugas jaga. Kenapa memangnya?” “Bagus. Aku diundang relasi bisnis ke pesta pernikahan anaknya. Nanti malam aku jemput jam 7.” Egar menandatangani dokumen di tangannya. Menutupnya lalu memutar kursinya menghadap jendela. “Oke, oke. Aku usahakan.“ Egar menghela nafas lalu memjamkan mata. Bersantai sejenak dari kesibukan. Akhir-akhir ini kesibukan tak begitu terasa. Setiap kali dia lelah, suara ini selalu menyegarkan pikirannya kembali. “Ann, ada pasien kolaps.” Samar-samar Egar bisa mendengar seseorang bicara. “Oke, aku ke sana.” Suara Fianer terdengar terburu-buru. “Gar, aku pergi dulu.” Belum sempat Egar mengatakan apa-apa sambungan terputus. Egar tersenyum memandang ponselnya. Betapa berbedanya setelah dia bisa memiliki wanita ini lagi. Hidupnya sekarang terasa ringan. Ponsel yang ada di tangannya dia lempar ke atas dokumen lalu matanya menatap undangan warna merah marun itu. Acara-acara seperti ini bukan hal yang baru. Dia biasanya tak pernah menggubris dan melewatkan acara demi acara. Undangan yang datang tak pernah dia baca. Tapi mulai kini, dia tak keberatan untuk datang selama Fianer mau menemaninya. --- Fianer tak punya waktu banyak untuk mendapatkan penampilan terbaik malam ini. Beruntung dia mempunyai butik langganannya. Di sana ada seorang designer kenalannya. Saat sampai di sana, hari sudah menjelang malam. Dia sungguh tak punya banyak waktu. “Mbak Kristin,” panggil Fianer saat datang ke butik itu. butik terlihat sepi hingga dia bernafas lega. Kristin yang sedang memilah-milah gaun di gantungan menoleh. Senyumnya mengembang saat melihat siapa yang datang. “Ho ho, lihat siapa yang datang?” tanyanya retoris. Fianer tersenyum kecut. “Maaf, maaf. Aku sibuk koas akhir-akhir ini. Jadi tidak sempat datang.” Kristin tertawa rendah. Dia pun tahu betapa sibuknya Fianer dari penampilan wanita itu kini. Memang, setelah keluar dari rumah sakit biasanya penampilan Fianer memang ala kadarnya karena terlalu lelah. “Oke, sekarang mau cari baju untuk sekedar belanja atau ada acara?” Fianer tersenyum puas menatap Kristin yang sangat mengenal dirinya. “Ada acara.” Kristin tak banyak bertanya. Dia langsung bekerja. Tubuhnya yang kecil mungil dan mata yang awas membuatnya enerjik. Dia bergerak ke sana kemari untuk mencari gaun-gaun andalannya. Dia tahu ukuran tubuh Fianer karena sering meminta bantuan Fianer untuk menjadi model rancangan terbarunya. Tiga gaun malam terbarunya dia tunjukkan ke Fianer. Senyum Fianer langsung mengembang. Kristin tak pernah mengecewakanya. Setiap kali dia meminta sebuah gaun cantik, Kristin selalu membawakannya. Fianer memilih satu gaun malam berwarna abu-abu tanpa lengan sepanjang mata kaki. Senyumnya mengembang sempurna. Dia bisa membayangkan seperti apa dia terlihat saat memakainya. Dia langsung tahu, ini gaun yang dia cari. --- Mata Egar sedikit melebar saat jam 7 tepat Fianer membuka pintu apartemen miliknya. Penapilan Fianer tak pernah gagal membuat Egar berdecak kagum. “Gimana?” tanya Fianer dengan tangan di pinggang. Egar tertawa saat sadar Fianer meminta pujiannya. Dia tak pandai memuji. Dandanan Fianer benar-benar menakjubkan. Gaun abu-abu mudanya membungkus tubuhnya dengan tepat. Potongan d**a yang tak terlalu rendah dan juga lengan yang dibiarkan terbuka. Dan rambut cokela muda itu tergerai indah. Tak ada hiasan apapun di sana. Dia menyukai rambutnya terekspose. Karena rambutnya bisa menutupi bagian-bagian tubuh yang  tak tertutup gaun hingga tak terlihat begitu terbuka. Egar memuji pemilihan gaun Fianer yang dirasa tepat untuk acara nanti. Tapi Egar juga yakin, Fianer tak asing dengan resepsi macam ini. “Mau berangkat sekarang?” tanya Egar. Fianer menggeleng. Dia mendekat dua langkah, hingga tubuhnya ada di jangkauan lengan Egar. Dengan satu alis terangkat, Egar menatap wanita itu. Tapi mata Fianer hanya tertuju pada sapu tangan di saku atas jas Egar. Fianer mengambil saputangan itu. Dia sudah menyiapkan warna yang senada dengan gaunnya. Egar tersenyum menyadari apa yang Fianer lakukan. Dia mencium dahi wanita itu lembut saat wanita itu menyisipkan saputangan baru ke saku jas Egar. “Oke, kita berangkat sekarang.” --- “Apa kamu dekat dengan yang punya acara?” tanya Fianer. Egar menggeleng. Fianer mengalungkan tangannya ke lengan Egar. Mereka sekarang sedang masuk ke dalam gedung resepsi. Tamu sudah banyak yang datang ternyata. “Dia menawarkan kerjasama yang file kontraknya masih tertumpuk di meja. Aku belum berencana untuk ACC.” Fianer mendengus. Tapi tak berkomentar apapun. Ini usaha tuan rumah untuk membujuk Egar menyetujui kontrak. Suasana gedung begitu mewah. Egar menatap kanan kirinya dengan tersenyum. Dia juga akan mengadakan acara yang sama sebulan lagi. Serasa seperti mimpi. “Hm, aku membayangkan pernikahan kita,” Egar tersenyum karena pikiran Fianer sama dengannya. “Apa kamu ingin konsep yang lebih mewah dari ini?” tanya Egar. Fianer menggeleng. “Tidak. Kita kembali ke konsep awal kita saja. Pernikahan seperti ini selalu berbau bisnis.” katanya dan Egar setuju. Mereka masuk makin ke dalam dan Egar menemukan beberapa orang yang dikenalnya. “Pak Rama!” panggilnya. Egar mengangguk singkat pada laki-laki paruh baya itu. Fianer menaksir umurnya sekitar 40-an. Mereka berjabat tangan. Fianer tersenyum pada laki-laki paruh baya itu. “Pak Abdi,” Laki-laki yang dipanggil Abdi itu baru sadar dengan keberadaan Fianer. “Wah, anda datang bersama siapa?” tanyanya ingin tahu. “Ini tunangan saya.” Wajah Abdi berbinar cerah. Dia terlihat ramah di mata Fianer. Laki-laki itu memanggil istrinya. “Bu, sini.” Seorang wanita juga paruh baya menoleh dan mendekat. “Iya?” terlihat sekali kalau istrinya itu tergolong sosialita. Fianer tersenyum menyadari Bundanya tak pernah mau untuk bergaul dengan kaum itu. Lebih memilih kehidupan biasa bersama Ayahnya. “Ini kenalkan Bu, Pak Rama. Ini yang Bapak ceritakan kemarin.” Setelah itu wajah Ibu itu menjadi cerah. Wajahnya yang angkuh kini berubah ramah. Dia tersenyum pada Egar berlebihan lalu menoleh pada Fianer dan juga dengan senyum yang berlebihan. “Ini istri saya, Pak Rama.” “Saya Fransiska Pak,” tangan Fransiska terulur. Mau tak mau Egar mengulurkan tangan. Hanya sekilas karena Egar terlihat tak nyaman. Kini Fransiska beralih ke Fianer. “Ini pacarnya ya?” tebak Fransiska. “Tunangannya Bu,” kata Abdi. “Ooo,” mulut Fransiska membentuk huruf o besar. Dia cepat-cepat mendekat dan mengulurkan tangan dan Fianer menyambutnya dengan senyum standar. “Wah, calon nyonya Hadiwijaya. Anda beruntung sekali dapat calon suami sehebat Pak Rama.” Fianer kembali tersenyum sopan. “Ya, memang. Saya beruntung sekali.” “Oke, maaf kami harus pergi.” Abdi langsung tegang. Dia langsung menatap Egar dengan tatapan memelas. “Pak, permohonan saya yang kemarin...” “Saya menolak.” ucap Ear tenang. Fianer menatap Abdi dengan tatapan kasihan. Karena wajah Abdi kini pucat pasi. Bahkan Egar tak memperhalus ucapannya. Tanpa berkata-kata, Egar menarik Fianer untuk pergi dari sana. Abdi tak mengejar mereka. Seolah pasrah. Fianer menatap Egar dengan pandangan nanar. Ini adalah wajah dari seorang Rama. Mata Egar menoleh saat menyadari ada yang mengawasinya. Dia bisa melihat Pak Jaya di sana, menatapnya dengan pandangan tajam yang tak disembunyikan. Tersirat kemarahan yang sarat. Tapi Egar tak mempedulikannya. --- “Bagaimana ini bisa terjadi?!” tanya Egar tajam. Matanya terbelalak maksimal melihat grafik saham perusahaan yang menukik turun dengan tajam. Tanpa peringatan sebelumnya. Dia menatap laporan dengan teliti dan menemukan satu nama penyebabnya. “b******k!” desisnya. Sejak Egar menyadari bahwa ada konspirasi besar-besaran menyerang perusahaan Erfan, dia mem-protect perusahaan itu sekuat tenaga. Namun dampaknya, konspirasi itu berbalik menyerangnya saat tahu bahwa perusahaan Egar yang membantu perusahaan Erfan. Konspirasi ini cukup besar karena ada sebelas perusahaan yang bekerja sama menjatuhkan perusahaannya. Saat Rudolf tahu, dia marah besar. “Untuk apa kamu bantu Erfan! Ingat kalau dia membencimu!!” Egar terdiam. Dia memejamkan mata menghadap jendela kaca. Dalam kegelapan itu dia memang tak bisa melihat apapun. Namun saat indera penglihatan tertutup, indera lain menjadi 2x lebih tajam. Suara sekecil apapun terdengar makin jelas. Bahkan kemarahan Ayahnya terasa makin pekat. Dalam kelemahan, dia merasakan kelebihan. Karena dengan kebutaan, dia menemukan ketenangan.  Dia sedang mencari cara untuk lepas. Dia harus putar otak untuk keluar dari krisis ini. Tapi masalahnya jalan keluar itu selalu ditutup oleh mereka. Ketenangan yang dia dapatkan menyadarkannya akan satu hal. Perlahan, perusahaannya kehilangan keseimbangan. Satu persatu elemen runtuh. Saham, kolega, nilai jual, kepercayaan, kredibilitas .... semuanya.                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN