10. Author

1345 Kata
Armia keluar dari kamarnya yang ada di lantai 2 dan ikut bergabung bersama orang tua dan adiknya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Ia mengambil posisi duduk dekat Papanya. Untuk sesaat ia memperhatikan televisi, sebelum merasa bosan, kemudian melirik papanya. "Pa." "Hm?" "Bener nggak sih kalau anak-anak pengusaha gitu sering diajak acara bisnis atau pesta gitu terus dijodohin ke anak-anak temennya?" "Bener, tapi ya nggak semua juga, cuma kebanyakan begitu." "Kenapa Pa?" Papa menoleh padaku dan menatap cukup lekat sebelum berkata, "Ya namanya juga mereka dari kalangan berada, Kak, ya pastilah nyarinya yang sederajat." Aku mengangguk dengan cukup lesu mengingat bahwa Arsen sampai diajak ke acara bisnis pula, maka sudah pasti ada niat ke arah perjodohan. Kenapa aku harus keberatan dengan hal itu padahal sudah jelas aku bukan siapa-siapa. Lagipula sangat aneh kalau aku yang baru beberapa kali bertemu dengannya sudah berharap bahwa kami akan berjodoh. Gila. "Pa, mungkin nggak sih kalau Arsen juga bakal dijodohin ke kenalan Papanya?" "Mungkin lah. Kan dia anak orang punya." "Kalo sama orang kayak kita, mungkin nggak Pa?" Papa terkekeh dan menatapku dengan gelengan kepala, "Kamu ini. Ya sebenarnya mungkin aja sih, tapi kalo Arsennya mau sama kamu." ujar Papa meledekku. Aku mempoutkan bibirku. "Jangan berharap banyak kak, kita juga harus sadar diri. Papa juga nggak mau kalo kamu sama Arsen, takutnya nanti kalau kalian berantem ada ungkit-ungkit status sosial." "Kok sakit ya Pa dibilang gitu." "Makanya jangan ngebet banget sama Arsen." "Iya." ujarku. Aku masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku sambil meraih ponsel dan memainkannya. Rasanya cukup berat juga setelah mendengar ucapan Papa. Ketika aku menscroll halaman i********:, kutemukan update-an baru dari Arsen yang isinya merupakan foto kutipan bijak yang cukup romantis kalau dipahami maknanya. Tadinya aku tersenyum membaca kutipan itu, tapi setelah kembali mengingat ucapan Papa, aku jadi murung dan tanpa ragu langsung menekan tanda kirim pada foto tersebut dan membagikannya ke Arsen lalu mengirim chat. armia_g22 Lagi jatuh cinta ya? Sama siapa? Udah punya pacar? Bodoh sekali aku mengirim pesan tersebut dan berharap ia akan membalasnya, padahal membacanya pun ia belum tentu. "Ahh." aku mencampakkan ponselku dan menghela nafas kasar. Aku sangat tidak suka perasaan patah hati seperti ini. *** Hari ini, begitu jam pulang sekolah, aku mencari-cari alamat rumah Arsen karena aku ingin tau tentang apa yang dimilikinya. Aku menemukan alamatnya dari teman i********: Arsen yang men-tag alamat yang kupikir bahwa itu adalah rumah Arsen. Ketika tiba di sebuah alamat, aku mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa maps yang ku gunakan tidak salah tempat. Sekali lagi aku menatap bangunan besar di hadapanku. "Kalo ini beneran rumah Arsen sih, ini beneran kami beda kasta jauh." ujar ku sambil meneguk ludah. Jujur saja, ini beneran jauh dari yang kupikirkan. Aku melihat beberapa pekerja sedang membersihkan pekarangan rumah, mulai dari menggunting rumput, menggunting daun membentuk lebih rapi dan ada juga yang sedang menyiram bunga. Karena gerbang rumahnya juga terbuka, jadi aku berdiri dekat dengan rumah itu, lalu seorang satpam menghampiriku. "Cari siapa ya? Temennya neng Fika?" Aku menggelengkan kepala ketika mendengar sebuah nama yang sangat asing. "Ini rumahnya Arsenio Blacker ya Pak?" "Iya. Neng temennya Den Arsen?" Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba seorang wanita hampir paruh baya dengan penampilan cukup rapi menghampiri kami dan bertanya pada pak satpam. "Siapa pak?" "Ini lagi sayang tanyain, Bu." "Ini Mamanya Arsen?" tanyaku. "Iya. Kamu temannya Arsen?" tanyanya lalu menatap seragamku dan sepertinya sedang meragukan kalau aku adalah teman anaknya. "Iya Tan." "Kenal di mana? Kok bisa?" "Kenal dari bang Dimas, Tan." "Loh kamu juga kenal Dimas?" Tanya tante itu terkejut. Aku masih belum tau namanya, jadi belum tau menyebutnya apa. "Kenal dari abang sepupu yang temenan sama bang Dimas, Tan. Nama tante siapa?" "Oh saya Ariana, biasa dipanggil tante Arin." "Saya Armia, Tante, biasanya dipanggil Mia." "Mau masuk dulu? Tapi tante mau pergi sih ini." Sebelum aku menjawab, tiba-tiba Arsen muncul sambil memanggil mamanya. "Ma, dari tadi aku cariin astaga ternyata----" ia berhenti berucap saat melihatku tersenyum kepadanya. "Ngapain lo di sini?" tanyanya langsung kepadaku dengan suara ketus. Suara yang semula terdengar lembut, kini justru menjadi garang. "Hai Ar. Aku tadi cuma jalan jalan ke sini dan nggak sengaja berhenti." ujarku dengan alasan yang cukup bodoh sebenarnya. "Abang kok ngomong gitu sih sama temennya. Ajak masuk dong." ujar tante Arin dengan niat baik padaku. "Dia bukan temenku Ma." ujarnya. Aku meneguk ludah mendengar itu, lalu menatap tante Arin dengan senyum canggung. Sedikit malu juga karena telah mengaku sebagai teman Arsen, padahal nyatanya tidak. Arsen menarik tanganku menjauh dari gerbang rumahnya, lalu menghempaskan tanganku, "Ngapain sih sampe datang ke rumah gue?" "Sorry. Aku cuma mau tau rumah kamu doang." "Pulang. Sekarang lo udah tau." usirnya tegas sambil menunjuk jalanan. "Yaudah aku pulang." ujarku, setelah itu membalikkan badan dan pergi meninggalkan Arsen. Berarti benar itu rumah Arsen. Berarti benar kalau kami sejauh itu perbedaannya. *** Setibanya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Hari ini rencananya aku mengedit video make-up tutorial yang telah kurekam dua hari lalu, tapi baru punya kesempatan hari ini untuk mengeditnya. Aku cukup fokus sampai malam tiba bahkan sampai mama dan Alfren berulang kali ke pintu kamarku dan mengetuk, menyuruhku untuk makan malam terlebih dahulu. Pada akhirnya aku menuruti keinginan mereka karena aku tau kalau aku tak mampu menyelesaikannya malam ini juga. Ada terlalu banyak yang harus kupotong atau kupersingkat supaya durasi video tidak terlalu lama. "Lama banget makan malam jam segini." tegur papa begitu melihatku keluar kamar. "Tadi lagi fokus Pa." "Utamain kesehatan." "Iya Pa, iya." Aku lalu makan malam sendirian karena yang lainnya sudah lebih dulu tadi. Alfren tiba tiba menghampiriku sambil menunjukkan cengirannya. Aku menatapnya sinis, lalu membuang pandangan. "Kak, beliin gue sepatu dong. Sepatu sport" "Ogah. Lo males disuruh. Gue minta tolong aja nggak bisa." "Bisa kok. Nanti lo bebas deh nyuruh gue sebulan ini." "Penipu. Empat bulan lalu waktu lo minta beliin sepeda juga lo janji begitu, buktinya lo tetep kek dajjal." "Kali ini gue serius." "Berapa emangnya harga sepatunya?" tanyaku ketus. "1.200.000." "Mata lo picek. Sepatu gue aja nggak ada yang harganya segitu. kalo itu mah lo pantesnya nurutin gue selama tiga bulan." "Lama banget kalo itu. Sebulan aja deh." "Yaudah kalau nggak mau. Gue juga nggak rugi kok." "Pelit banget sih." keluh Alfren "Ini namanya bukan pelit, tapi biar kita sama sama untung. Mau nggak?" "Mau, tapi kalo lo beliin dalam waktu seminggu ini." "Dajjal emang lo. Dikasih hati malah ngelunjak." "Ya lo juga mintanya ngelunjak. Tiga bulan nurutin kemauan lo juga berat." desis Alfren tak mau kalah. "Yaudah, deal. Awas aja lo nggak nurut. Gue robek tuh sepatu kalau udah kebeli." ancamku. "Bahas apaan sih ribut-ribut?" tanya papa yang tiba-tiba saja menghampiri kami. "Nggak ada pa. Udah beres juga ribut-ributnya." jawab Alfren cepat. Papa duduk di depanku setelah membuat kopi dan meletakkannya di atas meja. Mumpung papa di depanku, aku akhirnya bicara pada papa. "Pa, udah pernah ketemu orang tua Arsen belum?" "Udah lah. Papa Mama-nya Arsen sering sama di kantor. Apalagi pas Arsen dulu masih kecil, Mamanya sering banget bawa mereka ke kantor cuma buat bawain bekal ke papanya." "Berarti orang tuanya nggak jahat dong?" tanyaku menyimpulkan. Dari cara mama Arsen tadi menanggapi ku, justru ia terlihat sangat ramah dan baik hati. "Ya nggak jahat lah kak. Orang tuanya itu baik, apalagi mamanya, em ramah banget." "Tadi aku udah ketemu mama Arsen langsung." "Ketemu di mana? Kamu nggak kegenitan kan kak sampai ngejar ngejar Arsen ke rumahnya?" tanya papa curiga. "Cuma pengen tau bedanya kasta kita sama mereka." ujarku mencari alasan. "Iya, tapi kalau sampai ke rumah Arsen ya nggak bagus juga. Nanti kalo dia terganggu terus ngadu sama papanya gimana? Papa juga nanti yang kena tegur." "Iya iya, lain kali nggak bakal gitu." ujarku pada papa, meski tidak yakin akan melaksanakannya. Aku masih penasaran pada keluarganya Arsen, jadi harus cari tau sampai dapat. "Papa-nya Arsen nggak sebaik itu, kamu jangan main-main sama mereka." ujar papa sebelum pergi meninggalkan meja makan. Lagi-lagi papa membuat rasa penasaranku tumbuh, sekaligus takut kalau yang papa katakan memang benar. Aku juga takut kalau perilaku ku dapat mempengaruhi pekerjaan papa. Aku tidak ingin itu terjadi. Tapi apa benar papanya Arsen tidak baik?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN