Ikatan yang Terlepas

1217 Kata
Jakarta di pagi hari sudah menunjukkan geliatnya. Para pejuang nafkah bahkan sejak subuh telah meneteskan keringat. Asap mengepul dari berbagai kendaraan yang berlalu lalang. Hari yang cerah, namun tak cukup ampuh untuk menceriakan hati Bintang. "Ayolah, anak ayah bukan anak yang mudah terpengaruh oleh omongan orang. Percayalah, hari ini akan berjalan dengan baik." Bintang tersenyum meski sedikit memaksa, tak ingin ia membuat sang ayah khawatir. Di hari pertama ia masuk sekolah setelah beberapa hari lalu mendapat skorsing, sengaja Bintang meminta Riswan mengantar. Nyalinya belum sepenuhnya kembali. Khawatir akan terjadi perundungan seperti di awal-awal ia masuk ke sekolah itu. "Ya sudah, ayah berangkat kerja, ya. Bintang baik-baik ya, sekolahnya," pamit ayah, mengulurkan tangan. Bintang mencium tangan sang Ayah penuh khidmat. "Iya, ayah. Ayah juga, hati hati di jalan." Riswan kembali menyalakan sepeda motornya begitu anak gadisnya membalas salamnya lalu melambaikan tangan. Sementara Bintang, gadis itu termenung sejenak kemudian menarik napas panjang. Coba menata mental dan meyakinkan diri bahwa hari ini akan berjalan baik baik saja. Gadis itu berjalan pelan. Sengaja ia hari ini berangkat lebih awal agar tidak terlalu sering berpapasan dengan murid lain ketika berjalan di lorong menuju kelas. "Itu kan, si cewek murahan." Selintas Bintang mendengar beberapa gerombol siswi yang sepertinya sedang menggunjing dirinya. Meski sedikit terganggu, Bintang tetap berjalan. Selama hanya cibiran, dia masih bisa tahan. Asalkan jangan,... Kaki Bintang sudah melangkah hendak memasuki kelas saat sebuah tangan menarik jilbabnya dengan keras. Membuat gadis malang itu tersungkur. "Nggak punya malu emang ini anak! Udah ketahuan m***m, masih berani masuk sekolah! Dasar cewek murahan!" Tentu saja itu Alika dan geng, yang suka sekali mencari gara-gara. "Enaknya di apain ini cewek?" Diana. Gadis berambut keriting dengan warna yang agak pirang, ikut berkomentar. "Dijambak enak kali, ya!" Seru Alika sambil menarik dengan keras, rambut Bintang yang saat ini telah tergerai. Bintang tak berani melawan, hanya mampu meringis menahan sakit. Dari jumlahnya saja dia sudah kalah telak. Beberapa siswa lainnya hanya menonton tanpa berani mendekat apalagi menolong. Sungguh miris kejadian bullyng di area sekolah. Tempat yang seharusnya menjadikan generasi bangsa yang bermartabat, justru tercemar oleh oknum siswa yang kemungkinan kurang mendapatkan edukasi maupun kasih sayang dari lingkungan, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang minim simpati. "Tolong, berhenti." Bintang merintih. Pipinya memerah setelah lima jari Alika dengan keras mendarat dengan keras di pipi. "Kenapa kita harus berhenti? Lo pantes dapetin ini!" Lima siswi berpakaian ketat mengelilingi Bintang yang tengah tersungkur di antara mereka. "Cewek sampah kayak elo itu emang pantes diperlakuin kayak sampah gini!" Sambil tertawa, lima pasang kaki itu bergantian menendang, bahkan menginjak tubuh Bintang yang sudah tak berdaya. "Sakit. Tolong berhenti!" Sekali lagi Bintang berteriak. Berharap mereka iba dan berhenti melakukan kekerasan. Sayangnya tidak. Mereka justru semakin menjadi. Seolah, makin Bintang merintih, kesenangan mereka untuk menyakiti semakin bertambah. Entah pada tendangan yang keberapa, saat Alika mengangkat kaki, seseorang mengguyur mereka dari belakang. "Aaarggh!!!" Serentak kelimanya berteriak dengan kondisi basah kuyup. "Manusia kotor kayak kalian emang pantes dapetin ini!" Ekor mata Bintang melirik ke arah suara. Di sana, seorang gadis nan anggun berdiri tanpa takut menghadap Alika dan geng. Dia Rasti. Tangannya masih menggenggam ember dengan mata penuh menatap Alika. "Dasar cewek sialan!" Umpat Alika kemudian menjambak Rasti. Tak gentar, kedua tangannya buru buru menarik rambut Alika. Aksi jambak jambakkan pun tak terelakan. Bukan melerai. Para siswa yang menyaksikan kejadian itu justru saling bersorak. Berteriak nama antara Rasti atau Alika. Suasana semakin gaduh ketika Alika kalah dan meminta bantuan gengnya untuk menyerang Rasti. Meskipun sama sekali tak nampak rasa takut dalam sorot matanya, tetap saja Rasti akan kalah. Dan sebelum p*********n itu terjadi, Indra datang bersama beberapa guru dan BK layaknya menyelamat bagi Rasti dan Bintang. Sontak semua siswa bubar, menyelamatkan diri dari kemungkinan mereka di hukum BK atas keterlibatan kekerasan dalam sekolah. Dengan mata berkaca, Rasti menatap Indra penuh rasa. Lelaki itu, yang selalu menjadi penyelamatnya. Sayangnya, bukan berbelok dan menanyakan kabarnya, Indra justru melanjutkan jalannya menuju di mana Bintang tersungkur. Membopong Bintang dengan tenang melewati Rasti yang tengah berdiri tepat di sisinya, menuju ruang kesehatan. Air matanya menetes. Rasanya sesak. Sakit. Lebih sakit dari ketika tadi ia bergulat dengan Alika. Pusing yang sempat melanda, kini sudah tak dirasanya lagi. Ngilu dalam dadanya jauh terasa lebih perih. "Ras, kamu nggak apa-apa? Sori, aku nggak bisa bantuin kamu tadi." Salah seorang teman dekatnya menghampiri setelah pihak sekolah membawa Alika dan keempat temannya ke ruang BK. Rasti mana peduli. Tatapan matanya tetap fokus menuju pada satu titik, punggung Indra yang semakin menjauh darinya. Ia bahkan tak menghiraukan seorang guru yang memintanya untuk segera menyusul ke ruang BK guna dimintai keterangan. Telinga mendadak tuli, bibir terasa terkunci, mata berkaca dan tubuh yang terasa mati rasa. Hatinya terlampau pilu. Melihat kenyataan bahwa yang selama ini ia ikat begitu erat, hari ini telah melepas ikatannya sendiri. ** "Ras, kamu nggak apa-apa, kan?" Kondisinya berangsur membaik. Setelah tadi susah payah ia berusaha bergerak berjalan menuju kelas, sekarang Rasti sudah mampu menyunggingkan senyum. Tentu saja itu hanya senyum palsu. "Aku nggak apa-apa." "Nggak habis pikir, deh sama kak Indra. Kok bisa dia ngelewatin kamu gitu aja. Berapa tahun kalian pacaran? Setauku, tiga tahun kita sekolah SMP bareng, kalian udah sangat dekat. Kenapa sekarang tiba-tiba dia khianatin kamu gini? Hih, gemesh! Pengen tak getok deh kepala kak Indra." Rasti hanya tersenyum menanggapi ocehan Dinda, teman terdekatnya di kelas. "Kok kamu nggak nangis nggak apa, sih? Marah, gitu? Apa emang kalian udahan?" Kesal justru Dinda melihat ekspresi Rasti yang kelewat tenang. Sementara yang di ajak bicara hanya tersenyum ringan. Perasaannya sudah dipersiapkan untuk hal hal seperti ini. Sehingga, meskipun berat Rasti mampu mengontrol emosi agar jangan sampai menangis di depan umum. Sakit hatinya, biar ia telan sendiri. "Nda, buat apa aku nangis?" "Ya, buat pengkhianatan yang udah kak Indra lakuin, lah!" "Pengkhianatan yang seperti apa, menurutmu, Nda?" "Pengkhianatan atas hubungan kalian. Karena sekarang kak Indra sudah berani mendekati cewek lain selain kamu, Ras!" "Memangnya, menurutmu hubungan seperti apa yang menuntut seseorang agar tidak dekat dengan orang lain, Nda? Aku tidak pernah meminta Indra untuk jangan dekat sama orang lain selain aku, jadi rasanya wakar kalau sekarang dia dekat dengan Bintang, teman sekelasnya. Hubungan antar teman itu wajar, kan?" "Iya, sih. Tapi ya jangan pas lagi di depanmu juga, kan? Jaga perasaanmu gitu." "Lagian, setelah aku pikir-pikir, hubungan macam apa yang sedan aku sama Indra jalani, Nda? Kita sama sekali nggak pernah ngebicarain hubungan kita. Semua berjalan begitu aja. Karena kita terlalu lama bersama, bukan berarti dia milikku sepenuhnya, kan, Nda?" Dinda memukul lengan Rasti, pelan. Perasaannya seperti sedang diaduk. Dia tahu persis, selama lebih dari tiga tahun mengenal Rasti, Indra adalah sosok yang paling dekat, yang paling mengerti, dan yang paling di sayangi Rasti. Tapi saat ini, kenapa hubungan mereka jadi merenggang begini? Terlebih Rasti mengatakannya dengan ekspresi yang sangat tenang, yang justru membuat Dinda khawatir bahwa luka dalam hati yang Rasti coba tutupi ternyata menganga cukup lebar. "Sini, peluk." Dinda menyerah. Dari pada mendebat, lebih baik ia memberikan dukungan moral yang pastinya sangat dibutuhkan Rasti. Gadis itu mana punya banyak teman untuk diajak bercerita. Tidak ada tempat mencurahkan segala keluh kesahnya selain Indra. Dan sekarang, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Di sinilah saatnya seorang sahabat berperan. Sedia bahu ketika dia butuh sandaran. Pasang telinga, jika saatnya nanti dia mau bercerita. Tanpa banyak bicara, tanpa perlu bertanya. Cukup diam, dan menerima segala sampah yang ingin ia hilangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN