Semalaman Airin tidak bisa tidur, hanya berguling dari satu sisi ke sisi ranjang lainnya. Isi kepalanya penuh dengan wajah Banyu yang tersenyum dan bersikap ramah padanya setelah hampir enam bulan Airin bekerja padanya. Selepas jam kerja habis, entah atas dasar apa tiba-tiba saja Banyu menghampiri Airin yang masih belum juga mendapat angkutan. "Belum ada yang lewat juga?" tanya Banyu membuka obrolan di antara mereka, kala itu. Airin menggeleng. Sudah hampir pukul dua belas malam, sementara gawai yang biasa dia banggakan sudah kehabisan kuota sejak sore tadi. "Nina mana? Bukannya kost-an kalian berdekatan? Kenapa nggak bareng?" "Tadi Nina dijemput pacarnya, Pak." Banyu berdecak, sebal. "Egois banget si tuh, Nina. Bukannya pulang bareng, malah ninggalin kamu gitu aja." Airin

