16. Arsen

1296 Kata
"Semalam gebetannya Arsen datang." "Lah? Emang semalam gue di mana sampe nggak lihat." tanya Aldan. "Bukan cuma lo. Gue sama Fika juga nggak lihat. Cuma denger dari Mama." ujar Renta. Aku masuk ke ruang makan dan melihat orang-orang yang sudah menggosipkan ku sepagi ini. Padahal ini masih cukup pagi untuk digunakan bergosip, tapi sepertinya itu menyenangkan bagi mereka. "Bukannya bang Arsen homo ya?" tanya Fika mengejutkan aku yang sedang minum hingga menyemburkan air dari mulutku. Tidak hanya aku sebenarnya yang terkejut, Renta dan Aldan juga, tapi Aldan lebih memilih meributkan kejorokanku barusan. "Jorok banget lo, kampret." "Sorry, nggak sengaja. Fika nih ada-ada aja omongannya." ujarku. "Ya aku cuma pernah denger dari Mama sama Papa yang waktu itu lagi bicara serius." jelasnya. Aku segera duduk di kursiku, "Bicara apa?" tanyaku serius. Aku penasaran apa yang mama papa bicarakan sampai Fika mengatakan hal seperti tadi tentangku. Renta dan Aldan yang juga penasaran, ikut mencondongkan tubuhnya ke arah Fika. "Mama khawatir kalau bang Arsen itu homo, soalnya nggak pernah dekat sama cewek, bahas cewek, apalagi sampai dibawa ke rumah. Udah gitu bang Arsen juga nggak pernah pacaran. Kalau dikenalin ke anaknya rekan kerja papa juga lempeng aja. Kayak nggak ada ketertarikan gitu." ujar Fika menjelaskan. "Terus tanggapan Papa?" tanyaku. Semoga papa tidak percaya dengan dugaan mama, tapi yakin kepadaku bahwa aku normal. "Papa bilang kalau mereka kayaknya memang harus bawa bang Arsen ke rumah sakit buat diperiksa." "Pffttt.." Aku melotot kesal saat Aldan menahan tawanya setelah mendengar ucapan Fika. Sementara Renta justru sudah tertawa kencang mendengarnya. "Astaga, gue masih normal." ujarku sambil menjambak rambutku frustasi. Kenapa banyak sekali yang meragukan kenormalanku. Memangnya aku harus menghamili anak orang dulu, baru mereka percaya bahwa aku masih tertarik kepada perempuan. Bukan hanya orang di rumah ini, bahkan kakek dan nenek pun ikut meragukan hal itu karena aku terlalu datar dan fokus ada pekerjaan dan kuliah saja. Padahal sudah bagus bila aku fokus pada hal-hal yang berguna, tapi mereka malah membuatnya seperti tidak ada artinya. Aku kembali teringat ucapan kakek dan nenek saat aku dan Vania datang ke rumah mereka kemaren. Selepas Vania pamit dari rumah, mereka membicarakan hal itu dengan serius. Flashback On Aku mengamati dengan cukup waspada ketika nenek berpindah dari tempat duduknya ke sampingku. Aku sedikit bergeser karena kurasa nenek yang terlalu dekat hingga membuat aku merasa gelisah. Jujur saja perasaanku sedikit tak enak tentang ini. "Eh." aku kaget ketika nenek menepuk lututku. "Jujur sama kami, kamu nggak suka sama perempuan ya?" tanya nenek. "Suka." ujarku. "Siapa?" tanya nenek lagi. Aku mengernyit bingung, "Ya siapa? Sekarang lagi nggak ada, Nek." ujarku. "Kamu yakin suka sama perempuan? Bukan laki-laki?" Aku kembali menggeser posisi dudukku karena nenek kembali mendekat dan lebih dekat. Benar-benar ingin mengintimidasiku. "Aku masih normal, Nek. Ngapain juga suka sama cowok kalau aku sendiri juga cowok." "Jujur aja, Ar. Supaya kakek dan nenek bisa ambil tindakan segera untuk mendatangkan dokter keluarga kita. Biar dia yang tangani kamu. Kamu nggak usah malu." Aku melotot tak percaya mendengar ucapan kakek yang tujuannya adalah menenangkan, tapi itu justru sangat mengerikan untuk didengar. Aku menghela nafas kasar, "Kek, Nek, adakah gelagat aku yang bikin kalian menduga bahwa aku homo?" tanyaku. Aku benar-benar ingin tau, darimana datangnya dugaan menggelikan seperti itu, apalagi kini mereka bahkan membahasnya terang-terangan kepadaku. Aku tidak berpikir bahwa aku telah menunjukkan perilaku menyimpang sampai dicurigai begini. "Ya enggak sih, tapi kamu nggak pernah menunjukkan ketertarikan juga sama perempuan. Nenek sama kakek betul-betul khawatir." jelas nenek. "Vania yang begitu cantik aja kamu lempeng begini, gimana kakek bisa yakin kalau kamu normal?" tanya kakek. "Ya berarti seleraku bukan Vania kek." "Nggak mau tau, pokoknya kamu harus sama Vania. Mumpung dia naksir kamu, kakeknya juga suka sama kamu, kita ada hubungan bisnis, dan mumpung dia belum sadar kalau kamu nggak normal." ujar kakek lagi-lagi membuat tercengang. "Kek, aku normal dan aku bisa cari calonku sendiri. Aku nggak perlu dijodohin, apalagi karena hubungan bisnis. Aku pengen nikah sama orang yang aku suka." "Nggak bisa. Vania itu pengen nikah umur 24 tahun, tahun depan dia udah 24." "Itu kan keinginan dia, bukan keinginan aku." ujarku membantah ucapan kakek. Lagian Vania kayaknya juga belum setia itu deh. Apa aku salah informasi ya. Kupikir tahun depan dia masih 23 tahun. "Kamu itu masih muda sekali, jadi nggak tau betapa pentingnya mencari istri yang orang tuanya punya pengaruh besar untuk bisnis. Kamu bisa jadi penerus keluarganya juga karena dia anak satu-satunya. Kakek tau kamu bijaksana, untuk itu pikirkan matang-matang saran kakek. Jangan pikirkan tentang cinta-cinta karena itu bisa datang seiring berjalannya waktu. Kamu tau kan cerita pernikahan orang tua kamu, mereka dulunya tidak saling cinta, tapi akhirnya kamu lihat sendiri bagaimana hubungan mereka." Aku terdiam mendengar ucapan kakek saat itu. Aku tau tujuannya dan aku tau jelas betapa pentingnya keluarga Vania untuk kepentingan bisnis, tapi jujur saja, rasanya menyakitkan sekali jika pernikahanku pun harus diatur sedemikian rupa demi kepentingan bisnis. Flashback Off *** Hampir selama seminggu ini aku menjadi lebih diam karena memikirkan ucapan kakek sendiri hingga kepalaku rasanya mau pecah. Setiap hal yang kulakukan selalu berujung dengan memikirkan ucapan kakek. Sepanjang minggu ini juga terasa berat dan lelah sekali. Semua bagian tubuhku bekerja, terlebih kepalaku. Karena itu, malam ini aku memilih mencari pencerahan dengan bertemu bang Dimas. Kebetulan ia berada di rumahnya. Ya, rumahnya, ia punya rumah sendiri di usia yang masih cukup muda dan aku kagum dibuatnya. Memang ada peran orang tua juga, tapi melihat betapa keras usaha bang Dimas untuk bekerja, aku yakin bahwa ia memang pantas mendapatkannya. "Sampe datang ke rumah, berarti penting banget ya?" tanyanya sambil meletakkan kopi di depanku dan depannya. "Gue udah lama nahan ini." ujarku jujur. Rasanya sesak sendiri. "Apa?" "Kakek pengen gue nikah sama Vania." aku menceritakan dengan cukup singkat tentang siapa Vania dan bagaimana pengaruh keluarganya dalam dunia bisnis, yang aku yakin bahwa bang Dimas pun pasti tau karena ia juga menjalankan bisnis orang tuanya. "Wah, beruntung dong lo. Kalo nggak salah dia anak satu-satunya." Aku mengangguk, "Iya, gue beruntung, tapi gue menolak untuk jadi orang beruntung itu." "Kenapa?" "Mungkin alasan ini terlalu dangkal untuk didengar, tapi gue pengen nikah sama orang yang gue sendiri yakin untuk menjalani hari esok sama dia, tanpa tekanan dari berbagai arah." jelasku. "Gue rasa lo sama Vania cukup sepadan. Keluarga kalian sama-sama pebisnis yang berpengaruh banget. Umur orang tuanya juga belum terlalu tua dan itu artinya mereka pasti masih nanganin perusahaan sendiri, ya walaupun kalau ada lo, otomatis lo harus punya peran kecil sejak saat itu. Tapi seenggaknya lo masih punya waktu belajar selagi di perusahaan papa lo." "Jadi, menurut lo gue harus terima perjodohan ini?" "Gue nggak bilang begitu." "Kalau seandainya lo yang dijodohin sama Vania disaat lo lagi pacaran sama Renta? Apa yang lo pikirin?" "Lo punya pacar?" tanya bang Dimas. "Enggak, gue nggak punya. Maksud gue, coba diandaikan itu lo." "Lo punya seseorang spesial? Karena itu lo nolak perjodohan itu?" tanya bang Dimas lagi. "Bang, fokusnya di lo, bukan gue. Andaikan." "Ya gimana ya, beruntungnya gue nggak terikat ke orang tua gue banget. Gue punya kerjaan sebagai dosen dan bisa buka bisnis kecil-kecilan, jadi mereka tidak berusaha mengatur gue karena kalau itu terjadi, gue lebih memilih meninggalkan posisi direktur demi Renta. Dan lebih beruntungnya lagi adalah, gue punya orang tua yang nggak memaksakan hal-hal seperti itu." Aku mengambil jaket ku, lalu meminum kopiku sebelum berdiri dan menepuk pundak bang Dimas, "Makasih bang. Nggak guna banget bicara sama lo seserius ini." Bang Dimas tertawa, lalu menyusul ku ke luar, "Yang pasti lo harus bicarain dulu sama om Aldo. Gue yakin om Aldo bukan tipe yang kuno sampai jodoh-jodohan segala." "Lo nggak kenal papa gue, bang. Lebih baik lo lebih waspada karena udah ada 5 cowok yang dikenalin papa ke Renta." ujarku sebelum meninggalkannya dengan motorku. Aku tersenyum puas melihat wajah pias bang Dimas ketika mendengar ucapanku. Siapa suruh dia menyebalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN