--
Karena cinta itu tak membutuhkan kata maaf.
Juga tak mengenal ucapan terima kasih.
Sesakit sakitnya luka yang kau cipta... Selama di hatinya masih ada cinta, maka kalian akan baik-baik saja.
--
___________________________
BINTANG
.
.
Sesuatu yang telah lama ada, nggak mungkin bisa dihapuskan begitu saja. Karena kasih, akan selalu mengampuni. Dan setitik luka itu... Nggak akan merubah apapun di antara mereka.
Sekarang, mungkin mereka lagi berduaan. Membicarakan kesalahpahaman yang melibatkan namaku kemarin.
Rasti yang baik, memang pantas mendapatkan Indra yang sempurna.
Aku terdiam beberapa saat untuk merasakan lebih dalam. Sedikit ngilu, juga menyesakkan.
"Aduuhh!!" Kuusap kepala yang terasa sakit, lalu mengedarkan pandangan mencari benda yang menimpaku barusan.
"Eh, sorry."
Seseorang dengan bola basket di tangan datang menghampiri.
"Lo nggak apa-apa?" katanya begitu sudah berdiri cukup dekat.
"Iya. Nggak apa-apa."
"Eh, Lo yang pindahan dari Bandung itu, ya?" tanyanya dengan senyum mengembang di wajah. Lalu ikut duduk di pelataran depan kelas, persis di sebelahku.
Aku hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaannya.
"O iya. Kenalin, gue Faris."
"Bintang."
Tanpa bermaksud untuk sok alim, sok suci, atau sok sok yang lain. Aku menolak menjabat tangannya. Dan hanya menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Aku harus konsisten dengan jalan yang aku ambil. Hijrah. Sudah hampir lima bulan berjalan, dan aku nggak mau semuanya jadi sia-sia.
Untungnya, dia bisa mengerti. Nggak kulihat sedikitpun rasa marah atau perasaan tersinggung di wajahnya, seperti yang lain selama ini. Dia hanya tersenyum, senyum manis yang memamerkan barisan gigi rapinya.
"Sekali lagi sorry, ya. Gara-gara gue, jilbal lo jadi kotor gitu. Apa perlu gue ganti?"
"Eh, nggak usah. Ini cuma noda biasa. Bisa ilang kalo di cuci nanti. Santai aja."
"Oke."
Kami saling diam beberapa detik, sampai akhirnya dia kembali memulai percakapan.
"Lo kenapa pindah ke Jakarta?"
"Ayah dipindah tugaskan ke sini sama kantor. Jadi, aku sama Ibu ikut pindah juga."
Faris mengangguk pelan.
"Lo, dari Bandung mana? Kebetulan keluarga gue juga punya villa di Bandung. Siapa tau akhir semester depan, kita bisa liburan bareng.--"
"--maksud gue, liburan sambil main-main ke rumah lama, dan silaturahmi sama keluarga Lo."
Baru beberapa menit berkenalan, tapi Faris sudah bisa membuat suasana hatiku sedikit membaik sekarang. Ekspresinya lucu begitu aku menatap heran padanya saat dia bilang mau liburan bareng.
"Kenapa ketawa? Ada yang aneh?" Alis tebalnya terangkat sebelah. Heran.
Dan aku hanya menggeleng sambil mencoba buat nggak lagi tertawa.
"Ris!!" Segerombol siswa berseragam sama dengan yang Faris kenakan, memanggil dari area lapangan. Aku rasa mereka rekan satu tim.
"Eh, Lo belum jawab pertanyaan Gue. Gue juga belum tau alamat rumah Lo yang sekarang, juga nomor ponsel atau akun sosmed Lo." Sambil tergesa-gesa, lelaki bertubuh atletis itu berdiri di hadapanku sambil terus berceloteh.
Dan bukannya menjawab setidaknya satu saja dari sederetan pertanyaan yang dia lontarkan, aku justru semakin tertawa melihat tingkah konyolnya.
Faris benar-benar lucu.
Aku baru tahu, kalau cowok ganteng juga bisa punya selera humor yang baik.
"Fariss!!" Rekannya memanggil sekali lagi.
"Ayolah, Bintang." desaknya tak sabar.
"Kalau jodoh pasti kita ketemu lagi."
Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku. Dan entah apakah dia puas dengan jawabanku. Yang jelas Faris tersenyum sumringah kemudian langsung berlari menuju ke tengah lapangan sambil melambaikan tangan ke arahku dan setengah berteriak. "Oke. Sampai jumpa suatu saat. Jodoh."
Apa katanya?
Jodoh?!
***
Mendengar Indra terus bercerita tentang Rasti, atau membantu mereka kembali bersama rupanya belum cukup. Sekarang takdir memaksaku untuk menyaksikan lebih dekat kisah kasih di antara mereka berdua.
Mau seberapa tubi lagi Engkau akan menjatuhkan rasa sakit pada hatiku karena mereka, Tuhan??
"Hari ini, kita mau traktir Lo makan se-puasnya. Sebagai ucapan terima kasih Gue, karena Lo udah buat kita balikan lagi," katanya antusias. Gadis di sampingnya mengangguk mengamini ucapan Indra.
"Sebenernya nggak perlu kayak gini, Ndra, Ras. Karena--"
Karena traktiran ini nggak akan memberikan apa-apa kecuali rasa sakit.
Aku sadar, aku sendiri yang telah memutuskan untuk menyerah pada perasaanku yang salah, berdamai dengan kenyataan, dan memilih untuk menjadi teman dekat kalian. Tapi tetap saja, cinta nggak bisa berhenti secepat itu.
"Karena?"
...
"Bi??"
...
"Helloo...!!"
"Hah?! Kenapa, Ndra?" tanyaku yang terkejut dengan lambaian tangan Indra persis di depan mata.
"Kenapa lagi!! Lo yang kenapa? Sampe ngelamun gitu."
"Eung-nggak, kok. Enggak. Siapa yang ngelamun," kataku berusaha mengelak yang sepertinya elakanku nggak berguna sama sekali. Terlihat dari raut wajah Indra yang nggak menunjukkan rasa percaya sedikitpun.
"Enggak dari Hongkoong!!! Jelas-jelas dari tadi Gue panggilin Lo diem aja."
Tuh, kan. Kalau udah ketauan gini, aku bisa apa? Selain masang ekspresi paling sederhana yang aku punya. Nyengir kuda, jenis senyum andalan yang menampakkan barisan gigiku yang rapi.
"Iya, Kak. Kak Bintang kenapa? Kakak nggak suka kita traktir? Atau, Kakak kecewa karena kita cuma traktir Kakak di kantin sekolah?" Kali ini giliran Rasti yang menginterogasi.
Ah! Kenapa pasangan ini senang sekali bikin aku salah tingkah kayak gini?!
"Bukan gitu, Ras. Aku berterima kasih banget kalian mau traktir aku. Tapi maaf, aku udah kenyang."
Nggak tega rasanya liat Rasti kecewa. Dia terlalu manis untuk dikecewakan. Tapi, apa boleh buat? Aku juga perlu menyelamatkan diri dari kondisi nggak menyenangkan ini, kalau aku masih pengen bernapas dengan normal.
"Ayolah, Bi. Seenggaknya sebotol minum atau makanan ringan, kek. Lo tau, kan? Nolak rejeki itu nggak baik."
Hmm.....
Cari alasan lagi, Bintaang.
"Ya Allah. Aku lupa!!" Kutepuk dahi untuk memperkuat akting. Dan berhasil! Mereka terkejut dan menatapku dengan penuh keingin tahuan.
"Kenapa, Bi?"
"Aku lupa, tadi Miss Irene suruh aku ke ruangannya." Sambil menyusun buku pelajaran yang semula terjejer di meja, aku bangkit dari kursi. Nggak ketinggalan juga, kupasang ekspresi panik.
"Tapi, Bi,--"
"Maaf, Ndra, Ras. Tapi aku bener-bener harus pergi sekarang. Dah!"
Kubalikkan badan, lalu segera pergi dari tempat horror itu.
Sesekali kulihat ke arah mereka. Lega juga mereka percaya. Rupanya, bakat akting sisa masa lalu masih ada. Syukurlah.
.
"Aduh!!!"
Aku pernah dengar tentang karma yang kini datang lebih cepat. Tapi aku nggak nyangka bisa sekilat ini.
Atau mungkin ini yang dinamai kualat. Kebohonganku barusan di bayar tunai satu menit kemudian oleh Tuhan, dengan membiarkan tubuhku bertabrakan dengan siswa lain dan buku-buku yang kubawa jadi berserakan.
"Sorry, ya. Nggak sengaja."
"Iya, nggak apa-apa. Salah saya juga." Tanpa memandang wajah orang yang bertabrakan denganku barusan, aku memunguti barangku yang berserakan.
Dan anehnya, sampai aku selesai membereskan buku dan hendak berdiri, orang itu masih belum juga beranjak pergi.
Keanehan dan terjawab setelah dia berkata, "Hai jodoh."
Kudongakkan kepala, dan benar!!
Itu Faris.
"Ternyata kita benar berjodoh," katanya tersenyum sumringah.
Hah! Dia jadi berpikir kalau kami benar-benar berjodoh sekarang.
"Mm... Iya, jodoh buat ketemu lagi," kataku meluruskan.
"By the way, Lo abis dari mana? Kok buru-buru gitu? Sampe nggak perhatiin jalan?"
"Aku mau ke kelas, Ris. Ada tugas yang belum aku selesaikan."
"Oh, yaudah. Bareng, yuk?"
Bingung harus gimana sekarang. Bohong lagi? Nggak mungkin. Apapun alasannya, berbohong itu emang nggak baik. Dan pasti akan dapat balasannya, cepat atau lambat.
Dengan lumayan berat hati, kuiyakan ajakan Faris. Toh, cuma ke kelas, kan?
**
Ini salah satu efek yang paling aku nggak suka kalau jalan berdua sama lawan jenis. Apalagi, ternyata Faris termasuk cowok idola para siswi di sekolah sini. Ya... Jadilah mereka kini kembali menatap sinis seperti hari-hari pertama aku masuk sekolah. Mungkin mereka menyangka aku ada hubungan spesial dengan Faris, dan menganggap aku adalah sosok yang telah menghancurkan harapan mereka untuk bisa menjadi kekasih hati Faris.
Wajar sih, mereka mengidolakan Faris. Selain ganteng dan berbadan atletis, dia juga pribadi yang ramah dan rendah hati. Nggak sombong dan sok gentengan kayak anak-anak kota kebanyakan.
"Woooyy!!!"
Aku terlonjak kaget begitu meja di depanku digebrak keras-keras.
"Sumpah, Lo beruntung banget bisa jalan berduaan sama Faris. Do'i bahkan mau bawain buku-buku Lo itu. Aduuh, Bi... Gue saranin, mulai sekarang Lo kudu hati-hati!"
Tanpa tedeng aling-aling, tanpa rasa bersalah, dan tanpa mempedulikan aku yang kurang nyaman dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu, Mia berceloteh panjang lebar dengan suara cempreng yang memekakkan telinga, khasnya.
Kuusap bergantian daun telinga yang terasa pengang. "Hati-hati apa sih, Mia?"
Memang, aku sudah mulai terbiasa dengan hadirnya Mia yang cerewet dengan suara cempreng bernada delapan oktaf itu. Tapi tetap saja, indera pendengarku masih terlalu peka untuk bisa beradaptasi dengannya.
"Lo nggak liat siswi cewek pada liatin Lo semua dari tadi?" Dengan gayanya yang berlebihan dan sok mendramatisir keadaan, siswi yang menjadi salah satu anggota cheers itu mendekatkan bibirnya pada telingaku, "Mereka benar-benar anggap Lo saingan terbesar yang harus segera mereka singkirin, sekarang!"
Alih-alih takut, atau setidaknya bergidik ngeri, aku justru tertawa terbahak-bahak mendengar bisikannya -yang mirip bisikan setan- itu.
Bukan karena aku merasa di atas angin karena telah dicemburui hampir seluruh siswi di sini. Tapi karena kesalahpahaman mereka yang terlalu cepat menyimpulkan suatu hal tanpa di cari tahu dulu kebenarannya. Bahkan sampai nekat melakukan sesuatu yang membahayakan, kalau yang Mia bilang itu benar.
Sekolah ini benar-benar lucu. Segala hal dianggap saingan. Nilai mata pelajaran, gelar ketua, anggota resmi tim basket, sampai sesama murid pun, jadi bahan perebutan.
Tabahkan hatiku, Tuhan.
Masih ada satu tahun lagi aku di sini.