Sebuah Permintaan

1009 Kata
Hingga senja menjelang, Rifa'i dan Indra masih berada di rumah Bintang. Rifa'i yang serius berbincang dengan Riswan, dan Bintang yang sejak lima menit lalu menemani Indra di teras depan rumah. "Terima kasih sudah bantu aku memberi penjelasan ke ayah." Bintang mulai membuka suara setelah sedari tadi hanya diam sejak ia menyuguhkan segelas jus jeruk bersama beberapa camilan. "Sama-sama. Ini kesalahanku, jadi aku yang harus bertanggung jawab. Maafin aku yang udah lancang sentuh kamu waktu itu." Bintang menutup mata. Malu sekali rasanya bila ingat kejadian tempo lalu, saat banyak orang melihat Indra menciumnya. Ya, meskipun saat itu dirinya pun sedang dalam keadaan setengah sadar. Tapi bagaimanapun juga, maksud Indra baik. Niatnya hanya untuk menolong agar dirinya tak sampai kehabisan napas. "Aku juga minta maaf karena nggak mau mendengar penjelasanmu." "Nggak apa-apa. Yang penting besok kita sudah bisa mulai sekolah lagi." Bintang mengangguk. "Eh, gimana dengan tiga kakak senior itu?" "Ah, nggak usah dibahas lah. Aku jadi inget, kan. Kecewa aku tuh sama pak Kepsek." "Kenapa?" "Mereka bebas dari hukuman karena salah satu dari mereka itu anak dari donatur terbesar di sekolah kita." "Wah, sangat disayangkan banget. Sekolah besar kayak gitu bisa kalah oleh sogokan. Nggak lagi mementingkan prestasi." "Iya. Tapi aku juga nggak bisa nyalahin pak Kepsek sepenuhnya. Ternyata, ada niat mulia di balik semua pengorbanan yang beliau lakukan. Beliau ingin menyelamatkan siswa siswi ber keterbatasan ekonomi namun memiliki kepintaran dan semangat belajar yang tinggi." "Tetap saja salah kan, Ndra? Kesalahan, apapun alasannya tetap saja salah." "Iya juga, sih. Ah, sudahlah. Jangan perdebatkan masalah ini, aku juga nggak tahu mesti gimana. Yang terpenting besok kita bisa mulai sekolah seperti biasanya, kan?" "Hmmm... Iya, sih. Semoga tingkah buruk mereka bisa segera terbongkar, ya. Kasihan juga mereka, masih punya masa depan panjang tapi sudah terjerumus ke dalam dunia seperti itu." "Aamiin... Semoga, ya." Keduanya kembali terdiam, terasa sekali kecanggungan di antara keduanya. Sampai Bintang kembali mencoba membuka percakapan. Yang akhirnya justru akan ia sesali karena terkubur rasa bersalah. "Gimana kabar Rasti?" Indra menggeleng. Ekspresinya sedikit berubah. "Dari kemarin dia susah dihubungi. Ponselnya nggak aktif." "Kamu sudah ke rumah?" "Sudah. Tante Rena bilang, Rasti lagi nggak mau diganggu, katanya. Bentar lagi UTS, dia harus serius belajar." Seketika perasaan bersalah memenuhi rongga d**a Bintang. Sudah pasti Rasti cemburu dan kecewa pada Indra, mengira bahwa dirinya dan Indra memiliki hubungan lain di belakangnya. Patutlah Rasti marah atas kesalahpahaman ini. Mungkin setelah ini dia perlu mengunjungi rumah Rasti dan menceritakan kejadian sebenarnya. Memberikan klarifikasi, seperti yang dilakukan Indra hari ini. "Kok, tiba-tiba diam? Kenapa?" tanya Indra yang melihat Bintang jadi mematung tak meneruskan percakapan mereka. "Eh, enggak. Anu...." Untung saja, dalam ke gaguan yang mendadak dialami Bintang, Ayumi yang baru saja selesai dengan acaranya di luar rumah, datang mencairkan suasana. "Sore, tante." "Eh, ada tamu. Bintang, kok tamunya nggak diajak masuk?" "Enggak tante, makasih. Di dalem abang lagi ngobrol sama Om, takut ganggu." "Oh, gitu. Yasudah, tante masuk dulu ya." Ayumi yang baru dua kali ini bertemu Indra, masih belum menyadari siapa abang yang Indra maksud, sampai ia lihat orang yang Indra maksudkan itu berjalan menuju teras luar bersama suaminya dengan sesekali terdengar tawa diantara keduanya. Seketika ingatan itu kembali. Masa lalu yang sekuat tenaga ia kubur sendiri tanpa orang lain yang tahu. Kekecewaan itu, ia telan sendiri dalam diamnya, namun... Mengapa orang itu kembali lagi ke dalam kehidupannya? Tas jinjing warna biru yang semula bertengger di pergelangan, entah bagaimana tiba-tiba merosot begitu saja. Menimbulkan suara yang seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana. "Bunda, bunda kenapa?" tanya Bintang yang sigap segera menghampiri Ayumi. Disusul Indra turut mendekat. "Tante baik aja, kan?" Ayumi masih terpaku, tatapannya lurus ke depan sejajar dengan Rifa'i yang kini membalas tatapan Ayumi. Ada luka yang ingin di utarakan di sana. Di kedua pelupuk mata keduanya. "Tante..." "Aku mau bicara sama kamu, berdua." *** Sekali lagi Rifa'i memainkan jemarinya. Mengepalkan kedua tangan hingga buku jarinya memutih. Lima belas menit berada di ruangan yang sama berdua bersama Ayumi membuat lelaki itu tak berkutik. Ia seolah telah kehilangan jutaan kosa kata yang ia kuasai. "Apa kabar tante? Lama Fa'i nggak main ke rumah." Basa basi Rifa'i membuka percakapan. "Tidak perlu." Rifa'i menoleh, merasa heran dengan sikap Ayumi yang berbeda sejak terakhir mereka bertemu. "Maaf, tante. Kalau dulu Fa'i ngilang gitu aja. Keputusan papa buat pindah sangat tiba-tiba. Fa'i nggak ada kuasa buat nolak karena memang cuma Fa'i yang bisa diandalkan papa waktu itu." "Setelah sekian lama, I." Ayumi berbicara tanpa menatap Rifa'i. Membuat pria itu semakin tak enak hati. "Setelah sekian lama kamu menghilang tanpa kabar, kenapa sekarang kamu datang lagi? Tidakkah kamu tahu betapa dulu Mutia  sangat terluka karena kehilangan kamu?" Rifa'i tertunduk lesu. "Sekali lagi Fa'i minta maaf, tante. Sungguh, bukan maksud Fa'i mempermainkan perasaan Mutia." "Tante sudah maafin kamu, walau semula rasanya terasa begitu berat. Tapi Tante sadar, kalau semua ini adalah takdir yang harus kalian jalani." "Terima kasih, tante." Di sela obrolan, Rifa'i memutar mata mencuri pandang mencari keberadaan gadis yang dulu dan hingga kini masih mendiami puncak tertinggi dalam hatinya. Sudah dua kali ia mengunjungi rumah Bintang, tapi sama sekali tak melihat kehadiran Mutia di sini. "Tante maafin kamu, I. Kamu anak yang baik, tante tahu. Tapi, boleh tante minta tolong?" "Tolong apa tante?" Kedua mata Ayumi berkaca. Beberapa kali terdengar ia menarik napas panjang. Seolah hal yang ingin ia sampaikan adalah sesuatu yang amat berat. "Tolong menjauh dari keluarga tante." Rifa'i mendongak cepat. Se fatal itu kah kesalahannya di masa lalu? "Tolong, jangan masuk lagi dalam kehidupan tante, dan Bintang. Jauhi kami. Anggap kita tidak pernah saling mengenal." "Tapi, kenapa tante? Sebegitu besarkah kesalahan Fa'i dulu sampai tante melarang aku dan Indra bertemu dengan Mutia dan Bintang lagi?" "Tante rasa ini yabg terbaik, I. Maaf kalau membuat kamu kecewa, tapi keputusan tante sudah bulat. Kamu dan siapapun dalam keluarga mu jangan lagi coba untuk mendekati keluarga tante." "Tapi,..." "Tante mohon." Pada akhirnya Rifa'i mengangguk setuju. Sesaat sebelum ia keluar dari rumah yang ternyata milik orang tua dari gadis yang amat ia sayangi itu, matanya sekali lagi mengabsen setiap inchi ruangan. Berharap di salah satu sudut itu, ia bisa menemukan Mutia. Sayangnya nihil. Gadis itu tetap tak nampak oleh pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN