Jam Setengah lima pagi. Kafetaria masih sepi, tetapi sudah mulai menyiapkan sarapan pagi yang hangat.
Athayya berdiri didepan kasir, menunggu bubur pesanan Sean dihidangkan dan roti bakar milik Athayya dihidangkan juga.
"Ada hubungan apa anda dengan dokter Sean?" Brian, lelaki yang bekerja di cafeteria ini bertanya sambil menyerahkan dua cangkir kopi kepada Athayya. "Aku jarang sekali melihat dokter Sean makan disini. Apalagi dengan dokter wanita seperti dokter Athayya."
Athayya tertawa, menganggap ucapan Brian hanya gurauan. "Hanya urusan pekerjaan."
"Sampai pagi begini?"
Athayya mengangguk lagi.
"Dan aku juga baru pertama kali melihat dokter Sean tidur tertulungkup di meja cafeteria seperti itu. Dia terlihat seperti pemilik rumah sakit yang merakyat." Ucap Brian lagi.
Athayya menengok, menatap Sean yang ternyata benar sedang tertidur dengan tertulungkup dimeja cafeteria seperti itu.
"Dia bekerja full 24 jam hari ini, Brian." Bela Athayya.
"Dia dokter yang baik," Brian memberikan nampan hitam berisi dia gelas kopi panas, bubur hangat, dan roti bakar isi daging kepada Athayya. "Cocok menjadi pendamping hidup anda, dokter Athayya." Tambah Brian, membuat Athayya melemparkan tatapan tajam ke Brian sebelum menyerahkan beberapa lembar uang dan berjalan kearah meja yang ditempati Sean.
Athayya meletakkan nampan dengan perlahan. disaat tangan Athayya bergerak mau membangunkan Sean, lelaki itu sudah duduk tegap dahulu. Menghela napas, mengusap mukanya, lalu menyesap kopinya dengan perlahan.
Lagi-lagi, Athayya hanya diam memandangnya. Athayya merasa, kali ini dia lebih penasaran dengan dokter Sean.
"Kamu jadi lebih pendiam. Kenapa?" Sean meletakkan kopinya. Bertanya kepada Athayya, Menatap Athayya yang sedang menyeruput kopi miliknya.
"Cuma bingung." Jawab Athayya pendek. Lalu tangannya meraih roti bakar yang ada di nampan hitam. Memakannya dengan lahap.
Sean tersenyum tipis, kali ini dia hanya ingin diam dan menenangkan pikirannya. Sean sedang shock dengan apa yang barusan terjadi.
"Jangan Cuma melamun, dokter. Buburmu keburu dingin," Ucap Athayya mengingatkan. Membuat Sean tersentak dan langsung memakan buburnya.
Setelah mereka berdua selesai makan, Sean menggeser mangkuk buburnya yang sudah kosong. Lalu lagi-lagi memperhatikan Athayya yang sedang bermain ponsel.
"Tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan." Kata Sean kemudian.
Athayya mendongak, lalu menutup ponselnya. "Tanya apa?"
Sean mengedikkan kedua bahunya. "Aku tahu banyak yang mau kamu tanyakan. Tanya saja, aku akan jawab."
Athayya mencebik, tetapi dia juga masih kepo dengan yang tadi. Jadi, Athayya mulai melontarkan pertanyaannya.
"Siapa yang terkena luka tusuk tadi?" Tanya Athayya akhirnya.
Sean mengehela napas. Ia tahu kalau ini yang akan ditanyakan Athayya. "Dia Avi Sena, saudara kembarku."
Athayya menelan roti didalam mulutnya dengan cepat, "Dokter Sean punya saudara kembar?!" Tanyanya takjub.
Sean mengangguk pelan, pertanyaan itu sudah biasa didengarnya. "Penerus perusahaan Evan Group Company bukan hanya aku. Ada Sena juga. Tapi aku Cuma mengurus dibidang kesehatan, termasuk rumah sakit ini dan Sena mengurus dibidang bisnis serta ekonomi."
Setelah mendengar itu, dalam hati Athayya berpikir kalau hebat sekali keluarga Sean. Betapa kayanya mereka semua dengan perusahaan sebanyak itu.
"Lalu, gimana keadaannya?" Tanya Athayya.
"Sena sudah melewati masa kritisnya." Sean mengusap wajahnya lagi. "Tapi dia belum siuman. Mungkin beberapa jam kedepan. Aku juga belum tau kenapa si bodoh itu ada disini."
Athayya melotot, "Hei! Dokter Sean tidak boleh mengatai kembaran anda sendiri dengan sebutan bodoh." Ucapnya memperingatkan.
Sean hanya tertawa kecil, "Dia memang bodoh. Untuk apa dia dijalanan pada pukul satu pagi."
Athayya hanya diam, sebelumnya saat perjalanan ke kafetaria, Athayya sudah menyeritakan semua kronologi kejadian yang menimpa Sena kepada Sean. Dan setelah itu semua disimpulkan, kalau Sena adalah korban perampokan.
Dan saat Athayya menyarankan melaporkan kejadian ini ke polisi, Sean menolak. Kalau sampai ini semua diurus polisi, maka urusannya akan lebih repot lagi. Dan Sean juga yakin, pasti Sena juga menolaknya.
Mata Athayya menatap Sean dihadapannya yang sedang memakan buburnya dengan tenang dan diam. Rambut hitam kecoklatan milik Sean acak-acakan, kantung matanya besar dan makin hitam karena kurang tidur. Lalu kemudian, Athayya membelalak, teringat hal yang sangat amat penting yang dia lupakan.
"Proposalku?!" Jerit Athayya. Menatap Sean dengan horror.
Sean sampai tersentak dan hampir terjengkang kebelakang. "Kau membuat aku hampir tersedak, Athayya!"
"Tapi, dokter Sean, proposalku bagaimana? Aku harus segera pulang untuk bersiap dengan acara jam sepuluh nanti!"
Sean menghela napasnya lagi, merasa sangat lelah hari ini. "Ada diruangan kerjaku. Nanti aku ambilkan."
"Apa?!" Athayya berteriak terkejut. Membuat beberapa orang di kafetaria menatapnya dengan heran. Dan Sean kali ini menatapnya jengah. "Anda bilang, ada di apartemenmu. Dokter Sean membohongi saya, ya?"
Sean membuang muka ke kiri sambil menyeruput kopinya. Sialan! Dia ketahuan membohongi gadis ganas ini, sebentar lagi mungkin wajah tampan nya akan bonyok karena ditampar berkali-kali oleh Athayya si gadis garang.
***
Sena sudah sadar semenjak satu jam yang lalu, dia sekarang sedang menonton acara televisi dan bersantai dikasur vvip rawat inapnya.
"Sudah siuman?"
Sena mengalihkan pandangan dari televisi, mendapati Sean dengan jas putih kedokterannya melangkah mendekatinya.
"Gue udah bangun dari satu jam lalu." Sena memperhatikan Sean yang memeriksa denyut nadinya.
Sean menghembuskan napas lega, "Bagus lah, gue seneng lo baik-baik aja."
Sena tertawa, "Gue tau lo khawatir sama gue, Sean."
Sean menatap kakaknya itu dengan jengkel. Lalu duduk dikursi yang disediakan untuk penunggu pasien. "Gue enggak tau gimana lagi hidup gue kalau kembaran gue mati ditusuk orang jam satu pagi."
Mendengar itu, tawa Sena makin keras tapi kemudian dia berhenti tertawa. "Hahaha, aduh! Sialan. Sakit perut gue,"
"Ketawa aja terus, enggak mikir nyawa lo." Sean mendengus malas. Sudah lama dia tidak berbincang-bincang dengan Sena. "Jadi, apa yang buat lo ke rumah sakit ini jam satu pagi?"
Sena terdiam, ingatannya kembali ke harinya kemarin, hari yang paling menyebalkan dalam hidupnya.
"Uang yang ada didalem tas itu dirampok. Kayaknya orang yang ngerampok itu udah ngikutin gue dari atm sampai ke jalan raya. Padahal uang itu mau gue titipin ke elo buat donasi untuk Panti Asuhan tempat mama Abella tinggal dulu waktu kecil."
Sean mengangguk paham, dia diam. Masih mendengarkan penjelasan dari Sena.
"Gue enggak bisa transfer ke elo karena atmnya lagi bermasalah dan hari ini seharusnya gue udah di Dubai buat foto preweeding." Sena menatap Sean, ingin melihat ekspresi yang akan diberikan oleh adiknya itu.
Dan benar saja, Sean yang langsung terperangah mendengar ucapan terkahir Sena. "Lo bilang apa tadi? Preweeding?!"
Sena tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Gue udah tunangan kemarin, dan gue menikah bulan depan."
"Sialan!" Sean menampar pipi Sena dengan pelan. Bermaksud bercanda. "Kok bisa? Kenapa gak ngundang gue? Anjir parah lo, sama siapa?!"
Sena mengambil ponselnya dibalik bantal, membuka galeri. "Sama dia,"
Sean menerima ponsel yang diberikan Sena. melihat foto seorang wanita berambut hitam panjang dengan senyuman lembutnya. Membuat Sean teringat dengan seorang wanita yang masih dicintainya sampai sekarang.
"Sekilas dia mirip mama Raysa kan?" Sena mengambil ponselnya, menatap lagi foto wanita itu.
Sean tertawa, "Iya sih, dia cantik. Siapa tuh?"
"Grace Amanda. Pewaris tunggal Lord Bussines Group."
Senyuman Sean langsung sirna begitu mendengar penjelasan yang baru saja dilontarkan Sena. "Lord Bussines Group? Perusahaan yang selama ini lo incer untuk kerjasama tapi selalu gagal?"
Sena mengangguk, "Dan sekarang Evan Group Company akan menjadi satu dengan Lord Bussines Group. Perusahaan Ayah akan semakin besar. Karena aku akan menikahi cucu tunggal pemilik Lord Bussines Group."
"Lo udah gila," Sean menggeleng tidak habis pikir. "Gimana ceritanya coba?"
"Cerita singkatnya, Grace Amanda jatuh cinta sama gue dengan mudah dan dia minta ke kakeknya untuk meminta gue menikah sama Grace. Karena Grace, seorang wanita yang cukup tertutup dan entahlah, sedikit aneh." Jelas Sena.
Sean terperangah, "Jangan bilang, dia gila?"
Sena tergelak tawa, lalu memegangi perutnya yang bekas luka tusukan itu. "Enggak, dia wanita normal. Kemarin acara tunangan di rumah dia dan dihadiri semua keluarga dia. dari keluarga kita, cuma datang Ayah."
"Ayah datang?" Tanya Sean. Dia cukup kesal karena Ayahnya pun tidak memberi tahunya soal pertunangan Sena.
Sena mengangguk senang, "Ya, dan Ayah langsung setuju. Dia seneng banget gue menikah sebentar lagi."
"Dan lo? Juga seneng sebentar lagi menikah dengan wanita cantik dan kaya raya seperti Grace Amanda?" Sena langsung terdiam begitu pertanyaan terlontar dari mulut Sean.
Sean tertawa meremehkan, "Lihat sekarang. Lo diem. Gue gak yakin lo benar-benar bahagia menikah nantinya. Gue Cuma mau memperingatkan ke lo, kalau menikah itu hal yang sakral dan bukan kaya gue yang suka mainin cewek. Grace Amanda bakalan jadi istri lo."
"Mungkin, lo bakal senang saat ini karena asset perusahaan keluarga kita bertambah drastic dengan tergabungnya dua perusahaan besar. Tapi semua keputusan itu sepertinya salah, bro. Kita masih cukup muda buat hidup tanpa suatu ikatan pernikahan, tapi itu sudah pilihan lo. Gue Cuma pingin peringatin lo aja, jangan sampai di keluarga kita terulang kejadian seperti apa yang dialamin Ayah, mama Raysa, dan mama Abel. Gue nggak mau." Ucap Sean memperingatkan.
Sena kemudian terkekeh, "Gila, lo bijak banget."
"Enggak sombong, gue emang bijak." Sean menyisir rambutnya kebelakang. "Ehm, sebentar lagi mungkin gue udah punya keponakan."
"Gue enggak bakalan ngehamilin Grace."
"what?!" Sean terbahak dengan keras. "Bro, lo sebentar lagi udah hidup satu atap sama Grace Amanda. Gue enggak yakin lo bisa tenang gitu aja kalau ngelihat Grace dengan tubuh polos."
Sena dengan cepat memukul kepala Sean, membuat Sean mengaduh kesakitan. "Mulut lo tuh, dijaga. Enggak usah ngebayangin yang aneh-aneh tentang calon gue."
"Terus, gimana caranya bikin dia gak hamil? Terus siapa yang bakalan ngasih keturunan buat nerusin perusahaan lo? Gue yakin lo pasti maunya yang... ya gitu deh, lo tau kan maksud gue?" Sean menaik turunkan alisnya. Menggoda Sena.
Sena mendengus, "Bahkan gue enggak bakalan berhubungan badan sama dia."
Sean hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Lalu dia berdiri dari duduknya. "Oke, gue gapaham maksud lo apa. Dan mungkin Grace Amanda akan perawan untuk selamanya."
"Mungkin lo bener," Jawab Sena dengan santai.
Sean mendecak, "Udahlah, istirahat lagi aja lo. Gue ada jadwal praktek. Bye, dude."
Sean melangkah keluar dan kemudian keluar dari ruangan Sena. Sean berjalan dengan diam menyusuri koridor rumah sakit. Saat tadi melihat foto Grace Amanda, wajah wanita itu benar-benar mirip dengan Raysa, almarhum mamanya yang sudah meninggal. Mama yang amat ia sayangi.
Sena beruntung mendapatkan calon istri seperti Grace, kali ini Sea harap, Grace bisa menjadi istri yang baik. Sebaik Raysa selama hidupnya.
"Avi Sean!" Sebuah teriakan dari suara yang sudah Sean kenal membuat Sean mengehentikkan langkah dan membalikkan badannya.
Dibelakangnya, terlihat Gerald sedang berlari mendekatinya.
"Selamat pagi, dokter." Gerald tertawa, menyapa sahabatnya yang menatapnya dengan muka kusutnya. "Jadi, bagaimana tadi malam?"
Sean mendesah mengingat tadi malam, "Tidak ada kejadian apa-apa. Dan dia memukul punggung gue sampai biru karena gue ketahuan bohong sama dia tadi pagi."
Gerald tergelak. "Lo kalah kali ini, bray. Kenapa semalem enggak jadi?"
"Udah nyaris jadi, tapi gue ada pasien kritis makannya enggak jadi." Jelas Sean secara singkat. Dia memilih tidak menceritakkan perihal Sena yang diberi pertolongan pertama oleh Athayya saat Sena ditusuk oleh perampok.
Gerald tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Pantes aja muka lo kusut gitu."
"Hm," Sean merogoh saku celananya, lalu melemparkan benda itu ke Gerald. "Milikmu,"
Gerald menerimanya. Lalu terkekeh saat melihat benda apa yang diberikan Sean kepadanya. "Gue kembaliin. Gue enggak terlalu suka Ferarri. "
Sean menerima lagi kunci mobilnya, "Lo yakin?"
Gerald mengangguk, lalu menepuk bahu Sean. "Kirim saja wanita-wanitamu nanti malam ke apartemenku dan jangan lupa 75% sahammu."
"Sialan," Sean mendengus kesal. Kemudian berjalan beriringan dengan Gerald mengisi daftar kehadiran kerja. Bagaimanapun, Sean termasuk dokter yang bekerja dirumah sakit miliknya sendiri.
***
Athayya menatap pintu berwarna coklat muda dengan nomor 550 dihadapannya. Ia yakin, setelah membuka pintu ini pasti dia akan bertemu dengan lelaki yang berwajah sama dengan dokter Sean. Tetapi, Athayya penasaran dengan kondisi lelaki yang ditolongnya tadi.
Bahkan pada saat seminar tadi, Athayya tidak bisa berkonsentarsi. Dirinya selalu memikirkan keadaan saudara kembar dokter Sean. Maka, saat ini ia memutuskan untuk menengok lelaki itu. Dengan sekeranjang buah-buahan ditangannya.
Athayya menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Ayo Athayya, kamu harus berani."
Kemudian Athayya mengetuk pintu, lalu mendorong pintu coklat itu sampai kemudian dia melihat lelaki yang benar-benar mirip dengan dokter Sean. Lelaki dengan baju pasien rumah sakit dan sedang menatapnya dengan heran.
"Selamat siang, Tuan." Sapa Athayya dengan ramah. Mencoba melangkah percaya diri mendekati Sena.
"Selamat pagi," Jawab Sena dengan datar. Menatap wanita didepannya dengan bingung. "Anda..., oh saya ingat!"
"Kamu yang menolongku tadi malam, 'kan? Yang menghubungi ambulance?" Tanya Sena.
Senyum Athayya mengembang. Senang ternyata Sena mengingatnya. "Iya, tuan."
Sena tertawa kecil, "Ayo duduk. Aku sangat berterimakasih kepadamu."
"Saya bawakan buah-buahan, semoga suka. Saya taruh sini ya, mungkin nanti anda mau makan." Athayya meletakkan buah-buahan itu di meja. Lalu duduk di kursi penunggu pasien yang tadi di duduki Sean.
Sena tersenyum. "Wah, terimakasih sekali. Kamu benar-benar perhatian. Em, siapa namamu?"
"Nama saya Athayya Abraham, tuan."
"Ah, terimakasih Athayya. Dan, jangan panggil tuan. Aku Avi Sena, panggil saja Sena." Sena mengulurkan tangannya yang kemudian dijabat dengan Athayya.
"Sama-sama tuan, eh maksud saya, Sena." Athayya tersenyum kaku. Grogi karena Sena. ah, lelaki didepannya ini entah kenapa membuatnya salah tingkah karena keramahannya. Beda sekali dengan dokter Sean.
"Kamu dokter disini?" Tanya Sena.
Athayya mengangguk, "Ya, aku dokter kandungan."
"Wah, itu hebat." Sena menatap wanita didepannya. Wanita ini cantik, sangat cantik malah. Dengan rambut hitam yang agak panjang dan bergelombang dibagian bawahnya. Serta mata bulatnya yang lucu.
"Dan hebat saat kamu menolongku tadi malam. Walaupun kamu menangis kebingungan." Gurau Sena.
Mengingat itu, muka Athayya memerah karena malu. "Itu karena aku bingung harus apa. Lagi pula, kamu juga malah bilang sudahlah, biarkan aku mati saja."
Sena tertawa saat Athayya mempraktekan apa yang diucapkannya saat sekarat tadi malam. "Itu benar-benar sakit Athayya, dan rasanya aku benar-benar ingin mati."
"Ish, kamu enggak boleh menyerah begitu saja." Athayya menatap Sena dengan kesal. Mudah sekali lelaki ini menyerah. "Oh iya, bagaimana lukanya? Kamu sudah merasa baik?"
"Ya, Sean yang merawatku." Sena tertawa. "Beruntung juga punya adik dokter yang tanggap seperti Sean.
Athayya mengangguk, "Ya, dokter Sean memang dokter yang dapat diandalakan."
"Kamu menyukai adikku?" Tanya Sena dengan senyum menggodanya.
"Adikmu? Maksudmu, dokter Sean?"
Sena mengangguk.
"Oh astaga! Tidak! Jangan sampai aku meyukai lelaki playboy seperti di-." Ucapan Athayya terputus. Dia menggigit bibir bawahnya begitu menyadari Sena yang menahan tawanya.
Athayya menutup wajahnya, "Maaf! Bukan maksudku buat menjelek-jelekkan adikmu."
Sena tertawa lagi, "Hahaha, astaga... sudahlah, tidak apa-apa. Aku Cuma enggak menyangka aja kalau kamu begitu benci sama Sean."
Athayya cemberut, tidak menyangka kalau Sena malah akan tertawa. "Aku kira kamu marah."
"Enggak, aku bukan orang yang mudah marah. Tenang saja,"
Saat Athayya hendak menjawab perkataan Sena, posnel di sakunya bergetar. Ada telepon masuk dari suster Agatha.
"Em, maaf, sepertinya aku harus pergi, Sena. Sepertinya ada panggilan penting." Ucap Athayya. Wanita itu berdiri.
Sena mengangguk, "Terimakasih sekali lagi, Athayya."
"Ya, sama-sama." Athayya tersenyum manis kepada Sena membuat Sena merasa senang.
"Boleh minta kontakmu? Mungkin, kita bisa mengobrol dilain waktu."
Entah mengapa, dalam hati Athayya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan. Dengan cekatan, dia mengambil kartu nama yang selalu dia simpan di saku jas kedokterannya. "Ini kartu namaku."
Athayya memberikan kartu namanya kepada Sena. "Mungkin, kita bisa bertemu lagi."
Sena meraih kartu nama itu. Dan membacanyanya sekilah. "Baiklah."
"Oke," Athayya mengulum senyum, benar-benar salah tingkah. "Aku pergi ya?" Athayya menunjuk pintu keluar.
"Ya, silahkan." Sena terkekeh melihat Athayya yang salah tingkah. Sena tau itu.
Athayya mengangguk dan tersenyum lagi, sampai kemudian melangkah keluar ruangan Sena.
Diam-diam, Sena memperhatikan lekuk tubuh Athayya dari belakang. Tubuh Athayya benar-benar menggodanya, apalagi dengan roknya yang ketat. Membuat Sena terus memperhatikan Athayya.
Sena kemudian menggelengkan kepalanya. Menertawai dirinya sendiri yang kagum dengan lekuk tubuh Athayya. Sena membaca lagi kartu nama ditangannya. Kartu nama Athayya, dokter cantik dengan tubuh sexy-nya dan sifat lucu serta polos yang dimiliki gadis itu.
Mungkin, kalau ada waktu, Sena bisa menghubungi gadis itu lagi untuk lebih membalas kebaikan gadis itu karena telah memberinya pertolongan pertama.