24. Fakta Baru

1019 Kata
"Kita mulai car tahu dari Mirna. Sahabat Mutia sejak SMA." "Kak Mirna?" "Iya, kamu kenal?" Bintang mengangguk. "Kak Mutia beberapa kali ajak kak Mirna ke rumah." "Tau nggak sekarang dia di mana?" "Terakhir aku tahu, kak Mirna kerja di salah satu perusahaan di Jakarta." "Cari tahu lewat social medianya aja," sahut Rasti menyumbang ide dan langsungi di amini oleh yang lainnya. "Siapa nama lengkapnya coba. Biar aku cari." Indra mempersiapkan laptop. Keempatnya sibuk memandang layar. Dengan ponsel Rasti bersama Bintang mencari tahu melalui medsos f*******:. Sementara Indra dan bang Fa'i mencari menggunakan nama lengkap mencari rekam jejak Mirna. "Dapat!" Seru Indra bersemangat. "Beneran?" "Ini, kan?" Indra menunjukkan foto Mirna. Bintang dan Rifa'i mengangguk bersamaan. "Iya. Itu bener kak Mirna." "Besok kita coba cari dia di tempat dia biasa nongkrong, ya." "Kok besok, sih?" Raut muka Bintang melemah, kecewa. "Iya, lebih cepat lebih baik kan, bang?" Indra menimpali. "Kita nggak boleh gegabah. Harus punya strategi. Lagian apa nggak terlalu mendadak kalau ujug ujug kita nemuin dia setelah sekian lama hilang kabar? Kita harus buat seolah olah kita ketemu tanpa di sengaja. Dan, biar abang yang nemuin Mirna sendiri nanti," jelas Rifa'i memberikan arahan. Meskipun sedikit kecewa, pada akhirnya Bintang setuju juga. Ide bang Fa'i juga tidak terlalu buruk. *** Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu. Beberapa jalanan tergenang. Sedikit berlari Rifa'i menuju sebuah kafe demi menghindari guyuran hujan yang kian menderas. Langkahnya yang terburu-buru membuatnya tak sengaja menubruk seseorang. "Aduh!" Seru wanita itu tatkala barang bawaannya terjatuh akibat benturan itu. "Eh, maaf, mbak. Nggak sengaja," kata Rifa'i penuh penyesalan. "Kamu tuh, kalo jalan ...." Wanita itu hendak meluncurkan sumpah serapah pada seseorang yang telah menabraknya, namun segera ditahan begitu melihat wajah orang di hadapannya. "Kamu?" "Mirna, ya?" "Eh, iya. Rifa'i, bukan?" Seutas senyum terbit di wajah Mirna begitu Rifa'i mengangguk ramah. "Lama ya, kita nggak ketemu. Apa kabar?" sapa Rifa'i sambil mengulurkan tangannya. "Baik, kamu sendiri?" jawab Mirna lantas menerima jabat tangan Rifa'i. "Baik juga. Oh iya, lagi sibuk nggak? Temenin ngopi, yuk? Di luar masih hujan juga. Kalo nggak keberatan, tapi." Mirna melihat ke arah jam tangannya sebentar, kemudian berpikir untuk selanjutnya mengangguk setuju. "Boleh, deh. Kebetulan aku juga lagi nggak ada janji sama siapa-siapa." Sesuai ekspektasi, Mirna akan menerima tawarannya untuk ngobrol berdua. Rifa'i yang sudah mengenal Mirna lebih dulu dibanding ia mengenal Mutia, beberapa kali mendengar desas desus bahwa Mirna pernah memendam rasa terhadapnya. Mungkin tidak akan sulit mendekati Mirna dan mencari tahu info perihal kematian Mutia melaluinya. "Lama juga ya, kita hilang kontak." Mirna membuka percakapan. "Iya, semenjak papa nyuruh aku pindah ke Jakarta buat bantuin beliau urus perusahaan." "Kamu sih, ngilang gitu aja. Nggak ngasih kabar ke kita. Kangen tahu, kehilangan teman jahil kayak kamu!" Rifa'i tertawa. "Iyakah? Jahil tapi ngangenin, ya?" "Iya, banget!" Ditemani kopi hitam untuk Rifa'i dan capuccino untuk Mirna, obrolan mereka mengalir mulus tanpa hambatan. Sampai pada pembahasan yang sengaja Rifa'i pancing mengarah ke sana. "Oh iya. Gimana kabar Mutia sekarang, ya? Aku lost contact banget nih, sama dia." Mirna terdiam sejenak. "Em,, kamu yakin nggak dengar kabar tentang dia?" Pelan Mirna bertanya. Rifa'i menggeleng. "Enggak." Dia tidak berbohong. Selama ini Rifa'i memang tidak pernah mendengar kabar mengenai Mutia. Baru beberapa hari kemarin, ia mengetahui kabar duka mengenai gadis yang amat ia cintai itu. "Beberapa jam setelah kamu berangkat ke Jakarta, Mutia bunuh diri, Rif." Satu titik bening lolos dari pelupuk mata Mirna. Rifa'i menghela napas. Dia tidak tahu, apakah air mata yang Mirna teteskan itu benar air mata simpati atau hanya pencitraan di depannya? Yang Rifa'i tahu, hubungan antara Mirna dan Mutia mulai merenggang saat Rifa'i menyatakan cinta terhadap Mutia hingga akhirnya mereka memiliki hubungan resmi. "Jadi benar berita itu? Bukan hanya omong kosong belaka?" "Kamu udah dengar, Rif?" "Iya. Tapi nggak bisa percaya gitu aja, Mir. Mutia anak baik baik. Rasanya nggak mungkin kalo dia bisa bertindak senekat itu." "Mungkin ini juga kesalahanku, Rif. Aku juga ikut salah dalam keputusan yang Mutia ambil." Alis Rifa'i saling bertaut. Meskipun sangat ingin tahu, namun sebisa mungkin ia harus tetap terlihat tenan dan tidak terburu-buru di depan Mirna. "Dua hari sebelum kamu ketemu Mutia, aku lebih dulu menemui dia, Rif." Rifa'i masih diam saja. Menunggu sang lawan bicara menuntaskan kalimatnya. "Aku menemui Mutia untuk minta tolong." Mirna tergugu, air matanya tak terbendung lagi. "Aku minta tolong padanya buat hubungin kamu untuk aku, Rif." "Hubungi aku? Kenapa?" "Waktu itu, aku positif hamil, Rif." Tangisnya pecah. Beberapa pengunjung lain sekilas memandang ke arah meja mereka, hanya sekilas. Untuk kemudian kembali pada urusan masing-masing. Sementara pria itu, susah payah ia menelan ludah. Testpack yang Bintan ceritakan waktu itu, rupanya milik Mirna. "Lalu, kenapa kamu minta tolong Mutia? Dan kenapa juga kamu harus hubungi aku?" Rifa'i mencecar Mirna. Membuat gadis itu semakin larut dalam tangisnya. "Aku kalut, aku nggak tahu mau minta tolong sama siapa lagi kalau bukan Mutia. Selama ini, dia yang paling mengerti aku. Dan, mengapa aku meminta dia menghubungimu untuk bertanggungjawab, karena aku hamil atas perbuatan sepupu kamu, Aldo. Dan dia menolak untuk bertanggung jawab." "Terus, kamu mau jadikan aku kambing hitam, begitu? Gila!" Rifa'i mengumpat. Hampir saja dia lepas kendali, andai saja dia tidak ingat kalau sedang berada di keramaian, mungkin sekarang sudah mencaci Mirna dengan hinaan yang paling menyakitkan. "Kalian berdua yang salah, lalu aku dan Mutia yang harus menanggung akibatnya?" "Maaf, Rif. Waktu itu pikiranku kacau atas penolakan Aldo. Aku nggak bisa berpikir jernih." "Kamu tahu, semua orang menuduh Mutia bunuh diri karena hamil di luar nikah! Padahal dia sama sekali nggak pernah ngelakuin itu, tapi stempel perempuan murahan sudah terlanjur mengotori namanya." Gigi Rifa'i bergeletuk menahan emosi. "Aku tahu aku salah, Rif. Aku minta maaf. Tapi aku juga terlalu malu untuk mengakui kebenaran nya kalau testpack itu milikku." Rifa'i mencibir. "Sahabat macan apa yang tega mengorbankan nama baik sahabatnya demi melindungi kesalahannya sendiri?" "Maaf, Rif." "Seharusnya kamu meminta maaf sama Mutia, bukan padaku." "Setiap hari aku datang ke makamnya. Memohon maaf dan memanjatkan do'a-do'a. Tapi satu ons pun tak bisa mengurangi rasa bersalah ku terhadapnya." Rifa'i mengacak rambutnya, frustasi. Begiru mendengar kejadian yang sebenarnya. Betapa selama ini Mutia menanggung beban yang sebenarnya tak pernah ia lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN