Part 7 - Pemanasan

2229 Kata
Egar menutup rapat kali ini dengan senyum puas. Paula sang sekretaris dan juga kepala beberapa divisi yang ikut rapat menghela nafas lega melihat bos mereka senang dengan hasil kerja mereka. Mereka sepertinya sadar kalau bos mereka sedang bahagia dan mereka berdoa agar suasana hati bosnya yang bagus bisa bertahan lama. Jarang -tentu saja- Egar menampakkan emosi di hadapan anak buahnya. Tapi bukan berarti auranya yang selalu mengintimidasi tak membuat mereka kalang kabut. Kemudian takut. Satu kesalahan kecil sanggup mengurangi kepercayaan dan tak jarang ada kepala divisi yang langsung turun pangkat menjadi staf biasa hanya karena hasil kerja yang jauh dibawah standar kepuasan Egar. Egar merapikan jasnya dan menutup laptop. Dia keluar ruangan terlebih dahulu. Beberapa berkas harus dia pelajari sebelum memberi keputusan kontrak. Namun belum juga sampai ke ruangan, ponselnya berdering. Saat dia melihat layar, dahinya mengerut karena nomor yang menghubunginya tak dia kenal. Ragu, akhirnya dia angkat juga. “Halo,” “Bisa ke kantorku sekarang? Ada yang ingin kubicarakan.” Rahang Egar terkatup. Dia tak perlu bertanya siapa yang bicara karena dia mengenal suara ini. Jantungnya masih berpacu cepat, reaksi yang masih belum berubah bahkan setelah tadi malam sekalipun. “Ya, saya ke sana sekarang.” jawab Egar tenang. “Terima kasih.” Dua kata itu mengakhiri pembicaraan, karena setelah itu sambungan mereka terputus. Egar menurunkan ponsel dan masih berdiri menatap benda itu di tangannya. Dia terlalu bahagia hingga lupa ... bahwa perjuangannya masih jauh dari kata selesai. --- Perusahaan di hadapannya merupakan perusahaan cokelat terkemuka dan masuk tiga perusahaan cokelat terbesar di Indonesia. Egar tak pernah heran, karena dia mengenal siapa pemiliknya dan bagaimana laki-laki itu begitu mempengaruhinya. Bahkan selama enam tahun berlalu pengaruh itu belum bisa hilang. Sampai sekarang. Tapi itu tak berarti bahwa dia telah terintimidasi. Sama sekali tak ada rasa takut atau gentar di dalam dirinya kali ini. Rasa percaya dirinya membumbung tinggi. Dia sudah bertekad akan menghadapi laki-laki itu apapun yang terjadi. Dengan keyakinan itu, Egar melangkah masuk ke dalam perusahaan itu. Lobi perusahaan hampir sama seperti lobi perusahann lain, sama seperti perusahaannya. Saat bertanya di resepsionis dia tak kaget saat seseorang menawarkan diri untuk mengantar ke ruangan CEO perusahaan karena dia sudah ditunggu dari tadi. Egar mengangguk menerima tawaran itu. Seorang laki-laki muda mengantarnya ke lantai atas dan pada akhirnya sampai di sebuah pintu lebar. “Mon, Pak Egar.” kata laki-laki yang mengantar Egar pada sekretaris di hadapannya. Wanita muda itu berdiri lalu tersenyum pada Egar. “Bapak sudah menunggu dari tadi Pak.” katanya sambil melangkah keluar dari meja kursinya. “Sebentar.” Wanita muda itu mengetuk pintu tiga kali. Membuka pintu saat suara dari dalam menyuruhnya masuk. “Pak, Pak Egar sudah datang,” katanya setelah masuk. “Biarkan masuk.” Mona, keluar kembali dan dengan senyum ramah berkata pada Egar, “Silakan masuk Pak.” Egar tak menjawab. Dia melangkah tanpa berpikir lagi. Kepercayaan diri yang dia punya membawakannya ketenangan sempurna. Tak sempat untuk melihat-lihat di dalam karena orang yang sudah menunggunya menyita seluruh perhatiannya sejak dia menjejakkan kakinya di ruangan itu. Dahinya mengerut. Karena bukan hanya Erfan yang ada di sana. Tapi juga Fier dan Rafan. Pintu ditutup dari luar. Praktis hanya mereka berempat yang ada di dalam. Aura dingin menyebar di seluruh ruangan. Suasana tegang membuat keempat laki-laki dewasa itu seperti manekin yang ditata di ruangan ini. Tak ada yang bergerak sama sekali. Hanya gerakan nafas mereka yang mengindikasikan bahwa mereka hidup. Egar tak tertarik menatap Fier dan Rafan. Karena sedari tadi sejak awal kedatangannya yang dia tatap hanyalah Erfan. Tatapan laki-laki itu tenang tak beriak sama sekali, benar-benar tak terbaca. Tapi Egar tahu persis, ketenangan itu adalah jenis ketenangan yang menyembunyikan pisau tajam dibaliknya. Berbahaya dan juga mematikan. Karena ketenangan ini membuat buta arah. Tak ada yang bisa tahu apa yang Erfan pikirkan hingga lawan hanya bisa menebak medan. Dia tak pernah takut. Walaupun dia segan pada laki-laki di depannya, tapi dia tak pernah kehilangan keberanian. Hanya hati-hati, tapi bukan berarti tunduk sama sekali. Egar masih tetap menatap mata Erfan dan waspada dengan gerakan sekecil apapun. Pun saat mata Erfan akhirnya bergerak. Hanya mengerjap sekali dan satu suara akhirnya keluar. “Duduk,” Egar tak berekspresi. Wajahnya masih datar bahkan saat dia melangkah mendekat. Sampai di hadapan Erfan, Egar menarik kursi lalu duduk di atasnya. Sekarang, Erfan dan Egar hanya berjarak satu meja. Dan segala penilaian tentang Erfan mengalir begitu saja tanpa dia kehendaki. Siapapun akan terintimidasi dengan tatapan selurus itu. Hanya dengan satu tatapan, dapat membuat siapapun berpikir berkali-kali untuk mencoba berpura-pura tenang. Pura-pura tak akan bisa mengelabuhi mata Erfan. Laki-laki ini akan segera tahu di detik pertama. Jika tidak benar-benar tenang, maka dia akan habis kali ini. Dan saat dia melihat mulut Erfan bergerak, otaknya langsung menyuruhnya waspada.  “Aku dengar kamu menginap di apatemen putriku semalam.” kata Erfan datar. Untuk beberapa detik, alis Egar terangkat. Mulutnya agak terbuka. Dia seperti mengalami disorientasi walaupun hanya sejenak. Karena kata-kata itu diluar daftar database otaknya saat dia menebak apa yang akan laki-laki ini katakan padanya hari ini. Anti k*****s. Seriously? Dia akan di interogasi tentang ini? “Ya,” jawab Egar terus terang. Dia tak akan berbohong karena Erfan pasti sudah tahu faktanya seperti apa. Berbohong hanya akan membuatnya makin buruk di mata Erfan. Masalahnya, Egar sama sekali tidak memperhitungkan, bahwa kejujuran yang terucap tanpa tedeng aling-aling itu menyalakan pijar kemarahan di mata tenang tanpa riak itu. Kemarahan Erfan terwakilkan oleh Rafan yang langsung menyerang. “Kamu baru saja mengakui bahwa semalam kamu tidur dengan kakakku?!” suara Rafan sangat tajam menusuk. Egar tersentak kaget. Kesimpulan macam apa itu? “Tidak.” Egar kembali bicara apa adanya. Dia tetap berusaha mengontrol emosinya ke level terendah agar bisa berhasil keluar dari situasi ini. Tapi dilihat dari manapun, dia terlihat kesulitan. Karena emosi itu sudah menyentuh titik kesabarannya. “Jadi kalian tidak tidur bersama?” kejar Rafan lagi. Mulut Egar mengatup. Dia tak berniat menjawab. Rafan mengangguk-angguk sambil melipat tangan di depan d**a. “Tadi kamu bilang tidak tidur dengan kakakku. Tapi kamu tak mengelak kalau kalian tidak bersama. Mana yang benar?” sinisnya. Mata Rafan seakan tersenyum mengolok. Membuat wajah Egar mengeras. “Benar-bener tidak bisa di percaya.” Perkataan Rafan kali ini membuat mata Egar menajam.  “Aku tahu batasannya.” balas Egar agak keras. Semalam, jujur saja ada selintas pikiran untuk melakukannnya. Keinginan kuat untuk menyentuhnya. Sebagai laki-laki dewasa, dia tahu gairahnya bisa muncul kapan saja. Terlebih saat Fianer membangunkannya tertidur di sofa, dengan baju tidur yang begitu minimalis. Tapi dia bisa menahan diri. Memilih tidur dari pada harus menerima tekanan gairah lebih besar lagi. Dia tak perlu menjelaskan detailnya pada mereka bertiga semalaman mereka melakukan apa saja. Cukup mengatakan padanya kalau mereka masih berada di koridor. “Aku tak yakin kalian tahu batasannya.” Fier berencana menengahi. Tapi kata-katanya cenderung menjadi petasan. “Ann masih rentan. Kami tak bisa menekannya. Jadi ... kamu yang harus kami peringatkan.” kata Fier diplomatis. “Kalian sudah lama tidak bertemu. Rindu yang berlebihan bisa membuat lepas kendali. Dan aku khawatir kalian kelewat batas.” Egar mendesis-desis emosi. Ketiga laki-laki di hadapannya ini mengepungnya. Dia ingin berteriak agar mereka mundur, tak mencampuri urusannya. “Kau dengar itu?” kata Rafan penuh nada kemenangan. Dengan geram, Egar menggebrak meja. Meja Erfan bukan hanya berderit, namun juga terlihat sedikit retak di bawah tangan Egar. Keempat pasang mata menatap meja dengan kaget. Karena di sekitar pukulan itu bersarang terdapat retakan yang menyerupai pola aliran sungai dendritik. Semua tertegun. Pun Egar. Tapi setelah ketertegunan Egar reda, hanya ada perasaan menyesal karena emosinya terlepas. Erfan hanya tersenyum sinis. Mau dipoles seperti apapun, sifat asli tak akan hilang begitu saja. Itu adalah bukti tak terbantahkan bahwa Egar masih emosional. Teriakan paling lantang bahwa dia masih tak bisa mengendalikan diri. Erfan tersenyum puas karena kesimpulannya sekarang adalah Egar yang sekarang masih sama seperti bocah labil 6 tahun lalu. “Hm, menekan satu orang beramai-ramai di kandang sendiri.” Tiba-tiba suara itu datang dan keempatnya menoleh ke pintu. Mereka kaget melihat Fiandra disana. Wanita itu menatap mereka dengan tangan terlipat. Tatapannya mengejek sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Sangat berkelas.” Erfan terdiam menatap istrinya. Menatapnya dingin namun Fiandra membalas tatapan itu lebih dingin lagi. Sedikit mendengarkan membuat Fiandra memahami apa yang berkecamuk di kepala suaminya. Laki-laki itu boleh bermain di emosi setiap musuhnya. Tapi tidak padanya. Fiandra melangkah, dan saat itulah Erfan menghela nafas dan membuang wajahnya ke jendela. Sampai di tempat mereka, Fiandra menoleh pada Rafan dengan tatapan mencela, “Ck, ck, ck.” decaknya berkali-kali. Rafan mendengus dan ikut memalingkan muka. Sedangkan Fier, dia cukup sportif menghadapi tatapan mencela Fiandra. Walaupun tetap saja, dia mendengus melihat bundanya melipat tangan di depan d**a lalu geleng-geleng kepala tak percaya pada kelakuan mereka. “Bunda sedang apa di sini?” tanya Rafan akhirnya, karena jengah dengan situasi yang entah kenapa membuatnya malu. Fiandra mengangkat bahu tak peduli. “Hanya ingin mengajak seseorang makan siang.” katanya. Barulah Erfan menoleh. “Siapa?” Fiandra tersenyum. Sama sekali tak menjawab pertanyaan suaminya. Dia justru menoleh pada Egar. Egar cukup bingung saat Fiandra tersenyum padanya. Terlebih saat Fiandra melangkah tenang dan tiba-tiba menariknya berdiri lalu memeluk lengannya. Keempat laki-laki itu kaget. Terperangah luar biasa. “Ayo, kita cari makan siang di luar.” ajaknya. Keempatnya kembali ternganga. Egar tak bisa memberikan reaksi apa-apa ketika tangannya ditarik menuju pintu. Dari sudut mata, dia bisa melihat ketiga laki-laki itu masih terkejut. Bahkan Erfan sempat menggeram pelan. “Itu?” tanya Egar kaget. “Sst,” Fiandra menyuruhnya diam. Dan Egar diam saat mereka keluar dan Fiandra menutup pintu ruangan suaminya. “Hai, Mona.” sapanya. Mona tersenyum padanya tapi juga menatap aneh ke arah tangan Fiandra yang memeluk lengan tamu mereka. Fiandra diam karena dia memang tak berencana menceritakannya. Jadi dia kembali menarik Egar untuk berjalan bersamanya. Tangannya baru lepas saat Egar terlihat sudah bisa terbiasa dengan situasi ini. Fiandra berjalan dengan sangat anggun di samping Egar.  “Mereka sedang berkonspirasi melawanmu. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menemukan sekutu.” kata Fiandra tenang. Untuk kali ini, Egar tertegun. Wanita di sampingnya benar-benar luar biasa. Pembacaan medannya sempurna. Kata-kata Fiandra sangat jelas. Dia membutuhkan sekutu. Artinya, Fiandra bersedia ada di kubunya? Egar tersenyum. Dia melangkah dengan tenang di samping Fiandra. “Tante punya restoran enak sekitar sini? Ayo saya traktir.” kata Egar santai. Fiandra tertawa pelan. Dia kembali memeluk lengan Egar. “Ada satu. Aku yakin kamu pasti suka.” --- Erfan mengeram pelan. Sikap istrinya tadi adalah bentuk konfrontasi terang-terangan padanya. Dan Erfan tahu persis. Istrinya akan menjadi orang pertama yang maju jika tahu rencana apa yang ada di dalam otaknya. Dan dia harus sangat hati-hati tentang ini. Dia tak ingin istrinya curiga. Dia juga tak ingin putrinya terluka. Rencananya harus rapi. Erfan memutar kursinya dan menghadap ke jendela. Saat matanya terpejam, dia tak menemukan ketenangan dalam kegelapan. Tak ada rasa nyaman di sana. --- “Jadi mereka tahu kalau kamu menginap di tempat Ann?” tanya Fiandra. “Ya.” Fiandra mengernyit bingung. Dia amat tahu ketiga laki-laki yang sangat penting di hidupnya itu teramat protektif pada keluarga. Tapi dia tak menyangka mereka akan bereaksi seheboh ini. Sampai-sampai memojokkan tunangan Ann dan melabraknya. Agak aneh, seperti bukan Erfan. Walaupun kasus ini bersifat prinsipil, tapi Erfan tak pernah menunjukkan kekuasaannya untuk hal seperti ini. Untuk hal kepercayaan, Erfan sangat hati-hati. Entah kenapa perasaannya mengatakan ini bukan hanya sekedar Egar menginap di apartemen Fianer. Hanya ada dua kemungkinan Erfan mempermasalahkan masalah sepele menjadi besar. Pertama, laki-laki itu berniat mempersulit. Mencari-cari kesalahan dan menggunakannya untuk berkonfrontasi. Kedua, ada masalah yang lebih besar dari ini. Laki-laki itu merencanakan sesuatu. Dan dia menggunakan masalah sepele ini untuk mengalihkan perhatian lawan. “Kamu harus siap mental. Setelah 6 tahun melihat Ann terpuruk, mereka menjadi teramat protektif.” “Saya tahu.” Dan Egar juga tahu. Mereka tak segan-segan membuat hidupnya tak tenang jika dia melakukan satu kesalahan lagi. Tadi hanya pemanasan. “Terima kasih tante.” kata Egar tulus. Fiandra menggeleng. Dia tersenyum menatap Egar. “Bunda.” katanya. “Panggil Bunda saja.” Egar tertegun. Bukan hanya karena kata-katanya yang teramat menyentuh itu. Tapi nada lembut penuh kasih sayang itu yang membuat terenyuh. Kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Seperti sinyal kuat tak kasat mata yang memberitahukan bahwa Fiandra sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Sekali lagi wanita itu tersenyum. Senyum yang selalu mengingatkannya pada Fianer. Egar tersenyum tipis, namun hatinya melambung bahagia. “Bun–da.” ucapnya ragu. Fiandra mengangguk kecil masih dengan senyumnya. Membuat d**a Egar sesak. “Jangan pernah ragu jika butuh bantuan Bunda untuk menghadapi mereka bertiga.” kata Fiandra dengan nada santai. “Mulai detik ini, Bunda resmi ada di pihak kamu.” Dan setelah itu, Egar tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh. Sungguh dia bahagia. Ini adalah kemajuan terpesat yang bisa diperolehnya dalam hubungannya dengan Fianer. Dia tahu, keluarga sangatlah penting untuk Fianer. Paling tidak, walaupun Ayahnya masih memusuhinya, Ibunya sangat mendukung mereka. Artinya dia masih punya peluang membuat dirinya diterima. Tiba-tiba ponsel Egar berbunyi. Egar mengambil ponsel di sakunya dan tersenyum saat menatap layar. Fiandra tahu dari detik pertama siapa yang menelpon. Senyum itu membuat Fiandra ikut mengulum senyum. Dia menyesap kopi untuk menyembunyikan senyumnya. “Ya?” tanya Egar. Nada bicaranya tetap tenang, santai. Kontras dengan matanya yang berbinar bahagia. Fiandra mendengus. Dia menyadari Egar satu tipe dengan suaminya. Dan saat menyesap kopinya, Fiandra lega. Putrinya sudah berada di tangan yang tepat.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN