"Orang bilang, cinta tak pernah salah. Nyatanya, cinta mampu membuat seseorang berbuat gegabah.
Cinta tak ubahnya penyakit kronis yang akan menggerogoti tiaptiap kewarasan dalam dirimu."
_________________________________
Author PoV.
Bintang di langit malam ini sepertinya enggan untuk menampakkan diri, mereka lebih memilih menyembunyikan gemilangnya di sebalik awan. Tapi tidak dengan Bintang Larasati. Hari ini senyumnya justru lebih sering mengembang ketimbang hari hari biasanya.
Bukan karena berbagai jenis makanan yang tersuguh di atas meja. Memang, sepulang dari taman sore tadi, Bintang langsung bergelut di dapur bersama Ibunda tercinta. Memasak beberapa menu kesukaan untuk merayakan hari bahagia ini.
Tapi bukan karena udang telur asin kesukaannya, Bintang terus mengulum senyum. Melainkan karena keadaan keluarganya yang telah kembali berwarna. Dalam hati, tak henti-henti Bintang mengucap syukur atas kebaikan Tuhan yang mau mengabulkan do'a-do'anya.
"Kalau kalian masih senyam-senyum nggak jelas dan nggak ikut makan, ayah pastiin besok ayah nggak mau makan malam di rumah lagi," gerutu Riswan sambil mengacung-acungkan sendok ke wajah putrinya.
Bintang yang sedari tadi asyik memerhatikan sang ayah, buru-buru mengisi piring kosong di hadapannya. Wajahnya tertunduk menyembunyikan senyum. Entah kenapa, ancaman Riswan terdengar seperti bocah kecil yang merajuk dan mengancam tidak mau berangkat sekolah kalau tidak dibelikan es krim. Benar-benar menggelikan.
"Hari ini ayah senang, bisa meluangkan waktu buat makan malam bareng kalian." Ucapan Riswan terdengar tulus.
Bintang yang sudah bersiap membuka mulut hendak memasukkan suapan pertamanya terpaksa berhenti demi menanggapi kalimat ayahnya, begitu pun Ayumi.
"Ayah harus inget, apapun yang terjadi, ayah masih punya kita. Karena keluarga, adalah sebaik-baiknya tempat kembali."
Ayumi mengusap punggung tangan suaminya, menyalurkan sedikit semangat yang ia punya di sana.
Bintang mengangguk setuju, "Hu'um, Yah. Jangan sakiti diri sendiri dengan pikiran negatif. Kehilangan memang menyakitkan. Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Waktu sangat sombong. Sampai mau gimanapun kita memohon, denting nggak akan pernah berjalan mundur. Dan apa yang harus kita lakukan sekarang adalah mengikuti jalannya waktu. Melanjutkan sisa hidup yang kita miliki, dan melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahan di masa lalu."
Riswan tersenyum simpul mendengar penuturan putri bungsunya yang begitu menggebu-gebu.
"Waah, waahh... Putri bungsu Ibu udah pandai berorasi, yaa..." goda Ayumi.
Sadar tengah menjadi pusat perhatian kedua orangtuanya, gadis bertubuh mungil itu menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah. Saat sedang malu begini, kedua pipi chubbynya pasti memerah.
Yah, menutupi wajahnya yang mirip kepiting rebus itu dengan telapak tangan memang ide yang bagus. Sebelum sang Ibunda menyadari dan semakin menggodanya habis-habisan.
"Maafin ayah, ya, Bila. Maafin ayah, Bu."
Geram mendengar Riswan yang lagi-lagi mengucap kata maaf, Bintang akhirnya membuka wajahnya. Dilipatnya kedua tangan di d**a, lalu menatap Riswan sebal.
"Oke. Bila akan maafin ayah. Asal, ayah mau ikut main game sama Bila dan Ibu." Gadis itu tersenyum sambil melirik Ibunya.
Ayumi yang menangkap kode dari Bintang langsung menangguk setuju, meskipun belum tahu rencana apa yang sebenarnya akan dilakukan anak gadisnya.
Riswan yang menangkap kilat licik di wajah dua wanitanya itu langsung was-was. Dalam otaknya sekarang sedang sibuk memikirkan kemungkinan apa yang sedang mereka rencanakan untuknya.
***
"Yee, ayah kalah lagii...." seru Ayumi bersemangat. Kali ini giliran dia yang memilihkan hukuman apa yang pantas untuk suami tercintanya.
"Bila aja yang gambar, Bu!" Bintang tak kalah antusias.
Yang jadi target kini hanya bisa tertunduk pasrah. Tidak ada gunanya melawan dua wanita cantik di hadapannya itu. Terakhir kali ia coba mengelak dari hukuman, wich is beberapa menit yang lalu, Riswan malah harus menerima serangan gelitikan yang membabi buta dari Bintang.
"Sekarang apa lagi?" Itu terdengar bukan seperti pertanyaan, tapi lebih mirip dengusan pasrah dari seorang pesakitan yang siap menerima eksekusi.
Tak berniat menyahut pertanyaan Riswan, Bintang justru tertawa cekikikan melihat ulahnya yang begitu usil mengerjai ayah sendiri. Di sampingnya, Ayumi hanya bisa menggeleng dan tak hentinya mengulum senyum.
"Nah, sekarang ayah boleh ngaca." Disodorkannya cermin berbentuk oval dengan bingkai kayu yang penuh ukiran bunga.
"Ya Allah, Bintaaang...!"
Sambil menahan tawa, gadis itu bergegas lari menuju kamar sebelum teriakan sang ayah kembali mnggema dan merusak gendang telinganya.
***
Ya memang, mau semenyebalkan apapun tingkah seorang kakak, kehadirannya tetap membawa ketenangan. Bisa memberikan solusi yang terbaik di saat otak sudah tidak bisa di ajak berkompromi. Itulah yang dialami Indra kali ini. Setelah berjam-jam ia lewati dengan mondar mandir, hati gamang, dan perasaan gusar tak karuan, kali ini dengan mantap Indra berjalan ke luar rumah.
Dengan memakai kaos putih polos berbalut jaket baseball berwarna merah dengan dua garis putih di sisi kanan-kirinya, pemuda tampan itu pergi menuju rumah Bintang.
Hati yang sempat tenang, kini kembali terasa kacau tak karuan. Wajahnya mendadak menegang, Ia bahkan terpaksa menarik uluran tangan yang semula akan memencet bell, begitu ia mendengar teriakan dari dalam rumah Bintang.
"Aarrhhhh...!!" erang Indra merasa frustasi.
Kegalauannya bertambah berkali-kali lipat dari saat di rumah tadi.
Pikiran buruk memenuhi otaknya.
Apa yanh terjadi pada Bintang?
Apakah orangtuanya sudah tau tentang kejadian tadi siang di sekolah?
Apakah ayah Bintang sekarang sedang murka?
Rasa hati ingin sekali pergi dari sana. Tapi kedua kakinya seakan sudah berakar dalam menembus inti bumi, tak bisa digerakkan.
Juga suara dalam hati yang meneriakinya sebagai pecundang jika ia memilih untuk pergi, tidak berusaha memberikan penjelasan dan menyelamatkan gadis polos itu dari amukan sang ayah.
Indra sedang sibuk dengan kontroversi hatinya sendiri saat pintu tiba-tiba saja terbuka.
"Kamu, siapa?"
Seorang pria paruh baya dengan kumis tebal, alis tebal, juga muka yang merah padam, berdiri tegak menyambut kedatangan Indra.
Sontak bulu-bulu halus di sekitar tengkuknya meremang. Merinding melihat penampakan Riswan yang terlihat seperti sedang menahan amarah.
Ah, ya. Jangan lupakan fakta bahwa Riswan baru dipermak oleh Bintang menyerupai tokoh Pak Raden dalam serial Si Unyil. Membuat wajahnya tampak menyeramkan.
Wajar saja bila saat ini nyali Indra semakin menciut, kan?
"M-mm-malam, Om."
Indra tidak tahu, sejak kapan dirinya mengidap penyakit gagu. Yang ia tahu, melihat raut ayah Bintang yang datar tanpa ekspresi membuat dirinya kehilangan ribuan kosa kata yang selama ini ia kuasai.
Setelah berhasih mengendalikan diri, susah payah Indra kembali bersuara.
"Saya Indra, Om. Teman satu kelas Bintang."
"Oo... Jadi kamu yang,--"
Belum selesai Riswan bicara, dengan segala keberanian yang diberani-beranikan, Indra memotong,
"Saya minta maaf, Om. Ini salah saya, bukan salah Bintang. Dia nggak bersalah apa-apa, Om. Saya mohon. Jangan marahi Bintang lagi, Om. Dia anak yang baik. Dia juga murid teladan."
Indra menjeda sejenak untuk menarik napas.
Awalnya Riswan hanya mengernyitkan dahi. Merasa heran dengan tingkah anak tetangganya yang bicara melantur ngalor ngidul.
Namun begitu mendengar lanjutan kalimat Indra, rasa aneh itu berubah menjadi amarah yang membuncah.
"Tragedi di lab tadi siang itu cuma kesalah pahaman, Om. Saya nggak berniat buat bener-bener nyium Bintang. Saya, saya cuma pengen menolong Bintang, Om."
"Apa kamu bilang?! Cium Bintang?!"
Mata Riswan membelalak mendengar penuturan remaja tanggung di depannya.
Dengan segenap amarah, pria yang sebagian besar rambutnya telah memutih itu berteriak memanggil putri bungsunya.
Yang dipanggil pun datang, dengan Ayumi yang mengekor di belakang. Dua wanita itu terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa menit yang lalu, sang ayah baik-baik saja. Beberapa menit yang lalu, Riswan ijin keluar hanya untuk mengecek bayang-bayang yang ia lihat di sebalik jendela.
Tapi sekarang, kenapa jadi begini?
"Bintang, jelasin ke ayah," tegas Riswan tanpa basa basi.
Bintang yang masih belum mengerti apa yang terjadi hanya terdiam. Tidak tahu penjelasan seperti apa yang ayahnya ingin dengar. Sampai Riswan mengulang pertanyaannya dengan nada yang lebih tinggi.
"Jelasin ke ayah. Sekarang!!"
Ketiganya terlonjak mendengar teriakan Riswan yang begitu menggelegar. Semuanya mendadak gagu.
Hingga satu, dua, tiga, lima detik tidak ada yang berani bersuara. Sampai tiba-tiba Indra menjatuhkan tubuhnya dan bersujud di kaki Riswan.
"Maaf, Om. Ini salah saya, jangan marahi Bintang, Om." Mohon Indra diantara ketakutannya.
"Siapa kamu beraninya mengatur saya?! Hah?! Bintang anak saya, tanggung jawab saya. Saya berkewajiban untuk mendidiknya menjadi manusia yang punyai harga diri!" jawab Riswan angkuh. Matanya menatap kosong jalanan kompleks.
"Iya, saya tahu, Om. Tapi tolong, saya mohon jangan hukum Bintang, Om. Hukum saya saja," rengek Indra tak mau kalah.
Di belakang Riswan, tanpa sadar air mata Bintang menetes. Entah air mata itu tumpah karena apa. Menangisi diri yang telah mengecawakan sang ayah, atau karena hatinya telah tersentuh dengan keberanian dan tanggung jawab Indra.
"Hm. Percuma kamu memohon seperti apa. Saya akan tetap menghukum Bintang atas tingkah lakunya yang melebih batasan. Karena lelaki yang berhak menyentuh putriku hanya suaminya. Bukan kamu, atau lelaki manapun itu."
"Saya bersedia menikahi Bintang, Om!"
Seketika seluruh pasang mata tertuju pada Indra yang masih tertunduk di kaki Riswan.
Kalimat itu terdengat begitu mantap ia ucapkan.
Apa Indra bersungguh-sungguh dengan pernyataannya barusan??