Erfan mengetuk-ngetuk pena yang dia pegang ke mejanya. Kedatangan Egar yang tiba-tiba semalam membuatnya banyak berpikir.
Pagi ini, sebelum dia disibukkan dengan urusan lain, dia memerintahkan staf untuk menyelidiki Egar. Dan tentu saja menyelidiki alasan kenapa dirinya bisa tak tahu bahwa Egar adalah koleganya!
Saat mendapat hasil, dia langsung meminta Fier untuk datang ke ruangannya.
Tak lama pintu terbuka dan Fier masuk. Erfan tetap diam hingga Fier duduk di hadapannya. Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Fier menunggu Ayahnya bicara sedangkan Ayahnya tetap mengetuk pena ke meja. Tatapannya hanya terfokus pada dokumen di atas meja.
Fier mengernyit bingung merasakan dinginnya sikap Ayahnya. Tapi lagi-lagi dia memilih diam.
“Vegar Rama Hadiwijaya ...“ Erfan menggumam tiba-tiba.
Fier menegang. Mendongak menatap Ayahnya yang kini menatapnya lurus. Amarah itu terbungkus dingin. Dan Fier merinding karena tak pernah ditatap seperti ini oleh Erfan sebelumnya.
“Kapan kamu berencana memberitahu Ayah kalau dia anak Rudolf Hadiwijaya?”
Mata Fier bergerak gelisah. Kaget dan takut. Namun lama-lama terpejam, lalu mengalihkan wajah menatap dinding samping. Dia tak punya rencana sama sekali untuk memberitahu Ayahnya. Entah kenapa dia selalu tahu akan begini jadinya. Dia selalu tahu bahwa suatu saat nanti Ayahnya akan tahu dengan sendirinya.
Erfan geram melihat Fier terdiam. Matanya terpejam dan tangannya terkepal. Kemarahan sudah mengalir dari tadi. Dia berharap sulungnya bisa membuat semuanya lebih mudah dipahami. Tapi keterdiaman Fier membuat Erfan makin marah.
“Kalau kamu tidak menjelaskan sekarang, Ayah akan bertanya langsung pada Ann!” Ancaman itu membuat Fier mendongak dan kembali meenampakkan wajah cemas.
“Jangan,” cegahnya. “Ann tidak tahu apa-apa.” katanya.
Erfan menatap Fier geram. “Jelaskan! Kalau ada satu saja fakta yang meleset dari data,” Erfan menunjuk kertas dokumen di depannya. “Ayah tidak akan mentolerir lagi.”
Fier terdiam. Dia tahu Ayahnya serius dengan kemarahannya. Dan dia tak punya alasan untuk berbohong. Dia juga tak punya waktu untuk mengarang cerita. Akhirnya, dia mengangguk menyanggupi.
“Bagus. Ceritakan semuanya. Dimulai dari 6 tahun lalu!”
---
Fier tak bisa bungkam lagi. Dia tak punya pilihan lain. Di hadapan Ayahnya, dia membuka segalanya!
Tentang hubungan Egar dan Fianer, tentang Rudolf yang menginginkan keduanya menjauh. Tentang pabrik yang terbakar, tentang investor yang disabotase, tentang Rudolf yang memang sengaja ingin membunuh Fianer.
Awalnya dia ingin berhenti karena kemarahan di mata Ayahnya sudah nyaris seperti laser yang bisa membunuh siapa saja. Keterdiaman Ayahnya membuatnya tahu, kemarahan itu jauh lebih besar dari yang Ayahnya tunjukkan lewat tatapan.
Tapi isyarat dari Erfan untuk melajutkan cerita membuat Fier akhirnya tetap bicara.
Dia bicara apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dia bicara betapa dia tak tega dengan situasi Ann sekarang. Dan saat dia mencurigai sebuah perusahaan yang menawarkan diri menjadi investor tetap, dia langsung menyelidikinya. Saat tahu perusahaan itu anak perusahaan Hadiwijaa dan Egar CEO-nya, dia langsung setuju. Dia sengaja memberikan undangan untuk memberikan akses mereka berdua bertemu lagi.
Sampai sini, Fier diam. Karena dia tahu Ayahnya tahu kelanjutan ceritanya. Bahwa Egar langsung melamar Fianer dan Ayahnya menerima.
Kenyataan itu membuat Erfan mematahkan pena di tangannya dan tinta meluber di tangan dan meja. Fier menatap kubangan tinta itu dengan nanar.
Erfan masih tetap diam. Masih tetap berusaha memejamkan mata untuk menemukan kembali ketenangan yang seakan tenggelam dalam kemarahan. Kemarahan ini jauh lebih buas dari enam tahun lalu saat dia tahu putrinya di grebek razia n*****a karena Egar!
Kemarahan ini berpuluh-puluh kali lipat.
Kemarahan telah dikelabuhi, dibohongi oleh anak-anak yang sangat dipercayainya, belum termasuk kemarahan pada dirinya sendiri karena telah memberikan ijin pada anak monster untuk menikahi putrinya.
Erfan tak bisa bicara apa-apa. Dia benar-benar tak tahu harus berpikir apa. Kepalanya sudah berkedut menyakitkan. Dadanya sudah bergemuruh kencang.
“Ayah ... “ Fier memanggil dengan cemas.
Tapi Erfan tetap diam. Dadanya sudah nyaris meledak. Dia nyaris tak bisa mengendalikan dirinya. Dan hampir menunjukkan betapa marahnya dia. Tapi saat dia menatap Fier dingin, sedikit demi sedikit dia bisa mengumpulkan ketenangannya kembali.
“Masih belum terlambat untuk diperbaiki.” katanya dingin. Dingin yang menusuk tulang. Dingin yang benar-benar dingin. “Hadiwijaya, tidak akan pernah aku biarkan masuk ke keluarga kita.”
Fier menatap Ayahnya nanar. Dia tahu, apapun yang ada di pikiran Ayahnya, tidak akan baik untuk Egar dan adiknya.
Hubungan mereka ada dalam bahaya.
---
Kahfi meminum kopinya dengan santai. Dia membutuhkan sedikit caffein untuk situasi yang sedang dihadapinya kini.
Tapi tentu saja, setelah setengah cangkir habis, itu tak merubah apapun. Situasi masih sama, perasaannya juga masih tetap seperti semula.
Akhirnya, Kahfi meletakkan cangkirnya dan menghela nafas. Ditatapnya laki-laki di hadapannya dengan serius.
“Om, saya tidak yakin.” ucapnya kemudian.
Erfan, laki-laki di hadapannya itu hanya mengangkat alis tinggi-tinggi. Dia tidak meminta Kahfi untuk yakin. Dia hanya meminta Kahfi untuk mengerti apa yang dia inginkan.
Sederhana saja, dia membutuhkan bantuan Kahfi untuk masuk diantara Egar dan Fianer. Sesederhana itu. Kahfi tidak perlu mencintai putrinya, cukup membuat Fianer ragu-ragu.
Orang yang ragu-ragu lebih mudah untuk diyakinkan dari pada orang yang masih memegang teguh satu keyakinan.
Karena jika Erfan bicara baik-baik, itu akan menjadi nasehat mentah yang hanya akan masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Kalaupun Fianer memenuhi keinginannya untuk mengakhiri hubungan dengan Egar, kejadiannya pasti akan sama lagi seperti sebelumnya. Frustasi berkepanjangan. Dan itu sama sekali bukan solusi untuknya.
Harus ada yang menyentuh perasaannya untuk membuat putrinya sendiri melepaskan Egar.
Dan Kahfi orang yang dia percaya untuk melakukannya. Seperti dia mempercayai Kahfi selama ini untuk menjaga putrinya. Dia percaya, Kahfi tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Fianer.
Kahfi tak akan membiarkan Fianer salah memilih.
“Apa yang membuatmu tidak yakin?” tanya Erfan.
Kahfi menatap lantai dengan pandangan tak fokus. Seperti berpikir. Seperti sedang menimbang sesuatu.
Seperti Erfan dan seluruh keluarga Rofler, Kahfi adalah orang yang paling paham bagaimana Fianer nyaris menjadi seseorang yang tak bisa dia kenali lagi. Dia mengingat setiap detail bagaimana Fianer berubah hanya karena patah hati.
Dan saat dia sudah kembali bahagia, saat semua yang diinginkan gadis kecilnya itu didapatkannya ... kenapa harus dipaksa untuk lepas lagi?
“Saya tidak tega Om.” jawab kahfi jujur.
Erfan tersenyum. Dia tahu persis arti ‘tidak tega’ yang dimaksud Kahfi. Dia tahu Kahfi begitu sayang pada putrinya.
Bukan hanya Kahfi yang tak tega. Dirinya pun tidak. Tapi lebih baik dihentikan daripada membiarkan putrinya salah pilih. Lalu menyesal kemudian.
Semakin cepat, keadaan akan semakin mudah diperbaiki.
“Pikirkan saja dulu.” Erfan tak memaksa. Diberikannya kelonggaran waktu untuk Kahfi berpikir. “Kalau berubah pikiran, beri tahu aku.”
Kahfi terdiam. Dia menatap mata Erfan dan menemukan kesungguhan di sana. Dan sata itulah Kahfi tahu, walaupun dia menolak tawaran inipun, laki-laki ini akan mencari cara lain untuk mengamankan Fianer.
Untuk kesekian kalinya Kahfi menghela nafas. Dia memejamkan mata lalu mengangguk mengerti.
---
Rafan menerjang pintu ruangan Fier dengan tergesa. Pemilik ruangan itu terkejut. Namun tak mengatakan apa-apa setelah tahu siapa yang masuk.
“Bang, Ayah ke mana?” tanyanya cepat.
“Mungkin di ruangannya.” jawab Fier sambil lalu.
“Kosong. Kata Mona keluar sebentar.”
“Oh.” Fier menanggapi singkat.
Dia tak bertanya lagi karena sudah kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Rafan sudah terbiasa. Jadi dia juga tak mengatakan apapun selain duduk di depan meja Fier dan mengangkat telpon di atas meja tanpa permisi.
Setelah menekan beberapa angka, Rafan menunggu sebentar. “Mon, kalau Ayah sudah datang, tolong telpon ke ruangan Abang.”
“Iya Mas.” jawab Mona patuh.
Setelah mendengar jawaban itu, Rafan baru menutup telpon dan dia bersantai sejenak di sana.
Keduanya sibuk sendiri-sendiri hingga ruangan senyap. Tak ada yang keberatan dengan itu. Baru setelah setengah jam berlalu telpon ruangan berbunyi juga.
“Halo,” Rafan langsung menyambar pada deringan pertama. Fier yang kalah cepat hanya menghela nafas. Terlebih saat melihat wajah Rafan yang akhirnya menyeringai lebar. “Thanks Mona.”
Telpon ditutup kembali, lalu dia bangkit berdiri.
“Ada keperluan apa?” Fier akhirnya bertanya juga.
“Tentang Egar.” jawabnya sambil lalu karena setelah itu dia keluar ruangan begitu saja.
Seperti tersengat, Fier langsung berdiri. Tanpa berpikir lagi, dia meninggalkan laptopnya dan menyusul Rafan dengan cepat.
Apa lagi kali ini?