"Lalu aku bisa apa, bila benar hanya binar itu yang bisa membuatku bersinar?
Lalu aku harus apa, bila nyatanya kita berada pada dua sudut yang berbeda?"
INDRA
_____________
Sebenarnya, ini adalah momen yang selalu kutunggu-tunggu. Dimana aku bisa berdua, hanya berdua dengan Bintang. Tanpa Rasti tau, dan tanpa ada satu orangpun yang tau.
Sayangnya, yang kuharapkan bukan dengan keadaan seperti ini. Bukan dengan kami yang terpaksa bersembunyi di antara kolong-kolong meja, untuk menghindari kejaran tiga berandal tadi.
"Kenapa kamu menarik aku tadi?" tanyaku dengan merendahkan nada suara, serendah-rendahnya.
Satu, dua, sampai lima detik kutunggu, dia tak kunjung menjawab. Terpaksa aku kembali bertanya dengan suara lebih tinggi.
"Kenapa kamu tarik aku tadi, Bi?"
"Sssttt!! Jangan berisik bisa, nggak?! Nanti mereka dengar!"
Oke, Ndra. Lebih baik lo diem. She's not in a goodmood, anyway.
Kulihat dari bawah meja, dua pasang kaki membuka pintu dan mulai memasuki ruang laboratorium tempat kami berada.
Mendadak aku mulai khawatir mereka menemukan kami, begitu melihat raut wajah Bintang yang terlihat ketakutan.
Seperti akan ada hal fatal yang mengerikan yang terjadi kalau mereka sampai berhasil menemukan kami.
Apa ada sesuatu yang Bintang ketahui tentang mereka? Apa mungkin, Bintang sudah lebih dulu tahu tentang mereka yang mengkonsumsi n*****a?
Apakah iya, Bintang tau rahasia mereka?
Berarti, itu juga yang menjadi alasan kenapa Bintang memutuskan untuk menyelamatkan aku dari kejaran mereka, meski sebelumnya hubungan kami lagi nggak baik.
Dan itu juga berarti, Bintang masih peduli pada keselamatanku. Dia peduli padaku.
Hhah, mendadak jantungku bedetak lebih kencang dari biasanya. Seakan ingin keluar dari sarangnya, mengetahui kepedulian Bintang yang besar terhadapku.
"Hey cowok rese'! Keluar nggak, lo!! Gue tau lo ngumpet di sini, kan?" Teriak salah satu di antara mereka sambil menggebrak meja yang berada persis di depan meja tempat Bintang bersembunyi.
Sedikit gemetar, Bintang menunduk dan menyembunyikan wajah di antara kedua kakinya.
"Bintang." Kulambaikan tangan ke arahnya.
Begitu dia menoleh, kuacungkan jari telunjuk ke arahnya lalu menunjuk ke dadaku. Sebagai isyarat bahwa aku menginstruksikannya agar mengikutiku dari belakang.
Rasanya aku seperti sedang berada dalam labirin yang menyesatkan. Berputar-putar dari satu kolong ke kolong yang lain demi mencari satu jalan, menuju pintu kebebasan.
Lima menit, enam menit, sepuluh menit berlalu, tapi tidak ada gelagat mereka mencari kami. Aku curiga, ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan. Tapi apa?
Aku sedang merangkak pelan coba mencari tahu, saat kudengar mereka berdiskusi.
"Gimana, Za? kita mau terus cari cowo' itu?" Seseorang bersepatu hitam dengan dua garis putih di tiap sisinya itu berkomentar.
Yang dipanggil Za tadi menjawab, "kayaknya nggak usah di lanjutin, deh. Kita udah kelamaan cabut dari kelas. Ntar malah tambah repot urusannya."
"Oke deh, kita cabut aja. Kita bisa cari dia di lain waktu. Yuk, Guys. Cabut."
Yang lainnya mengiyakan.
Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan.
Aku lega mereka tidak memburu kami lagi, tapi ini terlalu mencurigakan. Bagaimana bisa mereka dengan mudah melepaskan buruannya? Bukannya tadi mereka terlihat menggebu-gebu mengejarku?
Aah, belum sempat rasa penasaran terjawab, Bintang yang berusaha keluar dari tempat persembunyiannya tak sengaja membentur meja hingga menimbulkan derak yang cukup keras.
Tapi bukan itu yang kukhawatirkan. Melainkan tabung reaksi berisi cairan kimia yang terjatuh akibat hilangnya keseimbangan.
Bersyukur, tumpahan cairan itu tidak mengenai Bintangku.
"Ayo, aku bantu." Kuulurkan tangan ke arahnya.
Beberapa detik menimang, akhirnya ia mau menerima bantuanku meski kulihat masih ada sedikit keraguan di matanya. Mata cokelat pekat yang indah, yang selalu menampakkan kejujuran, yang selalu membawaku tersesat di dalamnya.
Aastaga, Indra!!
Segera kupalingkan pandangan. Selalu begini. Setiap pandangan kami bertemu, berada dalam satu garis lurus, aku selalu kehilangan diriku. Seolah di dunia ini, yang aku butuhkan hanya dia.
Kufokuskan kembali fikiran yang sempat tercerai berai akibat tatapan memabukkan tadi, berjalan menuju pintu keluar. Aku harus membawa Bintang keluar dari sini, sebelum ada yang melihat. Atau akan terjadi fitnah.
Lagi pula, tidak baik seorang lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya berada dalam satu ruangan yang sama, hanya berdua.
Yah, walaupun bukan anak baik, setidaknya aku tidak akan melupakan nasihat-nasihat yang mama ajarkan pada anak-anaknya dulu.
Kirrkk...kirrkkk....
Pintu terkunci.
"Indra.... Uhukk... Uhukk..." Suara Bintang yang sedikit serak mengalihkan perhatianku.
Astaga!!!
Asap mengepul hampir memenuhi ruangan. Sementara Bintang, kulihat mulai tak bisa bernapas dengan nyaman.
Kucoba lebih keras lagi membuka pintu. Memainkan gagang pintu yang terbuat dari besi stainless.
Nihil!!
"Uhukk...uhukk...."
Rasa panik semakin menyerangku setelah beberapa kali kudengar Bintang terbatuk-batuk.
Kugunakan bahu kanan untuk mendobrak. Rasa nyeri seketika bergelenyar ke seluruh tubuh. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus membawa Bintang keluar dari sini!
"Bukaaa!!!"
Dua, tiga, empat kali. Hantaman bahuku nyatanya masih belum bisa membuat pintu terbuka.
"Indra...." Suaranya begitu lirih, namun cukup kuat untuk membuat semua fokusku beralih padanya.
Kulihat Bintang tergeletak tak sadarkan diri. Tak terasa lagi nyeri di bahu, juga sesak yang menyerang organ pernapasan. Yang ada hanya rasa sakit, melihat Bintangku tergeletak tak berdaya.
"Aargghhh..!!!" Nyaris putus asa, kutendang pintu berkali-kali. Berharap, setelahnya akan terbuka.
Sayangnya, semua yang kulakukan hanyalah sia-sia.
Kuhampiri Bintang yang tergeletak dua meter dari tempatku berdiri semula.
Wajahnya pucat. Dan entah bagaimana, air mataku menetes jatuh membasahi wajahnya yang kini terlihat pucat, bersamaan dengan keringat dingin yang mengalir di pelipis.
Rasa takut menyergapku, mencekik hingga rasanya aku tak akan bisa hidup bila sesuatu terjadi pada Bintang.
"Bintang, bangun," lirihku seraya mengusap lembut pipinya. Begitu dingin.
Aku tidak tahu apakah yang akan ku lakukan ini benar atau salah, yang aku tau aku tidak ingin melihat Bintang menderita. Dan aku tidak akan sanggup bila harus kehilangan dia.
Kutekan kedua pipi Bintang menggunakan jemari tangan sehingga bibirnya mengerucut dan mulut sedikit terbuka.
Mungkin dia akan membenciku seumur hidupnya begitu mengetahui perbuatanku, tapi ini demi dia. Demi binar tulus yang selalu ingin kulihat dari matanya.
Jarak kami begitu dekat, aku bisa dengan jelas menghirup aroma tubuhnya. Bau shampoo, juga baby soap yang ia kenakan.
Menarik sebagian dari diriku untuk mendekat, melakukan sesuatu lebih dari ini.
Aah!! Tidak Indra!!
Jangan turuti iblis dalam dirimu.
Lakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawa Bintang, bukan untuk memenuhi nafsumu!!
Sisi baikku mengingatkan.
Bibirku telah menyentuh permukaan bibirnya saat tiba-tiba blitz camera berkali-kali menyilaukan retina mataku.
Kualihkan pandangan. Di sana, di depan pintu -yang entah sejak kapan terbuka- itu siswa-siswi berkerumun, menjadikan kami pusat perhatian. Seolah olah aku dan Bintang sedang melakukan adegan penting yang sangat di sayangkan bila harus mereka lewatkan.
Oh my Lord. Help me, please.
***
Aku tidak tahu harus berkata apa sekarang. Tatapannya kosong sejak keluar dari ruang kepala sekolah.
Dia berada dalam jangkauan mata, tapi seakan ada tembok yang menghalangi kami.
Di lorong lorong kelas yang kami lewati, semua menjadikan kami pusat perhatian.
Beberapa dari mereka menatap seolah olah kami adalah sampah. Menjijikan.
Aku tidak pernah mempermasalahkan tatapan mereka padaku. Tentang pamor dan image-ku di mata mereka.
Tapi Bintang?
Dia tidak pantas mendapatkan semua penghinaan ini. Dia tidak bersalah.
Langkahku terhenti karena tiga langkah di depanku Bintang juga berhenti. Kulihat segerombol sisiwi menahannya.
"Dasar cewek nggak tau diri." Itu Alika, cewek ganjen dari kelas IPS II yang juga leader cheers. Sejak kelas X, beberapa kali dia mendekati dan mencoba merayuku. Tapi sayangnya, sikap centil, manja, dan sok itu bukan tipe gadisku.
"Lo nggak pantes masuk sekolah sini, tau, nggak?!"
"Balik sana ke kampung! Dasar udik!!"
Sebenarnya terbuat dari apa hati Bintang ini? Bagaimana dia bisa tabah menghadapi cacian dari banyak orang atas dosa yang tidak pernah dia lakukan?
"Hei!! Jaga mulut kalian!!"
Rasanya amarahku sudah mencuat naik ke ubun-ubun melihat mereka menyudutkan Bintang. Tanganku sudah gatal sekali ingin melakban atau kalau itu belum setimpal, mengunci pergelangan tangan mereka dan memelintirnya ke belakang. Agar tidak ada lagi kata k********r yang menyakitkan, melainkan hanya rintih kesakitan yang keluar dari mulut mereka.
Tapi begitu melihat ketenangan di wajah Bintang, juga tatapan yang mengirim berjuta ketenangan itu seakan berisyarat bahwa ia baik-baik saja.
Baiklah, aku akan berusaha menahan diri untuk tidak mencakar-cakar wajah sombong mereka demi kamu, Bintang.
"Maaf."
Setelah mendapat banyak makian, hanya kata itu yang keluar dari bibirnya juga kepala tertunduk.
"Lepas benda ini dari kepala lo!! Cewek sok suci!!"
Dan aku tidak bisa menahan diri begitu melihat Alika berteriak sambil menarik paksa jilbab putih yang Bintang kenakan. Juga Bintang yang terisak dalam diamnya.
"Berhenti. Dan jangan ngomong apa apa lagi, atau gue akan kasih pelajaran yang nggak akan pernah lo bayangin sebelumnya. Ngerti!!" Ancaman ini bukan main-main. Belum pernah aku bisa semarah ini, apapun kondisinya. Dan kurasa, ancaman juga tatapan tajamku berhasil membunuh nyali mereka.
Kugenggam dan menarik Bintang dari kerumunan. Membawanya pergi, kemanapun. Asal dia baik-baik saja.
***
"Lepasin tanganku."
Aku menurut.
Untuk pertama kali dalam hidup, aku merasa menjadi cowok nggak berguna melihat Bintang menderita.
"Maaf. Ini salahku. Aku nggak bermaksud membuatmu dalam masalah. Aku cuma nggak bisa liat kamu menderita. Aku-"
"Stop."
Bintang menghentikan penjelasanku. Tapi dia harus mengerti.
"Bintang."
"Berhenti dan jangan gangu aku lagi."
Dia bahkan enggan untuk menatapku.
"Bintang, tolong. Kamu jangan-"
"Pergi!!!"
Hari ini, entah sudah berapa ribuan kali aku melihat air matanya menetes. Dan semua itu, karena aku.
Aku. Kesalahanku.
Tuhan, perasaan macam apa ini?
Melihatnya terluka, kenapa bisa sememilukan ini?