Sambil menyeruput es boba miliknya, Bintang mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti telah lepas dari pundaknya ribuan beban yang beberapa hari terakhir ini membelenggunya.
Tak jauh berbeda, Rasti yang dengan setia duduk di samping Bintang pun merasakan hal yang sama.
Sekolah mereka baru saja menyelenggarakan ujian tengah semester, yang tentu saja membuat Indra dan Rifa'i terpaksa harus menunda keberangkatannya ke Bandung.
Hari ini, setelah soal terakhir telah selesai mereka lewati, Indra yang menjadi pionir mengkoordinasikan agar mereka segera bertemu di mini kafe tempat biasa anak sekolah menghabiskan waktunya sebelum benar-benar pulang ke rumah.
lokasinya yang instagramable, juga harga minuman serta camilan kekinian yang low budget, pas sekali untuk ukuran kantong pelajar.
Beberapa tahun terakhir, mini resto yang menyajikan tempat untuk nongkrong dan jadi basecamp anak-anak remaja memang menjamur di sepanjang jalan khususnya di daerah perkotaan.
"Gimana, Ndra? Terpaksa kita harus atur ulang jadwal kita ke Bandung."
Bintang mulai membelokkan arah pembicaraan setelah dari tadi hanya membahas masalah seputar ujian.
"Iya, Bi. Abis ujian biasanya kan hari bebas, tuh. kita gunain aja hari bebas itu buat pergi ke Bandung."
"Bener banget. Kita juga bisa gunain kesempatan ini buat jadi alasan ke orang tua kamu, Bi. Bilang aja mau refreshing setelah pusing menghadapi ujian, kan?"
"Boleh juga, tuh idenya Rasti. Kamu emang paling cerdas! Jadi gemesh."
Indra memasang ekspresi lucu ke arah Rasti. Membuat gadis itu malu, dan justru bereaksi di luar dugaan. Menggetok kepala Indra menggunakan sendok yang kebetulan tengah ia pegang.
"Aduh!"
Indra mengaduh kesakitan sambil mengusap rambutnya acak.
Sementara Rasti dan Bintang justru tertawa melihat ekspresi Indra yang seakan menahan sakit.
Padahal Rasti memukulnya tidak terlalu keras. Tidak sampai Indra mengalami gegar otak sehingga harus di opname beberapa minggu dan mendapat jahitan di kepala.
Bersamaan dengan itu, Rifa'i yang baru saja istirahat makan siang, terpaksa harus memenuhi keinginan sang adik untuk segera bertemu, dari pada harus mengalami teror berupa misscall tak henti henti dari adik semata wayang.
"Hei, kalian apain adek abang yang paling keras kepala ini?" tegur Rifa'i pada Rasti dan Bintang yang cengengesan sementara Indra mengaduh kesakitan.
"Enggak, kok, Bang. Cuma ngecek aja, seberapa keras sih kepalanya Indra," sahut Rasti asal.
"Oh, gitu. Mau abang bantu cek in?"
Tanpa basa basi Rifa'i menggetok kepala Indra sekali lagi menggunakan buku jarinya yang keras.
Dan tentu saja, sekali lagi Indra melenguh kesakitan.
"Abang, deh! tega bener sama adek sendiri!" protes Indra tak terima.
"Cuma segitu doang. Cemen banget sih jadi cowok! Lagian, ngapain sih lu sampe neror abang ngajak ketemuan. Di tempat alay kayak gini, lagi! Ada yang penting banget apa, heh?"
Rifa'i celingukan merasa seperti telah salah tempat. Di sekelilingnya, yang dia lihat hanyalah remaja remaja berseragam putih abu-abu. Bahkan ada beberapa yang masih mengenakan seragam SMP. Serasa terdampar ke dunia lain, Rifa'i menjadi yang paling 'tua' sendiri di sini sekarang.
"Kita mau bahas rencana kita pergi ke Bandung. Gimana, Bang? jadi, nggak?"
Rifa'i menggeser kursi, duduk di sebelah Indra yang berhadapan dengan Rasti, kemudian sembarangan merebut gelas minum yang sedang Indra pegang. Meneguknya hingga tandas. Menyisakan potongan batu es di dasar gelas.
"Itu bukan sesuatu yang urgent sampe lu harus nyuruh abang ke tempat kayak gini yang jaraknya lumayan jauh dari kantor tempat abang kerja, Bambang! Kita masih bisa bahas ini di rumah. Kayak biasanya."
"Bintang, tuh, yang nggak sabaran." lempar Indra pada Bintang yabg sedari tadi bahkan masih setia dengan diamnya.
"Ih, kok aku?"
"Emang iya, kan?"
Memang iya, sih. Sejak perjalanan dari sekolah tadi Bintang memang tak ada habisnya membahas perihal rencana mereka pergi ke Bandung. Tapi bukan idenya juga memaksa Rifa'i untuk datang di sela istirahat kerja.
"Dasar Tom dan Jerry!" celetuk Rasti melihat Bintang dan Indra yang saling melempar kesalahan.
"Kalo aku Tom, berarti kamu dog nya, dong? Yang pemalas, gendut, dan menyebalkan itu, ya?" Indra balas mengejek.
"Dih! Enak aja, ngatain aku gendut!" sergah Rasti tidak terima.
"Iya. Memang gendut, rakus, banyak makan. Dasar gendut!" Indra semakin gencar meledek.
Rifa'i menutup telinga. Setelah bertaruh menghadapi kemacetan lalu lintas demi memenuhi permintaan Indra, kehadirannya di sini ternyata hanya sia-sia.
"Kalian tuh, ya. Buang-buang waktu abang aja tau nggak!"
Rifa'i berdiri, hendak meninggalkan tempat.
"Eh, tunggu, Bang...."
Belum sempat Indra menahan, Rifai yang berdiri dan memutar badan secara spontan, membuatnya menabrak seseorang yang tengah berjalan dengan membawa segelas minuman dingin di tangan.
"Aduh! Yah!" Seru gadis itu ketika minuman yang ia bawa justru tumpah dan membasahi pakaian yang ia kenakan.
"Eh, sori, Dek. Nggak sengaja," ungkap Rifa'i penuh penyesalan.
"Dek?" Ulang gadis itu yang membuat Rifa'i refleks mendongak, menatap wajah orang yang baru saja tak sengaja ia tabrak.
"Eh, sori, mbak. Kirain adek adek gemesh." Rifa'i menggaruk kepalanya yang tak gatal, tanda ia sedang grogi.
Gadis itu tersenyum tertahan.
"Memangnya cuma adek adek gemes yang ada di sini?"
"Ya, sejauh yang saya lihat sih gitu, mbak. Isinya cuma adek-adek gemesh!"
"Terus, kamu sendiri, om-om dewasa ngapain ada di sini?"
"Om? wah, ngajak perang, nih! Masih muda kinyis-kinyis begini di panggil, Om."
Indra, Rasti dan Bintang hanya bisa terdiam melihat tingkah Rifa'i yang lain dari biasanya. Sesekali mereka saling lirik, mengartikan makna kenapa Rifa'i bisa se ringan itu berbicara dengan pemilik kafe, padahal mereka baru sekali ini bertemu.
"Terus saya harus panggil apa? Kakak?"
tanya gadis itu sambil menirukan logat pramuniaga di minimarket kembar yang berjejer di sepanjang jalan itu.
"Nah, kayak gitu lebih baik. Saya masih terlalu muda untuk di panggil Om. Dan, panggilan kakak sepertinya bukan ide yang buruk. Mulai sekarang, kamu boleh panggil saya, kakak."
Gadis itu mengernyitkan dahi. Merasa aneh melihat tingkah Rifa'i yang tiba-tiba mengulurkan tangan.
Meskipun sempat ragu, akhirnya gadis itu pun menjabat tangan Rifa'i. Bagaimana pun juga Rifa'i adalah tamunya yang harus ia layani dengan sepenuh hati.
"Tiara Anjani." Sahut gadis itu memperkenalkan diri.
Mendengar nama itu, Rifa'i seolah di bawa kembali pada masa lalu saat pertama kali ia mengenal Mutia. Gadis yang pertama kali memperkenalkan diri dengan nama yang sama itu, juga yang mampu merebut hatinya pada pertemuan pertama mereka.
Rifa'i tertegun cukup lama, sampai Indra mengartikan itu sebagai modus sang abang.
"Ekhm! Udahan kali salamannya. Lengket banget kayak dipakein lem tikus." celetuk Indra.
Refleks Rifa'i melepas tautan tangan mereka cukup keras, membuat Tiara sedikit terlonjak karena terkejut.
"Eh, yaudah, deh. Gue balik ajalah ke kantor. Nggak ada yang penting yang mau dibahas, kan?"
"Eh, bang. Nggak mau makan dulu sini sama kita?" tahan Indra.
"Iya, bang Fa'i. Makan siang dulu."
Rasti menimpali dan hanya mendapat gelengan dari Rifa'i sebagai jawaban.
"Enggak keburu. Takut kejebak macet nanti di jalan. Kalian makan aja bertiga, abang pamit, ya. Hati hati kalau mau pulang nanti."
Sekali lagi Indra, Rasti, dan Bintang saling melempar pandang. Merasa bersalah karena telah merepotkan Rifa'i. Membuatnya harus bolak balik menembus kemacetan Ibukota.
"Abang pamit, ya," katanya sambil melambaikan tangan.
Selepas Rifa'i yang sudah keluar kafe, Bintang berdiri menghampiri Tiara yang masih mematung di tempatnya.
"Maaf ya, kak. Atas nama bang Rifa'i, kita minta maaf udah bikin baju kak Tiara basah." Sesal Bintang merasa bersalah.
"Iya, nggak apa-apa kok, dek. Lagian salah kakak juga yang tadi jalannya nggak lihat lihat kondisi." Tiara tersenyum, manis sekali.
Jenis senyuman yang mengingatkan Bintang akan senyum yang telah hilang dari kehidupannya. Senyum Mutia, Mutia Rahmadani.
"Ya sudah, kalian lanjut aja ngobrolnya. Saya permisi dulu, ya."
"Iya, kak Tiara." Sahut mereka bertiga hampir berbarengan.
Belum sempat langkah gadis itu berjalan jauh, sebuah tangan kekar menyentuh bahunya. Meletakkan sesuatu di sana.
"Ini, pakai. Buat nutupi noda di bajumu."
Tiara menoleh. Dan seketika wajahnya bersemu merah.
Di hadapannya kini, ada Rifa'i yang tengah tersenyum ramah padanya.
"Nggak perlu, Kak. Makasih. Ada seragam karyawan di loker. Aku bisa ganti pakai itu."
"Jangan ditolak. Kamu kan bos di sini, masa mau pakai seragam karyawan? Lagipula, anggap saja ini bentuk tanggung jawab aku sebagai seorang lelaki yang telah merusak outfit kamu hari ini."
Sekali lagi ucapan Rifa'i membuat perasaan Tiara berbunga.
"Baiklah, aku terima jaketnya. Terima kasih, akan aku kembalikan kalau sudah ku cuci."
"Nggak usah terlalu terburu-buru. Simpan itu untuk kamu pakai."
Dalam beberapa saat keduanya saling beradu pandang.
Sayangnya, suasana romantis itu dirusak oleh deheman Indra, yang tentu saja disengaja.
"Ekhm... Tadi katanya buru-buru, bang?" celetuk Indra yang seketika membuyarkan momen langka milik Rifa'i.
Dalam hati pria itu mengumpat.
Merencanakan pembalasan apa yang cocok untuk adik semata wayangnya yang telah mengacaukan momen pedekate nya bersama Tiara.
Adik luck nut emang!
"Ya sudah, Ra. Aku permisi balik ke kantor dulu. Lagian ada banyak setan juga di sini."
Rifai menkankan kata 'setan' sambil mendelik ke arah Indra.
Yang disindir justru tertawa cekikikan.
"Iya. Hati-hati ya, kak."
"InsyaAllah."
Pada langkah ke delapannya, Rifa'i menyempatkan diri untuk menoleh. Lalu melambaikan tangan begitu mendapati Tiara yang masih berdiri di tempatnya dan tersenyum ketika pandangan mereka bersinggungan.
Sambil meneruskan langkah, tak henti pria dewasa itu bersenandung. Hatinya sedang berbunga.
Hari ini, sebuah pertemuan baru telah membuka kembali pintu hatinya yang telah tertutup lama.
Sebuah kisah, yang dimulai tepat saat ia ingin menutup lembar kisah lamanya.