Part 20 - Persiapan Pernikahan

2781 Kata
Persiapan pernikahan sudah berjalan kurang lebih satu minggu. Terkadang, Egar ingin berhenti untuk memulai lagi. berhenti dengan rencana bahagia ini karena dia tak tahu apa sanggup membuat Fianer bahagia saat wanita itu terpaksa harus menemaninya dari nol lagi. Dia ingin memulai lagi usahanya. Ingin berada di puncak untuk bisa percaya diri membuat wanita itu bahagia. Saat dia bisa memenuhi segalanya, tanpa kekurangan suatu apa. Menatap Fianer yang duduk di ruang tamu rumahnya, menunggunya. Jujur saja dia sudah tak punya rasa percaya diri untuk menghadapinya. Fianer berdiri menghampirinya dan menyentuh pipi Egar. “Ada apa?” tanyanya. Egar diam saja. Dia tak menjawab. Dia melepaskan diri dari Fianer dan berlalu ke kamarnya. Fianer sampai kebingungan, tapi dia tetap membuntuti Egar ke kamar. Fianer duduk di tempat tidur dan Egar duduk di samping Fianer. Menunduk, menautkan tangan. “Ann ... kalau seandainya aku tak punya apa-apa ... apa kamu akan tetap mau menikah denganku?” Egar tahu, berhenti akan membuat wanita itu marah. Dia tahu apa yang akan Fianer teriakkan padanya. ‘Kau pikir aku wanita apa? Kau pikir aku akan meninggalkanmu begitu saja?’ “Apa maksudmu bertanya begitu?” tanya Fianer langsung menukik tajam. “Apa kamu pikir aku ingin menikah karena uangmu? Apa kamu pikir aku akan takut menikah denganmu kalau kamu tidak punya apa-apa?!” teriaknya emosi. Egar menghela nafas, lalu tersenyum tipis karena tebakannya tepat. Dia tahu wanita apa yang akan dia nikahi. Wanita itu benar-benar mencintainya. Tulus apa adanya. Dia tidak akan meninggalkannya hanya karena dia jatuh. Wanita itu akan ada di sisinya apapun yang terjadi. Dia mempercayai wanita itu hingga rela memberikan segalanya untuk wanita itu. Sungguh. Berhenti hanya berarti dia menyerah. Sama seperti dulu. Walaupun dia berhenti, mundur, hanya untuk melompat lebih tinggi. Tapi Fianer akan tetap marah. Dia akan tetap marah saat Egar memutuskan untuk meninggalkannya hanya untuk berjuang sendirian. Karena yang Fianer inginkan hanyalah mereka berjuang bersama-sama.  Egar mengusap pipi Fianer dan mencium bibir wanita itu dengan sepenuh perasaan. Mungkin kini dia akan kehilangan segalanya tapi tidak wanita ini. Dia masih belum menyerah untuk bertahan. Dan kalaupun dia harus kembali ke nol lagi, dia akan berjuang lagi sampai ke titik puncak. Dia akan meminta banyak waktu dari wanita ini. Kesabaran dari wanta ini. Dan sepertinya penilaian Erfan akan makin hancur lagi. --- Egar masih berjuang keras bertahan, untuk keluar dari masalah. Hingga Ayahnya tak sabar turun tangan langsung untuk mengusut dalang dibalik semua itu. Egar sudah mendapatkan titik cerah saat Ayahnya menerobos masuk ke dalam ruangannya. “Kamu sudah mendapatkan info dari Jaya?” tanyanya langsung. Egar mendongak menatap Ayahnya dengan tenang. “Belum.” “Aku yakin dia tahu sesuatu. Kamu tahu sendiri pengaruhnya besar sekali. Perusahaan-perusahaan yang mencekal kita pemegang saham terbesarnya dia semua!” Egar tak menjawab. Dia sudah tahu dari awal kalau Foldam corp terlibat. Tapi dia tak punya apapun untuk bisa dia jadikan s*****a untuk melawan. “Kita harus menyerang. Kalau itu tidak bisa, kamu harus membujuknya agar berhenti.” kata `Rudolf. Kepala Egar berkedut. Demi Tuhan, dia tak ingin berurusan dengan Jaya. Terlebih dengan hal tidak menguntungkan seperti ini. Karena ujung-ujungnya dia tahu arah keinginan Jaya. “Ayah tidak akan memintaku untuk menawarkan diri jadi menantunya kan?” tanya Egar sinis. “Arrrrgghhh!” Rudolf menggeram emosi. “Kalau begitu lakukan sesuatu!” “Aku sedang memikirkannya.” --- Rudolf sudah gatal untuk menyelesaikannya sendiri. Dia tak bisa menunggu perusahaannya hancur begitu saja. Kalau dia menunggu Egar bertindak, entah sampai kapan. Bisa-bisa perusahaannya sudah hancur baru Egar menemukan caranya. Dengan geram dia masuk ke perusahaan yang telah membuat sandungan besar untuk perusahaannya. Dia masuk tanpa kendala. Sampai di depan ruangan musuh besarnya, dia mengedikkan dagunya ke arah sekretaris yang duduk di depan ruangan. Sekretaris itu sudah begitu mengenal Rudolf hingga dia tersenyum sopan. “Maaf Pak, Bapak sedang ada tamu.” Mana Rudolf peduli. Dia menerobos pintu dan masuk begitu saja. Tak diindahkannya sekretaris yang menghadang. Dia menyingkirkan sekretaris itu hingga dia bisa masuk ke dalam. Dan terkejutlah dia bahwa ada Erfan di sana. Pandangan matanya menjadi menyipit, curiga. “Maaf Pak, Pak Rudolf memaksa masuk.” lapor sekretaris itu. Jaya memandang Rudolf kaku. Tapi tak mengatakan apa-apa. Dia kembali menatap sekretarisnya dan berkata. “Tidak apa-apa. Kau boleh keluar.” Sekretaris itu mengangguk hormat, lalu mundur dan menutup pintu. “Wah, kehormatan bagi saya menerima tamu sepenting anda.” kata Jaya sinis. Rudolf menatap Jaya tenang. Medan yang tak dia duga membuatnya bersikap hati-hati. Dia melangkah ke hadapan keduanya. Tapi yang menjadi fokus perhatianya adalah Erfan. Apa laki-laki itu balas dendam, bekerja sama dengan Jaya untuk menghancurkannya? “Tidak perlu menatapku seperti itu.” kata Erfan skeptis. Rudolf tersenyum sinis. “Wajar.” Jaya yang melihat perseteruan kecil itu tersenyum tipis. “Bagus kalau kalian berdua ada di sini. Jadi kita bisa bicara baik-baik tanpa ada satupun yang terluka.” katanya. Baru Rudolf dan Erfan menoleh. Menatapnya lurus dan tajam. Tapi Jaya tak takut sama sekali karena dia menyadari kekuatannya. Semua kendali ada di tangannya. Hidup mati perusahaan mereka, itu tergantung pada keputusannya. “Duduk.” Jaya bersikap ramah. Kedua orang di hadapannya tahu kebusukan di balik keramahan itu. Tapi mereka cukup pintar untuk tak berkonfrontasi di awal. Mereka duduk tanpa melawan. Ketiganya kini duduk. Dengan ketenangan yang membungkus kulit luarnya. Namun di dalam, konfrontasi besar-besaran mereka persiapkan di otak mereka. “Tidak perlu basa-basi. Saya menawarkan simbiosis mutualise disini.” kata Jaya tenang. “Saya untung, dan kalian juga untung.” “Keuntungan macam apa?” tanya Erfan cepat. Jaya terkekeh. Matanya berbinar, menari-nari dengan api yang berkobar. “Perusahaanmu selamat hanya karena Hadiwijaya Corporation membackingmu dari belakang. Kalau kau mau membalas budi, aku sarankan agar putrimu mundur.” Mata Erfan langsung menyala. Saat putrinya di sebut, tangannya sudah terkepal keras. “Dan kau,” Jaya menoleh pada Rudolf. “Kalau perusahaanmu ingin selamat, suruh anakmu yang sombong itu untuk menikah dengan putriku.” katanya tajam. Rudolf mendengus tanpa berpikir dua kali. Dia berdiri lalu memandang Jaya dengan tatapan mengejek. “Kau boleh menghancurkan perusahaanku. Tapi kau tidak akan pernah bisa mengatur hidup anakku!” desisnya. “Kau boleh menghancurkannya. Aku akan membangun yang baru lagi.” katanya enteng. Mulut Jaya terbuka. Matanya melebar kaget. Terlebih saat Rudolf bangkit berdiri dan pergi dari sana. Dan saat pintu terbanting keras, Jaya masih terdiam shock.            Bukan hanya Jaya. Tapi Erfan juga menatap Rudolf hingga menghilang di balik pintu ... dengan ketertegunan yang amat sangat. --- Fiandra bersenandung pelan saat mencoret-coret buku di pangkuannya. Erfan yang malam itu sedang merenung menoleh mendengar senandung istrinya yang begitu riang. Bahagia tanpa beban, sangat berbeda dengan perasaannya sekarang. Entah kenapa dia ingin mendekat. Dihampirinya istrinya yang sedang duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Dia ikut duduk di samping istrinya. Melirik apa yang sedari tadi dikerjakan istrinya. Ada ratusan nama di sana. Saat itulah dia tahu kalau istrinya sedang mendata nama yang akan mereka undang. “Persiapannya sudah sampai mana?” tanya Erfan tiba-tiba. Tangan Fiandra yang sedang menulis angka 378 terhenti. Takjub, dia menoleh. Suaminya selalu bersikap tak peduli, masa bodoh dan seperti tak mau tahu. Pertanyaan Erfan itu adalah satu-satunya pertanyaan yang lekat dengan kepedulian tentang pernikahan Egar dan Fianer. Dan Fiandra tak bisa tak terharu. Dia tak berharap suaminya akan setuju dan ikut bahagia. Hanya bertanya itu saja, dia sudah sangat bahagia. “Mm ... design undangan sudah ada, gaun sudah siap, tinggal fitting terakhir minggu depan. Lalu catering juga sudah pesan. Dekorasi juga sudah ada bayangan. Tapi Egar menginginkan dekorasi memakai bunga anggrek cattleya jenis khusus. Kami sedang kesulitan mencarinya.” Fiandra tertawa pelan. Erfan terdiam. Cattleya adalah nama yang dia pilihkan sendiri untuk putrinya. Primadona anggrek tercantik yang bukan hanya cantik, tapi juga terlihat kuat dan diwaktu yang sama terlihat anggun. Cattleya juga adalah pengharapan ternyata yang dia minta darinya pada Tuhan. Tuhan berbaik hati mengabulkannya. Putrinya benar-benar penggambaran sempurna bunga Cattleya di matanya. Dan dia bersyukur tentang itu. Dia tersenyum menyadari jalan pikirannya dengan Egar yang sama dalam kasus ini. Anggrek Cattleya adalah bunga paling mendekati untuk Fianer. Metafora paling sempurna. “Egar dan Fianer juga menginginkan resepsi outdoor. Kami sedang mencari tempat yang bagus. Tapi belum ada yang cocok.” kata Fiandra. Erfan membuka sedikit mulutnya. Namun tak ada satupun yang keluar. Dia ragu untuk mengatakannya. Namun sikap Fiandra yang tak begitu memperhatikan, karena kembali sibuk dengan buku di pangkuannya membuatnya mengatakan apa yang ada di kepalanya. “Di rumah kita saja.” kata Erfan. Untuk kedua kalinya, Findra terkejut. Dia menoleh dengan mulut terbuka. “Hm?” Pertanyaan itu tak dijawab Erfan. Laki-laki itu menarik selimutnya dan berkata, “Halaman depan memang tidak cukup untuk kapasitas ribuan orang. Tapi samping rumah ada jalan kecil. Kita bisa memakai jalan itu untuk membawa tamu ke taman di belakang rumah.” Ide itu terbayang di kepala Fiandra dengan sendirinya. Kanopi di atas jalan masuk, membawa tamu ke tempat resepsi utama. outdoor taman yang memang luas, seperti lapangan golf mini. Tapi jelas bisa menampung seribu orang bahkan lebih. Mereka bisa menjebol tembok belakang untuk menghubungkan dengan tempat resepsi. Sehingga rumah dan taman akan menjadi satu. Sempurna. Kepala Fiandra menoleh pada suaminya yang sudah bersiap tidur. Matanya berbinar namun redup. Senyumnya bahagia namun sedih. Dia menutup buku yang ada di pangkuannya lalu membenarkan selimut suaminya hingga rapi. Perlahan, dia mengusap lengan Erfan, tidur di belakang suaminya itu menyamping dengan kepala di sangga telapak tangan. “Sudah tidur?” bisik Fiandra. Erfan tak menjawab. Sampai akhirnya Fiandra merapatkan tubuhnya dan berbaring dengan lengan Erfan sebagai bantalan. Erfan boleh bilang tidak, melarang, tidak suka, namun laki-laki ini tak pernah sanggup untuk benar-benar menolaknya. Fiandra mengusap d**a Erfan. Merasakan detaknya. Kasih sayang Erfan selalu sulit diraba. Jarang sekali ditunjukkan. Tapi Fiandra tahu, kasih sayang itu tak pernah sedikit jumlahnya. Begitu berlimpah, hingga tak ada satupun orang yang penting untuknya kekurangan kasih sayang darinya. Tidak satupun. --- Egar terlambat! Dia menghela nafas saat melihat jam tangannya. Seharusnya setengah jam yang lalu dia sudah sibuk fitting baju dengan Fianer. Tapi investigasinya pada perusahaan Foldam Corp membuat jadwalnya terkendala. Baru sepuluh menit kemudian dia sampai di tempat yang dia tuju. Dia langsung berlari setelah mobilnya terparkir rapi. Egar melewati etalase besar yang terpajang 3 manekin putih yang memakai gaun pengantin berbagai macam model. Gaun itu indah walaupun hanya manekin yang memakainya. Egar tersenyum tipis saat membayangkan gaun itu dipakai Fianer. Di tubuh wanita itu, pasti gaun itu akan terlihat lebih indah. Saat dia membuka pintu, dia dihadapkan pada meja resepsionis. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionisnya. “Saya ada janji siang ini.” kata Egar. “Atas nama Fianer.” Resepsionis itu langsung tersenyum ramah. Sepertinya dia mengenal Fianer. “Oh, mba Fianer sudah datang bersama keluarganya sejak tadi mas. Silakan masuk saja ke pintu itu.” Resepsionis itu menunjuk arah dalam. Ada tiga pintu yang ada di sana. Dan yang ditunjuk resepsionis itu adalah pintu yang ada di tengah. Egar mengangguk berterima kasih. Dia bergegas ke pintu itu dan membukanya. Pada saat dia melihat ke dalam, satu titik yang dia lihat pertama kali adalah sesosok manekin indah memakai gaun putih berdiri di depan cermin. Egar tertegun saat menatap manekin itu yang ternyata bergerak. Kepalanya menoleh dan dia bisa melihat wajah cantik wanita itu. Apa dia pernah mengatakan bahwa wanita ini sangatlah cantik? Egar menatap keindahan di depannya dengan mata yang tak pernah bisa lepas dari sana. Gaun putih itu ketat membungkus tubuh atas dan mengembang di bawahnya. Gaun putih polos ... namun Fianer membuat gaun itu terlihat sangat indah. Terlebih, wanita itu tersenyum padanya. Senyum yang sanggup membuat Egar kehilangan kesadaran. Tanpa dia sadar, tangannya sudah menutup pintu dan dia berjalan mendekat. Laki-laki itu berdiri di belakang Fianer. Hingga kaca itu hanya terpantul bayangan mereka berdua. Serasi dalam satu bingkai kaca. Entah kenapa, sejak dulu Egar tahu bahwa wanita itu terlalu cantik untuk dirinya. Kenyataan itu tetap membuatnya tersenyum miris. Apakah dia memang sepadan untuknya? Apakah dia bisa membahagiakan wanita ini? Tangan Egar menyentuh pinggang Fianer. Kepalanya dia surukkan ke leher wanita itu. Menyandarkan lelahnya. “Cantik,” lirihnya. Fianer tertawa rendah. “Benar?” Egar mengangguk. Dan itu membuat Fianer bisa melihat wajah lelah laki-laki itu. Jemari tangannya terangkat dan menyentuh pipi Egar. “Ada apa?” Egar terdiam cukup lama. Hingga akhirnya dia menatap mata pada bayangan di depannya. “Kalau seandainya aku jatuh, apa kamu akan meninggalkanku?” tanyanya. Pertanyaan yang sama. Egar pernah menanyakannya dulu. Dan Fianer merasa Egar kehilangan kepercayadiriannya sekarang. Fianer menoleh. Namun Egar tetap menatap cermin hingga Fianer berusaha melepaskan diri dari pelukan Egar namun sulit. Laki-laki ini memeluknya erat sekali. Menyerah, akhirnya Fianer berkata. “Aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendirian.” kata Fianer. Egar tersenyum lemah. “Aku tahu. Tapi kalau kamu ingin pergi ...” “Hentikan!” suara Fianer mengeras. Tapi suara kekehan Egar justru terdengar. “Sebenarnya aku ingin bilang, kalaupun kamu ingin pergi, aku tidak akan membiarkannya.” kata Egar tenang. “Kamu mau menunggu sebentar kan? Aku pasti akan bangkit lagi.” “Aku tahu.” “Aku tidak akan menyerah.” “Aku tahu.” “Aku tidak akan berhenti. Aku akan tetap berusaha menang.” “Aku tahu.” Egar mengangguk. Cukup. Hanya memastikan bahwa Fianer tahu bahwa dirinya masih belum kalah, itu sudah cukup. Dia menghela nafas. Dia menjatuhkan dahinya ke bahu Fianer dan beristirahat di sana sebentar. “Gar, ngomong-ngomong ... Ayahku ada di belakang.” Tubuh Egar menegang. Perlahan, kepalanya dia angkat