bc

Blame The Silence

book_age18+
1.5K
IKUTI
8.6K
BACA
possessive
teacherxstudent
confident
CEO
drama
comedy
campus
first love
gorgeous
like
intro-logo
Uraian

(TAMAT)

Setelah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya dan membuat adiknya koma, hidup Kierra porak poranda. Dengan bantuan sahabatnya, Kierra menjadi asisten pribadi seorang wanita cantik, dia mengubur mimpi untuk menyelesaikan gelar master dan mencari segala cara untuk membayar biaya pengobatan sang adik.

"Kamu membutuhkan uang, Kierra?" wanita cantik bermata teduh itu bertanya dengan lembut. "Jumlahnya cukup banyak."

"Bukan cukup, tapi sangat banyak, tante." Kierra nyaris menangis.

"Aku akan memberikannya cuma-cuma, bahkan aku akan memindahkan adikmu ke rumah sakit yang lebih baik."

Mata Kierra menatap wanita itu tak percaya, tapi selalu ada syarat akan sebuah penawaran bukan begitu?

"Jadilah kekasih anakku."

Wajah Kierra memucat. Wanita itu tertawa, "Anak tiriku Keirra , umurnya hanya beberapa tahun di atasmu. Buat dia jatuh cinta denganmu."

Kierra menggeleng dengan cepat, dia bukan wanita seperti itu. Itu sama saja melacurkan diri.

"Dia tampan, keren dan menarik. Tidak sulit jatuh cinta padanya."

Kierra menahan nafas, masih menggeleng. Dia tidak mau cara seperti itu.

"Anakku itu, orang yang sulit." sepertinya penawarannya terlalu berat untuk seorang gadis putus asa seperti Kierra, wanita itu mengeluh. Kierra memiliki segalanya sebagai wanita. Tapi dia juga memiliki prinsip. Dengan usaha terakhir dia menunjukkan foto anak tirinya pada Kierra.

Jantung Kierra berdetak cepat saat melihat foto itu. "A-aku mau."

chap-preview
Pratinjau gratis
Laugh and Cry
"Plak!" Suara tamparan keras terdengar dari ruang sekretariat magister ekonomi. Sambil menahan malu lelaki yang ditampar itu, memegangi pipinya. "b******k!" teriak perempuan itu. "K-kau!" Matanya yang indah dibuka dengan lebar. "Mau aku laporkan karena pelecehan?" Sialan! Dia tadi meremas b****g gadis itu. Sangat menggoda, seperti terhipnotis dia mengarahkan tangannya ke p****t sekal itu. Tercetak sempurna di balik celana jeans yang dia kenakan. "Maaf Kierra, tadi tidak sengaja." Dia berkata. Menahan malu karena sekelilingnya telah dikerumuni dan dia menjadi tontonan. "Sekali lagi kamu lakukan, aku tak segan melaporkan pada polisi!" teriak Kierra lagi. Lelaki itu pergi menjauh. Kierra mendengus kesal, dikibaskan rambutnya yang panjang sepunggung. "Aku benci sekali!" keluh Kierra pada sahabatnya Choky dan Letta. Dihempaskan diktat di atas meja kafe. Letta menoleh malas, "Tubuhmu menjadi inceran lelaki hidung belang," kata Letta. "Aku sudah memakai kaus kedodoran dan celana jeans yang sangat belel, Letta," kata Kierra kesal. "Bukan hanya hidung belang, bahkan lelaki kutu buku saja tergoda imannya kalau melihat dia lewat." "b******n kamu, Choky." "Emm ... haha ...." Choky tertawa. Mereka telah bersahabat sejak SMP. Tidak ada yang ditutup-tutupi. "Untunglah aku sudah bertahun-tahun melihatmu, membuatku kebal." Choky menjilati bibirnya menggoda Kierra. "Aku siram kamu," amuk Kierra, dia pura-pura mengangkat gelas minuman di depannya. "Sekarang aku semakin di benci oleh beberapa wanita di kelasku," keluh Kierra. "Hanya beberapa, mereka cuma iri karena kamu terlalu cantik juga sexy," jawab Letta lagi, dengan malas. Kejadian ini sering terjadi sejak mereka SMA. "Hu um," timpal Choky. "Aku tidak percaya ini. Aku seharusnya menjadi wanita kutu buku dan cerdas," kata Kierra. "Aku sudah memakai kacamata palsu juga membawa diktat ke mana-mana." "Apa kamu membutuhkan masker, babe?" tanya Choky. "Sudahlah. Aku malas membahasnya," jawab Kierra jutek. "Lebih baik aku mengerjakan tugas dari dosenku, mendapat nilai A darinya membuatku menggila." "Apa si dosen menatapmu seperti ingin menjamah tubuhmu juga?" "B-bahasamu terlalu vulgar Choky," sentak Kierra. Letta tertawa melihat pipi Kierra bersemu. "Haha ... Kau menyukainya Kierra? Aku penasaran bagaimana wujudnya." Kierra bungkam. Dia menulis kertas di hadapannya. "Hei ... hei ... sepertinya ada yang jatuh cinta. Makanan hari ini aku yang bayar," kata Choky. Letta segera bersemangat, "Jangan pura-pura Kierra, ayo katakan, apa dia ganteng? Hot? Sexy? Menggoda?" Sial! Kierra terjebak. "Stop!! Aku mau konsentrasi." Kierra manyun, mereka lebih tertarik pada pria yang mampu membuat Kierra tersipu ketimbang pelecehan yang dia alami tadi. Huh! "Sahabat macam apa kalian?" kata Kierra dengan kesal. Letta menoel-noel hidung Kierra. "U ... uuu ... aku diam-diam jatuh cinta pada dosenku." "Lettaaaaa!!!!!" "Katakan, atau aku akan mengganggumu tanpa ampun." Letta melotot. Choky bersandar di kursi, ditarik-tariknya diktat Kierra. "Apa dia sudah menikah?" "Belumlah, aku nggak berminat jadi perusak rumah tangga." "Apa dia tampan?" Kierra tersipu, sudah jelas itu iya. "Sexy." Kierra memegang kedua pipinya. Berarti Iya. "Tubuhnya bagaimana? Apa berdada bidang, atletis, liat, padat, apa besar?" "Jadi geli," kata Choky. "A-apanya yang besar?" Kierra terbelalak. "Tentu bahunya." Mata Letta memicing. "Kamu pasti memikirkan yang tidak-tidak Kierra." Kierra memukul Letta dengan diktatnya, membuat rambut pendek gadis itu berantakan. Dia tertawa keras. Membuat beberapa pengunjung menoleh. "Carilah pekerjaan Letta, jadi kamu tidak terus menerus mengganggu aku." "Aku suka jadi pengangguran." Letta tertawa. "Jadi katakan, apa dia pintar?" Kierra mengangguk sambil tersenyum. "Apa dia seorang gentleman?" Kierra mengangguk lagi, "Dia dosen tidak tetap. Pekerjaan utamanya seorang pengusaha." Mata Kierra cerah saat membicarakan pria itu. "Hanya mengajar mata kuliah pilihan, sulit melihatnya di kampus." Kierra mengeluh. "Dari semua pria yang meneteskan liur saat melihatmu, kamu memilih pria yang cuek dan tak peduli. Benar seperti itu?" tanya Choky. "Hmm ...." "Itu taktik dia, biasalah para lelaki. Pura-pura dingin. Coba besok goda dia sedikit. Buka kancing atas kemeja, dekati dia sambil mendesah, lalu ...." Letta memonyongkan bibirnya. "Pak, a-aku panas hanya dengan melihatmu." "Lettaaaaaa!!!!!" Kierra menjerit. Choky dan Letta tertawa kencang. Wajah Kierra sudah merah sampai ke lehernya. "Terlalu awam dalam percintaan," ejek Letta. "Huh!" Mereka kemudian mengobrol sambil tertawa gembira. ***** Kierra melirik-lirik dari balik kaca matanya, hemm ... rambutnya tidak rapi seperti biasa, mata tajam memandang grup diskusi, sambil sesekali senyum tipis menghiasi rahangnya yang tegas. Jantung Kierra berdebar kencang, kendalikan dirimu Kierra! Pria tampan itu biasa, atletis juga biasa. Tapi kalau dia juga mengatakan hal-hal yang mempesona bagaimana? Tutur bicaranya tegas dan pilihan katanya sempurna. Oh nooo!!! Kierra jatuh hati. "Kierra ...." Bahkan Kierra membayangkan bibirnya yang indah mengucap namanya. "Kierra." Hah? Bukan bayangan. "I-iya, Pak." "Kamu melamun?" Dia bertanya. Kierra menggeleng. "Analisamu bagus, tugas kali ini kamu mendapat nilai tertinggi." Teman sekelasnya bertepuk tangan. "Oke class, sampai bertemu lagi." Kierra mengejar pria itu. Cepattttt .... "Pak," panggil Kierra. Pria itu menoleh, "Ya?" "Saya sedang mengikuti kompetisi enterpreuner. Kalau ada waktu apa bapak bisa melihat rancangan proposal usaha saya?" Kierra bertanya penuh harap. "Tentu saja." Kierra tersenyum riang, dia menyerahkan copy proposal pada pria itu. "Makasih, Pak." Pria itu meninggalkan Kierra, pipi dan seluruh tubuh Kierra telah panas membara. Kierra menghabiskan waktu seharian dengan membayangkan lelaki itu. Hemm ... hemm ... dia tidak konsentrasi dengan kuliah selanjutnya. Tidak konsentrasi saat makan siang atau berbincang dengan temannya. Dia tertawa membayangkan bagaimana pria itu berjalan, atau menatap mahasiswa yang sedang menjelaskan teori. ***** Rumah Sakit, Air mata Kierra mengalir, ditatapnya tubuh adiknya di dalam ruang perawatan khusus. Kenapa tidak boleh mengatakan kalau takdir itu sangat kejam? Padahal itu memang kejam. Sudah sebulan tak ada tawa di wajah Kierra, hanya tangis pilu dan kesedihan. Hidupnya seketika berubah, orang tua dan adiknya mengalami kecelakaan. Kedua oramg tuanya meninggal saat di bawa ke rumah sakit, sedangkan adiknya mengalami koma. Begitu tragis peristiwa itu sampai Kierra ingin menyusul mereka berdua. Kalau saja tidak mengingat adiknya. Paman Kierra kabur ke luar negeri membawa asuransi orang tuanya, juga tabungan yang mereka miliki. Kierra tidak percaya, dia menangis tersedu. Kierra nyaris menjual rumah peninggalan orang tuanya, kalau saja tidak mendengarkan saran Choky agar menyewakan rumah itu. Kierra telah hidup menumpang di rumah Letta dan dia tau, tidak bisa selamanya dia tinggal di sana. "Kierra," panggil dokter. "Dokter." Air mata membanjiri pipi Kierra. "Ada komunitas yang bersedia membantu biaya adik kamu. Walaupun jumlahnya tidak banyak, kamu harus tetap berjuang." Kierra tak menjawab. Berat badannya telah turun, dia tak mampu makan dan tidur dengan baik. "Kapan adik saya sadar, dok?" "Belum dapat dipastikan. Dia mengalami cedera di kepala." Kierra menangis lagi. "Bangun Kalil, temani kakak di sini." Kalil ... Kalil jangan pergi, kakak sendirian. *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook