Author PoV.
.
Gadis itu tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang. Ada yang menusuk begitu dalam, begitu perih dan menyayat. Hati kecilnya meminta untuk pulang dan memeluk ibu, karena yang ia tahu, dalam segala suasana hanya pelukan dan belaian lembut ibu yang mampu menenangkan. Tapi, tulang-tulang dalam tubuh seakan enggan untuk berkompromi. Semua sendi gerak mendadak macet, layaknya besi berkarat. Tak berfungsi.
Mereka -tulang-tulang dan seluruh syaraf- lebih mematuhi apa yang otak katakan.
Mereka belum siap menghadapi kemarahan ayah, belum siap melihat kekecewaan di raut wajahnya, belum siap menatap luka yang semakin menganga di mata ayah. Dia belum siap. Dan tidak akan pernah siap.
Di antara dedaunan yang jatuh tertiup angin, Bintang pun turut luruh ke tanah karena kaki kokoh yang sedari dulu ia banggakan kini tak mampu lagi menopang tubuhnya. Rasa bersalah lah yang menguras habis seluruh tenaganya. Yang ada hanya rasa takut. Takut. Takut.
Dia telah melanggar janjinya sendiri. Janji untuk menjaga diri dari sentuhan tangan lelaki. Tapi hari ini, apa yang ia dapat?? Seseorang telah merampas ciuman pertamanya.
"Ayah...." Lirihnya sarat luka.
Kepalanya tengah tertunduk, menyembunyikan wajahnya di antara jilbab putih yang menjuntai, saat seseorang menyentuh bahunya.
Bintang segera mendongak, demi mencari tahu siapa yang kini ada di sisi dan memayungi dirinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Suaranya lembut, disertai senyuman yang menenangkan.
"Tt-tidak ada, Ayah. Bila c-cuma..." Bibirnya bergetar menahan rasa bersalah yang kian memenuhi rongga d**a. Membuat paru-parunya kesulitan memasok oksigen.
"Dasar, Bocah. Kamu masih saja suka bermain hujan-hujanan." Tangan kokohnya terulur mengarah ke puncak kepala gadis di depannya, lalu mengusapnya pelan. Begitu menenangkan.
"Lihat, mata memerah, bibir pucat, tubuh bergetar. Ck. Kamu itu sudah gadis sekarang. Berhenti bersikap kekanakan dan membuat dirimu seperti monster kayak gini." Lalu lelaki itu menyunggingkan senyum. Membuatnya nampak bersahaja.
'Ini adalah kalimat terpanjang yang ayah ucapkan semenjak kepergian kak Tiara.' Desahnya merasa bahagia.
Bibirnya terbuka namun tidak ada satu katapun yang mampu ia lontarkan. Ia hanya terfokus pada wajah sang ayah yang terasa lebih hidup. Ya, selama ini semenjak kematian putri sulungnya, ayah menutup diri dari kebahagiaan. Merasa gagal menjadi seorang kepala rumah tangga. Gagal menjadi pemimpin untuk istri dan anak-anaknya. Gagal dalam segala hal.
Dan itu yang membuatnya terpuruk, hingga lupa bahwa masih ada putri dan istri yang membutuhkan perhatian juga kasihsayang darinya.
"Ayo kita pulang," ajak pria paruh baya itu bersemangat.
"Tapi, Yah."
"Aah, apa kamu mau kita jalan-jalan dulu? Sudah lama kita nggak ngabisin waktu berdua." Riswan menggenggam erat tangan putri bungsunya. Dan lagi lagi, ia membiarkan senyum yang mengandung glukosa itu menghiasi wajah keriputnya.
Dan Bintang hanya merespon dengan satu anggukan kecil. Dengan ekspresi aneh, seolah masih belum mempercayai apa yang sedang terjadi.
"Ayo kita berangkat," serunya lalu berjalan sambil menggandeng Bintang dengan posesif, seolah Bintang adalah gadis kecil berumur tiga tahun, dan akan tersesat bila ia melepas genggamannya.
Sedang gadis remaja itu hanya terdiam sambil memerhatikan wajah sang ayah, kadang beralih pada genggaman tangan yang menyalurkan energi positif dalam tubuhnya, lalu kembali menatap wajah pria yang amat di sayanginya.
'Apa yang membuat ayah berubah?'
Aah, Bintang bodoh!!
Apapun yang telah mengembalikan keceriaan sang ayah, harusnya tidak menjadi masalah untukmu. Karena yang terpenting saat ini adalah, ayah telah kembali menjadi manusia yang beremosi. Bukankah ini yang selalu jadi satu bagian penting di setiap do'amu?
Ingatkan salah satu sel otak Bintang.
***
Udara terasa begitu sejuk. Beberapa tetes air sisa hujan siang tadi masih bergelayut pada dahan-dahan pohon. Di bawah pohon Jepun, sepasang ayah dan anak tengah asyik menikmati cokelat hangat sambil sesekali terdengar tawa.
"Ayah kangen kita ngobrol berdua begini." Riswan menatap wajah sang putri yang kini balas menatapnya. Di sana, pada sorot mata pria tambun itu seakan ada ribuan luka, yang sayangnya tak bisa ia bagikan pada siapapun. Termasuk putrinya.
"Kita bisa kayak gini terus tiap hari, Yah. Sama Ibu juga pastinya," jawab Bintang dengan senyum sederhana namun mampu membuat pandangan Riswan menghangat, bukan tatapan dingin dan membuat tembok pemisah antara dia dan Bintang lagi. Sekarang, perlahan tembok itu telah lumer oleh kehangatan-kehangatan yang di tiupkan Bintang.
"Maafin Ayah selama ini cuekin kalian. Ayah cuma, cuma--"
"Ssstt... Ayah nggak usah bilang apa-apa lagi. Kita begini aja, udah cukup buat Bila bahagia," sergah Bintang lalu memeluk lengan Riswan.
Gadis itu tahu kemana arah pembicaraan ayahnya. Sebab dari itu ia memutuskan untuk memotong kalimatnya. Memang tidak ada yang perlu dimaafkan.
Bintang cukup mengerti betapa sulitnya situasi yang sang ayah hadapi. Kehilangan putri sulung yang memilih bunuh diri karena tak sanggup menerima kenyataan dan terlalu takut untuk mengatakan pada siapapun tentang keadaannya yang hamil di luar nikah.
"Kakak kamu saat itu pasti sangat tertekan. Dia menyimpan semuanya sendiri. Kasihan dia."
Tangan Riswan dengan lembut mengusap puncak kepala sang putri. Seolah-olah dengan begitu, luka hatinya akan sedikit mereda.
Bintang mendongakkan kepala, menatapi guratan-guratan yang kian menumpuk di wajah Riswan.
"Tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas,... Dua puluh satu, dua puluh dua. Whoooaaa!! Ya Ampun!!"
Riswan berjengit heran melihat tingkah putrinya yang begitu semangat menghitung entah apa sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.
"Ada dua puluh dua, Ayah!" Bintang mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah di tangan kanan juga di tangan kirinya. "Dan akan Bila pastikan jumlahnya pasti akan nambah lagi kalo Ayah masih saja berpikir keras begini!!"
Riswan menaikkan satu alisnya, ekspresi itu seolanh berkata, 'apa yang kamu bicarakan, Bintang?'
"Ini." Kali ini telunjuk Bintang menyentuh kening ayahnya.
"Jangan berpikir seperti itu lagi. Atau kerutan di wajah Ayah semakin bertambah. Dan Ibu, mmm... memangnya masih suka sama pria yang keriput? Bila rasa, pria botak dengan keriput memenuhi wajah bukan tipe Ibu Ayumi, deh."
Ocehan Bintang yang absurd benar-benar ampuh menciptakan lengkungan senyum Riswan.
Dengan penuh kasih sayang, Riswan membawa Bintang dalam pelukannya. Hari ini dia begitu beruntung. Setelah siang tadi mengikuti sholat Jum'at di masjid dekat kantor, lalu khutbah yang menyadarkannya bahwa hidup harus terus berjalan, bahwa dia sebagai manusia harusnya mampu menerima segala ketetapan-ketetapan-Nya tanpa tapi. Hanya perlu ikhlas, menerima semuanya.
Sekarang, dalam pelukannya ada satu putri lagi yang menjadi tanggung jawabnya. Memberikan kehidupan yang terbaik, dan memilihkan calon
suami yang terbaik untuknya.
Hh, Suami?
Riswan menggeleng kecil. Tidak setuju dengan salah satu sel otaknya yang berbicara nyeleneh. Bintang baru kelas dua sekolah menengah atas, dan dia sudah berpikir tentang calon suaminya? Ck. Benar benar otak sembrono!
Berbeda dengan sang ayah yang masih geli dengan pemikiran anehnya, Bintang justru tengah menikmati ketenangan dalam pelukan Riswan. Untuk sejenak, dia bahkan melupakan kesedihan tentangnya yang harus mendapatkan skorsing akibat insiden di laboratorium sekolah pagi tadi.
***
Dari ruang tamu, menuju pintu keluar. Memutar gagang, ragu. Kembali lagi ke ruang tamu. Mengetuk-ketukkan jemari di atas sofa. Lalu berjalan lagi ke arah pintu. Belum sampai, dia kembali lagi.
Aaarghh!!
Sang kakak yang tidak tahan melihat tingkah konyol adiknya sejak sore tadi akhirnya menginterupsi langkah Indra.
"Bisa nggak, jangan ngerusak pemandangan? Kalo mau muter-muter, di sono noh. Di stadion GBK. Lebih lega."
"Apaan sih Lo, Bang!" jawab Indra ketus. Lalu melanjutkan agenda mondar-mandirnya.
Sebenernya masih banyak cibiran-cibiran yang ingin Rifa'i lemparkan untuk Indra. Tapi, melihat raut adiknya yang 'lumayan' tegang, Pria mapan tapi masih setia dengan kejombloannya itu mengurungkan niat.
"Ada masalah apa si, Ndra?"
"Nah. Gini, Bang." Indra begitu antusias, kemudian menempatkan diri duduk di sofa ruang tamu. Persis di depan Abangnya.
Rifa'i berjengit heran. Diam-diam dalam hatinya, tanpa sepengetahuan Indra, Fa'i berdo'a semoga Tuhan menguatkan hati dan otanya dalam menghadapi kelakuan absurd adik semata wayangnya ini.