"Rahasia adalah tembok penghalang bagi sebuah hubungan.
Sedang kebohongan, ia ibarat bom waktu yang siap meruntuhkan segalanya suatu saat, sebelum kau menyadarinya."
________________________
INDRA
Manusia memang makhluk paling sempurna yang di ciptakan Tuhan. Dia memiliki napsu, akal, juga hati yang mampu bekerja sesuai porsinya. Nggak kayak binatang yang hanya mengandalkan naluri. Asal masih bisa makan, maka semuanya akan baik-baik saja.
Tapi nggak buat manusia. Hati memang diciptakan agar manusia bisa saling memahami dan mengerti perasaan sesamanya. Sedang akal, agar mereka bisa berpikir, mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan.
Tapi juga ada napsu. Terkadang, napsu yang nggak terkendali bisa menghancurkan si pemilik itu sendiri. Menjadikannya ego yang tinggi. Nggak pernah merasa puas atas apa yang dimiliki.
Hmmm... Egois??
Apakah, aku?
Semenjak pesta kejutan untuk Rasti beberapa hari lalu, entah kenapa aku jadi segan buat ngobrol atau sekedar say hay sama Bintang. Bukan karena Rasti melarangnya.
Tapi entah, aku justru merasa malu pada Bintang. Dia sudah susah payah membantu agar Rasti memaafkanku, dan aku nggak mau semua yang dia lakukan itu sia-sia. Dengan aku yang terus mendekatinya, bukan nggak mungkin Rasti akan salah paham lagi. Dan Bintang, pasti akan kecewa atas semuanya.
Walaupun memang terasa ada yang kurang, tapi menjaga jarak dengan Bintang sudah jadi keputusanku.
Dan semoga itu yang terbaik.
.
"Mungkin kamu perlu refreshing, Ris."
Secara spontan, aku langsung menoleh ke arah suara.
Dengan ekspresi wajah yang sumringah dan diselingi tawa, kulihat di depan pintu kelas, Bintang sedang asyik berbincang dengan murid cowok yang... Faris?!!
"Iya, Lo bener, Bi. Gue emang udah capek banget gara-gara pertandingan basket kemarin. Pengen rasanya bolos sekolah dan lari ke Bandung."
Dengan ekspresi yang sama, Faris menyahut ucapan Bintang.
But, wait. Sejak kapan mereka jadi akrab begitu?
Seketika kurasakan hawa di kelas ini jadi terasa panas, padahal jendela kelas hampir semuanya sudah terbuka.
Dan tangan ini, sejak kapan keduanya mulai terkepal?
Tanpa kusadari, kaki ini sudah melangkah menuju pintu keluar. Kurasa dia yang paling tahu, kalau mata ini perlu berganti pemandangan yang lebih segar.
"Awas, Gue mau lewat!" kataku saat melewati mereka, dengan tangan kanan menyingkirkan tubuh Faris yang berdiri di hadapan Bintang. Menjarakkan mereka.
"Eh, apaan sih Lo, Ndra?!" sentaknya nggak terima.
Tapi aku nggak peduli dan terus berjalan mengabaikan teriakannya.
'Rasain!'
Aku nggak habis pikir, gimana mungkin seorang Bintang bisa deket sama cowok yang nggak sekelas sama dia. Dari mana mereka bisa saling kenal? Bukannya Bintang bukan sosok yang terbuka dan mudah bergaul? Dan lagi, kenapa Faris?!
Lalu, kenapa lorong kelas yang biasanya ramai angin ini jadi terasa begitu pengap nggak berudara?!
"Aahh!!" Kupukul sembarang para angin yang turut bersekongkol menghilang dan mengambil andil atas ke-sumpek-an hatiku saat ini.
"Kenapa sih, Yank? Kok kayak orang kebakaran jenggot, gitu?" Tanpa kusadari, Rasti sudah berjalan sejajar di sebelahku. Kemudian memeluk lengan kananku.
"Mmm... Nggak apa-apa, Ras. Cuma lagi kesel aja," kataku sambil tersenyum. Nggak mungkin kan, aku merengut di depan gadisku?
Rasti mengangguk, "kesel kenapa?"
"Kesel. Tugas banyak. He..hee...." jawabku sekenanya.
"Semangaat, dong!" Rasti mengacungkan tangan kanannya yang terkepal.
Aku ingin sekali membalas ucapan Rasti dengan semangat serupa. Tapi sayangnya nggak, yang terjadi justru hanya senyum sekilas yang kuberikan.
Sebenarnya aku rindu. Bagaimana aku dan Rasti dulu saling menyemangati. Bagaimana kami selalu berbagi kebahagiaan, berbagi semua masalah, sehingga di antara kami nggak ada rahasia dan nggak ada yang ditutup-tutupi.
Tapi sekarang, setelah mengenal Bintang, semuanya mendadak berubah.
Benar kata orang, bahwa rahasia adalah tembok penghalang bagi sebuah hubungan.
Aku dekat dengan Rasti, seperti biasa. Tapi bagiku, di antara kami ada jarak yang nyata.
Jarak yang entah apa dan bagaimana dia bisa berada di sana.
Yang kutahu, aku hanya ingin dekat dengan Bintang tanpa membuat Rasti tersakiti, itu saja.
***
Apa fatamorgana yang kulihat ini, sebuah bintang yang bersinar di siang terang?
Dia selalu cantik, apapun yang dikenakan dan yang dia lakukan.
Bulir-bulir keringat yang mengalir di pelipis, juga jilbab putih yang tersibak sampai menutupi sebagian wajah, membuat kecantikannya terlihat lebih sempurna.
Sesekali tawa renyahnya mengudara, begitu shooting yang dia lakukan nggak mengenai sasaran.
Seperti ini sudah cukup bagiku. Meskipun dari jauh, asal masih bisa melihat senyumnya, aku sudah cukup bahagia.
Tapi kebahagiaan itu mendadak hilang, saat cowok nggak tau diri itu datang dan merayu Bintangku.
Sialan!!
Nggak mau kalah langkah, segera kuhampiri mereka. Kutarik tangan Bintang, dan membawanya pergi menjauhinya.
"Apaan, sih?! Lepas!!" Bintang melepas paksa pergelangan yang kugenggam erat.
"Aku nggak suka ya, kamu deket-deket sama cowok itu?!" Tanpa terkendali, emosiku meledak begitu saja melihat kedekatan mereka. Apalagi, Bintang nampak nyaman didekati Faris.
Dan rasa bersalah mulai menggerogoti hati begitu kulihat merah matanya.
"Kamu teh siapa?! Berani ngatur-ngatur aku kayak gini?! Aku mau deket sama siapa, itu bukan urusan kamu!" Sambil berteriak, dengan satu tangannya memegangi lengan lain yang tadi ku genggam, dua titik bening mengalir dari sudut matanya.
Apa aku terlalu keras membentaknya? Atau aku terlalu kuat mencengkeram tangannya, sampai ia merasa tersakiti?
"Bintang, maaf."
Sayangnya, perminta maafanku ditampik begitu saja. Dan justru dibalas dengan acungan jari telunjuk, juga tatapan yang sulit kuartikan.
"Aku bukan siapa-siapanya kamu. Jadi berhenti mengatur hidupku. Ngerti!!" tegasnya lalu pergi.
"Aku pikir kita sahabat," kataku setengah berteriak. Dan mampu membuatnya menghentikan langkah.
Ingin aku mengatakan apa yang sebenarnya kurasakan. Tapi lidahku kelu untuk menyampaikan yang sebenarnya bahwa aku, cemburu. Hanya 'sahabat', yang bisa kujadikan alasan saat ini.
"Aku pikir kita sahabat. Yang bisa mengerti satu sama lain. Yang selalu saling mengingatkan." Kujeda kalimat, demi mencari tahu reaksinya. Sayangnya dia tetap membisu, bahkan masih enggan untuk sekedar menoleh ke arahku.
"Karena aku udah anggap kamu sahabatku. Makanya aku berani memintamu buat menjauhi Faris. Dia nggak baik buat kamu. Percayalah."
Kini aku sadar.
Siapapun namanya, wanita tetaplah wanita. Yang terlalu gengsi untuk menerima fakta yang nyata. Yang angkuh dan sulit untuk memaafkan. Yang keras kepala dan sangaatt menyebalkan. Dan yang suka sekali meninggalkan aku yang sedang memberikan penjelasan.
Aahhh!!!
***
"Sumpek banget gue di kelas."
"Sama. Makanya gue lari ke sini."
"Iyalah, Men. Ngapain lo susah susah belajar. Bokap lo kan tajir. Semua yang lo inginkan, pasti bakalan terpenuhi tanpa lo repot-repot kerja. Iya, kan?"
Niat hati mau mengejar Bintang yang berlari meninggalkanku. Tapi mendadak langkahku terhenti begitu mendengar kebisingan di dalam gudang tak terpakai yang kulewati.
Nggak kuat lagi menahan rasa penasaran, kucoba mencari tahu siapa yang di dalam dengan mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka.
Kulihat tiga siswa dengan seragam yang lumayan berantakan, asik bercengkramah dengan masing-masing dari mereka memegang sebotol minuman keras.
"Dasar berandal!!" gerutuku dalam hati.
Trio semelekete itu emang nggak pernah berhenti cari perkara di sekolah. Nggak pernah sedikitpun merasa bersyukur atas segala kecukupan yang di berikan Tuhan padanya. Nggak pernah berpikir kalau di luaran sana, masih banyak yang ingin bersekolah seperti mereka. Tapi mereka apa? Bisanya cuma buang buang kesempatan yang orang lain dambakan.
Jijik rasanya melihat kelakuan berandal mereka di sekolah. Tempat yang seharusnya menjadikan mereka berkepribadian lebih baik, berakhlak mulia, dan berguna bagi bangsa. Bukan hanya jadi sampah masyarakat yang bisanya cuma foya-foya.
Dan anehnya, dari sekian banyak guru dan pengawas, bagaimana bisa satupun dari mereka yang nggak mengetahui kelakuan tercela tiga berandal ini?! Sedangkan, ini menyangkut harga diri dan nama baik sekolah juga.
Amarahku kian memuncak begitu aku menyadari ada banyak sekali serbuk putih berbungkus plastik bening, juga puluhan butir pil yang aku yakini itu adalah jenis obat terlarang.
"Mereka harus di laporin ke Kepala Sekolah!" bisikku sambil berlari menjauh.
Gubrakk!!
"Sial!!"
Saking terburu-burunya, kaki kananku menyenggol tong besi tempat sampah yang ada di samping pintu. Dan mungkin kecerobohanku itu berhasil menyita perhatian mereka.
"Wooy!! Siapa di sana?!"
Benarkan?! Mampuss lo, Ndra!!