"Aku minta maaf. Aku sangat menyesal, Rif."
"Andai aja kamu tahu, waktu itu hubunganku dengan Mutia sedang begitu buruk. Kami baru saja berdebat. Dia yang ingin aku menurut pada Papa dan aku yang tetap ingin mempertahankan hubungan kami. Dia pasti sangat terpukul saat itu."
Mirna membungkuk, bersimpuh di hadapan Rifa'i.
"Aku yang salah, Rif. Atas keputusan gegabah yang Mutia ambil, semua adalah kesalahanku."
Rifa'i memalingkan wajah. Terlalu sakit bila harus mengingat kepedihan yang dialami kekasih hatinya saat itu.
"Aku juga bodoh karena menuruti keinginannya untuk membantu papa di Jakarta. kalau aku tetap ada di sisinya, pasti semua tidak akan terjadi seperti ini."
Untuk pertama kalinya setelah dewasa, Rifa'i menitihkan air mata.
Hujan di luar semakin menderas, seolah bumi turut menangisi duka hati Rifa'i.
kehilangan memang tidak pernah gampang.
***
"Rasanya aku pengen nampar kak Mirna, jambak rambutnya sampai rontok sekalian." Geram Bintang begitu Rifa'i menceritakan dengan detil kronologi pertemuannya dengan Mirna.
"Sabar, Bi. Jangan tersulut emosi." Rasti coba menenangkan. Memberi pelukan penuh simpati pada Bintang, karena memang itu yang saat ini ia butuhkan.
"Nggak bisa sabar aku, Ras. Kakak aku jadi rusak nama baiknya karena orang itu! Aku bahkan sangat bersalah karena sudah menuduh kak Mutia telah melakukan zina."
Bintang menutup mata. Kesedihannya tak terbendung.
"Iya, aku ngerti, Bi. Kamu boleh nangis semau kamu, tapi jangan bertindak pakai emosi. Itu hanya akan merugikan kamu saja. Kak Mirna pasti akan mendapat balasannya. Entah kapan dan dari siapa datangnya, kita tidak perlu tahu. Biar Allah yang atur. Bukannya Dia sebaik-baiknya perencana? Kamu percaya, kan?"
Kini giliran Bintang yang memeluk Rasti erat. Dia merasa sangat beruntung dan bersyukur, di masa seperti ini ada Rasti yang setia mendampinginya.
Rifa'i dan Indra saling pandang.
Pasti berat menjadi Bintang yang kehilangan saudara kandung satu satunya dengan cara yang tragis.
"Weekend abang sama Indra bakal ke Bandung. Kita mau cari fakta lain di sekitar rumah lama kalian." Ungkap Rifa'i.
"Bintang ikut, bang," pinta Bintang memelas.
"Aku juga! Di sana Bintang pasti butuh teman untuk sekedar saling menguatkan." Rasti turut mengacungkan tangan. Bersedia menjadi relawan.
"Kamu harus cari alasan yang pas sama bunda kamu, Bi, biar beliau nggak sampai curiga. Karena kita rencananya mau menginap."
"Iya, Bi. Kamu mau pakai alasan apa? Nggak mungkin kan kamu bilang kalau kamu mau ikut kita? Yang ada nanti malah di larang. Bunda kan lagi snewen sama bang Fa'i," ujar Indra meneruskan.
Bintang terdiam sejenak.
Pikirannya buntu, untuk sekedar mencari alasan apa yang tepat yang harus ia sampaikan pada bundanya.
"Gimana kalau, bilang aja Bintang nginep di rumah aku. Pasti dibolehin." Usul Rasti, coba memberi saran.
"Ide bagus!" Seru Indra langsung setuju.
Yah, walaupun katanya masih break, tapi tetap saja, sekali bucin ya bucin. Indra bucin.
Sementara Rifa'i yang lebih realistis menggeleng kurang sependapat.
"Nggak bisa. Jarak rumah kalian terlalu dekat. Ibu kalian juga saling mengenal satu sama lain. Kalau bundanya Bintang ternyata nge cek ke rumah Rasti dan ternyata kalian nggak ada di rumah, gimana? Malah makin panjang urusannya."
Titik terang yang semula sempat Rasti tawarkan, kembali meredup.
Bintang masih termenung.
Ingin sekali ikut bersama Rifa'i dan Indra, tapi akan sulit bisa lolos dari rentetan pertanyaan dari bunda dan ayahnya.
"Gimana, dong?"
Rasti turut bersandar pada punggung sofa.
Otaknya serasa mengebul memikirkan setiap rencana yang harus di jalankan.
Rifa'i menoleh ke arah jam di dinding.
"Sudah hampir petang, mending sekarang kalian pulang saja. Sebelum orang tua kalian curiga." Perintah Rifa'i.
Sudah hampir satu minggu, setiap pulang sekolah mereka berkumpul yang bermarkas di rumah Indra. Salah satu alasannya adalah karena di sana mereka bebas mengatur strategi tanpa ada campur tangan orang tua. Papa Indra dan Rifa'i selalu sibuk dengan bisnisnya di luar kota. Hampir tak pernah singgah di rumah.
Dan alasan lainnya, karena tempat itu sangat nyaman dengan stok cemilan yang melimpah.
Mereka tak akan khawatir kedinginan apalagi kelaparan. Semua fasilitas lengkap ada di sana.
"Yaudah, bang. Kita pulang dulu, ya. Besok kita ke sini lagi."
"Iya, Ras. Kalian hati-hati ya, di jalan." Pesan Rifa'i.
"Iya, bang. Insya Allah."
"Oh iya, Bi. Soal ke Bandung, kamu jangan terlalu pikirin, ya. Abang sama Indra nggak akan tinggal diam gitu aja, kok. Kita pasti bakal cari cara biar kamu dan Rasti bisa ikut kita ke sana."
Dan bagaikan oase di padang pasir nan luas, Bintang serasa ditiup angin segar.
Kesempatan itu masih ada.
"Bener ya, Bang." katanya antusias.
"Iya, udah. Yang penting kamu fokus aja sama sekolah. Jangan terlalu dipikirkan serius.
Nanti yang ada nilai kamu malah turun. Terus ujung ujungnya bunda kamu bisa curiga lagi sama penelusuran kita. Iya, kan?"
Bintang mengangguk setuju.
Kali ini tubuhnya serasa kembali bernyawa, dibanding beberapa menit lalu yang seolah lemas tak bertulang.
"Nah, gitu dong. Semangat." Indra berseru.
"Semangat!" Di sambung Rasti yang akhir akhir ini selalu jadi penyemangat bagi Bintang.
"Semangaaaat!!" Bintang turut berteriak.
Rifa'i tersenyum melihat kekompakan ketiganya. Meski baru saja terjalin, tapi hubungan mereka tidak main-main.
Mereka ada untuk satu sama lain. Sesuatu yang memang harus dilakukan oleh seorang sahabat.