lalu dia menoleh ke belakang. Matanya langsung melebar menyadari semua orang berkumpul di sana dan sebagian besar menatapnya sambil senyum-senyum. Duduk di sofa yang melingkar. Semuanya! Benar-benar semuanya! Tidak hanya Erfan. Namun Fiandra, Fier, Rafan, Lilian, Diya, Rudolf, Mariana, Fourline dan Alin. Dan pastinya mereka mendengarkan apa yang dia katakan tadi. Menyadari itu Egar menghela nafas. Di sampingnya Fianer meringis merasa bersalah. Tapi Egar hanya menatap Erfan yang sedang menatapnya dingin. Biarlah, Erfan memang sudah membencinya. Ditambah satu daftar list lagi pun tak banyak perubahan. “Wah, calon pengantin pria sudah datang?” seorang bridal consultant tersenyum ramah. Kebetulan, karena Egar sudah tak punya muka lagi di sana, dia akhirnya mengangguk dan langsung ganti baju di ruang ganti. Hampir semua orang tertawa geli. Tapi bagi kumpulan laki-laki, mereka hanya mendengus saja. Fianer mengulum senyum menyadari Egar yang salah tingkah. Dia kembali menatap dirinya di kaca dan tersenyum mengingat komentar Egar tadi. Cantik. “Ehm,” Fianer tahu itu suara Rafan. Tapi dia sedang tidak peduli. Dia terus mematut dirinya di cermin. “Apa kami masih kurang banyak sampai dia tidak melihat?” tanyanya menyebalkan. Fianer mendengus. Rafan tak akan pernah bisa menahan komentarnya. Fianer membalik tubuhnya dan menatap adik satu-satunya itu dengan senyum. “Maaf memaksamu harus melihatnya.” “Tapi aku maklum mungkin dia sedang stress karena masalahnya di perusahaan.” kata Rafan. Mata Fianer meredup. Dia menghela nafas. Fianer sudah mendengar dari Egar keseluruhan masalahnya. “Sudah bertemu dengan wanita yang dia minta kamu nikahi?” tanya Fianer. “Hm,” “Lalu apa dia cantik?” tanya Fianer. Pertanyaan itu membuat Egar menoleh dan menatap calon istrinya datar. “Apa itu penting?” tanya Egar heran. Dari masalah yang begitu membahayakan perusahaanya justru pertanyaan itu yang keluar.  “Aku hanya ingin tahu.” Fianer berdalih. Egar menghela nafas. “Tidak peduli dia cantik atau tidak, aku tetap menolaknya. Bahkan walaupun perusahaanku yang jadi taruhannya, aku tetap tidak akan mau. Begitupun kamu masih cemburu?” tanya Egar takjub. Mulut Fianer maju beberapa senti. Dia melirik Egar takut-takut. Fianer menutup mulutnya dengan ujung jari. Dia langsung sadar, bahwa cemburu di saat begini tak etis sama sekali. Egar sudah terlalu banyak pikiran. Teganya dia menambah pikirannya hanya karena cemburu yang seharusnya tidak perlu. Dengan rasa bersalah, Fianer mengusap bahu Egar, menanangkannya. “Maaf.” bisiknya. Setelah itu, Fianer tak mengungkitnya sebelum Egar mau membuka. Fianer menghela nafas. dia menoleh pada calon Ayah mertuanya yang duduk di seberang ruangan. Masih tetap menjauh dari keluarganya. Tapi Fianer tak akan protes apapun karena Rudolf datang saja dia sudah senang sekali. “Om,” Fianer menghampiri dan duduk di sampingnya. “Hm?” “Apa keadaannya buruk sekali?” tanya Fianer. Rudolf menghela nafas. Dia mengusap rambut Fianer yang tergerai indah. “Tidak usah dipikirkan. Egar akan mengatasinya.” Fianer mengangguk walaupun tak yakin. Mendengar kata-kata Egar tadi membuatnya cemas. Fianer merasa nyaman menunjukkan cemasnya. Setidaknya itulah yang dilihat Erfan saat melihat interaksi itu. Matanya tak berkedip. Dan itu membunuh satu-satunya hal yang dia punya untu bertahan membenci Egar. “Hm, lucu ya, kamu masih mempermasalahkan masa lalu mereka sedangkan keduanya sudah berdamai sejak lama.” sindir istrinya telak. Erfan menoleh namun Fiandra hanya menatap Rudolf dan Egar dengan senyuman. Erfan akhirnya menatap putrinya dan Rudolf lagi. Mulai bertanya-tanya, apa dia memang salah? ---                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN