Hari ini aku memutuskan untuk menemani bang Dimas membeli kado ulang tahun Renta sesuai permintaannya. Meski sebenarnya menurutku ia salah orang untuk menemaninya, tapi aku tetap melakukannya karena aku bosan juga hari ini tidak ada kegiatan tertentu yang direncanakan.
"Menurut lo bagusnya beli apa buat Renta?" tanyanya padaku ketika kami berkeliling mal.
"Mana gue tau. Lo harusnya tau kalau gue bukan rencana bagus buat diajak beginian."
"Makanya pacaran, biar lo terbiasa sama hal begini." cibir bang Dimas bikin kesal.
"Nanti kalau mau juga gue pasti pacaran." balasku.
"Lo lebih milih deketin duluan atau dideketin duluan?" tanya bang Dimas.
Aku menatapnya sebentar, lalu berpikir karena sepertinya ia serius bertanya seperti itu. "Deketin duluan mungkin." jawabku ragu.
Bang Dimas tertawa geli, "Jawaban itu nggak cocok banget sama sifat lo. Nunggu lo deketin cewek, nggak bakal sih kayaknya." ejeknya.
"Ya emang seharusnya cowok deketin duluan kan?" tanyaku sinis, memastikan jawabanku tidak salah.
"Ya seharusnya sih gitu, tapi gue nggak yakin lo mau deketin cewek."
"Udah ah, ngapain bahas hal nggak penting gini sih. mending pikirin aja lo mau beli apa buat Renta."
"Kalung. Gue kepikirin buat beli kalung." jawab bang Dimas seketika.
"Nggak sekalian cincin kawin?" ejekku ketika kami tiba di depan toko perhiasan.
Bang Dimas menatapku terkejut, tapi seolah ada binar yang menunjukkan bahwa ia tertarik untuk mewujudkan apa yang aku tanyakan. Ah, tidak mungkin dia segila itu. Itu yang kupikirkan sebelum ia menjawab.
"Ide lo sangat cemerlang. Gue udah pernah kepikiran buat ngelamar kakak lo, tapi melamar di hari ulang tahun kayaknya lebih bagus." ujarnya padaku.
"Jangan gila deh, bang. Lo mau dimutilasi sama bodyguard Papa? Mana rela dia anaknya nikah muda sementara kalian pacaran aja masih diawasin mulu." ujarku menjernihkan pikirannya.
"Padahal gue udah ngerasa siap nikah." ujar bang Dimas dengan raut sedihnya.
"Ya kalau lo yakin bisa bikin Papa luluh, silakan lo coba." tantangku.
"Sekarang gue beli kalung dulu deh. Nanti kalau udah dapat izin dari Om Aldo aja baru beli cincin." pasrah bang Dimas meski sepertinya ia tak rela ketika mengatakannya.
***
Seusai bang Dimas membeli kado untuk Renta, aku mengajaknya untuk membelikan Renta dress sebagai kado dariku. Kami ke toko pakaian dan berkeliling untuk melihatnya.
Aku sebenarnya tidak terlalu memperhatikan semuanya, hanya melihat sekilas mana yang menurutku cukup menarik saja. Terlebih yang dipakaikan di maneken, aku sangat tertarik mempertimbangkannya karena lebih mudah dilihat dan dinilai.
"Ini cantik." ujarku sambil menatap sebuah dress berwarna merah menyala.
"Mbak, mau yang ini dong." ujarku pada pelayan toko.
"Eh, itu bukan dress ya Mbak?" tanya bang Dimas membuatku mengernyit. Sepertinya bang Dimas memperhatikan ketika pelayan toko melepasnya dari maneken.
"Iya Mas, ini agak mirip one set, tapi sebenarnya bagian belakangnya masih nyatu kok antara rok dengan baju. Cuma ini emang model crop."
"Iya, nggak apa-apa lah Mbak. Bungkus aja." ujarku tak ingin pikir panjang. Lagi pula yang akan menggunakannya kan Renta, bukan aku.
Selagi menunggu pakaiannya dibungkus, aku menunggu sambil memperhatikan sekitar ketika mendengar suara yang terdengar tak asing di telingaku. Benar saja, aku mendapati dua orang yang kukenal sedang sedikit berdebat.
"Salah abang lah ngajakin aku ke sini. Aku mana bisa cuma lihat-lihat doang di toko pakaian begini." protes gadis itu.
"Sustt, berisik banget sih Mi. Nanti kita diusir karena suara cempreng kamu itu." ujar bang Arez.
"Itu bang Arez, bang." ujarku pada bang Dimas hingga ia yang tadinya sibuk dengan hp kini memperhatikan temannya.
"Gue samperin mereka dulu. Nanti lo ke situ deh." ujar bang Dimas. Aku mengangguk.
Aku hanya memperhatikan mereka yang menoleh padaku saat bang Dimas menghampiri bang Arez dan Armia. Dan begitu pakaian yang aku minta tadi sudah dibungkus, aku lalu membayarnya. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri ketiga manusia yang ku kenal itu.
"Hei, Ar." sapa bang Arez begitu aku berdiri di samping bang Dimas.
"Hai bang. Lagi belanja ya?" tanyaku sambil melirik Armia.
"Lagi lihat-lihat lah, siapa tau ada yang cocok." jawabnya. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Abis beli baju untuk pacar ya?" tanyanya sambil melirik bawaanku.
"Enggak, untuk kakak." jawabku seadanya.
"Kalian setelah ini mau ke mana?"
Aku melirik bang Dimas untuk menunggu jawabnnya. Siapa tau dia ada rencana yang lain untuk dilakukan setelah ini. Aku sendiri tidak ada rencana apa-apa sepertinya.
"Nggak ke mana-mana sih." jawab bang Dimas.
"Makan dulu lah kalau gitu. Nanti gue traktir." usul bang Arez.
***
Selama bang Dimas dan bang Arez berbicara, aku hanya mendengar pembicaraan mereka sambil sesekali memperhatikan Armia yang banyak diamnya saat ini. Sedikit bingung sebenarnya, tapi aku juga tidak ingin bertanya sama sekali, sampai bang Arez yang peka terhadap diamnya gadis itu akhirnya bertanya, "Kenapa kamu diam aja? Nggak biasanya."
Armia menatap bang Arez, lalu menatapku dan bang Dimas bergantian sebelum menjawab, "Males nimbrung. Lagian abang kan sama bang Dimas lagi ngomongin kerjaan."
"Ngomong sama Arsen itu. Tanya-tanya soal dunia kampus, kan penting untuk nambah wawasan kamu." usul bang Arez.
Aku melipat tangan di d**a, lalu menyandarkan punggungku di kursi sambil menatapnya. Dia menatapku sebentar, lalu menatap minumannya dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Apa dia tersinggung karena ucapanku kemarin kepadanya? Jujur saja, diamnya saat ini membuatku cukup bingung.
"Bang, aku mau ke toilet bentar ya." Armia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri sambil menatap bang Arez.
"Emang tau toiletnya di mana?" tanya bang Arsen.
"Ya gampanglah, tinggal nyari." ujarnya.
Aku mendorong kursiku juga dan berdiri, "Biar gue temenin." ujarku tiba-tiba yang membuat diriku sendiri terkejut. Aku tidak berpikir bahwa aku mengatakannya dengan sadar.
Sepertinya tidak hanya aku saja yang terkejut, karena setelah menatap yang lain, aku menemukan tatapan heran dari mereka, terlebih Armia. Aku berdeham dan meninggalkan mereka lebih dulu.
Lima detik kemudian Armia menyusul ku dan berjalan di sampingku, "Kalau kebelet mah, bilang aja mau ke kamar mandi juga, ngapain bilang mau nemenin aku." ujarnya terus terang.
"Siapa bilang mau nemenin lo?" tanyaku dengan judes.
Armia terkekeh, "Jadi mau nemenin siapa? Aneh banget sih mau ngebela diri."
"Nemenin nyamuk." jawabku asal. Ia hanya tertawa.
"Tadi bajunya emang untuk kakak?" tanyanya.
Sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja sebuah suara menyerukan namaku dari sisi kanan. Aku mencari suara itu, tapi Armia lebih dulu menemukan orang yang memanggilku dan langsung menepuk bahuku sambil menunjuk yang memanggil.
"Eh, Nikolas." aku terkejut melihatnya.
Nikolas berlari menghampiri kami karena aku tak ingin repot-repot mendatanginya. Ia lalu berdiri di hadapanku sambil tersenyum curiga melirik Armia. Aku tau benar apa yang dipikirkannya, tapi memilih menghiraukannya.
"Sama anak SMA. Bisaan aja lo Ar milih yang cantik." ujarnya.
"Kok tau?" tanya Armia terkejut. Ia mungkin berpikir bahwa aku menceritakannya pada temanku.
"Iya, kan waktu itu pernah ketemu depan gramed." jelas Nikolas.
"Oh, ternyata itu." ujar Armia cukup antusias.
"Ngapain lo?" tanyaku pada Nikolas.
"Mau beli kue." jawabnya singkat, "Kalian lagi ngedate ya?" lanjutnya bertanya.
Aku mencebikkan bibir, lalu menepuk bahunya, "Ya udah sana beli kue. Kita mau pergi." jelasku.
Aku menarik tangan Armia untuk pergi dari hadapan Nikolas si tukang gosip. Armia hanya mengikutiku sampai kami benar-benar tak lagi dalam pandangan Nikolas.
"Kalau gini yang ada temen kamu makin curiga." ujar Armia sambil mengangkat tangannya yang kupegang.
Aku berdeham, lalu melepaskan tangannya, "Dia banyak tanya, jadi males ngeladeninya." ujarku sebagai alasan. Tadi aku juga menarik tangan Armia supaya wanita itu tidak sempat berbicara pada Nikolas. Yang ada pembicaraan mereka malah akan menimbulkan gosip yang lebih besar lagi.
"Kamu tuh aneh ya." ujar Armia membuatku menatapnya heran. Aneh kenapa?
"Kenapa?"
"Heh, masih nanya lagi. Udah jelas kemarin kamu tuh marah-marah, sekarang sok akrab lagi." ujarnya terus terang.
"Ini karena aku nggak enak makanya mau minta maaf, tapi bingung nyampeinnya." jelasku pada akhirnya terus terang juga. Jujur saja, aku sedikit kepikiran setelah memarahinya karena memikirkan kemungkinan bahwa ia memang tak sengaja lewat depan rumah, lalu berhenti di situ karena mengetahui itu rumahku. Ah entahlah. Intinya perasaanku tertekan sejak kemarin karena merasa aku cukup kelewatan.
"Nggak usah minta maaf. Aku masih mau ngunjungi rumah kamu dua kali lagi. Aku selalu ingin mencoba sampai tiga kali." ujarnya membuatku terkejut. Aku menatapnya tajam, tapi ia malah mengabaikan dengan pergi meninggalkanku berada.