Seorang pecundang, akan berkoar koar di belakang, namun hanya bisa berdiam diri ketika di hadapkan pada sesuatu yang sebelumnya mereka anggap sepele. Seperti Devan contohnya. Yang berubah kaku tak bergerak, layaknya manekin bernyawa, ketika berada di hadapan ayah Arini. Lupakan pikirannya yang ingin memberi pelajaran kepada lelaki paruh baya itu, tadi. Pada kenyataannya, jangankan memukul, bersikap acuh dan menyangkal setiap perkataan yang dia ucapkan pun rasanya Devan tak sanggup. "Mari sini, Nak. Duduk." Lelaki tua yang rambutnya telah dipenuhi uban itu mempersilakan Devan duduk di kayu rotan. Berhadapan dengannya. "Iya. Makasih, Pak." "Salam kenal, Nak. Perkenalkan, saya Muji. Bapaknya Airin." Pak Muji mengulurkan tangan. Meski sempat ragu, namun akhirnya Devan menjabat

