Airin PoV 'Kenapa terlambat datang?" Belum juga kaki melangkah ke dalam, pak Banyu sudah menghadangku dan Nina di depan pintu kafe. Tangannya bersedekap dengan tatapan dingin, sulit di artikan. Namun bukan itu yang menjadi fokusku. Melainkan pakaian yang ia kenakan. "Berarti, tadi benar bukan mimpi?" Gumam ku penasaran. Aku yakin betul, pakaian yang pak Banyu kenakan saat ini sama persis dengan yang aku lihat saat di rumah tadi. Pak Banyu mengerjap beberapa kali. "Maksudmu?" "I-iya, tadi aku kayak ngelihat pak Banyu dateng ke rumah buat ngajak berangkat ke kafe bersama. Aku pikir cuma mimpi karena tiba-tiba pak Banyu ilang gitu aja," sahutku jujur, meski diawal aku sempat ragu. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku sampai pak Banyu dengan suara lantangnya mendadak memint

