Hujan Hari Ini

869 Kata
"Saya akan menikahi Bintang, Om." Indra mengulangi kalimatnya. Dan tidak sedikitpun terdengar ada  keraguan di dalamnya.  Tapi, untuk apa?  Bintang masih belum mengerti apa yang sedang terjadi. Tidak mengerti dengan situasi ini, dan tidak bisa mengerti kenapa Indra bisa selancang itu bicara dengan ayahnya.  "Yah,"  Dengan perasaan yang masih tak karuan, Bintang menyela ingin menjelaskan semua.  Tapi semua kalimat yang sudah ia persiapkan mendadak hilang begitu tangan Riswan terangkat, menghentikan ucapannya.  "Begini caramu bersikap pada orang yang lebih tua?! Dimana sopan santunmu!! Apa yang kamu punya, sampai kamu dengan lancangnya berani melamar anak saya, hah?!"  Riswan benar-benar tak terkendali. Tangannya hampir mengenai pipi mulus Indra, kalau tidak ada tangan lain yang menghentikannya.  "Atas dasar apa Bapak memarahi Indra, sampai ingin memukul dia?"  Nadanya rendah tapi penuh penegasan.  Gurat-gurat otot tergambar jelas pada lengan pria berkaos hitam ketat berlengan pendek yang kini menghadap Riswan.  "Kamu, siapa?"  Pandangan kini beralih pusat pada pria di samping Indra. Dari postur wajah, alis tebal yang bentuknya hampir sama, semua orang bisa menebak dengan benar bahwa dia adalah kakak kandung Indra.  Dan tanpa sadar, Bintang mengembuskan napas lega, akhirnya ada yang bisa membantu menghadap sang ayah. Karena sejujurnya, sekesalnya Bintang pada Indra, tidak dipungkiri kalau Indra sudah berusaha untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.  Yah, meskipun dengan cara yang salah, pikir Bintang.  "Saya, Rifa'i. Kakak dari Indra. Anak yang hampir bapak tampar ini." Pria itu memberi penekanan pada kata 'hampir'. Terkesan menahan emosi demi menjaga rasa hormatnya pada orang yang lebih tua.  Rifa'i begitu berwibawa saat bicara.  Dia tahu tata krama ketika menghadi Riswan. Ia bahkan tidak membalas cacian yang Riswan lontarkan padanya dan Indra.  Dalam diam, Bintang mengagumi sosok yang kini berhadapan dengan sang ayah. Lelaki berwibawa, yang memiliki sopan santun, dan tahu cara menghormati orang yang lebih tua darinya.  Mereka memang sudah pernah bertemu. Tapi pertemuan kali ini, menyadarkan Bintang bahwa Rifa'i bukan sekedar tampan di luar. Melainkan sempurna luar dalam.  Aah, barangkali ini definisi pria idaman bagi para wanita dewasa.  Bintang menoleh ke arah Ayumi demi mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kepala, apakah Ayumi juga mengagumi sosok Rifa'i.  Sayangnya, yang ia dapat justru beribu pertanyaan yang memusingkan otak, begitu melihat pipi Ayumi yang basah oleh air mata, gurat gurat kekecewaan yang tergambar jelas, juga pandangan yang tak pernah lepas memandang Rifa'i.    Apakah, mereka sudah saling mengenal? Sadar waktu kian larut, dengan segala kerendahan hati Fa'i memelankan nada bicara, terkesan mengalah daripada semakin memperburuk suasana. "Apapun yang telah adik saya lakukan, sebagai walinya saya meminta maaf pada anda, Pak. Saya percaya sepenuhnya pada Indra. Dan kalau saya boleh meminta, izinkan saya berbicara secara personal dengan Indra. Agar saya bisa tahu duduk permasalahan yang sebenarnya, dan bertindak secara objektif atas kesalahan yang adik saya perbuat." Dan, malam itu berlalu dengan suasan canggung yanh menyelimuti keluarga Riswan. Tidak ada yang berbicara, atau lebih tepatnya tidak ada yang berani berbicara, melihat suasana hati Riswan yang kembali memburuk dengan kabar yang Indra sampaikan.  Di kamar, gadis malang itu hanya termangu menatap langit tanpa gemintang. Gelap. Pekat.  Seperti suasana hatinya kini.  Ribuan pertanyaan berputar memenuhi isi kepala. Tapi hanya ada satu dari ribuan pertanyaan yang memusingkan.  Apakah benar, Indra telah menciumnya?  *** "Dasar bocah!" Ditutupnya pintu keras-keras. Membuat nyali Indra yang berada di sampingnya jadi makin menciut.  "Sebenernya apa sih yang lo lakuin sama Bintang? Kenapa lo sampe harus nikahin dia?" Dalam emosi yang belum stabil, Rifa'i berusaha mencari tahu yang sebenarnya.  Sedang yang ditanya, masih belum berani mengeluarkan suara. Indra kini duduk di sofa dengan warna pastel di ruang tamu dengan kepala tertunduk, tak berani menatap sang kakak yang sedang mengamuk. "s**t!!"  Umpatan itu diucapkan begitu Rifa'i menyadari sesuatu. Diburunya Indra, untuk dicengkeram lengan sang adik kuat-kuat.  "Jangan bilang kalo lo,... Lo, udah bikin Bintang hamil?!"  Tangannya terkepal kuat sambil menatap Indra penuh amarah.  "Enggak, enggak... Bang, Sumpah!! Indra nggak pernah ngapa-ngapain Bintang," jelas Indra cepat.  Sungguh.  Rifa'i adalah orang tua kedua bagi Indra. Dan kekecewaan Rifa'i adalah kepedihan untuknya.  Ia tak akan mungkin bisa menerima kalau saudara yang paling dia sayang, marah terhadapnya.  Fa'i mengendurkan cengkeramannya. Mengingat kembali kalimat yang barusaja ia lontarkan. Menghamili anak gadis orang.  Dan tanpa terasa, dua pupil cokelatnya telah basah oleh air mata. Kerongkongannya terasa kering, napasnya kian memburu mengingat kejadian lalu yang membuatnya terpisah dari seseorang yang amat disayangi.  Pria yang belum lama berhasil mendapat gelar sebagai Insinyur Pertanian itu berjalan gontai menjauhi adiknya yang masih tertegun, duduk pada sofa yang berhadapan.     "Terus, apa?" tanyanya dengan sisa kewarasan yang masih dimiliki. "Ini cuma salah paham, Bang. Percaya sama Gue," katanya berusaha meyakinkan. "Oke. Gue percaya sama Lo, Dek. Ceritain semuanya ke Abang."  Fa'i mengendurkan suara. Sadar bahwa adiknya tidak mungkin berbuat sesuatu  tanpa alasan. Yang harus dia lakukan hanya melakukan pendekatan pada Indra, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.  "Sorry, Bang. Ini semua salah gue. Gue, gue cuma mau bantuin Bintang yang  kehabisan napas waktu kita berdua ke kunci di lab." Sengaja Indra menjeda kalimatnya, melirik ke arah Fa'i yang menganga tak menyangka. "Tapi, sumpah, Bang! Gue nggak ngelakuin itu. Jangankan nyium, nyentuh aja gue belum, Bang. Suer!!" Indra mengembuskan napas, gusar. "Gue juga nggak tahu, kenapa pas gue mau nolongin Bintang, tiba tiba pintu kebuka dan banyak orang di depan kelas."  "Kenapa lo sama Bintang bisa kekunci di lab berdua? Apa yang sedang kalian lakuin di sana?!"  "Waktu itu, gue...,"  Harusnya Indra tidak perlu ragu untuk mengatakan yang sejujurnya pada Rifa'i. Toh, bila Ia berbohong sekalipun, Abang akan tetap mempercayai. Karena Indra berarti segalanya bagi seorang Rifa'i.  Jikapun Fa'i harus mematikan dirinya untuk menyelamatkan Indra, tentulah dia akan melakukannya tanpa ada keraguan.  Begitu berharganya Indra untuk seorang Rifa'i Hadijaya.  *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN