DARI SATU NADA KE NADA LAIN

1663 Kata
Denting senar gitar harmonis terdengar, membunyikan satu persatu notasi yang lembut. Dari naik turunnya nada pada finger board yang ditekan, mengalun larik-larik cinta, tersusun menjadi sebuah lagu beserta syairnya. Pengorbanan, ketabahan, keikhlasan, dalam bayang semu yang berjubah kebahagiaan. Di sana sayatan terlirih terbuka, menganga, memberi ruang paling lebar dalam rongga d**a. Perih, tetapi terpaksa harus menerima. Tidak ada pengingkaran, tidak boleh ada pengecualian, segalanya merupakan pilihan. Karena cinta adalah palung ketabahan. Ucap Pada Hati Kisah kata dari sebilah belati Yang mati di sini, di sana abadi Menghunus mata, berucap pada hati Kita lalu menjadi sendiri Kelu, Pilu, dan Malu Tersipu      Pelangi jingga mengiringi rasa pada senja’      Pada hati yang terbagi, tak pernah ada janji      Cinta sendiri, tegur sapa pada yang berlari Reff:       Aku yang ada di sini Sementara menata kepingan hari bersama rajutan mimpi Kita memang takkan pernah bersandar menuju tepi Apalagi jika hanya menuruti imaji Sisanya bagaimana nanti Ketika tiada sekat ruang yang semakin lara Atau hanya rindu yang mengisi Pada sudut gelap melankolia kita           Lirik: Gilang Gitara Nada-nada indah dari lirik lagu itu dimainkan oleh Gilang dengan begitu syahdu, lirih dan merdu. Seolah tidak ada celah dari kesakitan yang pantas mengusik randu-randu kata dalam lagu itu. Gilang meresapi segalanya, huruf demi huruf, tautan kata dengan kata, atau kalimat dalam bait yang saling b******u. Ia masih terus memetik senar-senar gitarnya, mengalun seperti banyu di telaga biru. Tidak pernah ada manusia yang bergeming dari keinginannya. Termasuk dalam keinginan memuja cinta. Jika keinginan tak sesuai kenyataan, maka yang ada hanyalah kekecewaan. Karenanya, mimpi membantu kita merangkai garis kehidupan, menyembuhkan kekecewaan, atau menasbihkan harapan. Gilang ingin memberi penebalan melalui lagu yang ia buat, bahwa hidup tidak sepintas mencintai, ditinggalkan, atau meninggalkan. Lebih dari itu, hidup adalah sangkala warna yang saling mengisi, antara kenyataan yang satu dengan kenyataan yang lain. Saat masih asyik mengulik lagu dan terbenam dalam syair, Gilang dikejutkan dengan suara pintu terbuka dan jejalan langkah kaki seseorang yang memasuki ruangan secara tergesa. Sudah dua jam kiranya ia berfokus pada materi lagu yang dibuat dengan segala ketenangan dan kehampaan suasana. Sedikit suara saja menghentak, agaknya telah membuat lamunan terbuyarkan. Dilihatnya sekilas dari sela dinding, ternyata ada Andra yang memasuki ruangan. Sudah biasa para personil Arunika memasuki basecamp dengan tergesa. Terkadang malah seperti orang yang sedang mendobrak pintu. Belum surut wajah Gilang memandangi kelakuan temannya itu, ia langsung terdorong oleh langkah setengah berlari Andra yang menabrak tubuhnya dan mengambil helaian kertas di lantai. Helaian kertas itu adalah catatan lagu yang dibuat Gilang. Andra memperhatikan kertas itu cukup lama, tanpa bicara. Ditelisiknya satu per satu barisan kata tanpa notasi dengan teliti. Ternyata sudah lebih kurang sepuluh menit Andra berada di depan pintu kontrakan yang disulap menjadi basecamp sebuah band musik. Di depan pintu, ia mendengarkan dengan seksama lagu gubahan Gilang. Meski sayup, tetapi nada yang disusun cukup jelas terdengar, hanya saja lirik kata terasa samar seperti berbisik. “Lo nggak bisa kalau datang dengan santai, ya?” tanya Gilang pada Andra yang masih terfokus membaca kertas berisi lirik lagu. “Ssssttt! Sebentar!” ujar Andra, sambil telunjuknya menutup mulut Gilang. Gilang penasaran. Ia pun ikut memperhatikan apa yang Andra lihat di balik kertas itu. “Kenapa sih lo?” “Ini yang bikin lo nelfon dan minta gue buat ke basecamp?” Andra bertanya dengan helaan nafasnya.   “Iya, gue mau minta pendapat lo soal lagu ini.” “Gue kira lo kenapa. Nelfon, katanya mendesak, penting.” “Kalau nggak begitu lo bakalan lama di sana. Belum lagi ngecengin Giska kan?” goda Gilang. Alisnya setengah terangkat dan bibirnya menyudutkan senyum. “Hahhh!” Andra merebahkan dirinya di lantai. “Giska? Buat apa gue kecengin? Sudah jadi pacar masa harus dikecengin lagi?” Gilang terkejut, ia kuat-kuat menarik Andra yang baru saja rebah di lantai. “Kok lo nggak cerita-cerita?” Terduduk akibat ditarik, Andra menunjukkan wajah gontai. Ia enggan menjelaskan, tetapi sudah telanjur menjadi bahan pembicaraan. “Ah, nggak penting Lang. Gue juga nggak ingin orang lain tahu sebenarnya.” “Tapi sekarang gue jadi tahu, Ndra!” “Ya cepat atau lambat juga bakal banyak yang tahu. Jadi gue rasa, ga ada gunanya disembunyikan. Apalagi sama lo!” “Kenapa sama gue?” “Kalau gue galau, ada masalah sama Giska, lo bakal jadi salah satu orang yang gue repotin buat dengar semua keluh kesah gue.” Gilang hanya menanggapi dengan seberkas senyum. “Santai! Lo, Denis atau Gery ada masalah apapun, bisa cerita sama gue. Tapi gue cuma bisa janji jadi pendengar yang baik, bukan jadi pemberi solusi yang baik.” Andra menatap dingin ke arah Gilang, “Justru itu yang terkadang dibutuhkan dalam pemecahan masalah, cukup didengarkan. Kalau dimintakan solusi, baru lo boleh jabarkan. Bukan malah berusaha sok tahu, bahkan jadi pahlawan kesiangan dengan kasih nasehat tanpa diminta. Malah bikin tambah banyak masalah nanti.” Gilang tersenyum tipis mendengar apa yang Andra katakan. Nyatanya, memang sulit mendapatkan teman atau sahabat yang berusaha berperan menjadi pendengar, karena tidak semua orang mampu melakukannya, pun dengan teman terdekat. Mengapa begitu? Menjadi pendengar lebih sulit daripada menjadi pembicara, rasa menghargai, memberi arti pada pembicaraan sampai menyalurkan energi positif pada raut ketenangan menjadi hal yang harus dimiliki oleh seorang pendengar. Seringkali, seorang pendengar akan menjadi orang lain demi menuntaskan tugasnya mendengarkan dengan seksama sekat pembicaraan dari lawannya. Sementara pembicara, ia tak perlu menggubah pikiran untuk mengungkapkan isi hatinya. Sejenak mereka terdiam. Andra larut pada layar handphonenya, sementara Gilang kembali ke dalam fokusnya menyelesaikan lagu yang baru saja ia buat. Satu dua denting nada timbul tenggelam. Gilang terlihat sangat berusaha memapah lirik agar sampai pada emosi yang ditujunya. Emosi yang rapuh tetapi tak ingin terlihat siapapun. Selekas berlalu, Gilang menghentikan permainan gitarnya, ia kembali bertanya pada Andra. Kali ini bukan persoalan Giska, tetapi tentang pertemuan dengan Revan. Sejak tadi, Andra belum bercerita sejumput kata pun mengenai pertemuannya bersama Revan. Permintaan Gilang kepada Andra agar ia segera datang ke basecamp sebenarnya juga untuk menuntaskan jawaban atas pertanyaan ini, “Eh, gimana tadi ketemu Revan? Mau jadi vokalis?” Andra sedikit tertegun mendengar itu. Ia memindahkan pandangannya dari layar handphone ke arah wajah Gilang. Bertutur serius, Andra menekan mata Gilang. Andra berpikir, ada hal yang harus diberikan sedikit ruang toleransi oleh Gilang agar tidak terjadi perbedaan yang menganga, jika nanti Revan bergabung. “Jadi. Gimana ya gue ceritanya? Yang pasti dia terima tawaran sebagai vokalis. Tapi gue harap lo jangan bikin stigma yang berlebihan.” “Stigma berlebihan, maksudnya?” Gilang meletakkan gitar yang berada di pangkuannya. Ia tak mau kalah memberi tekanan. Matanya beradu kini dan hanya dipisahkan jarak pada binar yang berkedip. “Ya, gue akuin prasangka lo mengenai Revan ada benarnya, tapi nggak semuanya benar.” “Prasangka yang mana? Soal dia suka permainkan perempuan?” nada bicara Gilang meninggi. Andra menghela nafas, agak dalam. “Ya gue rasa itu adalah satu-satunya permasalahan yang bikin lo berstigma buruk ke Revan kan?” Gilang mengetahui, gambaran Revan yang ia dapat akan menjadi jauh lebih buruk daripada apa yang orang lain pernah katakan. Raut wajah Andra saat memelas memohon dirinya untuk tidak bersikap berlebihan pada Revan, menjadi sebuah kesimpulan yang kemudian ditemukannya. “Memang ada lagi hal lain lagi yang bisa bikin stigma buruk gue ke Revan semakin menjadi? Sampai lo minta kelonggaran berpikir dari gue?” “Nggak ada. Hanya saja, kita kelak akan jadi satu band. Sekarang antara lo sama gue yang sudah kenal dua tahun belakangan ini pun, masih suka berdebat. Apalagi nanti ketika ada personel baru seperti Revan masuk. Gue nggak mau iklim di band semakin panas dengan perdebatan yang sebenarnya nggak perlu.” “Gue paham, karena itu sejak awal gue kasih batas. Kalau sampai sikap dia merugikan band, ya gue harus tegas!” ucap Gilang, keras. “Selama ini gue selalu merasa kasih yang terbaik untuk band. Gue tegas soal komitmen, disiplin, cara kita memandang perjalanan band. Jangan sampai karena satu dua orang, segalanya rusak!” Andra kalah setelah mendapat tekanan bertubi dari mata dan kerasnya prinsip Gilang. Bukan kalah sebenarnya, hanya mengalah. Ia beranjak dari tempatnya berdebat dengan gitarisnya tersebut. Menuju ruang belakang. Mengambil dua gelas air putih dingin di kulkas. Barangkali, seteguk kesejukan air akan mampu meredam letupan kecil antara mereka. Kembali dari ruang belakang, gelas itu diletakkan di hadapan mereka berdua. Membatasi mata yang sebelumnya beradu pandang dengan hanya disekat oleh binar kedipan. Kali ini, gelas putih yang mengembunkan kristal dari uap air dingin, mulai menyentuh dinding hati. Menurunkan tensi dari segala emosi. “Minum dulu, Lang! Gue haus daritadi bicara sama lo.” Gilang mengambil gelas tanpa berbicara, begitupun dengan Andra. Setelah dianggap sedikit reda dan atmosfer ruangan berangsur menghangat, percakapan berlanjut lagi. Andra yang memulai kini, ia runutkan segala cerita yang membuatnya khawatir kelak akan menjadi bibit pertentangan dari Gilang. “Gue tadi sama Rere, tunggu Revan hampir setengah jam dari waktu yang sudah dijanjikan,” ujar Andra, pelan. Gilang spontan menyela pembicaraan, “Gue sudah bilang kan kalau...” “Dengar dulu!” Andra bergantian menyela. “Iya dia terlambat, artinya nggak disiplin. Tanpa lo sanggah, gue ngerti.” “Ya sudah, oke, coba lanjutkan!” pinta Gilang. “Dia datang berdua, sama pacarnya. Tapi gue respect karena dia minta pacarnya duduk terpisah meja sama kita. Gue nilai, dia bisa pisahkan mana urusan pribadi, mana yang jadi urusan band. Itu nggak gue dapat dari lo, yang sejak awal mencap Revan akan bikin band berantakan karena sifatnya. Makanya gue juga minta lo bisa pisahkan urusan pribadi dengan urusan band. Dalam persoalan ini, lo juga harus adil sama Revan. Selama Revan bisa kasih suaranya buat band, dan nggak sangkut pautkan urusan band dengan perempuan-perempuan di sampingnya, gue sih nggak ada masalah, Lang!” Gilang menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia meratapi dingin wajah sahabatnya. Diambilnya gitar yang tergeletak di lantai, didentingkannya kembali satu dua nada dari senar secara acak. Ia berpikir, memang berlebihan, telah membangun tembok tinggi terhadap ancaman dari musuh yang barangkali bayangannya pun tidak akan pernah terlihat. Bagaimanapun juga mereka, terutama dirinya dan Revan akan menjadi satu tubuh yang bercita membesarkan band hingga masuk dunia musik profesional. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN