Indra PoV
Langit yang semula terang telah berganti jingga saat aku dan bang Fa'i pamit undur diri dari rumah Bintang.
Dalam perjalanan, bang Fa'i yang biasanya cerewet menasehati ku panjang lebar, kali ini hanya terdiam.
Aneh juga, sih.
Gimana ceritanya bang Fa'i bisa kenal sama ibunya Bintang? Bukannya keluarga Bintang baru pindah dari Bandung?
Bandung?
Ah, iya.
Kok aku bisa lupa, ya. Bang Fa'i kan dulu kuliahnya di Bandung juga. Mungkin mereka kenal dari sana.
"Bang," panggilku pada bang Fa'i yang masih fokus menyetir, dan hanya dibalas dengan deheman pelan.
"Bang Fa'i kenal ibunya Bintang dari mana, bang? Pas kuliah dulu, ya?" tanyaku memuaskan rasa penasaran.
"Iya," jawabnya singkat.
Aku memiringkan tubuh ke arah bang Fa'i, antusias.
"Berarti udah kenal Bintang lama, dong? Kok nggak pernah cerita?"
"Abang nggak kenal Bintang sebelumnya. Abang baru ketemu dia aja pas tragedi kalian kemarin itu."
"Lah, gimana? Abang cuma kenal sama ibunya doang? Kok bisa gitu?"
Aku masih bingung dengan jawaban bang Fa'i tapi, dia enggan untuk bercerita lebih jauh. Padahal ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kuketahui jawabannya. Termasuk, apa yang mereka berdua bicarakan tadi di dalam sebelum kami pulang.
*
Bang Fa'i serius untuk tetap menutup mulutnya meskipun beberapa kali aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang buatku penasaran. Sampai kami tiba di rumah, dia tetap saja tidak mau membuka suara.
Aku melirik sebentar ke seberang.
"Bang, gue mau ke rumah Rasti dulu, ya."
"Iya, tapi nggak usah dipaksa kalo Rasti belum mau ketemu," nasihat bang Fa'i yang buat aku terdiam sejenak.
Bukan salah Rasti kalau dia sampai marah begini. Aku yang terlalu dekat dengan Bintang akhir akhir ini, pasti membuat dia kecewa.
"Oke, bang!"
Kataku kemudian bergegas lari menuju rumah Rasti.
Tidak sampai lima menit, aku sudah berada di teras rumah bercat hijau itu. Aku belum sempat mengetuk saat tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.
Dan di sana, aku melihat gadis kesayanganku tersenyum, manis sekali.
"Hai, Ndra," sapanya lembut.
Entah harus bersyukur atau aku harus bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba Rasti mau menemuiku. Padahal beberapa hari terakhir sulit sekali dihubungi. Jangankan bertemu, membalas chat saja tidak.
"Halo, Ras. Apa kabar?" Jawabku membalas sapaannya, meski terdengar canggung.
Gadis berambut panjang sebahu itu mempersilakan aku duduk di teras samping rumah. Menghadap taman yang selalu ia dan mamanya jaga dengan penuh cinta.
Anak dan mama itu, keduanya memiliki hobi yang sama yaitu berkebun.
Semua berawal ketika usia Rasti baru menginjak angka sembilan, saat aku dan dia sedang asyik bermain setelah belum lama saling mengenal, sebuah mobil putih dengan sirine memekakkan telinga datang dan berhenti tepat di rumah Rasti.
Dari dalam rumah, tante Risma tergopoh gopoh berlari menghampiri mobil berisik itu dengan air mata yang saling susul menyusul.
Sesaat, aku dan Rasti saling tatap. Terlalu kecil untuk bisa menerka bahwa bersamaan dengan suara sirine itu, sebuah badai besar telah menghantam kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Mamaa...." teriak Rasti saat itu, ketika ia melihat wanita yang amat disayanginya itu luruh di tanah tak berdaya begitu beberapa orang turun dari mobil putih itu dengan memapah sebuah, entah, tertutup kain rapat.
Aku pun ikut berlari menyusul dib belakangnya.
Semua keluarga besar, tetangga, sanak saudara, turut hadir di sana, sekedar memberi semangat dan pelukan hangat untuk tante.
Dan dalam tangisnya, seraya memeluk putri semata mayang, lirih tante Mayang berucap, "Papa sudah nggak ada, Sayang. Papa sudah pergi. Yang ikhlas, ya, Sayang."
Tangis Rasti pecah. Menangis sejadi-jadinya.
Mungkin belum terlalu memahami, namun satu yang ia tahu pasti bahwa kata 'pergi' yang diucapkan mamanya itu adalah duka paling dalam yang pernah ia rasakan.
Sejak saat itu, Rasti dan tante Mayang yang sebelumnya begitu ramah kepada siapa saja, selalu aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungan, mendadak menjadi keluarga murung. Rumahnya nampak suram tak lagi terdengar tawa.
Sesekali, sambil mengendap-endap aku memerhatikan mereka di balik gerbang. Tante Risma sibuk menanam bibit di lahan terbuka samping rumah, tanpa kata, dengan air mata yang sesekali berderai. Sedangkan Rasti, ia berdiri tepat di belakang sang mama dengan wajah yang tlah lama tak dihinggapi tawa.
Saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri akan ku kembalikan senyum di wajah indah Rasti seperti dulu lagi.
"Hei, kok melamun?"
Suara lembutnya mengembalikan fokusku.
"Maaf, ya. Udah bikin kamu sedih," kataku kemudian.
Tangannya menyentuh punggung tanganku. Seketika, terlihat jelas perbedaan warna kulit kami. Dia yang putih bersih bak s**u, sedangkan aku yang memiliki kulit layaknya orang Indonesia kebanyakan, sawo matang. Bahkan mungkin bisa dibilang, setengah busuk.
"Aku yang terlalu kayak anak kecil, kak. Cuma karena gosip yang kudengar tentang kalian, aku jadi berpikiran buruk sama kamu dan kak Bintang. Seharusnya aku lebih percaya kamu ketimbang mereka, kan?"
Subhanallah... Bijak sekali pacarku ini.
"Terus, kenapa kamu akhir akhir ini ngejauh dari aku, Ras?"
"Aku sedang memperbaiki diri, kak."
"Memperbaiki diri? Apanya yang salah? Kamu itu gadis paling sempurna ciptaan Tuhan yang pernah aku temui."
Itu bukan gombalan, aku mengatakannya dengan jujur dari hati dan segenap perasaan.
Rasti tersenyum,
"Entahlah, Ndra. Belakangan aku merasa insecure terhadap diri aku sendiri. Aku takut kalau ternyata aku nggak pantas buat bersanding dengan kamu, Ndra."
"Kata siapa kita nggak cocok? Jangan ngaco, ah!"
Rasti hanya tersenyum. Membuat aku semakin penasaran. Perihal apa yang membuatnya bisa berpikir kalau dia tidak cocok untukku?
Dilihat dari sisi mana pun, justru aku yang tak pantas bersanding dengan Rasti yang bak bidadari.
"Orang bilang, sebuah ucapan bisa saja menjadi do'a sesuai kehendak Tuhan. Aku nggak tahu ucapanku yang mana yang akan Tuhan kabulkan, tapi aku berharap, sangat berharap do'a yang Tuhan jadikan kenyataan adalah ketika aku memintamu menjadi jodohku."
Entah karena apa, setelah Rasti mengucapkan kalimat itu seketika tubuhku menegang. Seperti ada sesuatu hal yang Rasti sembunyikan.
"Rasti kamu aneh, deh. Sudah berapa tahun kita menghabiskan waktu bersama? Lebih dari sepuluh tahun, Ras! Terus, tiba-tiba kamu bilang semoga kita berjodoh? Tuhan memang sudah mentakdirkan kita berjodoh sejak kita kecil!"
"Ndra, aku..."
Segera ku berdiri, aku mulai tidak nyaman dengan topik pembicaraan kami.
"Aku bawa kukis kesukaan kita di kafe dekat sekolah, sebagai wujud permintaan maaf ku sama kamu. Maaf udah ganggu waktu belajar kamu. Aku pamit," ujarku tanpa menatap wajahnya.
Sungguh aku tak akan kuat melihat raut mukanya.
Entah sekarang mulai berkaca, atau mungkin bahkan sudah meneteskan air mata. Yang ku tahu, suaranya telah berubah parau di terakhir kali ia bersuara.
Aku pulang. Benar tanpa menoleh ke arah Rasti meskipun sangat ingin.
Aku tidak tahu apa yang salah.
Mungkin kita butuh waktu untuk istirahat sejenak, dan berhenti bertemu.