Kebenaran yang Terungkap

1233 Kata
Bintang PoV Terik mentari bersinar yang mulai condong ke arah barat.  Kututupi pandangan menggunakan helaian hijab, menghindari silau yang menusuk. Tak kupungkiri, akibat serangan fisik yang dilakukan Alika dan geng di sekolah tadi, masih menyisakan pening di kepala. Belum lagi memar yang juga masih samar terlihat meski sudah berusaha kusamarkan menggunakan make up yang ku pinjam dari Rasti sebelum pulang ke rumah tadi.  Semoga kali ini aku bisa lolos dari ribuan pertanyaan dari bunda mengenai memar yang kudapat.  Dilihat dari halaman depan yang terparkir sebuah mobil, sepertinya bunda sedang ada tamu.  Itu artinya bunda akan sibuk dengan tamunya tanpa memperhatikan mukaku yang biru-biru ini.  Aku tengah duduk di teras untuk membuka sepatu, ketika seseorang keluar dari dalam.  Tunggu!  Bukannya itu?  "Bang Fa'i, ya?" sapaku melihat punggung seorang yang baru saja keluar dari dalam rumah, mirip seseorang yang kukenal.  Lelaki itu menoleh.  Dan benar, itu abangnya Indra.  Tanpa bicara, bang Fa'i hanya melihat sekilas kemudian kembali berjalan menuju di mana kendaraannya terparkir.  Aneh sekali. Terakhir kali kulihat bang Fa'i memiliki senyum yang ramah, tapi kenapa hari ini tatapannya nampak datar tak bersahabat?  Tunggu, matanya itu... Berkaca-kaca seolah tengah menahan tangis.  Ada apa sebenarnya?  Siapa yang bang Fa'i temui di dalam?  Belum terjawab pertanyaan ku, muncul lagi ribuan pertanyaan begitu langkah kaki memasuki rumah dan kudapati bunda tengah menangis seorang diri di ruang tamu.  Berusaha menahan tangis, wajah bunda ditutupi kedua telapak tangan.  "Bunda, ada apa? Kenapa bunda nangis?"  Aku segera menghambur. Memeluk bunda erat.  Melihatku yang turut menitihkan air mata, bunda berusaha tersenyum. Meskipun aku tabu senyuman itu hanyalah senyum palsu. Bunda hanya pura-pura baik baik saja di depanku. Selalu seperti itu.  "Bunda nggak apa-apa, Sayang, katanya sambil mengusap puncak kepalaku.  "Kali ini bunda nggak usah bohong. Bintang mau tahu, ada apa bunda sama bang Fa'i? Kenapa kalian menangis?"  Bunda memalingkan wajah. Menatap jauh ke depan dengan pandangan kosong.  "Kamu nggak perlu tahu, Bintang. Yang jelas, bunda minta tolong sama kamu, tolong jauhi Indra. Jangan dekat-dekat dia dan keluarganya lagi." Aku mengernyitkan tak mengerti.  "Kenapa, bunda?"  "Pokoknya kamu nggak boleh dekat dekat mereka lagi."  "Bunda nggak mau jawab pertanyaan Bintang, tapi bunda minta aku buat jauhi Indra. Maaf, bunda. Tapi aku nggak bisa. Aku nggak bisa ngejauhi orang gitu aja tanpa sebab."  "Rifa'i itu penyebab kakak kamu meninggal, Bintang!"  Keras bunda membentak, yang seketika membuat tubuhku beku.  Bukan, bukan suara keras bunda yang membuatku kaku, melainkan pernyataan yang bunda baru saja sampaikan.  "A-apa, bund?"  "Rifa'i adalah orang yang membuat Tiara, anak bunda akhirnya memilih untuk bunuh diri."  Bunda mengulangi kalimatnya. Kali ini lebih lirih, disertai tetes tetes air mata.  Hatiku pilu.  Melihat bunda menangis, juga mengetahui alasan kak Tiara bunuh diri, adalah karena abang dari seseorang yang kukenal. Hatiku sakit. "Bunda tahu dari mana?"  Terbata aku menanyakan hal itu. Takut, takut akan kebenaran yang akan bunda sampaikan, tapi juga tak kuasa menahan ribuan pertanyaan yang menjejali otak.  Aku harus tahu semuanya.  "Dari diary Tiara."  Sejenak bunda terdiam. Menghapus air mata kemudian menatapku nanar.  "Sehari setelah kematian Tiara, bunda menemukan diary nya di kolong meja belajar. Mungkin nggak sengaja tergeser ke dalam sana, karena setelah bunda lihat ada curhatan kakak kamu yang di tulis tiga jam sebelum akhirnya Tiara memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri."  Di akhir kalimatnya bunda tak kuasa menahan tangis.  Isaknya begitu memilukan. Aku turut tergugu bersama bunda.  Mengingat kembali bagaimana kesedihan menghampiri keluarga kami tanpa ada tanda.  *  Semua nampak biasa. Bunda yang ceria tengah asyik dengan berbagai bahan masakan, hendak menyiapkan hidangan makan malam.  Ayah yang baru saja selesai membersihkan diri usai seharian bekerja, memilih untuk bersantai di depan televisi. Aku ikut duduk bersama ayah. Menyandarkan kepala pada bahunya yang kokoh. Terasa sangat menenangkan.  Sayangnya, ketenangan itu terusik oleh suara gaduh dalam kamar kak Tiara.  Seperti sebuah benda yang sengaja di lempar keras-keras.  Mulanya kami hanya menanggapi santai.  Kak Tiara memang akhir-akhir ini sedang asyik menggeluti seni beladiri dari Jepang. Taekwondo.  Sampai kembali terdengar suara bededam, kali ini lebih keras dan disertai teriakan.  Kami berlari, mencari tahu ada apa di sana.  Mulut kami menganga seketika begitu melihat kondisi kamar Kak Tiara yang jauh dari kata rapi, padahal kami tahu kak Tiara amat benci dengan sesuatu yang tak sesuai dengan tempatnya.  Jendela balkon rumah kami terbuka. Angin bertiup menerbangkan gorden putih di sana.  Jantungku bedegup kencang saat ingin mencari tahu ada apa di luar sana.  Dan seketika tubuhku terasa lemas begitu melihat yang terjadi sebenarnya.  Ingin berteriak, namun mulut tak mampu bersuara. Lidahku kelu, lututku bergetar hingga tak kuasa menahan badan.  Aku menangis sejadinya.  "Ada apa, Bi?"  Ayah menghampiri, kemudian disusul bunda yang langsung bereaksi sama sepertiku.  Aku dan bunda saling mencengkeram dalam kekalutan. Lemas tubuh kami melihat kejadian nahas, sampai bunda tak sadarkan diri.  Ayah lebih sigap dari kami, beliau segera berlari mencari pertolongan.  Memanggil ambulans, agar kak Tiara segera mendapat pertolongan.  Deretan kursi tunggu yang hanya diisi oleh aku, ayah, dan bunda itu, mendadak pecah air mata.  Pada ruang putih mengerikan itu kami bertanya-tanya, apakah yang terjadi sebenarnya?  Bagaimana bisa kak Tiara jatuh dari atas balkon?  Dia bukan anak kecil lagi yang tidak tahu tanda bahaya.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Apakah di dalam sana kak Tiara baik-baik saja?  Saat itu, aku hanya siswi kelas menengah pertama yang tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menenangkan bunda melalui sebuah pelukan.  Empat jam kami menunggu dalam ketidakpastian. Sampai seorang dokter senior keluar dari ruang ICU di mana kak Tiara terbaring, membawa jawaban dari salah satu pertanyaan dalam otak kami.  Apakah di dalam sana kak Tiara baik-baik saja?  Dokter itu menggeleng. "Karena benturan cukup keras pada area kepala belakang, menyebabkan pendarahan dalam otaknya. Peredaran darah tersumbat akibat adanya gumpalan. Kami tidak bisa menjanjikan apa-apa, kondisi pasien sangat kritis. Semoga mukjizat datang untuk kesembuhan Tiara."  Rentetan kalimat yang bagai petir menyambar di siang terang. Tangis kembali pecah.  Ayah membenturkan kepalanya pada dinding dingin khas rumah sakit, sementara aku dan bunda saling berpelukan berbagi perih.  Lima hari berselang, mukjizat itu tak kunjung datang. Dan akhirnya kak Tiara menyerah.  Perjuangannya telah cukup selama lima hari.  Kak Tiara pergi meninggalkan kami untuk selama lamanya.  Kak Tiara pergi tanpa memberi tanda.  Kak Tiara pergi, menyisakan luka teramat dalam pada keluarga kami. Membuat kami terkubur dalam kesedihan sampai berbulan bulan kemudian.  Dengan buku diary juga sebuah testpack bergaris dua yang berada di dalamnya sebagai tanda bukti, polisi menyimpulkan bahwa kak Tiara memilih bunuh diri akibat tak kuasa menanggung fakta bahwa dirinya tengah hamil di luar nikah.  Sebuah fakta yang lagi lagi menggoyahkan pijakan kami, terutama ayah.  Begitu terpukulnya ayah. Menganggap dirinya tak becus sebagai kepala keluarga. Tak mampu membawa anak-anaknya tetap pada jalur yang lurus.  Kenyataan bahwa kak Tiara hamil di luar nikah, membuat kami terkurung dalam kesedihan hingga akhirnya memilih untuk pindah rumah. Mengikuti ayah yang juga pindah kerja ke Jakarta.  * Buku diary itu?  "Bunda, aku tahu dan aku membaca diary kak Tiara juga saat itu, tapi aku nggak menemukan nama bang Fa'i di sana."  "Tiara punya dua diary. Satu yang dia miliki sejak SMA, dan satu lagi hadiah yang kamu berikan di hari ulangtahun nya yang ke tujuh belas, kamu ingat?"  Aku ingat itu.  Kak Tiara sangat menghargai diary yang kuberikan sebagai hadiah karena kubeli menggunakan uang saku yang kutabung selama satu bulan, sehingga ia menyimpan nya dengan sangat baik.  "Diary ini hanya untuk orang-orang istimewa dalam hidup kak Tiara," kata Kak Tiara ketika menerima hadiah dariku saat itu. "Yang polisi ambil sebagai bukti adalah diary Tiara sejak SMA. Di sana, tertulis banyak kisah perundungan dalam sekolahnya karena Tiara yang cenderung pendiam. Dan yang terakhir, kisah cintanya dengan seseorang yang harus ia telan karena sang sahabat juga memiliki rasa yang sama. Sampai bukti testpack yang terselip di antara lembaran kepedihan Tiara, menguatkan kalau kakakmu itu memang berusaha untuk mengakhiri hidupnya sendiri.  Aku terdiam coba menyimpulkan berbagai kemungkinan. Menangis tidak akan mampu menyelesaikan masalah.  Kukenang kembali lima belas tahun hidup bersama kak Tiara.  Meskipun pendiam, kak Tiara bukan tipe orang yang mudah putus asa.  "Jadi, kamu harus turuti keinginan bunda. Jauhi Indra dan keluarganya, mengerti?"  Aku harus mencari tahu yang sebenarnya, sebelum menuruti perintah bunda.  Jangan sampai aku justru menghakimi orang yang tak bersalah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN