15. Armia

1152 Kata
Aku memantapkan hati setelah berada di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi, memencet bel hingga seorang satpam menghampiri gerbang dan menanyakan tujuanku datang. "Nyari siapa non?" tanyanya. "Mau ketemu Arsen pak." jawabku sekenanya. "Tunggu ya." ujar satpam tersebut. Sepertinya ia melaporkan kedatanganku pada tuan rumah. "Namanya siapa ya non?" tanyanya. "Armia." jawabku ragu. Kalaupun Arsen ada di rumah, tidak mungkin ia mengizinkanku masuk ke rumahnya, sementara saat kedatangan pertamaku saja, aku sudah ditolak hebat. "Saya sudah lapor sama tuan dan nyonya, katanya non bisa masuk." ujar satpam itu membuatku terkejut. Tidak menduga bahwa tuan rumah akan mempersilahkanku masuk. Satpam tersebut lalu mengantarkanku dengan mobil golf yang terparkir dekat pos jaga sampai ke depan pintu utama rumah. Meski jarak dari gerbang tak begitu jauh, tapi juga tak cukup dekat, meski masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 2-3 menit mungkin. Aku meneguk ludah karena disambut bak orang penting oleh maid rumah Arsen. Aku diarahkan untuk berjalan ke ruang tamu dan akhirnya bertemu dengan orang tua Arsen yang ternyata sedang bersama. "Selamat malam Om, Tante." sapaku berusaha menghilangkan kecanggungan. "Malam." jawab mereka bersama. "Ini loh Pa, yang sempat mama ceritain waktu itu. Cewek yang datangin Arsen." ujar mama Arsen membuatku tersenyum kaku. "Kamu temannya Arsen?" tanya papa Arsen. Kulihat mama Arsen sedikit bersungut pada suaminya. "Iya Om." jawabku tanpa ragu kali ini. "Duduk duduk." ujar papa Arsen mempersilahkan. Aku segera duduk di sebrang mereka, sambil memperhatikan sekeliling. "Nyari Arsen ya? Dia baru pulang, paling masih mandi." ujar papa Arsen yang sepertinya cukup peka. Lalu ia menatap salah satu maidnya yang berdiri dekat kami, "Ris, suruh Arsen turun ya kalo udah siap mandi." "Saya nggak nyari Arsen kok Om, tapi memang mau bertamu untuk melihat Om dan Tante." ujarku. Papa Arsen terlihat terkejut dengan jawabanku, tapi kemudian terkekeh geli, "Bisa aja kamu." ujarnya membuatku malu sendiri. "Oh ya, kamu temannya Arsen dari mana? Satu kelas?" "Bukan Om, saya masih SMA." aku cengengesan saat mengatakannya. "Kok bisa? Kenal Arsen di mana?" tanya papa Arsen cukup terkejut. Ia bahkan langsung menegakkan posisi duduknya, seperti tertarik dengan ucapan ku. "Mungkin jodoh Om." jawabku agak pelan. "Kamu suka sama Arsen?" "Siapa sih yang nggak suka sama cowok ganteng, Om, apalagi Arsen anak orang kaya." jawabku sambil melihat sekeliling. Kali ini aku terkejut melihat reaksi papa Arsen yang bukannya marah, ia malah tertawa mendengar jawabanku. Aku ikut tertawa menanggapinya, lalu melipat bibirku ke dalam dengan hati-hati. Aku menoleh saat mendengar suara langkah yang terburu-buru menuruni tangga dan melihat ada Arsen di sana. "Siapa lagi sih yang datang?" tanyanya dengan nada yang menunjukkan bahwa ia sedang kesal. Aku menyatukan kedua tangan di atas paha sambil memperhatikannya. Saat tatapan kami bertemu, ia langsung memberikan tatapan tajam dan berjalan lebih cepat menghampiriku. "Lo ngapain?" tanyanya sambil menarik tanganku untuk berdiri. "Aku cuma bertamu kok, bukan mau nemuin kamu." jawabku yakin. "Nggak ada bertamu-tamu, sekarang pulang." ia menarik tanganku keluar. "Eh, tunggu, aku belum pamit." aku berusaha menarik tangannya. "Maaf ya Om, Tante, saya mungkin datangnya kurang tepat. Kayaknya Arsen lagi nggak bisa diganggu. Saya pulang dulu ya. Lain kali saya berkunjung lagi, biar Om sama Tante nggak kangen." "Buruan ihh." Arsen kembali menarik pergelangan tanganku dan kali ini lebih kuat hingga aku meringis karena sakit. "ARSENNN." kami menoleh saat mendengar teguran papa Arsen yang sangat kuat. Aku terdiam menyaksikan wajah papa Arsen yang mengeras dan tatapan yang tajam tertuju pada Arsen. "KAPAN PAPA PERNAH AJARIN KAMU BERSIKAP KASAR?" Melihat Arsen yang ditegur seperti itu membuatku merasa bersalah, hingga langsung berdiri kembali di depan Arsen, "Maaf Om, saya yang salah. Arsen mungkin lagi cape. Dia nggak pernah kasar kok, ini palingan nggak sengaja." aku menunjukkan pergelangan tanganku yang agak memerah, tapi baik-baik saja. "Kamu yakin baik-baik aja?" tanya mama Arsen menatapku. Aku tersenyum dan langsung mengangguk, "Saya baik-baik aja kok, Tante, nggak usah khawatir." "Buruan pulang. Gue nggak suka lihat lo ada di sini." ujar Arsen kepadaku dengan tatapan tajam. Sepertinya kali ini ia benar-benar marah kepadaku. "Aku minta maaf." ujarku sambil berusaha menyentuh jari kelingkingnya. Ia langsung menepis jariku begitu menyentuh kelingkingnya hanya tiga detik. "Iya, aku pulang." ujarku. "Mia pulang dulu ya Om, Tante." "Udah malam. Lebih baik kamu diantar sama supir aja." Aku membulatkan mataku karena terkejut dengan tawaran papa Arsen, lalu mengangguk semangat, "Untunglah Om peka buat nawarin diantar supir, padahal Mia udah takut pulang kemaleman begini. Walau gimanapun kan Mia cewek yang lucu dan imut ya, Om." ujarku. "Kamu ini, benar-benar tidak ada basa-basinya ya. Kenapa berani sekali datang ke rumah cowok seperti Arsen yang ketus begitu." "Kan udah saya bilang, Om, saya datang untuk bertemu dengan Om dan Tante. Hitung-hitung meluluhkan hati calon mertua dulu, baru anaknya." jawabku malu. "Udah cukup. Sekarang pulang." ujar Arsen dengan tak sabaran, kembali menarik tanganku. Aku mengikuti Arsen sambil tersenyum karena melihat ia yang menggandeng tanganku. Sebuah mobil sudah terparkir di depan dan sedang menungguku. Ah, indahnya jadi orang kaya. "Kamu beneran marah ya?" tanyaku pada Arsen. "Pulang." ketusnya. Aku membuka hpku dan menunjukkan sebuah foto padanya, "Tadi kamu ke Sebara ya? Sama pacarmu? Atau calon istri?" tanyaku. Tadi Fara mengirimkan ku foto Arsen dan seorang gadis cantik yang menggandeng lengannya. Kebetulan Fara dan Rosa ada di sana mengikuti pertandingan basket. "Aku cuma mau mastiin ini kok." Ia menatapku dengan sipitan tajam yang kalau diibaratkan dengan pedang, pasti sudah bisa menghunus, "Apa urusannya sama lo?" tanyanya. "Jawab aja." "Dijodohin." ujarnya. "Berarti bener ya orang kaya itu suka jodoh-jodohan, biar sederajat." ujarku lesu. "Padahal tadi Papa kamu kayak welcome banget sama aku." "Bukan Papa. Yang jodohin itu kakek." jelas Arsen. "Ah, berarti aku punya kesempatan didukung Papamu." "Gue nggak suka sama lo, Armia. Lo masih bocah." "Berarti sama cewek itu kamu mau ya? Ya iya sih dia cantik, wajar kalo kamu mau. Tapi aku juga bisa kok jadi kek dewasa gitu. Aku kelihatannya aja masih bocah, tapi udah bisa bikin bocah kok." ujarku meyakinkan. Arsen berdecak kuat, lalu menggelengkan kepalanya, dan membuka pintu belakang mobil, "Buruan pulang." "Tanganku sakit, tadi kamu nariknya kuat banget." aku menunjukkan tanganku. Ia menariknya, lalu meniupnya sekali, "Huh. Udah, buruan pulang." Aku tersenyum bahagia, benar-benar mendebarkan hanya mendapat perhatian sekecil itu dari Arsen, meski kenyataannya ia ingin aku segera pulang, tapi perlakuannya cukup membuatku menggila. "Lain kali jangan begitu ya. Aku tau kamu nggak sengaja, tapi mungkin lain kali aku bakalan sakit banget." "Pulang, Armia Guandya." ujarnya sambil menekan namaku. "Iya, calon pacar." ujarku gemas. "Jangan ngayal. Buruan pulang sebelum gue laporin sama Om Josua." "Ihh, jangan. Emang kamu tega aku kena marah?" "Tega lah, ngapain lo datang ke rumah gue nyamperin orang tua gue." "Ya, kamu juga sering ke rumah, nyamperin Papaku. Nggak ada tuh aku marah atau ngusir." "Ya itu urusan pekerjaan, Armia." "Sama aja Arsenio. Kita cuma beda tujuan aja. Intinya sama." "Terserah lah, buruan pulang. Gue mau istirahat." "Ya udah, aku pulang. Selamat malam, baby." ujarku dengan senyum yang cukup menggambarkan bahwa hatiku sangat senang. Ini pertama kalinya aku dan Arsen bicara cukup banyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN