Sena duduk di sofa bulu nyaman berwarna putih yang berada diruang keluarga apartemen Sean. Dirinya memandangi bingkai besar yang terpajang di salah satu dinding, bingkai besar berwarna gold dengan foto Sena, Sean, Evan, dan Raysa. Sena tersenyum tipis, kalau dipikir-pikir, sudah lama juga dirinya tidak mengunjungi makam Raysa. Mengingat Raysa, Sena kembali menyandarkan punggungnya pada punggung sofa yang empuk ini. Setiap mengingat Raysa, Sena selalu ingat tentang pesan dari Raysa yang disampaikan kepadanya; "Pasti cewek yang nanti dapetin Sena seneng deh, punya suami seperti Sena. Nanti jaga istri Sena baik-baik ya, jangan mengkhianati hati wanita, Sena. Kamu harus ingat, kalau Sena mengkhianati wanita, sama saja Sena mengkhianati mama. Kalau Sena menyakiti wanita, sama saja Sena menya

