Sambil berjalan gontai, Airin mengembuskan napas gusar. Emosinya seakan sudah berada di ubun-ubun sekarang. Tak dapat dibendungnya lagi. "Sabar, Rin." "Gimana bisa sabar coba, Na? Dia sita hape aku! Gimana kalo Ibuk nelpon, terus bingung dia karena suaranya bukan suara orang yang dikenal? Emang dasar ya itu orang kaya sialan!" Sekali lagi Airin mengumpat. Sambil mengusap punggung sahabat sekaligus rekan kerjanya, Nina coba menenangkan. Memberikan kalimat kalimat motivatif yang sebenarnya tidak Airin butuhkan sama sekali. "Anggap aja ini bagian dari takdir, ketika Tuhan mempertemukan kamu dengan cowok kaya, ganteng, idaman para wanita." Nina mengucapkan kalimat itu dengan sorot mata yang berbinar. Semakin membuat Airin jijik. "Najis, amit-amit, ya... Biarpun dia kaya, seujung ku

