Sepasang kets putih bergerak lincah mengikuti gerak kaki sang pemilik. Pelan gadis itu memasuki ruangan, seolah tak ingin keberadaannya diketahui oleh orang lain.
Setelah meletakkan bucket snack ringan yang ia bawa di atas meja, segera gadis itu beranjak, ingin segera pergi.
Sayangnya, tepat saat ia mengangkat kaki, sebuah tangan menghentikan langkahnya.
"Rasti?"
Lirih seorang gadis yang tengah terbaring di ruang perawatan, memanggil seseorang yang kini tengah berada di sampingnya.
Rasti mengalah. Sudah ketahuan juga!
"Iya, kak Bintang. Maaf, ya kalau kedatangan Rasti bikin kak Bintang keganggu."
Bintang menggeleng.
"Enggak, kok, Ras. Justru aku seneng kamu mau dateng ke sini buat jenguk aku. Dari tadi aku bete nggak ada temen di sini, sendirian."
Rasti mengangguk. Namun ekor matanya berkeliling mengabsen setiap inchi dalam ruangan. Entah obyek apa yang sedang dia cari.
Dan seperti mengetahui apa yang ada dalam pikiran Rasti, Bintang menyeletuk.
"Indra? Dia udah pergi dari tadi."
Sontak Rasti tergagap.
Se nampak itukah raut kegelisahan di wajahnya?
"Eh, iya, kak."
"Maaf ya, Ras. Lagi lagi aku bikin hubungan kalian nggak baik. Makasih juga udah jadi penyelamatku hari ini."
Gadis itu menarik kursi, duduk persis di sebelah Bintang, kemudian saling menguatkan lewat sebuah sentuhan hangat.
"Nggak ada yang perlu dimaafin. Aku dan Indra baik baik aja, kak. Kita mungkin cuma butuh waktu aja buat sama sama berpikir."
"Kenapa?"
"Akhir akhir ini aku merasa sangat bersalah sama Indra. Aku selalu mengikat erat Indra di sampingku, tanpa pernah bertanya apakah dia terbebani ketika bersamaku? Apakah aku membatasi kehidupannya?"
"Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu? Hubungan kalian, bukannya hubungan yang baru terjalin satu atau dua hari, kan?"
"Iya. Justru itu, kak. Selama hampir sepuluh tahun aku dan Indra bersama, apakah selama itu juga aku cuma jadi beban buat kehidupan Indra? Jadi penghalang buat Indra menemukan kebahagiaan nya sendiri?"
"Sangat salah kalau kamu punya pikiran seperti itu, Ras. Yang aku tahu, mata Indra selalu berbinar tiap kali dia menyebut namamu. Mendengar kisah kalian, seolah aku sedang membaca novel romantis paling indah di dunia. Jadi, nggak ada alasan buat kamu ragu sama perasaan Indra buat kamu. Apalagi, kalau alasan kamu meragukan hubungan kalian itu karena aku. Sungguh, aku tidak ada hubungan apapun dengan Indra."
Setitik kristal bening menetes di pipi. Serampangan Rasti menghapusnya.
"Aku nggak pernah nyalahin kak Bintang. Aku hanya merasa selama ini udah jadi tembok buat dia cari kebahagiaannya. Dan semenjak mengenal Kak Bintang, untuk pertama kalinya aku lihat Indra bisa ketawa lepas sama seorang cewek selain aku."
"Ya Allah, Ras. Maaf kalau kedekatanku sama Indra selama ini menyakiti perasaan kamu. Aku nggak sengaja."
Rasti menggeleng.
"Indra berhak, buat dekat dengan siapapun. Aku nggak ada hak apapun buat ngelarang dia."
Lama Bintang terpaku, menatap iba pada sosok Rasti yang kini tengah coba menutupi kesedihannya dengan sebuah senyuman.
Benarkah kehadirannya hanya jadi benalu untuk hubungan Indra dengan Rasti?
***
Indra mengetuk-ngetuk telunjuk pada dinding, tak sabar. Tangannya sudah terkepal menahan emosi sejak tadi.
Dan kedua tangan kekar itu, buru-buru menarik cepat begitu orang yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Eh!" Seru gadis itu terkejut, ketika tiba-tiba saja ada sosok yang menarik dan membawanya hingga punggung menyentuh tembok.
"Indra?"
Bingung. Raut wajah Indra nampak tak biasa.
"Apa kamu udah nggak sayang aku, Ras?" tanya Indra, tatapannya sama sekali tak bersahabat.
"Maksudnya apa sih, Ndra? Kok kamu bilang gitu?"
"Apa ada cowok lain yang kamu suka?"
"Jangan becanda, deh! Lepas, ah tangannya. Sakit tau!"
"Jawab!! Apa sekarang, posisiku udah ada yang menggeser!"
Rasti bergidik.
Belum pernah ia melihat Indra se emosional ini. Lelaki itu bahkan sampai tak sadar, bahwa cengkeraman nya telah melukai kulit mulus Rasti.
"Iya."
Sahut Rasti pada akhirnya. Tatapannya kosong tanpa menatap ke arah mata Indra.
Seketika cengkeraman Indra melemah, kemudian terlepas. Sama sekali tak menyangka dengan jawaban yang Rasti berikan.
"Jadi ini, alasanmu akhir akhir ini menjauhi aku? Bersikap seolah hubungan kita bermasalah, padahal kamu yang bermasalah!"
Seberapapun Rasti berusaha menahan, air matanya tumpah juga. Saling susul menyusul hingga pipi basah oleh air mata.
"Iya, Ndra. Aku ngerasa bosan bareng kamu terus setiap hari selama hampir sepuluh tahun. Aku bosan dengan hubungan kita!"
"Oh, jadi kamu bosan? Setelah sepuluh tahun bersama kamu merasa bosan? Sebenarnya kamu anggap aku ini apa, Ras? Hah!"
"Kamu? Kamu cuma tempatku mencari hiburan. Terima kasih selama ini sudah menghiburku, Ndra. Mengeluarkanku dari masa hitam yang paling pekat. Sekarang lebih baik kita sendiri sendiri dulu. Beri aku waktu untuk bernapas, Ndra."
Indra menangis. Entah untuk apa.
Perasaannya pada Rasti terlalu dalam. Melihat Rasti melepasnya begitu saja, terasa amat sakit.
"Apa selama ini aku mengikatmu terlalu erat, Ras?"
"Iya. Aku jadi kesulitan memiliki teman lain selain kamu, karena kamu selalu dan terlalu dekat denganku selama ini."
Indra mundur, memberi jarak pada mereka. Sebuah jarak yang nyata.
"Maaf, selama ini aku membuatmu kesulitan bernapas. Kamu bebas, sekarang."
Bukannya berhenti, air mata itu semakin menderas. Tak dapat dihentikan meski berkali kali coba Rasti hapuskan.
Bukankah memang ini yang ia inginkan?
"Terima kasih atas pengertiannya, Ndra," lirih Rasti disela tangisannya.
"Aku sudah melepasmu. Jangan menangis lagi. Maaf karena telah mengikatmu terlalu erat. Pasti sangat sakit, ya?" Indra kembali mendekat, menghapus air mata wanita yabg amat ia sayangi itu.
Sementara Rasti tak mampu lagi berkata. Suaranya habis tertelan kesedihan.
"Jaga diri baik-baik. Aku akan selalu ada, meski kamu memintaku melepasmu, bukan berarti aku harus meninggalkan mu, kan? Terbanglah yang jauh sesukamu, kemanapun kamu mau. Nanti, ketika sayapmu mulai lelah, jangan lupa kembali. Temui aku di sini, di tempat yang sama seperti dulu. Ruang itu akan selalu kosong, sampai kamu mengisinya kembali."
Rasanya ingin sekali Rasti berteriak. Setiap kata yang keluar dari mulut Indra, berubah serupa belati tajam yang menusuk nusuk perasaannya.
Apakah ia terlalu kejam, membiarkan Indra melepaskan dirinya?
"Kamu juga, Ndra. Jaga diri. Jangan terlalu sering makan mie instant, nggak baik buat lambung kamu."
Indra tersenyum getir.
Rasanya aneh sekali, mengucapkan kata kata seolah mereka akan benar benar berpisah.
"Boleh aku peluk kamu untuk yang terakhir, sebelum ikatan kita benar-benar terlepas?" pinta Indra yang langsung mendapat anggukan dari Rasti.
Tentu saja. Pelukan itu adalah kehangatan yang amat Rasti sukai setelah pelukan dari sang mama.
"Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali pada masa yang lebih baik."
"Semoga Tuhan mempertemukan kita pada takdir yang terbaik."
Pelukan terlepas, namun pegangan tangan keduanya tetap tergenggam erat. Seolah tidak ada satu pun di antara mereka yang menginginkan perpisahan itu terjadi.