Author PoV
Cinta.
Sebuah kata sarat makna.
Jika kamu bertanya apa arti cinta, tidak akan ada yang mampu menjelaskannya secara jelas dan benar benar detail.
Cinta selalu ingin memiliki. Namun, cinta juga mengajarkan seseorang untuk tidak menjadi egois. Melepas jika memang itu yang terbaik.
Hakikat mencintai.
Melepas dengan ikhlas.
Rasti menghapus tetes air yang turun dari pelupuk matanya.
Tidak.
Melihat orang yang ia bahagia bukanlah sebuah kesedihan. Tak seharusnya dia menangis.
B ke arah Bintang.
Keduanya nampak tersenyum riang. Sesekali Bintang bahkan melepas tawa.
Padahal baru kemarin dirinya meminta break, tapi lihat Indra sudah bisa tertawa lagi dengan perempuan lain.
Rasti menggeleng.
Itu tidak benar.
Dirinya sendiri yang telah memutuskan untuk melepas ikatan itu, sekarang Indra telah bebas dengan kebahagiaannya. Tak seharusnya hati itu merasa sakit ketika Indra telah menemukan kebahagiaan yang lain.
Pikirannya tengah kacau, saat tiba-tiba Bintang dengan senyumannya yang tulus datang menghampiri.
"Rasti," sapanya kemudian merangkul Rasti.
Agak canggung gadis itu membalas senyum nya.
"Hai." Indra yang turut berada di sana ikut menyapa. Tangannya melambai kaku.
"Hai, Ndra."
Setelah sekian lama saling mengenal, untuk pertama kalinya ia menyapa Rasti dengan sapaan paling basa-basi.
Bintang yang mengerti kecanggungan di antara mereka, segera mengambil alih obrolan.
"Masih ada waktu lima belas menit sebelum bel masuk. Ke kantin, yuk?" ajaknya dengan tetap merangkul lengan Rasti erat.
Seolah keduanya telah lama saling mengenal dan berteman dekat.
Rasti menurut saja, mengikuti irama langkah kaki Bintang yang hari itu nampak amat ceria.
Sementara di belakang mereka, Indra berjalan santai seolah jadi penjaga bagi dua gadis yang tengah berjalan di depannya kini.
Seketika seutas senyum terbit di wajah tampan milik Indra.
Melihat kedekatan antara Rasti dan Bintang yabg entah sejak kapan mulai terjalin, membuat Indra berpikiran macam-macam.
Otaknya yang jahil, usil memikirkan bagaimana kalau Rasti adalah istri pertama dan Bintang adalah madunya.
Keduanya akur dan hidup dalam satu rumah.
Setiap kali ke mall, keduanya akan berjalan bergandengan dengan sesekali bercengkrama hingga menimbulkan tawa. Sementara Indra, serupa bodyguard bagi mereka. Yang setia berjalan di baris paling belakang untuk mem-backup dua wanitanya.
Sekali lagi Indra tersenyum. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya.
Baru membayangkan saja rasanya sudah sebahagia ini, bagaimana kalau itu benar terjadi?
"Ndra?"
Indra tengah tersenyum hingga mulutnya terbuka lebar, ketika ia mendapati Rasti dan Bintang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Eh, hehehe...." Kikuk Indra tertangkap basah.
"Kamu kenapa, Ndra?" tanya Bintang, masih dengan ekspresi tak mengerti miliknya.
"Ah, udah, yuk. Ayo ke kantin, sebelum bel bunyi," ajak Indra mengalihkan pembicaraan dan langsung berjalan di barisan paling depan.
Sekilas Rasti dan Bintang saling bertatapan, mengendikkan bahu, kemudian tertawa bersama mengingat kembali raut muka Indra yang tertangkap basah tengah menghayal.
**
"Aku berterima kasih banyak sama kamu, Ras."
"Terima kasih untuk apa, kak?" Rasti berhenti menyeruput es jeruk pesanannya dan memusatkan fokusnya pada Bintang.
"Pertama, terima kasih karena kamu udah nolongin aku kemarin. Kedua, terima kasih juga karena berkat pertolongan kamu kemarin itu, pikiranku jadi terbuka. Bahwa penting untuk berani membela diri dari orang orang yang berniat buruk terhadap kita.
Sadar nggak sadar, ternyata diamnya kita justru semakin membuat mereka melunjak. Dan bukan nggak mungkin kalau mereka akan melakukan penindasan yang sama terhadap orang lain yang mereka pandang 'lemah'."
