Rasti PoV
Satu alasan yang mampu membuat airmataku berderai tak mau berhenti, adalah ketika aku menyadari bahwa papa telah pergi meninggalkan aku dan mama untuk selamanya.
Kehilangan memang selalu menyakitkan.
Dan sore ini, bersamaan dengan punggung Indra yang semakin menjauh, perasaan itu kembali hadir.
Orang bijak berkata, kehilangan hanya untuk mereka yang merasa memiliki. Seperti halnya hati mama yang hancur ketika Tuhan meminta miliknya Kembali. Meski keduanya telah menghabiskan hidup bersama lebih dari sepuluh tahun, apa masih belum cukup untuk dikatakan saling memiliki?
Apa aku yang terlalu egois, menganggap Indra milikku padahal sebenarnya kita bukanlah siapa-siapa?
Apa selama ini aku terlalu jumawa, mempunyai Indra di sampingku sehingga rasanya tak rela jika suatu saat nanti, akan tiba saatnya dia akan pergi?
Setitik air mataku menetes, disusul tetes tetes lain yang tak kuketahui bagaimana cara menghentikannya.
Serampangan aku berlari menuju kamar, jangan sampai mama melihat ku menangis dan membuatnya khawatir.
Mamaku, dia sudah cukup menderita kehilangan papa sang belahan jiwa.
Kesedihanku, biar kutelan sendiri.
Kubuka sobekan kertas dalam laci di meja belajar, begitu sampai di kamar.
Kulihat lagi lembaran yang lusuh penuh coretan itu.
Penyesalan itu.
Selama ini aku berusaha untuk tidak percaya, dan menganggap semuanya akan baik-baik saja seperti biasa. Tapi takdir, seolah memperlihatkan kuasa-Nya bahwa Dia telah mengabulkan ucapanku itu dengan mempertemukan Indra dengan Bintang.
Air mata kian menderas dan semakin membuatku sesak.
Apa akan berakhir secepat ini?
Ribuan pertanyaan menjejali otak. Sampai dering ponsel membuyarkan segala pikiran buruk itu.
"Halo." Susah payah aku berusaha agar suaraku terdengar biasa. Menahan isak agar tak terdengar lelaki di seberang sana.
"Suaramu aneh. Kenapa?"
Sial!
Dia memang yang paling peka terhadap aku. Dan kenyataan itu semakin membuatku tak bisa menahan air mata.
"Kamu nangis, Ras?"
Aku tak bisa berkata-kata. Nyatanya, semakin ditahan tangis ku makin pecah.
"Maafkan aku yang tadi udah berkata kasar sama kamu. Aku nyesel, Ras. Tolong, jangan nangis lagi."
'Cukup, Ndra. Cukup!'
Ingin sekali aku berteriak seperti itu, andai aku bisa.
Semua ini bukan salahmu. Tangis ku bukan karenamu.
Aku sedang menangisi kebodohanku sendiri yang tak bisa mengontrol perasaanku terhadapmu.
"Rasti, Sayang. Tolong, jangan nangis lagi. Jangan hukum aku dengan tangisanmu, aku nggak bisa."
Tut...
Kumatikan panggilannya, kemudian kulempar ponsel itu menjauh. Tak ingin membuat Indra semakin merasa bersalah.
Kuhamburkan tubuh yang serasa tak bertulang ini pada ranjang, kubenamkan wajah pada bantal dan guling kesayangan, lalu kututupi sekujur tubuh dengan selimut tebal. Mereka, teman setia setiap kali aku ingin lari dari masalah. Peredam tangis, agar jangan sampai mama mendengarnya.
Ponsel berbunyi berulang kali.
Aku tak peduli.
Lebih baik kita tidak bicara dulu, Ndra. Aku tidak mau kamu salah paham dan semakin merasa bersalah.
Entah pada dering keberapa, mata yang mulai bengkak ini mulai lelah. Rasanya berat, memaksaku untuk segera terpejam.
Dalam hitungan detik, suara bising tak lagi terdengar. Berganti dengan gelap yang datang menyergap.
Aku lelap, terbuai dalam mimpi yang kuharap lebih indah dari kenyataan saat ini.
***
"Rasti. Sayang?"
Sayup kudengar mama memanggil. Suaranya lembut, khas keturunan Jawa.
"Sayang, kamu nggak apa apa kan, di dalam?"
Terdengar nada khawatir di sana.
Sebenarnya tubuhku masih terlalu lemas untuk sekedar bangun dan membuka pintu, tapi demi mendengar suara mama yang nampak khawatir, aku segera beranjak.
Tak lupa mengusap muka dengan tisu basah. Berharap dapat mengurangi bengkak pada mata.
"Rasti baik kok, ma," kataku sambil membuka pintu dan langsung mendapat pelukan hangat dari mama.
Perhatian itu, membuat hatiku tersentuh.
Aku mendongak, menahan agar air mata tak kembali jatuh.
"Syukurlah kamu baik baik aja. Mama khawatir." Mama melepas pelukan, menatapku penuh kasih sayang.
"Tadi Indra ke sini cari kamu. Dia bilang kamu marah sama dia. Kalian bertengkar?"
Kucoba tersenyum meski awalnya sulit, kemudian menggeleng. Mama sudah terlalu banyak menanggung beban. Menjadi Orangtua tunggal tak pernah mudah untuk siapapun, tak terkecuali seorang wanita modern seperti mama.
"Maaf ya, Rasti bikin mama khawatir. Tadi Rasti ketiduran, keasyikan dengar lagu dari ipod. Makanya nggak denger panggilan dari Indra. Mungkin karena aku nggak angkat telepon, Indra jadi mikir aku marah sama dia."
"Beneran kalian nggak ada masalah apa-apa? Nggak lagi bertengkar?"
Aku menggeleng.
"Kita nggak ada masalah apa-apa, ma. Mama tenang aja, ya."
Aku tidak berbohong, antara aku dan Indra memang tak ada masalah. Hatiku yang bermasalah. Aku yang serba terlalu pada Indra, yang membuat perasaanku jadi tak senyaman ini.
Seandainya dari awal aku tahu batasanku mencintai Indra.
Sekali lagi mama memelukku penuh sayang.
"Kalau ada apa-apa jangan ragu cerita sama mama. Tak selamanya kamu bisa menyimpan masalahmu sendiri. Kamu tetap wanita, yang butuh bersandar ketika mulai lelah berpura-pura baik baik saja."
Kupejamkan untuk menahan agar air mata tak lagi menetes, mengerjap beberapa kali kemudian tersenyum. Meskipun mama tak akan melihat senyuman itu.
"Iya, mama, Sayang. Mama tau kan anak mama ini jauh lebih kuat dan hebat dari kelihatannya? Jangan karena wajahku yang imut dan menggemaskan ini, mama jadi mikir aku wanita lemah yang butuh dilindungi."
Mama tertawa pelan, lalu melepas pelukan.
"Anak mama ini memang paling bisa diandalkan," katanya sambil mencubit hidungku gemas.
"Jangan sedih, ya, ma. Jangan khawatir juga. Rasti akan selalu baik baik aja buat mama."
Kami hanya hidup berdua. Lewat pelukan kami saling menguatkan. Tidak ada lelaki dalam rumah membuat kami lupa apa itu manja.
Aku melihat dengan jelas, bagaimana mama berusaha survive meski berat.
Terutama di awal kepergian papa.
Keringat dan air mata seolah tak pernah habis dari wanita tangguh ku itu.
Meski begitu, sekalipun aku tak pernah mendengar ada kalimat keluhan keluar dari bibirnya. Yang ada hanya kalimat penghibur dan semangat yang selalu mama ucapkan.
Aku tidak pernah tahu persis seberapa hancurnya hati mama ketika ditinggal papa, yang aku tahu mama selalu berusaha tersenyum setiap kali bersamaku. Dan akan menumpahkan tangisnya saat sedang sendiri.
"Apa yang membuat mama tetap bisa bertahan meski tanpa papa?" tanyaku ketika itu.
"Kehilangan papa bukan berarti mama kehilangan cintanya. Mama cuma tak lagi bisa merasakan sentuhannya, tapi cinta dan kasih sayang papa masih jelas terasa. Lewat kenangan indah ketika bersama, melalui jepretan foto yang kami abadikan, juga dengan ribuan video yang mama tangkap ketika bersama papa. Dengan itu semua, setiap kali mama mengenang dan memutarnya kembali, di detik itu juga mama merasa cinta papa tak pernah berhenti mengalir untuk kita, meskipun raga sudah tak lagi bersama."
Mataku selalu berembun tiap kali melihat mata mama yang berbinar saat menyebut nama papa.
Cintanya begitu besar. Namun tak mengikat papa terlalu erat.
Mama ikhlas melepas saat tanpa aba-aba Tuhan mengambil papa, saat kami sedang bahagia bahagianya sebagai sebuah keluarga.
Kembali aku berkaca pada diri.
Apakah aku bisa seikhlas mama?
Apakah aku mampu melepas ikatanku ketika Indra meminta?