2. Pertemuan

1858 Kata
Begitu pintu keluar rumah sakit terbuka otomatis, angin malam langsung menyentuh kulit pipi Athayya. Udaranya dingin, apalagi ternyata saat Athayya memulai operasi, sedang hujan diluar. Membuat pelataran depan rumah sakit basah tersiram air hujan. "Kenapa diam saja?" Sean memberhentikan langkah. Berbalik kebelakang saat Athayya yang berjalan dibelakangnya malah berhenti didepan pintu keluar. Athayya bengong, lalu mengerjap dan mulai mengikuti langkah Sean yang besar. "Kita mau kemana, dokter Sean?" Tanya Athayya. "Apartemen saya." Jawab Sean sambil terus melangkah. "Jalan kaki?" Tanya Athayya lagi. Kali ini Sean menghentikan langkah. Berbalik lagi menghadap Athayya yang sekarang menghentikan langkahnya dan mata bulatnya menatap Sean dengan bingung. Sean menghela napas, "Saya bingung kenapa dokter lemot kaya kamu bisa diterima di rumah sakit ini." Athayya sontak terperangah mendengar ucapan Sean. "Lemot? Saya tidak lemot, dokter!" "Terus, kalau bukan lemot, apa namanya?" Sean berkacak pinggang. "Suka bengong, susah mencerna perkataan saya. Sudahlah Athayya, yang penting sekarang kamu ikut saya saja!" Athayya menggeram jengkel. Tapi tetap mengikuti langkah Sean saat dokter pemilik rumah sakit itu mulai berjalan lagi menuju lapangan parkir ternyata. "Katanya anak pemilik rumah sakit, harusnya dia tinggal suruh satpam saja buat ambil mobilnya." Athayya bergumam sendiri. Sambil terus mengikuti langkah Sean. "Atau mungkin dia bisa panggil supirnya?" "Berhenti bergumam tidak jelas, Athayya Abraham." Sean menghentikan langkah. Kali ini dia berdiri didepan mobil Ferarri hitam. "Cepat masuk. Jangan banyak tanya." Athayya terperangah. Dia? naik mobil Ferarri? Dengan Dokter Sean? Oh Astaga! Ia tidak tahu ini disebut sebuah kesialan atau justru sebuah keberuntungan. Sean lebih dulu masuk kedalam mobil Ferarri miliknya. Tetapi tidak membukakan pintu untuk Athayya. "Cih, enggak romatis!" Decih Athayya. Tapi, untuk apa juga Sean membukakan pintu untuknya? Athayya bukan gadis special dokter itu. Dengan langkah perlahan tapi pasti, Athayya melangkah mendekat Ferrari hitam milik Sean, membuka pintu penumpang yang hanya khusus untuk dua penumpang saja. Dengan wajah sok cuek nya Athayya duduk dikursi penumpang, lalu mengenakan seatbelt. Padahal dalam hatinya ia benar-benar menjerit. Merasa keren karena dia menaiki ferarri mewah ini. Merasa dirinya lebih cantik menaiki mobil ini, apalagi berdua dengan dokter Sean yang cukup tampan. Diam-diam Athayya melirik Sean, tetapi Sean ternyata malah sibuk dengan ipad miliknya. Wajahnya serius, alisnya saling bertaut dan jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pada layar. Athayya berdeham, "Kita mau berangkat kapan, dokter Sean?" "Jam berapa sekarang?" Tanya Sean. Masih dengan tatapannya yang fokus pada ipad lelaki itu. "Jam?" Athayya melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Jam satu pagi." Sean diam, mengucek matanya lalu meletakkan ipad yang tadi dia gunakan. Dalam diam Sean mulai menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya keluar lapangan parkir rumah sakit. Athayya mengehela napas, bingung melihat Sean yang seperti ini. Tadi saat di koridor dan di lift, sepertinya Sean yang cerewet. Sekarang malah Sean yang pendiam begitu keluar dari rumah sakit. Ah, atasannya ini benar-benar aneh. Dan, keanehan Sean terulang lagi saat tiba-tiba Sean menghentikan mobilnya didekat jalan pintu masuk gedung B. "Kenapa lagi?" Tanya Athayya. Saat ini Athayya sudah tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Sean sudah benar-benar menjengkelkan. Sean melepas seatbeltnya, "salah satu pasienku kritis. Tunggu disini, dua puluh menit saja." Athayya diam, menatap Sean dengan sebal. "Aku mohon, Athayya." Ucap Sean. Dia menarik tangan Athayya dan menggenggam. Membuat Athayya salah tingkah. "O-oke, aku tunggu." Jawab Athayya. "Oke, dua puluh menit. Aku janji," Sean lalu keluar dari mobil, berlari kecil sambil memakai jas putih dokternya. Athayya menatapnya melalu kaca mobil. Pada saat Sean berlari menyelamatkan seorang pasien seperti itu, benar-benar terlihat begitu kharismatik dimata Athayya. Wibawa Sean sebagai dokter sangatlah kentara pada dirinya. Namun kemudian Athayya menggeleng dengan cepat, sambil menepuk kedua pipinya secara bersamaan. "Enggak boleh! Kenapa sih, jadi memuji dokter m***m kaya Sean?!" Athayya memalingkan mukanya, memandang pagar rumah sakit yang menjulang tinggi. Pagar pembatas antara halaman masuk rumah sakit dan jalan raya didepannya. Lima menit, sepuluh menit, Athayya melamun. Bahkan menghitung berapa mobil yang lewat di jalan raya itu pada pukul satu pagi. Dan memikirkan apa yang membuat orang-orang itu masih mengemudi pada pukul satu pagi. Lalu, detik berikutnya mata Athayya terpaku pada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang berhenti di seberang jalan. Lalu seorang pria dengan tuxedo hitam yang rapi keluar dari mobil itu dan menyebrang jalan sambil membawa tas kerja pria berwarna senada dengan tucedonya. Pria itu melihat kanan dan kiri jalanan sebelum dia menyebrang, tapi saat pria itu hendak melangkahkan kaki kanannya, dengan cepat ada pria lain dengan topi dan jaket hitam menariknya dari belakang dan entah apa yang dilakukan oleh pria berjaket itu samapi membuat pria dengan tuxedo hitam itu terkapar di tengah jalan. Athayya yang melihat dari dalam mobil terpekik terkejut, "Astaga! Apa dia gila?!" Athayya kali ini menjerit terkejut saat lelaki dengan tuxedo hitam itu bangkit, menonjok pria dengan jaket hitam. Tetapi pria dengan jaket hitam itu malah menonjok lelaki yang memakai tuxedo itu dan kemudian lari membawa tas kerja berwarna hitam yang tadi dibawa lelaki yang memakai tuxedo itu. Tanpa pikir panjang, Athayya langsung melepas seatbeltnya. Membuka pintu mobil, dan berlari keluar dari halaman rumah sakit yang sepi. Bahkan Athayya lupa kalau dia memakai sepatu high heels 3cm. Athayya terus berlari, menerobos palang pintu keluar otomatis milik rumah sakit. Palang pintu yang tidak perlu dijaga oleh security karena kecanggihannya dan keamanannya. Semakin cepat lari Athayya, semakin dekat dia dengan lelaki yang terkapar itu. Jalanan benar-benar sepi dirumah sakit ini. Bahkan sampai sekarang belum ada orang yang melintasi jalan ini. "Tuan! Anda tidak ap- astaga!" Athayya langsung terduduk begitu saja di aspal. Lelaki yang memakai tuxedo itu terkapar ditengah jalan. Dengan darah merah segar yang keluar dari perutnya. "Tuan anda bisa dengar saya?!" Athayya memalingkan wajah lelaki itu. Betapa terkejutnya saat ia mengenali lelaki itu. "Dokter Sean?!" Tangan Athayya bergetar, mengecek denyut nadi pada tangan lelaki yang berlumur darah itu. Dalam pikiran Athayya, dia begitu panik. Dia harus segera melakukan pertolongan pertama. Tetapi kenapa bisa ada dokter Sean disini? Bukankah dokter Seans sepuluh menit yang lalu baru masuk ke gedung rumah sakit? Lalu kenapa sekarang dia ada disini?! Dengan tuxedo hitam yang berlumur darah. *** "Apa yang harus aku lakukan?!" Athayya bergeming panik, dia tidak mungkin meninggalkan dokter Sean ditengah jalan. Athayya memang dokter. Tapi dokter kandungan, yang baru membuka satu tahun izin praktek dirumah sakit tempatnya bekerja. Athayya tidak pernah menangani orang dengan luka tusukan seperti ini. "Dokter Sean, saya mohon bertahanlah." Tanpa sadar Athayya malah menangis. Dia menangis karena panik. Lalu beberapa detik kemudian, terdengar suara batuk. "Dokter Sean?!" Athayya memekik, memegang tangan lelaki yang terkapar itu dengan lembut. Lelaki itu terbatuk lagi, tetapi bukan batuk biasa. Melainkan menyemburkan darah dari mulutnya. Athayya memekik panik. "Aku harus bagaimana, dokter? Kamu yang biasanya menangani orang seperti ini. Bukan aku. Bagaimana ini?" "Di-diamlah," Lelaki itu mengeluarkan suaranya. Pelan, sangat pelan. Athayya menutup mulutnya. Melebarkan matanya saat melihat lelaki itu membuka mata dengan perlahan lalu mendesis kesakitan. "Aku telepon ambulance!" Athayya mengambil ponsel disaku. Tetapi saat Athayya meletakkan ponselnya di telinga, tangan lelaki itu bergerak menghalau Athayya untuk menghubungi ambulance. "jangan pang-gil ambulance," Ucap lelaki itu terbata-bata. "Su-sudah diam saja. Lebih baik a-aku mati sa-ja." "Tidak boleh! Anda tidak boleh menyerah begitu saja!" Tanpa pikir panjang, Athayya merobek rok putihnya sedikit. Mempergunakan kain itu untuk menghentikan pendarahannya. Athayya menghela napas pelan, dia harus berani! Dia harus berani untuk menolong orang! Athayya melepaskan kancing tuxedo itu dengan cepat, lalu Athayya menyipitkan mata miris saat melihat banyak darah melumuri kemjea putih dokter Sean. "Maaf dokter Sean, tapi saya harus menolong anda." Athayya lalu merobek kemeja dokter Sean, dan menekan bagian perut sebelah kanan yang terkena luka tusukan itu dengan tekanan. Mencoba menghentikan pendarahan. Lelaki itu meringis kesakitan, "Argh!!!" Athayya tersentak, "Maaf dokter, tapi ini yang harus saya lakukan." Athayya makin menekan luka tusukan itu, pendarahan harus dihentikan. Tapi, saat Athayya mulai mengecek denyut nadi dokter Sean, denyut nadi itu seakan menghilang, kemudian muncul lagi. Menandakan denyut nadinya melemah. Dan dokter Sean sudah tidak sadarkan diri lagi. "Tolong!!!" Teriak Athayya kemudian. "Tolong aku!!! Ada orang terkena luka tusuk disini!" Athayya merangkak, mengambil ponselnya yang tadi terlempar karena tangan lelaki tadi yang melarangnya menghubungi ambulance. "Rumah Sakit EGC, segera kirimkan ambulance didepan jalan raya rumah sakit ini dan beberapa tim medis! Ada orang yang terkena luka tusuk disini!" Athayya sudah benar-benar panik. Ia bahkan sudah menangis. Beberapa mobil yang melintas berhenti, mendekati Athayya dan mengerubungi dokter Sean yang terkena luka tusukan. "Biar saya angkat ke rumah sakit," Ada seorang lelaki yang mendekati Sean dan Athayya. "Jangan! Jangan diangkat dengan tangan kosong! Atau luka ini akan semakin parah! Tunggu beberapa menit lagi dan tim medis akan segera datang." Ucap Athayya dengan lantang, membuat beberapa orang yang mngerubungi langsung mundur dan lebih memilih menunggu tim medis yang datang. Athayya menggenggam tangan yang terkapar dan berlumur darah itu. Menggenggamnya dengan erat, "Dokter Sean, bertahanlah. Saya mohon...," Saat Athayya meringkuk di d**a lelaki itu, seseorang mendekatinya dengan cepat dan terburu-buru. Menerobos lingkaran orang-orang yang mengerubungi Athayya dan lelaki yang terkapar itu. "Sena?!" Athayya mendongak, matanya yang masih berlinang air mata menatap lelaki didepannya dengan terkejut. "Dokter Sean?" Gumam Athayya. Dihadapannya dia sekarang melihat lelaki yang memekai jas putih layaknya dokter. Dengan cocard yang tertempel disaku jas putih lelaki itu. Bertuliskan nama Avi Sean – Cardiologist Doctor -. Athayya dengan cepat bergantian menatap lelaki yang terkapar ini dan dokter Sean yang memakai jas kedokterannya. Wajah mereka benar-benar mirip dengan tampilan yang benar-benar berbeda. Tetapi, sebelum Athayya sempat bertanya, suara ambulance membubarkan mereka semua. Membawa masuk lelaki dengan luka tusuk itu, beberapa tim medis, dan Avi Sean yang ikut naik ke ambulance itu dengan wajah panik dan khawatir. Melupakan Athayya begitu saja yang dari tadi menatapnya dengan bingung. Dokter Sean, ada dua? *** Athayya tidak paham dengan semuanya. Dua jam yang lalu, dokter Sean menyuruhnya menunggu didalam mobil sementara dia akan mengecek kondisi pasiennya yang sedang kritis. Lalu saat Athayya memperhatikan jalan, ada lelaki yang tiba-tiba ditusuk dan terkapar ditengah jalan. Sepertinya lelaki itu korban pencurian. Tetapi, kenapa wajah lelaki itu mirip dokter Sean? Itu membuat Athayya bingung sekarang dan panik tadi. Apalagi saat melihat dokter Sean yag tiba-tiba datang langsung mendekati lelaki itu dan membawanya ke ambulance. Lalu saat ini dokter Sean sedang diruangan operasi. Memberi pertolongan pada lelaki yang terkena luka tusukan tadi. Athayya duduk sendiri dikursi tunggu didepan ruangan operasi. Duduk selama dua jam menahan kantuk dan rasa lapar. Seharusnya Athayya langsung pulang saja atau paling tidak dia makan. Tetapi aneh rasanya kalau dia tidak meminta penjelasan dulu dari dokter Sean. Athayya ingin bertanya siapa lelaki yang wajahnya benar-benar mirip dengan dokter Sean itu. Athayya menghembuskan napas. Menyandarkan kepala di dinding belakangnya. Lalu memejamkan mata sejenak. Athayya benar-benar mengantuk. "Aku lapar," Mata Athayya terbuka. Athayya kenal dengan pemilik suara itu. Athayya terbuka, menoleh ke kanan dan sudah ada dokter Sean duduk disana sambil memejamkan matanya. Masih dengan masker dan topi operasi yang tadi dia gunakan dan masih menggunakan jas kedokteran. Athayya hanya diam, memandangi wajah Sean yang tertidur. Sean pasti lelah. Setelah mengecek pasien kritis, sekarang lelaki itu malah menangani operasi selama dua jam. "Sudah puas memandangi wajahku?" Athayya tersentak, lalu memalingkan wajahnya saat tiba-tiba Sean membuka mata dan tertawa.  "Sudahlah," Sean masih tertawa. "Ayo ke kafetaria. Temani aku makan." Sean melepas masker dan topi operasinya. Lalu berdiri dan menari tangan Athayya. Dan kali ini, Athayya hanya bisa diam dan mengikuti Sean.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN