Sudah sejak pagi raut wajahnya nampak gelisah. Bahkan ketika ia berusaha tersenyum untuk menutupi kegelisahan nya pun, itu tetap nampak jelas pada pelupuk matanya yang tak pernah dusta. "Kamu kenapa, Rin?" tanya Ryan yang sedari tadi sudah memerhatikan gelagat aneh sahabatnya. "Perasaanku dari semalam nggak enak, Yan," jawab Airin yang akhirnya berterus terang setelah sedari tadi selalu mengelak tiap kali ditanya kenapa. "Mm... Kamu pasti gelisah banget, ya. Udah hampir satu minggu nggak bisa hubungi keluarga di kampung." "Iya, Yan. Kamu tahu sendiri, kan. Jangankan seminggu, setiap hari aku nelpon Ibuk Bapak bisa nyampe belasan kali." Ryan meski memiliki gelagat yang unik, namun mempunyai hati yang begitu peka. Itulah yang membuat Airin nyaman dekat dekat dengan pria bertubuh keka

