Ditemani secangkir kopi hitam, juga sebungkus rokok yang salah satunya telah disulut api hingga pada ujungnya berwarna kemerahan juga mengeluarkan asap, Rifa'i menikmati malam.
Ditatapnya bintang bintang di langit, membayangkan jika salah satu dari ribuan kerlip itu adalah Mutia, kekasih hatinya.
Gadis itu pasti akan mengoceh panjang lebar.
"Merokok nggak baik buat kesehatan. Benda panjang itu, kecil tapi sangat merugikan, tahu nggak?"
Mutia akan berkecak pinggang dengan mata melotot, memasang ekspresi marah yang sama sekali tidak menyeramkan. Justru terlihat sangat menggemaskan bagi Rifa'i.
Dalam lamunannya, Rifa'i tertawa. Namun tak selang berapa lama, air mata jatuh begitu saja. Menyadari bahwa sudah tak ada lagi sosok Mutia dalam hidupnya.
Tidak akan ada lagi sosok gadis cerewet yang selalu memerhatikan dan peduli pada kesehatannya melebihi dirinya sendiri.
"Aku harus gimana, Mut? Cuma benda ini yang bisa buat aku melupakan rasa sakit karena kehilanganmu." Rifa'i tersenyum meski senyum itu amat terasa memilukan.
Hubungan keduanya terlanjur dalam. Melibatkan perasaan yang tak mudah untuk dilupakan.
Mutia Ramadhani, gadis yang mampu menyentuh hati Rifa'i melalui tutur bicaranya yang lembut, juga sopan santun yang ia miliki.
Tiga tahun dekat dan seakan telah saling memiliki, keduanya bahkan telah setuju untuk maju ke jenjang yang lebih serius. Ingin membuktikan kepada siapa saja yang telah meremehkan bahwa hubungan mereka bukan sekedar permainan belaka.
Sayangnya, sebuah batu besar menghalangi langkah mereka. Restu dari sang papa.
Ada syarat yang harus mereka penuhi.
Rifa'i harus membantu bisnis sang papa di Jakarta, menjadi sukses sampai berhasil memenangkan beberapa tender besar di sana. Maka, bukan hanya restu, tapi sebuah anak perusahaan milik papanya pun akan menjadi milik Rifa'i.
Tentu saja Rifa'i keberatan jika harus meninggalkan Mutia. Tapi itu adalah syarat. Mutlak dan tidak untuk ditawar.
Mutia sadar, apa yang dilakukan papa Rifa'i adalah demi masa depan mereka berdua. Dan dengan besar hati Mutia mengizinkan Rifa'i kembali ke Jakarta. Asal, dia kembali dengan gelar seorang boss.
Rifa'i yang keras kepala awalnya menolak namun, cinta Mutia lah yang lagi lagi mampu meyakininya, bahwa semuanya akan berakhir indah. Perpisahan itu, hanyalah awal dari sebuah kisah yang lebih megah.
Namun takdir berkata lain, keyakinan Mutia kalah oleh kehendak Tuhan.
Gadis malang itu, telah kembali pada pangkuan-Nya. Tidur nyenyak, tanpa perlu lagi merasa gelisah memikirkan segala sesuatu.
Meninggalkan Rifa'i dengan setumpuk rindu yang entah dengan apa ia bisa menghapusnya.
"Bang?"
Rifa'i terlonjak dari imajinya. Menghapus secara serampangan air mata yang telah kurang ajar menetes di pipinya.
"Abang nangis?"
Indra mendekat. Memastikan bahwa yang ia lihat barusan bukanlah sebuah hayalan. Sesuatu yang hampir tak pernah ia lihat selama ini, Rifa'i menangis.
"Apa sih, lo, Dek? Ganggu orang lagi konsen aja!" Ketus Rifa'i coba mengalihkan pembicaraan.
"Abang tadi nangis?" tanya Indra sekali lagi, memastikan.
"Ya enggak, lah. Abang tuh lagi konsen, mikirin gimana caranya ngedeketin cewek yang ada di kafe tongkrongan favorit kamu sama Rasti. Siapa tadi namanya?"
"Kak Tiara?"
"Nah, iya, Itu. Tiara. Daru namanya aja udah terkesan cantik, cocoklah sama wajahnya."
"Sejak kapan bang Fa'i jadi sok playboy gini? biasanya juga cupu kalo dideketin cewek." Indra ikut duduk selonjoran di teras depan rumah. Pandangannya tertuju pada langit yang gelap.
Malam itu, meskipun gelap namun mampu menyita perhatian banyak pasang mata karena indah kelip di antara gelapnya. Tak terlalu benderang, tak menyakiti mata. Namun mampu menghangatkan hati siapa saja yang memandangnya.
"Rese' lu, Ndra!" Rifa'i menjotos pelan bahu sang adik. Bukan membalas, namun Indra justru terkikik geli.
"Yah emang, kan? Coba deh diinget lagi, kapan terakhir kali abang bawa cewek pulang ke rumah?"
tanya Indra dengan senyum mengejek.
Rifa'i sedikit gelagapan, untuk kemudian tersenyum begitu mendapat jawaban untuk berkelit.
"Abang ini udah dewasa, udah nggak mikirin itu yang namanya cinta sesaat. Usia abang ini usia matang, di mana Abang cuma mau menjalin hubungan yang serius. Bukan yang cuma main-main. Ngerti?"
Indra berjengit tak suka.
"Emangnya, hubungan Indra sama Rasti itu cuma main-main? Enggak tau!"
"Lah! Emang barusan abang bilang gitu? Enggak, kan? Lu yang ngerasa sendiri, dih!"
Indra menggaruk tengkuk.
Benar juga. Tadi kan Rifa'i tidak menyebutkan nama.
"Ah! Pokoknya abang cupu lah kalo masalah percintaan, mah."
"Ya kamu tahu sendiri, kan. Abang ini orangnya setia. Hati abang masih bertaut sama Almarhum Mutia." Nada suara Rifa'i memelan. Dan segera Indra kembali mencairkan suasana.
"Nah, makanya. Ini kesempatan emas buat abang. Deketin kak Tiara. Pepet terus jangan kasih kendor!" Seru Indra memberi semangat.
"Pengennya sih gitu, Ndra. Tapi gimana ya, cara ngedeketinnya?"
"Gampang itu mah, Bang. Ntar gue kasih tau kiat kiatnya, deh! Lagian, kayaknya kak Tiara juga ada rasa deh, sama abang."
"Tahu dari mana?"
"Yee,.. Jangan salah, muda gini, Indra jauh lebih berpengalaman soal asmara dibandingkan sama abang, tahu!" Ujar Indra membanggakan diri.
Dan tentu saja hanya ditanggapi dengan raut tak percaya oleh Rifa'i.
"Kelihatan tau, bang, dari cara kak Tiara menatap mata abang. Tatapannya itu, lama dan dalam."
"Sok tahu!"
"Dih, bang Fa'i mah, nggak percayaan banget!"
"Lu, mana bisa dipercaya?"
"Sialan! sama adek sendiri, juga!"
"Iya, deh, iya. Percaya...." jawab Rifa'i yang sama sekali tidak memberikan kelegaan di hati Indra.
"Bang,"
"Hmmm...."
"Lo kangen sama kak Mutia, ya?"
Rifa'i terdiam sejenak, untuk kemudian mengangguk lemas.
"Selalu, Ndra. Setiap hari sejak terakhir kali kami berpisah, gue selalu merindukan dia. Gue kangen caranya merajuk, gue kangen ketika dia marah kalau gue nggak nurutin apa maunya dia. Gue kangen dia sepenuhnya. Dan jujur, sampai sekarang gue masih amat sangat merasa bersalah begitu mendengar berita tentang kematiannya."
"Sori ya, bang. Tapi, abang percaya kalau almarhum kak Mutia meninggal karena bunuh diri?"
Kali ini Rifa'i menggeleng cepat.
"Sama sekali enggak, Ndra. Mutia bukan gadis cengeng yang mudah menyerah karena satu dua masalah. Dia gadis tangguh yang bisa mengatasi masalahnya sendiri meski tanpa melibatkan orang lain."
"You know her very well ya, Bang."
"Sure. Mungkin nggak ada yang lebih mengenal dia melebihi gue, bahkan dirinya sendiri."
"Bahkan keluarganya? juga Bintang?"
Rifa'i menunduk sejenak.
"Gue nggak tahu gimana persis hubungan Mutia sama keluarganya. Yang jelas selama tiga tahun kita menjalin hubungan. Mutia jarang sekali menceritakan perihal keluarganya. Mungkin Bintang sesekali ia sebut namanya. Bunda juga, beberapa kali. Tapi, gue nggak ngerasa ada ikatan kuat setiap kali Mutia bercerita mengenai keluarganya."
"Kenapa? Kok bisa gitu, ya? Padahal Bintang kelihatannya sayang banget sama Almarhum kak Mutia?"
Rifa'i mengendikkan bahu, sebagai jawaban atas ketidak mengertiannya.
"Lo sendiri, gimana hubungan lo sama Rasti?"
"Sementara, kita mutusin buat break dulu, bang," jawab Indra lesu.
Dan bukannya turut prihatin, Rifa'i justru tertawa.
Tentu saja Indra memprotes atas reaksi sang abang.
"Malah diketawain, bukannya di kasihani, kek. Kasih motivasi, kek," seloroh Indra tak terima.
"Lagian, ada ada aja. Udah kayak sinetron aja ada break nya segala!" Sekalian aja pasang iklan."
Indra mencebik.
"Ya itulah, Ndra kenapa gue selama ini memilih buat sendiri dulu. Gue nggak mau ngejalani hubungan yang sesaat. Udah waktunya buat gue ngejalani hubungan yang serius dan bukan main main lagi."
"Bilang aja masih gagal move on dari kak Mutia!" ledek Indra.
"Ya, itu juga, sih. Gue masih sering ngerasa kangen sama dia sampe rasanya pengen mati, nyusul Mutia di surga."
"Emang abang yakin bakal masuk surga?"
"Kurang ajar emang, adek gue ini!" Rifa'i berakting seolah ingin mematahkan leher Indra menggunakan jurus yang selama ini ia pelajari dalam seni bela diri yang beberapa tahun terakhir ia tekuni.
"Sok yakin banget sih, bakal masuk surga! Jangan berpikir buat mati dulu kalo amal yang abang punya aja belum cukup buat bekal di akhirat! Lagian, abang juga belum nikah."
Rifa'i menoleh, begitu mendengar kalimat Indra yang terakhir.
"Abang dulu waktu ditanya mama cita-citanya apa, jawabnya pengen nikah, kan? Pengen punya pasangan kayak mama sama papa. Inget, nggak?"
Pandangan Rifa'i menerawang, menembus gelap malam. Mengingat kembali memori bersama wanita yang amat ia cintai di dunia.
Saat itu, masalah terbesar dalam hidupnya adalah ketika ia amat ingin sekali bersama teman sebaya, tapi justru dikucilkan karena menolak ketika dimintai contekan saat ujian sekolah.
"Gue dulu cengeng banget ya, Ndra."
"Sampai sekarang juga."
Rifa'i menoleh ke arah Indra yang saat ini telah berganti posisi. Merebahkan badan di antara rerumputan ternyata cukup menenangkan.
"Gue tahu, abang selama ini masih suka nangis diem-diem, kan?"
Rifa'i sedikit terhenyak. Rupanya Indra sudah mengetahui rahasia terbesar dalam hidupnya. Lelaki dewasa itu kini turut merebahkan tubuhnya di antara rerumputan tanpa alas.
"Kalau mau nangis, mah nangis aja, Bang. Nggak usah sok kuat. Kenapa? Nggak dosa kok kalau cowok nangis."
"Gue cuma malu aja, Ndra. Gue abang, gue harusnya jadi pelindung buat lo. Ngejagain lo dari apa aja," aku Rifa'i jujur.
"Abang emang ngelakuin itu kan, selama ini? Lo emang pelindung kok buat gue. Terus kenapa? Iron man yang super hero aja, nggak ada yang ngelarang kok kalau dia mau nangis."
"Iya juga, sih, ya," celetuk Rifa'i setengah tertawa.
Di belakangnya, Indra menatap lekat lekuk wajah Rifa'i dari samping.
Lelaki itu, telah berjuang keras selama ini untuk melindungi dan menjadi tameng atas segala sesuatu yang Indra lakukan.
Lelaki dewasa itu telah menanggung banyak beban semenjak sang mama meninggal dunia diusianya yang masih terbilang belia.
Papa yang justru semakin tenggelam dalam dunia bisnisnya tanpa memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya, memaksa Rifa'i berperan sebagai orang tua bagi Indra.
Banyak beban tertancap dalam pundaknya. Hal yang selama ini tak pernah Indra sadari.
"Maafin gue yang sering ngerepotin elo ya, bang "
Indra amat emosional sekarang. Ia bahkan tak menyadari, kristal bening susul menyusul jatuh dari pelupuk matanya.
Rifa'i yang mendengar ada yang aneh pada suara Indra, akhirnya menoleh.
"Loh, kok jadi lo yang nangis sekarang?"
"Bang, peluk," pinta Indra tiba-tiba.
"Dih! Ogah!"
"Sebentar ... aja," rengek bocah yang masih berstatus siswa SMA itu.
"Males, dih!"
Merasa terganggu, Rifa'i membalikan badan membelakangi Indra.
Meski tanpa persetujuan, akhirnya Indra memeluk erat Rifa'i dari belakang.
Tak peduli walaupun yang dipeluk meronta minta dilepaskan, Indra justru semakin mengencangkan pelukannya.
"Indra, Woy!"
Masa bodo.
Yang ditegur seolah tuli. Matanya bahkan tertutup rapat.
Perlahan, meski semula kaku, pada akhirnya Rifa'i mengalah juga. Menikmati sentuhan hangat, mentransfer semangat dari keluarga untuk anggota keluarga lainnya.
Selama ini, memang sebuah pelukan amat ia rindukan. Pelukan penuh kasih sayang yang lama sekali tak lagi ia dapatkan sejak sang mama meninggal dunia.