"Betul, kak. Sesekali orang-orang seperti mereka memang harus dilawan. Jangan cuma dibiarin aja."
"Dan yang ketiga, Rasti, bisa nggak kamu jangan panggil aku kak? Panggil nama aja biar lebih akrab," pinta Bintang.
"Eum... Tapi, kak?"
"Pliss ...."
Meski sempat ragu, akhirnya Rasti mengangguk juga. Lagipula, jika di lihat dari tanggal lahir sebenarnya mereka hanya terpaut usia lima bulan.
Bintang yang sekolah sejak dini, membuatnya sudah berada di kelas sebelas pada usia lima belas tahun.
"Iya, Bintang."
Kemudian keduanya saling berpelukan dan melempar senyum.
"Ekhm!"
Rasti dan Bintang kompak menoleh ke arah Indra yang seolah sengaja mengganggu mereka.
"Asyik aja sana berdua. Nggak apa-apa, kok. Di sini cuma ada obat nyamuk!" cibir Indra di sebrang meja yang merasa diabaikan.
"Apasih, Ndra!" seru Rasti seraya melempar gulungan tisu ke arah Indra.
Lalu mereka tertawa bersama. Jenis tawa yang ringan tanpa beban.
Rasti bahkan telah lupa bahwa beberapa menit yang lalu, ia sempat menitihkan air mata atas kedekatan di antara dua orang yang kini tengah bersamanya.
Menit berikutnya hingga bel tanda masuk berbunyi, diisi dengan obrolan hangat yang membuat mereka semakin dekat. Sesekali Indra melempar jokes jokes receh yang menimbulkan tawa.
Tanpa sadar, ketika seseorang dengan tulus melepas sebuah ikatan, sejatinya ikatan lain mulai terjalin.
Sebuah ikatan yang lebih erat dan ikhlas.
Ikatan yang tak mengekang namun penuh rasa sayang.
Ikatan persahabatan.
***
"Ndra, sepulang sekolah boleh ya main ke rumah kamu?"
Alis Indra bertaut.
"Tumben. Ada apa?"
"Ada yang mau aku cari tahu."
Raut wajah Bintang berubah, tak seceria sebelumnya.
"Tentang?" tanya Indra penasaran.
"Nanti aku ceritain kalau yang aku cari udah ketemu."
Indra mengangguk.
Tak baik juga mendesak seseorang untuk berbicara sementara dirinya masih enggan untuk bersuara.
"Kamu juga ikut ya, Ras. Temani aku," pinta Bintang yang seketika membuat Rasti terpaku.
"Eh, kok aku?" jawabnya kemudian.
"Iya, dong. Masa aku mau main ke rumah Indra sendiri. Apa kata tetangga? Lagian kan kamu yang paling tahu Indra, nanti kalau dia macem macem bisa langsung kamu hajar, deh!"
"Dih, dikira aku samsak tinju kali, ya. Main hajar aja."
"Lho, emang bukan?"
"Yee ... Dasar, uban mertua!"
"Oalah! Daki kuda nil!"
"Kamu tuh, upil komodo!"
"Conge' biawak!"
Begitu seterusnya sampai ladang gandum tersiram hujan cokelat dan BOOM!! Jadilah kokokran!
Bintang hanya ngikik di belakang melihat aksi saling ejek Indra versus Rasti.
Ya, begitulah.
Mau seberapa keras usaha kita untuk memberi jarak, kalau memang Tuhan menggariskan untuk tetap saling bertautan, manusia bisa apa?
Seperti Rasti yang berusaha memberi jarak pada Indra. Nyatanya keduanya saling bertautan satu sama lain dan sulit untuk dipisahkan.
Tanpa sadar, keduanya tetap dekat meski dengan status yang berbeda.
Tanpa mengganti pakaian, ketiganya langsung singgah ke rumah Indra, atas permintaan Bintang.
Bintang yang tak sabar ingin bertemu bang Fa'i dan menanyakan banyak hal, mendesak agar mereka langsung saja ke rumah Indra.
Yah, walaupun rumah Rasti dan Indra hanya bersebrangan, tapi tetap saja Bintang keukeuh untuk langsung menemui bang Fa'i.
Sementara Rasti hanya menurut saja. Sama sekali tidak ada masalah.
Toh, selama hampir sepuluh tahun terakhir Rasti memang sudah sangat dekat dengan keluarga Indra. Layaknya sebuah keluarga.
"Di mana bang Fa'i, Ndra?" tanya Bintang buru-buru begitu mereka sampai.
Indra mengendikkan bahu.
"Mana saya tahu, saya kan Indra."
Jawab Indra slengean yang langsung mendapat timpukkan tas milik Bintang.
"Nggak usah becanda, deh."
"Sukurin." Rasti menimpali sambil menjulurkan lidah.
"Ya udah, yuk masuk. Dari pada debat di luar yang ada mukaku bonyok nanti, di hajar dua cewek bar-bar kayak kalian," cibir Indra kemudian membukakan pintu. Mempersilakan tamunya masuk.
Seketika Bintang terpaku melihat dalam rumah Indra yang begitu megah dan rapi. Seolah di sana tidak ada satu titik pun debu yang menempel.
Jajaran hiasan dinding menyapa mata, membuat Bintang nyaris lupa caranya berkedip, kalau saja Rasti tak menyenggol lengannya.
"Jangan norak, deh," bisik Rasti persis di telinga Bintang.
Sedikitpun Bintang tak merasa tersinggung.
Wajar saja Rasti menganggapnya norak, karena sejak pertama kali menginjakkan kaki ke dalam rumah, mulutnya seolah tak bisa tertutup. Menganga lebar.
"Bokapnya Indra emang punya selera seni yang tinggi."
Sementara Rasti, tentu saja dia tak terkejut dengan ornamen ornamen yang mengisi rumah Indra. Karena rumah ini sudah seperti rumahnya sendiri.
Tak terhitung sudah berapa kali ia menumpang makan, minum, bahkan tidur di tempat itu.
Itu semua tak lepas dari penerimaan orang tua Indra terhadap Rasti, seorang gadis kecil yang saat itu baru saja ditinggal sang ayah.
Rasti seorang gadis kecil penurut, yang memiliki senyuman paling tulus itu dengan mudah merebut hati siapa saya. Termasuk papa Indra.
Beliau bahkan telah membuka diri bila di suatu saat nanti ketika keduanya telah sama sama dewasa dan ingin tetap bersama, beliau lah orang pertama yang akan berdiri dan bertepuk tangan atas hubungan mereka.
"Eh, ada tamu."
Kini, semua mata tertuju pada sosok yang tengah berdiri pada undakan ke sepuluh pada anak tangga di tengah ruangan.
Rifa'i kikuk, mendapat seluruh atensi mereka. Terutama Bintang yang menatapnya dengan tatapan berbeda.
"Kayaknya, gue salah tempat, ya. Ya udah gue permisi aja," lanjutnya canggung.
Rifa'i hendak kembali menaiki anak tangga ketika suara Bintang menginterupsi. Sesuatu yang jarang sekali ia lakukan.
"Tunggu, Bang," teriaknya.
Otomatis Rifa'i berhenti. Menoleh ke arah Bintang dengan kedua alis yang terangkat.
"Bang Fa'i kenal Mutia?"
Rifa'i Semula hanya menoleh, dengan cepat membalik badan begitu nama Mutia di sebut.
"Bintang, kamu?"
"Iya, Bang. Ada banyak hal yang ingin aku tanyain ke abang perihal hubungan kalian dulu."
"Bi, kamu jangan salah paham, ya. Abang akan ceritain semuanya se detail mungkin kalau kamu pengen ngerti."
Rifa'i mendekat, coba meraih kepercayaan dari Bintang.
"Iya. Bintang emang butuh banyak penjelasan. Termasuk, kenapa abang ninggalin kak Mutia dan membiarkan dia bertanggung jawab atas janin yang ia kandung sendiri," ujar Bintang yang ia ucapkan dengan begitu lugas.
Membuat terkejut semua yang ada di sana. Tak terkecuali Rifa'i.
"Hamil, Bi?"
Bintang tersenyum kecut.
"Jangan bilang kalau bang Fa'i mau ngingkarin kalau bang Fa'i udah berbuat itu terhadap kakak Bintang sampai dia hamil, terus dengan kejam ninggalin kak Mutia gitu aja. Iya?"
"Enggak, Bi. Kamu salah paham. Bukan seperti itu yang sebenarnya."
"Iya, itu yang sebenarnya. Kenapa? Bang Fa'i malu, karena ketahuan belangnya? Kalau ternyata bang Fa'i nggak sebaik yang orang orang lihat?"
Rifa'i sudah mengangkat tangan dan hampir saja menampar Bintang kalau saja ia lupa bahwa Bintang adalah salah satu teman dekat Indra sekarang.
"Kenapa berhenti, bang? Tampar aja, tampar! Kenapa? Takut semakin kelihatan belangnya di depan adek tercinta? Heh?"
Rifa'i menarik napas kemudian mengembuskannya pelan guna menahan emosi. Jangan sampai dirinya terpancing.
"Kita bicara tapi nggak di sini ya, Bi?" pinta Rifa'i lembut dan tentu saja mendapat penolakan dari Bintang.
"Enggak. Kita bicara di sini aja. Kita blak blakan di sini. Sekarang." Bintang bersikeras.
Dan demi ekspresi ketidak mengertian Indra dan Rasti yang menatapnya penuh tanya, akhirnya Rifa'i menurut.
"Oke! Kita bicara di sini, sekarang."
Suasana sedikit mencair ketika Bintang akhirnya mau dibujuk untuk duduk, kemudian meminum segelas sirup yang disuguhkan Rasti.
"Bang Fa'i sama Mutia emang dulu pernah ada hubungan."
Rifa'i memulai pembicaraan setelah suasana mulai tenang.
"Kami sama sama saling menyayangi bahkan sama sama memimpikan untuk hidup bersama sampai ke jenjang pernikahan. Tidak ada yang salah karena baik papa maupun bundanya Mutia, kedua pihak telah merestui hubungan kami. Tapi kami masih terlalu dini untuk menikah, abang harus lulus kuliah dulu untuk kemudian di perbolehkan untuk menikahi Mutia. Itu persyaratan yang di ajukan papa, dulu. Dan bundanya Mutia setuju, sebagai seorang lelaki, abang di haruskan untuk bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk menfkahi Mutia nanti pada akhirnya."
Hening. Tidak ada yang menginterupsi.
Bintang sibuk dengan pikirannya yang kembali ke masa lalu, saat dimana dengan begitu antusias sang kakak bercerita telah menemukan belahan jiwanya.
"Singkat cerita kami sama sama berjuang menuju halal. Kakak kamu orang baik, Bi. Dia bukan tipe orang yang dengan mudah akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang bukan suaminya, meskipun ia sangat menyayangi lelaki itu. Termasuk abang."
Bintang sedikit mengangkat kepala ketika mendengar pernyataan itu. Tersadar akan sesuatu.
"Kamu tega, menuduh kakak kamu yang amat baik hati itu sebagai perempuan pezinah?
Deg!
Hati Bintang seketika sakit begitu mendengar kalimat itu. Perasaan tak terima jika sang kakak di sebut sebagai seorang yang hina.
"Jadi, sekarang kamu masih ingin menuduh Mutia sebagai seorang yang seperti itu? Perempuan murahan? Iya?"
"Tapi, kenapa kak Mutia bisa hamil, bang?"
Separuh hatinya mengingkari pernyataan bahwa sang kakak adalah perempuan murahan, tapi otaknya kembali mengingat bagaimana kronologi kak Mutia terjun dari lantai atas rumahnya karena tak kuasa menanggung beban kehamilan yang ia derita.
"Tahu dari mana kalau Mutia hamil?"
"Dari testpack yang kami temui di diary milik kak Mutia."
"Yakin itu milik Mutia?"
Bintang menggeleng lemah.
Kali ini Bintang yang tak dapat berkata kata. Semua pernyataannya di sanggah dengan oleh Rifa'i.
"Cuma karena itu ada di dalam buku diary Mutia lantas, kalian dengan enteng menuduh Mutia sebagai seorang yang hina?"
"Terus kita harus percaya sama siapa, bang? Semua bukti mengarah pada hubungan kalian!"
"Bukti yang apa?"
"Di hari kak Mutia bunuh diri, kalian sempat bertemu lalu bertengkar, kan?"
Bunuh diri.
Rifa'i sempat mendengarnya dari mulut bunda saat bertemu kemarin.
Sesuatu yang ingin sekali ia sangkal kebenarannya.
"Mutia orang yang sangat baik dan berpikiran terbuka. Nggak mungkin dia bunuh diri, Bi."
"Terus, menurut abang kenapa kak Mutia nekat lompat dari balkon kamar kalau bukan karena ingin bunuh diri?"
"Kita harus cari tahu, Bi. Tugas kita mencari tahu yang sebenarnya. Agar Mutia, bisa tenang dan menjalani kehidupan yang bahagia di surga sana."
Sudut mata Rifa'i berkaca-kaca ketika mengatakan itu.
Melepaskan seseorang yang amat kita cintai, pada takdir Tuhan adalah hal terberat yang di jalani seorang manusia.
Mengalah pada takdir.