"Dari mana saja? Kamu lihat, sudah jam berapa ini? Baru saja Airin melangkahkan kakinya ke dalam kafe, Banyu sudah menghadangnya di depan pintu. Menghadiahinya dengan cecaran pertanyaan dengan raut muka yang sangat tidak bersahabat. Lelaki itu bahkan tak segan menegur Airin di depan para tamu. Benar benar bukan sifat Banyu yang seperti biasanya. Gadis itu meneguk saliva pelan. Tidak tahu harus menjawab apa. Ini memang kesalahannya. Hanya karena Banyu sudah mengizinkannya bertemu dengan Devan, lantas ia jadi lupa waktu bahkan sampai tertidur di rumah Devan. Airin melirik jam yang bertengger di pergelangan tangan. Sudah hampir tiga jam dia bolos dari kerjaan. "Maaf, Pak. Saya salah. Bapak boleh menghukum saya semau bapak, atau kalau perlu bapak bisa potong gaji saya bulan ini. Karen

