--
Sometimes, it's the smallest decision that can change your life forever.
(Keri Russell)
--
INDRA
Aku senang punya kekasih yang memiliki pemikiran dewasa. Yang nggak suka merajuk pada hal-hal kecil, dan nggak suka berlama-lama marah untuk hal-hal remeh.
Tapi kenapa jadi terasa mengganggu, saat Rasti datang ke rumah? Harusnya aku bahagia, karena itu artinya dia sudah nggak lagi marah.
"Mmm... Ras, kok di sini?"
Aku memasang senyum paksa. Memandangi keduanya bergantian, dan sepertinya mereka juga kebingungan.
"Aku cuma mau ketemu Bang Fa'i, kok. Nggak boleh?"
Aduuh, salah ngomong nih kayaknya!
"Eh, bukan, Ras. Bukan kamu, Sayang. Tapi dia." Aku menunjuk ke arah Bintang yang di tangan kanannya menenteng kantong merah. Sementara yang ditunjuk mengernyitkan dahi, "Aku?"
"Iya, Lo Laras. Lo ngapain malem-malem ke rumah gue?" Aku bersedekap sambil bersender pada bingkai pintu.
Memang benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa saat kita memulai satu kebohongan. Pasti akan timbul lagi kebohongan-kebohongan lainnya. Dan ini yang aku lakukan pada Bintang sekarang. Berbohong untuk menutupi kebohonganku sebelumnya.
Aku yang menyuruhnya datang, dan aku juga yang mempertanyakan kedatangannya.
"Aku cuma mau anterin ini, kok," ucapnya sedikit kesal.
Tapi setidaknya bukan Rasti yang marah.
"Nih!" Dia menyerahkan bungkusan merah itu padaku.
Setelah kuterima, Bintang segera berbalik. Tapi, belum sempat ia melangkah, Bang Fa'i datang dengan segala kelakuan absurdnya.
"Indra. Ada tamu kok nggak disuruh masuk. Ayoo... Ayoo masuk, Ras." Tanpa menghiraukan aku, dengan seenak jidatnya Bang Fa'i menggandeng Rasti masuk ke dalam rumah.
"Dan kamu, siapa namanya?" tanyanya sebelum benar-benar beranjak dari tempat semula.
"Aku--"
"Laras. Namanya Laras, Bang." Segera kupotong ucapannya. Jaga-jaga, takut dia malah memperkenalkan diri sebagai Bintang.
Bang Fa'i menatapku aneh. Sepertinya dia mulai mencurigaiku.
"Ayo... Laras. Kita masuk. Biarin Indra di luar kalo dia nggak mau masuk." Ekor matanya menatapku sinis.
"Enggak, Mas. Makasih, aku mau langsung pulang aja. Udah malem. Asaalamu'alaikum."
Dan tanpa menunggu jawaban dari kami, Bintang pergi.
Kudapati tatapan tajam Bang Fa'i saat berbalik hendak masuk ke rumah.
Sorot matanya seolah bertanya, "ada apa?" Dan hanya mampu kujawab dengan endikkan bahu. "Entah."
***
"Jadi Abang yang suruh Rasti ke sini?!" Aku mendelik sebal, setelah tahu biang dari segala keonaran ini adalah abang kandungku sendiri.
Dan tanpa merasa bersalah, dia menjawab, "Iya."
Rasanya aku ingin ikat kedua tangannya, melakban mulutnya, dan memasukkan dia ke dalam karung, lalu kujebloskan lagi ke dalam kardus, dan mengikatnya kuat-kuat. Untuk aku kirim jauh ke Samudera Antartika sana. Biar dia nggak ngelakuin hal-hal konyol lagi.
Tapi, sayangnya aku nggak bisa. Selain karena tubuhnya yang jauh lebih besar dan kekar, juga karena satu kenyataan bahwa aku menyayanginya. Seorang lelaki gagal move on yang ditakdirkan menjadi abang kandungku.
"Buat apa, Bang?" Aku melepas sendok kasar, sampai menimbulkan dentingan keras akibat sendok dan pinggiran piring yang bersentuhan.
"Lo galau karena Rasti, kan?" Bang Fa'i masih asyik mengunyah. Tanpa pedulikan satu fakta bahwa ide gilanya semalam udah buat selera makanku pagi ini musnah.
"Atau... Karena cewek itu. Siapa namanya?" Telunjuk dan jari tengahnya menggaruk-garuk tengkuk. Terlihat sekali Bang Fa'i sedang berfikir keras.
"Bintang," jawabku malas.
"Bintang???"
Astaga!!
Kutegakkan badan yang semula bersandar pada punggung kursi.
"Eh. Laras, Bang. Namanya Laras," sergahku.
Iris cokelat muda milik Bang Fa'i menatapku penuh curiga.
Potongan-potongan roti di atas piring sudah tak disentuhnya lagi. Dia benar-benar menghentikan segala aktifitasnya dan hanya memandangku dengan intens.
Kukepalkan kedua tangan yang mulai terasa dingin.
Aku memang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, semenjak almarhumah mama mengenalkanku pada sahabatnya yang memiliki perusahaan advertising.
Dan berkat puluhan iklan yang sukses kubintangi, aku jadi semakin terkenal dan memiliki banyak fans.
Apalagi, semakin bertambah usia tingkat ketampanan dan kharismaku juga semakin bertambah.
Di sekolah kini, aku juga selalu menjadi salah satu yang di puja kaum hawa. Berdasarkan survey majalah sekolah, aku bahkan pernah menjadi siswa most wanted of the year.
Aku selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Tapi bukan kayak gini situasinya. Bukan dengan tatapan mengintimidasi seperti yang Bang Fa'i lakukan sekarang. Seolah aku adalah seorang pesakitan yang harus dihukum sembilanpuluh sembilan cambukan.
"Siapa Bintang? Siapa Laras?" Ekspresinya datar. Sementara kedua tangannya kini berada di atas meja.
Aku harus apa?
Bang Fa'i benci pembohong. Tapi dia jauh lebih membenci cowok yang mempermainkan hati wanita.
"Gini, Bang. Gue bisa jelasin. Bintang itu--"
"Laras?!"
Kutundukkan kepala, kemudian mengangguk lemah.
"Jadi, siapa Bintang? Ada hubungan apa kamu sama dia?"
Aku menggeleng kuat-kuat, Bang Fa'i semakin salah paham. Dia pasti sudah berpikiran macam-macam, sekarang.
"Nggak ada apa-apa, Bang. Suerr!!" Kuacungkan jari telunjuk dan jari tengah ke udara. Sebagai tanda, bahwa aku lagi nggak berdusta.
"Terus kenapa lo sembunyiin nama asli Bintang di depan Rasti?"
"It's so complicated, Bang!" Aku mengacak rambut frustasi. Masih belum menyangka, satu kebohongan kecil bisa berakibat sefatal ini.
"Oke. Abang mau jemput Papa sekarang. Suatu saat, kalau gue tau lo nyakitin Rasti demi cewek yang baru lo kenal itu, Gue orang pertama yang bakal hajar elo, Ndra!" katanya lalu beranjak dari ruang makan.
Aku hanya diam, tak berani menjawab.
Sedikit pun aku nggak terganggu apalagi marah atas ancaman Bang Fa'i barusan. Kemarahannya wajar, Rasti sudah lama akrab dengan keluarga kami. Kehadiran Rasti menjadi pengobat rindu Bang Fa'i yang sejak dulu menginginkan adik perempuan. Juga papa, yang telah lama merindukan renyahnya tawa seorang wanita, semenjak mama nggak ada.
Dan dengan aku menyakiti Rasti, itu sama saja aku menabuh genderang perang pada keluargaku sendiri.
Aahh!! Kenapa jadi begini?!
Aku sama sekali nggak berniat menyakiti Rasti. Seperti mereka, aku juga sangat menyayanginya.
***
Tidak ada yang lebih tandus melebihi gersangnya hati tanpa kabar dari Rasti.
Sudah tiga hari ini dia nggak pernah mau kuajak bertemu. Bahkan, setiap aku bertamu ke rumahnya pun, dia nggak mau keluar kamar.
Terakhir bertemu dua hari yang lalu, waktu Bang Fa'i ngundang Rasti dateng ke rumah buat nanya gimana caranya bikin nasi goreng. Yah, tentu itu cuma akal-akalannya Bang Fa'i saja.
'Kenapa kebohongan kecil bisa berakibat sefatal ini?!!' Aku memukul-mukul meja geram. Sampai terdengar deheman keras dari ibu penjaga.
"Itu meja perpus, ya. Bukan drum. Kalau mau nabuh-nabuh bikin gaduh, bukan di sini tempatnya!" katanya memperingati. Matanya mendelik, menyiratkan ancaman tanpa sebuah ampunan.
Segera kupalingkan wajah, nggak tahan melihat wajah sangar itu lama-lama.
Dan rasanya, seperti aku sedang berada di ambang pintu antara surga dan neraka.
Setelah di sisi kiri tadi ada penjaga perpus yang sangar dan ganas, di sebaliknya aku justru menemukan sesosok bidadari yang menentramkan hati.
Jilbab putih yang menutup hingga ke d**a dan sebuah buku di genggaman, dia duduk dua tiga kursi dari tempatku berada.
"Cantik."
Dia menoleh, menatapku aneh.
Aku yang belum siap di pandangi mata indah itu buru-buru memalingkan muka, dan segera meraih buku -entah apa- di atas meja.
Apa dia dengar? Dia dengar gumamanku barusan? Kok bisa? Padahal aku cuma menggumam pelan.
"Ndra?"
Dan betapa jantungku serasa mau lari dari sarangnya begitu tau bidadari itu ada tepat di sampingku. Menatapku serius.
.
"Jadi, kamu masih berantem sama Rasti?" Bintang menatapku prihatin.
"Iya, Bi. Padahal cuma karena kebohongan kecil, lho!"
Dia mengembuskan napas kasar.
"Terkadang, satu keputusan kecillah yang menentukan langkah besar kita selanjutnya."
"Maksudnya, Bi?" Aku menyeruput segelas lemon tea. Dinding gelas telah basah oleh bulir bulir es yang menguar akibat terlalu lama didiamkan.
"Salah kamu. Kenapa harus bohong?Sedangkan, kebohongan itu nggak pernah berhenti pada satu titik. Pasti ada kebohongan-kebohongan lain yang kamu lakukan buat nutupin kebohongan sebelumnya."
Ternyata, adalah keputusan yang tepat mengajak Bintang keluar perpus dan membawanya ke kantin. Dia teman yang asyik untuk bercerita.
Aku jadi teringat kembali bagaimana hubunganku dengan Bintang bisa lebih baik sekarang.
Gara-gara insiden air mineral tumpah di kelas waktu itu. Aku menawarkan jaket untuk menutupi roknya yang basah, dan memaksa dengan sedikit penawaran padanya agar mengembalikan jaketku hari itu juga.
Sayangnya, kedekatanku dengan Bintang justru menjadi awal kerenggangan hubunganku dengan Rasti.
Aah, Rasti.
See how much i miss you...
"Mmm... Ngomong-ngomong, kenapa kamu panggil aku Laras cuma kalau di depan Rasti?"
Pertanyaan Bintang barusan, kenapa jadi suara paling horor yang pernah aku dengar, ya?
Aku harus jawab apa??