--
Omong kosong soal cinta pada pandangan pertama!!
Yang aku tahu, cinta itu tumbuh karena terbiasa dengan adanya dia. Dan bertahan karena rasa nyaman saat bersama.
--
BINTANG
Coret, sobek, coret lagi, dan kusobek lagi. Diremas sampai tak berbentuk, lalu kubuang ke sembarang arah.
Huh!!
Aku nggak suka berada pada situasi seperti ini. Ini aneh. Fokusku buyar hanya karena satu orang.
Hanya beberapa hari mengenal Indra, dan aku merasa nyaman seakan sudah mengenalnya bertahun-tahun.
Kuletakkan tangan di d**a. Sakitnya masih terasa. Sejak siang tadi, di kantin sekolah.
**
Dia nampak ragu menjawab pertanyaanku.
Aku pernah membaca sebuah buku yang menyatakan bahwa orang yang memberikan nama panggilan lain dari pada yang lainnya untuk seseorang, itu pertanda bahwa seseorang itu berarti lebih dari seorang teman baginya.
Apa aku boleh berharap, kalau alasan utamanya memanggilku Laras adalah karena aku spesial di matanya?
Walau kemungkinannya hanya 0,05%, apa aku masih boleh berharap??
Dia menggenggam erat gelas di hadapan. Dan itu membuatku tau jawaban dari apa yang aku pikirkan, dia sangat mencintai Rasti.
"Apa aku, kebohongan yang kamu maksudkan itu?" Aku nggak tahan lagi. Kutanyakan hal yang sangat mengganjal di hati, walau dengan suara yang sedikit bergetar.
Dia terkesiap mendengar pertanyaan keduaku. Dan lagi, dia memilih untuk tidak menjawabnya.
Kulihat dia mengembuskan napas, kasar.
"Lo tau, Bi. Gue sayang banget sama Rasti. Dan gue nggak tau, apa jadinya gue kalo Rasti bener-bener benci dan memilih buat pergi dari hidup gue."
Ya, aku tau. Rasti berharga untuknya.
Terlihat dari caranya selama ini memandang Rasti, dan juga gelang bertuliskan inisial nama Rasti yang dia kenakan itu.
"Tapi, boleh gue jujur?"
Sentuhan di punggung tangan membuatku terkejut. Buru-buru kujauhkan tanganku dari tangannya.
Hanya beberapa detik tangan kami bersentuhan, tapi itu cukup membuat napasku jadi tak beraturan.
"Elo, cewek pertama setelah Rasti yang bisa buat gue nyaman."
Apa?!
Semakin berat saja napasku di buatnya.
"Gue juga nggak tau, kenapa gue bisa keceplosan sebut nama Lo waktu gue lagi sama Rasti!" Dia mengacak rambut kasar.
Boleh aku bersorak senang sekarang? Setelah tau kalau Indra juga merasakan apa yang aku rasakan. Perasaan aneh, yang seharusnya nggak pernah ada.
Separuh hatiku merasakan kebahagiaan yang membuncah. Tapi di separuhnya lagi, aku justru merasa telah menjadi manusia tak tau diri.
**
"Bi...."
Ketukan pintu diiringi suara merdu Ibu, membuatku tersadar dari lamunan.
"Kamu belum tidur, Sayang?" Wajahnya yang sendu menatapku penuh ketulusan.
Aku menggeleng, "Belum, Bu. Masih ada tugas yang belum dikerjain."
Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari pelukan ibu malam ini. Seperti ada luapan emosi yang selama ini ditahannya sendiri, dan kini mulai tak terbendungkan lagi.
"Ayah belum pulang, Bu?" tanyaku yang masih dalam pelukannya.
"Belum," jawab ibu lirih, dan semakin menegaskan bahwa ibu sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu kenapa?" Kulepas pelukan kami.
Ada air yang menggenang di sudut matanya.
Meskipun ibu hanya diam dan memilih untuk menyimpan perasaannya sendiri, tapi aku tahu. Aku tahu apa yang ibu rasakan saat ini, perasaan yang aku juga turut merasakannya.
"Ibu masih punya Bintang." Kudekap kembali tubuh ibu, mencari kehangatan di dalamnya.
***
Harum masakan ibu mulai tercium baunya sampai ke meja makan. Aku yang sedang menyiapkan s**u juga air putih bahkan sampai berkali-kali berhenti menuang air demi menghirup dalam-dalam aroma yang memikat dan menggoda itu.
Hari ini kami sengaja bangun lebih pagi demi menyiapkan sarapan untuk ayah. Karena biasanya jam enam ayah sudah bersiap untuk berangkat, setelah sholat shubuh tadi kami memutuskan untuk langsung ke dapur.
Tepat pukul enam pagi, pria berkumis tipis dengan alis yang cukup tebal itu keluar dari kamar.
"Ayaah... Sarapan, yuuk...." Aku merangkul lengan ayah dan menariknya menuju meja makan.
"Ayah sibuk, Bi. Ayah harus ke kantor sekarang," tolak ayah, tangan kirinya berusaha melepas pegangan tanganku.
"Mas, sarapan dulu. Nanti kamu sakit."
Ibu berdiri di samping meja makan, dimana semua makanan yang kami masak tadi telah tersaji dengan rapi.
Aku yakin ini semua karena cinta. Cinta yang pada akhirnya meluluhkan hati ayah untuk mau ikut sarapan bersama kami.
Aku yakin, ayah masih sangat mencintai ibu. Dan tidak ada wanita lain yang menggeser posisi ibu di dalam hati ayah, seperti yang ibu khawatirkan belakangan ini.
Kuletakkan kedua tangan di atas meja untuk menyangga dagu, sedangkan ibu menyilangkan kedua tangannya di atas meja. Aku memang belum berniat untuk memulai sarapan, karena hanya dengan memandangi ayah yang duduk di seberang meja saja, lelah dan laparku menjadi hilang begitu saja. Dan kurasa, ibu juga merasakan hal yang sama.
"Kalian nggak makan?" tanya ayah dengan sisa makanan dalam mulut yang belum sepenuhnya tertelan.
Ibu tersenyum simpul, kurasa ada kelegaan dalam hatinya. Ayah belum berubah, masih menyukai nasi goreng spesial buatan ibu.
"Udah kenyang, Yah," jawabku asal.
"Oo, curang... Kalian udah makan duluan ternyata." Kemudian ayah tertawa sebentar.
Hari ini untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan terakhir, ayah kembali tertawa bersama kami.
"Bintang rindu ayah."
Kalimat itu lolos begitu saja. Segera kututup mulut begitu menyadari ayah dan ibu menjadikan aku pusat perhatian mereka.
Ayah berhenti tertawa, ekspresinya berubah menjadi dingin dan kaku seperti hari-hari sebelumnya. Sementara ibu, sorot matanya seakan ingin mengatakan, "kenapa harus berbicara seperti itu?!"
Dan aku hanya mampu menundukkan wajah, menyesal. Seharusnya aku diam saja. Seharusnya kubiarkan kehangatan menyelinap kembali mengisi hubungan kami.
Kata rindu mendadak menjadi susunan kata yang paling dibenci dalam keluarga kami. Kerinduan pada seseorang yang tak akan pernah bisa tersampaikan, adalah satu alasan pasti ayah membenci kata itu. Kebahagiaan ayah telah terkubur dalam gundukan rindu pada putri sulungnya. Dan itu membuatku tahu satu fakta, bahwa kerinduan mampu membunuh perasaan.
Ayah kembali menyuapkan nasi, menghabiskan makanan yang masih tersisa di piringnya. Ibu turut mengambil nasi dan menaruhnya di piringku juga piringnya. Kami melanjutkan sarapan, tapi dengan suasana canggung tanpa ada lagi candaan.
***
Menjadi orang baik memang bukan hal yang mudah. Lagipula, baik buruknya seseorang nggak bisa dinilia oleh diri sendiri. Yang menurut kita baik, belum tentu orang lain juga mengatakan hal yang serupa.
Satu bulan sekolah di sini, aku sudah mulai mengerti bagaimana seorang pendatang harus bersikap. Sudah cukup hari-hari pertama bertemu dengan siswa-siswa aneh khas anak kota. Jangan lagi.
Aku harus menyelesaikan kesalahpahamanku dengan Rasti, secepatnya.
Dan itu yang menjadi alasan kenapa aku berada di sini, membiarkan diri menjadi pusat perhatian seluruh siswa di kelas Rasti.
"Ada perlu apa, Kak?" sapanya santun.
"Rasti, aku mau minta maaf sama kamu."
Selain cantik, dia juga gadis yang ramah dan penuh kehangatan. Terlihat dari caranya menggenggam tanganku yang jujur, sedikit berkeringat dan gemetar.
"Emang kak Laras ada salah apa sama aku?" Dia tersenyum, manis sekali.
"Entahlah, Ras. Aku cuma ngerasa masih punya hutang permintamaafan sekaligus penjelasan sama kamu."
"Soal?" Alisnya bertaut.
"Aku dan Indra...." Sengaja memberi jeda, untuk sekedar mencari tahu reaksi Rasti. Ekspresinya masih nampak tenang, "Kami nggak ada hubungan apa-apa, Ras. Demi Allah!"
Sumpah, aku nggak pernah mikir Rasti akan bereaksi kayak gini. Aku pikir dia akan maki-maki, menjambak, atau paling enggak berteriak, marah dan mempermalukan aku di depan teman-teman sekelasnya. Seperti yang biasa cewek-cewek lakukan saat mereka dihadapkan dengan seseorang -yang menurut mereka- perusak hubungan, kebanyakan.
Ternyata aku salah, dia malah tertawa kencang seoalah barusan yang aku katakan itu adalah lelucon. Padahal, aku ucapkan kalimat itu dengan jantung yang berdegup kencang tak beraturan.
"Ya emangnya, kak Laras ada hubungan apa sama Indra?"
Aku menggeleng. Memang nggak ada apa-apa antara aku dan Indra. Hatiku saja yang merasa bersalah, karena sudah bersikap kurang ajar dan berani menyimpan perasaan padanya.
"Memangnya, aku pernah nuduh kalian ada hubungan spesial di belakangku?"
Aku kembali menggeleng. Selama ini, Rasti memang nggak pernah menuduhku yang macam-macam. Jelas karena sedikitpun aku nggak pernah dengar desas-desus buruk dari para siswa tentang aku. Yang aku lihat hanya Rasti yang baik, ramah, dan selalu tersenyum. Seperti sekarang ini.
Dia melepas pegangan tangannya, dan berganti memeluk. "Aku percaya Indra setia. Akhir-akhir ini aku emang ngejauhi dia. Karena aku tahu satu kebohongan Indra. Tapi kak Laras tenang, kami baik-baik aja, kok."
Dia melepas pelukannya. Menatapku hangat, dan kubalas dengan tatapan serupa.
"Jadi, kak Laras nggak usah ngerasa bersalah." Binar matanya berkilat begitu indah.
"Kecuali... Kalo kak Laras emang diam-diam punya perasaan sama Indra."
Deg!!!
Kepalaku terasa berat seketika mendengar kalimat terakhir Rasti.
Kalau boleh, rasanya aku mau pingsan saja sekarang.