Tumpukkan barang mulai berdebu. Beberapa bahkan telah terbungkus sarang laba-laba.
Pelan ku buka satu demi satu kardus, agar tak sampai menimbulkan suara gaduh.
Dengan penerangan seadanya, melalu senter dari ponsel yang kubawa, aku mulai mencari petunjuk.
"Di mana, ya?"
Gumamku penasaran.
Sudah hampir satu jam aku mengubek-ubek area gudang, tapi belum juga bisa menemukan.
Kulirik jam di pergelangan.
Sudah pukul sepuluh.
Jam jam segini biasanya bunda sudah tidur lelap di kamar. Sementara ayah, akhir-akhir ini sedang suka menghabiskan waktu di depan televisi. .
Menonton bola liga Champions yang baru saja di mulai beberapa hari lalu.
Mataku mulai lelah.
Ditambah badan yang pegal pegal akibat insiden siang tadi di sekolah.
Diary kak Tiara belum juga kutemukan.
Apa aku harus menyerah?
Ah, tidak!
Aku sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara kak Tiara dan bang Fa'i dulu.
Seperti apa hubungan mereka di masa lalu. Dan apa yang menyebabkan kak Tiara sampai berbuat nekad melompat dari balkon kamar.
Apa aku harus menghubungi Indra?
Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjauhi Indra demi Rasti.
Ramai suara binatang penghuni gudang yang mulai berkeliaran.
Pikiranku kacau. Lelah ingin sekali beristirahat.
Kurebahkan badan yang kelelahan ini pada kursi goyang lawas tak terpakai.
Rasanya nyaman sekali hingga tak sadar mata mulai terpejam.
Decitan kayu tua yang bergoyang-goyang, menjadi irama penenang tersendiri bagi otak yang lelah sepertiku saat ini.
Setelahnya, aku hilang kesadaran. Lelap dalam gelap yang melenakan.
***
Dalam ruangan yang luas nan indah itu.
Banyak kulihat laki laki dan perempuan mengenakan pakaian terbaik mereka.
Sungguh mengagumkan.
Aku sampai lupa, pesta apa yang sedang kuhadiri saat ini?
Pesta dalam ruangan dengan tema gardenia. Tanaman rambat menjulur, melingkari pilar pilar besar yang tersebar di penjuru ruang.
Air mancur menghias di tengah ruangan, sebagai pusat perhatian.
Aku terpaku melihat keindahannya.
Bukan, bukan air putih seperti biasanya yang mengalir dari sana, melainkan air s**u yang keluar dari air mancur itu.
Bunga-bunga yang dominan berwarna putih penuh menghiasi ruangan.
Beberapa penghuninya salng bergandengan tangan. Wajahnya berseri, tersenyum begitu ramah.
Aku turut tersenyum pada mereka yang berlalu di hadapanku.
Sungguh, tidak ada satupun dari mereka yang terlihat muram wajahnya. Hanya keceriaan dan kebahagiaan yang tergambar jelas.
Kuamati satu persatu yang berada di sana.
Hingga fokusku jatuh pada sosok yang tengah duduk mengenakan gaun putih dengan rambut panjang yang tergerai indah, dengan posisi membelakangiku.
Begitu penasarannya, kuputuskan untuk mendekat.
Ingin sekali menyentuh punggungnya yang amat familiar itu. Sepertinya akan nyaman sekali jika aku bersandar pada punggung dengan bentuk proporsional itu.
Belum jauh aku mendekat, wanita itu menoleh.
Matanya berbinar dengan senyum yang lebar.
Aku terhanyut dalam senyumannya yang semanis madu.
Tapi, tunggu!
Jantungku berdetak kencang begitu menyadari sosok wanita itu adalah dia.
Benarkah?
Seluruh tubuh bergetar hebat. Ingin sekali menghambur ke dalam pelukannya yang begitu kurindukan.
Benarkah, itu kak Tiara?
"Aduh!"
Aku terlonjak kaget, hingga terjatuh dari kursi goyang. Kursi yang sudah renta itu jadi patah, tak kuat menahan beban badanku yang bergerak spontan tanpa aba-aba.
Kulihat lagi jam di tangan.
Sudah jam empat lewat lima belas menit ternyata.
Sambil mengelus b****g yang masih terasa nyeri, aku berusaha bangkit dan segera keluar dari gudang.
Dipikir, ngeri juga semalaman aku tidur di sini.
Untuk meminimalisir suara yang keluar, kututup pintu gudang dengan amat pelan. Tapi dasar, pintu ini sudah sangat lapuk, sehingga gerakan sekecil apapun tetap menimbulkan suara decitan.
Jantungku rasanya hampir mau copot dari tempat, ketika membalik badan dan kulihat bunda sudah berdiri di sana, menatapku dengan seksama.
"Kamu dari mana jam segini, Bi?"
Duh, bunda lihat aku nutup pintu nggak, ya?
"Emm... Anu, Bun. Tadi Bintang dengar ada suara apa gitu dari dalem. Bintang penasaran, makanya Bintang samperin," jawabku asal pada akhirnya.
Bunda menatapku aneh. Namun pada akhirnya mendekat ke arahku.
"Kamu itu. Jangan aneh-aneh, deh. Mending kita sholat, yuk?"
Aku mengangguk antusias.
"Ayuk. Udah lama kita nggak jama'ah, kan."
Senandung suara hewan subuh itu mengiri langkah kami yang bergandeng tangan menuju rumah-Nya.
Sementara, kusisihkan dulu rasa penasaran itu.
Aku ingin berlama lama bersama bunda, juga Tuhan di antara kita.
***
Kapok?
Ingin menyerah saja?
Sempat terlintas di kepala untuk keluar saja dari sekolah itu, dan meminta ayah untuk memindahkan ku ke sekolah yang baru.
Tapi, selintas pikiran lain hadir.
Jika aku menyerah sekarang dan membiarkan mereka menang maka, kemungkinan akan ada siswa lain yang menjadi korban bullying mereka.
Meskipun rasanya mustahil untuk menang dari mereka, setidaknya aku harus mencoba untuk melawan.
Berhenti berdiam diri ketika di bully, adalah salah satu bentuk penghargaan bagi diri sendiri.
Aku terinspirasi dari langkah heroik yang Rasti lakukan demi menyelamatkan aku dari tindak brutal Alika dan teman temannya.
Jika orang lain saja mau melindungi, kenapa diri ini justru diam saja ketika mereka mem-bully?
Ah, sepertinya aku harus berterima kasih sekali lagi pada Rasti yang telah berhasil membuka pikiranku untuk tak diam saja ketika menerima pem-bully-an. Berhenti berlindung di balik kata 'Cinta damai'.
Pikiranku tengah fokus pada Rasti, ketika seseorang menghadang langkahku dengan berdiri tepat di hadapan.
"Indra?"
Tangannya melipat ke depan.
"Aku butuh teman cerita," katanya sambil memegangi keranjang sepedaku.
Kalau udah gini, aku jadi serba salah.
Satu sisi, aku ingin sekali menjauhi Indra demi menjaga perasaan Rasti. Tapi, di sisi lain, aku juga penasaran dan ingin bertanya lebih jauh mengenai kisah Kak Tiara bersama bang Fa'i dulu.
Mungkin untuk sementara waktu ini aku harus mendekati Indra untuk mengorek informasi.
Semoga Rasti bisa mengerti.
Maaf ya, Ras.
Setelah cukup lama menimang, akhirnya aku setuju.
Indra mengajakku untuk duduk sebentar di teras depan kelas sebelum jam pelajaran dimulai.
"Ada apa, Ndra?"
"Aku denger obrolan kalian waktu di ruang kesehatan kemarin," katanya tanpa basa-basi, dan seketika membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.
Rasanya pasti sakit sekali mengetahui orang yang amat kita sayangi, meragukan perasaan kita.
"Lalu?"
"Aku udah putuskan buat break dulu sama Rasti."
Kalau tadi jantung bekerja lebih kencang mungkin, sekarang sudah mencelos hampir copot dari wadahnya.
"Kenapa sampe separah itu? Bukannya masih bisa diperbaiki?"
Indra tersenyum, sebuah senyuman yang hambar. Sama sekali tak ada rasa di dalamnya.
"Rasti yang mau, kan? Aku cuma nuruti kemauannya aja. Nanti, kalau perasaannya sudah membaik, dia pasti bilang dan akan balik sama aku."
Rasa bersalah ituuu...
"Kalau memang begitu, semoga ini jadi langkah terbaik untuk kalian lebih dekat pada Tuhan. Agar Dia nantinya menyatukan kalian kembali pada ikatan yang halal."
Indra menoleh. Membuatku salah tingkah saja!
Apa barusan aku salah bicara?
Aku sudah sangat gugup siap siap mendengar reaksi Indra atas ucapanku, yang kemungkinan tak setuju, ketika tiba tiba saja dia tersenyum. Kali ini lebih tulus. Hingga menampakkan baris depan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Kenapa? Kok malah senyum?"
Bukannya menjawab, lelaki itu justru tersenyum makin lebar sembari menggeleng.
"Gimana lukamu?" tanya nya, mengalihkan pembicaraan se enak udel!
"Baikan."
"Sesekali melawan pada orang yang sudah bertindak kasar pada kita itu boleh. Jangan terpaku pada kalimat, 'nggak suka sama keributan'. Harga dirimu berhak dibela. Terutama oleh dirimu sendiri."
Aku mengangguk.
"Iya, dan aku baru menyadarinya setelah seseorang dengan sukarela membelaku meski diriku saja hanya diam saja."
Indra menatap jauh ke lapangan basket.
"Rasti emang perempuan mengagumkan."
Aku menoleh sebentar ke arah wajahnya, kemudian mengikuti arah pandang Indra.
"Kalau boleh jujur, dulu waktu pertama kali ketemu dan kenal, aku ngerasa jijik banget sama hubungan kalian."
Indra hendak membalas dengan menimpukku menggunakan buku materi Bahasa yang super tebal itu padaku, ketika bel tanda jam pelajaran berbunyi nyaring.
Buru-aku berlari menyelamatkan diri.
"Awas kamu, Bi!" Teriaknya yang tertinggal di belakang.