ANGGUNNYA MELODI

1917 Kata
Seiring langkah kaki Revan mendesak keluar ruangan bersama Siska, beberapa ketuk suara sepatu menapaki tangga cafe. Suara ketukan itu lembut, seperti nada-nada pembuka yang dimainkan oleh Ludwig Van Beethoven melalui komposisi Bagatelle No. 25 in A Minor. Op. 59 atau yang dikenal dengan Fur Elise. Ketukannya perlahan, memasuki jendela lagu melalui E mayor pada nada. Jika diresapi, citra kebahagiaan ditampilkan dari sudut ini, semakin lama semakin menekan dan mendekat. Ia beranjak, kemudian memberi penurunan tekanan, terdengar setengah nada diturunkan, dimainkan oleh langkah kaki yang berjingkat. Langkah kaki itu semakin terdengar bak laguna senja. Mendekat dan terus mendekat. Tiada ragu, suaranya semakin syahdu, mengiringi getaran hak sepatu, jingkat kaki dan alas tangga kayu yang beradu. Sesaat, suara itu terhenti. Seolah komposer memberi simbol fermata pada partitur yang dimainkan. Menyembulkan rasa penasaran yang semakin menjadi bagi siapapun pendengarnya. Di sisi anak tangga menuju lantai dua Imaji Cafe, seorang perempuan muda mengenakan blazer hitam dengan keanggunannya berjalan, berhenti menapaki anak tangga. Dua orang yang sedang beranjak turun dari arah berlawanan menghalangi langkahnya. Lebar tangga sebenarnya memungkinkan dilintasi dua atau bahkan tiga orang. Tetapi, pria yang sedang menggandeng seorang perempuan di sisinya mencoba menghalangi gerak naiknya. Mata pria itu tajam, membungkusi tatapan hasrat yang bergejolak, seolah menelanjangi keberadaan perempuan yang berada di hadapannya. Kecantikan perempuan yang tanpa sengaja berpapasan dengan si pria itu telah membangkitkan rasa paling dangkal dari seorang anak manusia. Walaupun sejenak, tetapi segala hasrat yang berkecamuk sulit rasanya disembunyikan oleh si pria. Wajahnya memerah, tak padam. Sedangkan perempuan di sebelahnya sudah berulang kali menarik lengan jaket kulit milik pria itu agar segera memberi jalan dan tidak terus terpaku dengan perempuan di depannya. Pria itu tersadar, bukan karena jumputan yang semakin mengeras di lengan jaket kulitnya. Tetapi seruan perlahan dari si perempuan meminta izin agar diberikan jalan menuju lantai dua. “Permisi. Maaf saya mau ke atas. Anda menghalangi jalan saya!” notasi suaranya pun bergetar, perlahan dan terdengar mendesak. Tidak ada kerangka yang menguatkan lirihnya rasa karena telah dipecundangi dengan tatapan yang sedemikian buram.   Si pria menggeser perlahan posisinya dari tengah anak tangga. Membiarkan si perempuan melewatinya. Kakinya berjejalan ke kiri, mendesak perempuan lain yang berada di sisinya. Namun semua itu tidak berarti dapat melepaskan dengus hidung serta jalangnya mata yang memburu perempuan di hadapannya. Dari ujung telapak hingga ujung rambut, tatapannya masih lekat ke arah si perempuan. Perempuan yang ditatapnya benar-benar merasa risih dan direndahkan. Pun itu hanya melalui tatapan mata dan halangan lajur jalan yang barangkali tidak disengaja, tetap saja ia merasa terganggu. Apalagi si pria terlihat sudah memiliki pendamping, kekasih atau istilah sejenisnya. Minimal itu adalah kesimpulan yang diambil saat perempuan ini melihat seseorang di sampingnya sibuk menariki jaket si pria sejak tadi. Mencoba tak memperdulikan, ia berlalu begitu saja ketika jalannya menuju lantai dua Imaji Cafe sudah terbuka. Beberapa langkah berlalu, ia tengok kembali ke belakang, pria bersama wanitanya masih di tempat tadi. Si pria masih menatapnya. s**l bagi perempuan yang bertemu mata dengan si pria, kemudian dikerlingkan satu kedipan dari mata jalangnya. Berusaha tak memperdulikan, perempuan itu kembali berjalan, menuju tempat yang sudah ditentukan tujuannya. Kali ini sedikit tergesa, bukan karena waktu yang mendesak. Tetapi si perempuan sudah merasa jengah dengan kelakuan pria-pria macam itu. Wajah kesalnya jelas tidak bisa tertutupi. Keceriaan yang hendak ditunjukkannya saat bersama seorang sahabat, musnah begitu saja. Ia merengut, seperti kecapi busuk yang masih bertengger di atas pohon. Setibanya di lantai dua cafe, sebentar matanya melirik kesana-kemari, melihat orang yang akan ditemuinya di sini. Meja-meja kosong bertebaran. Hanya satu meja yang terisi, di sudut, dekat jendela, seorang perempuan bersama seorang pria. Ia melangkah, menuju meja itu. Memastikan jika teman yang berjanji bertemu dengannya sedang duduk bersama pria itu. “Hai, Rere!” sapanya, sedikit keras suaranya kali ini, disertai dengan senyum gemerling yang terusap di pesona wajahnya. Sungutnya musnah perlahan, memang pertemuan dengan sahabat dapat melenyapkan kegundahan. Tangannya kemudian spontan meraih bahu Rere, merangkul, mendekatkan wajah, merekatkan pipi, dari kanan ke kiri. Seperti dua orang sahabat yang sudah lama tak saling menapaki diri. Rere membalas hangat kedatangan perempuan ini dengan satu dekapan kembali. “Hei, sudah ditunggu daritadi!” ucap Rere. Andra yang masih duduk di hadapan Rere, hanya terpaku melihat kedatangan gadis ini. Ia tidak tahu ada tamu lain yang akan bergabung berbincang satu meja dengannya dan Rere. Seringai senyumnya menyambut kedatangan perempuan ini. Matanya lekat, memperhatikan dari ujung kaki hingga urai rambut. Tetapi tidak jalang, hanya tatapan keakraban. Perempuan ini memang cantik, mempesona, anggun atau lukisan kata lain yang bisa mendeskripsi bagaimana seorang perempuan dapat tergambarkan. Wajahnya yang oval dengan dagu bak lembah Alas Gumitir membuat para pria pasti akan merasa tertarik berlama-lama memandanginya. Belum lagi sendu mata yang sedikit membiru di bawah pelupuk, alis lentik yang seolah sedang menari dan rambut hitam dengan tubuh semampai. Pemandangan yang didapati dari perempuan seperti ini hanya ada pada gambaran dongeng ala kisah bidadari di khayangan. Rasanya bumi pun tidak akan enak hati menerima keanggunannya. Termasuk Andra yang terus tertegun menelisik gadis di hadapannya. Sedang tertegun begitu dalam, Rere membuyarkan pandangan Andra kepada Melodi. “Heh! Bengong!” ucap Rere. “Ini sahabat gue, namanya Melodi. Sorry ya, gue nggak bilang sama lo mau ketemuan sama Melodi. Tapi ini masih menyangkut band juga kok.” “Eh, iya! Nggak apa-apa lagi.” Andra pun berinisiatif mengulurkan tangannya, mengajak perempuan yang didengarnya dari Rere bernama Melodi berkenalan. “Gue Andra!” ucapnya singkat. “Melodi Pentanika, biasa dipanggil Melodi. Atau kalau mau lebih singkat lagi bisa dipanggil, Mel. Andra ya? Rere sudah cerita banyak tentang lo dan kalian,” balas Melodi dengan senyum bersahabat. “Oh, iya. Mel duduk silahkan. Rere ini kebiasaan, temannya nggak dipersilahkan duduk,” lanjutnya lagi. Rere menggeser posisi duduknya, mendekat ke arah jendela, memberi ruang agar Melodi dapat duduk bersamanya. Melodi pun tanpa basa-basi langsung menempati sofa di sebelah Rere. “Ndra, lo ingat nggak? Gue pernah bilang soal paman gue yang jadi produser musik. Itu sebenarnya pamannya Melodi ini! Hehehe,” ucap Rere sambil bergeser tempat. Andra menyeringai melihat senyum ceriwis Rere. “Oh, pantas. Nggak mungkin makanya Rere punya paman produser musik. Karena itu, waktu dia cerita lebih jauh soal pamannya, ya gue sama teman-teman tinggalin dia sendirian.” “Emang kalian ini nggak punya perasaan sama gue ya! Gue lagi cerita main ditinggal gitu. Hihhhh!” Melodi hanya bisa tersenyum melihat perdebatan kedua teman itu. Sepintas, ia teringat dengan pria yang menghalangi jalannya di tangga barusan. Entah karena apa ingatannya tentang itu muncul. Ingin kemudian ditanyakan kepada Andra juga Rere, tetapi rasanya tidak perlu. Untuk apa menanyakan hal yang memang seharusnya dilupakan. Selama ini, Melodi Pentanika yang terkenal akan kecantikannya memang selalu diburu oleh pandangan para pria. Tetapi jelas ia tidak bisa melupakan tatapan jalang dari pria yang berpapasan di tangga dengannya barusan. Tatapan itu sangat memuakkan. Dan tidak mungkin Rere atau Andra memiliki teman seperti pria itu. “Pasti ia hanyalah tamu cafe yang sedang menghabiskan waktu sore bersama pacarnya,” begitu suara hati Melodi berbisik, sehingga ia mengurungkan niatnya membahas lebih jauh mengenai kekesalannya pada pria itu. Tersadar dari lamunan, Melodi menangkap arah pembicaraan Andra yang mengundangnya datang melihat penampilan Arunika Band akhir pekan nanti di cafe ini. “Mel, gue secara pribadi dan mungkin juga menyuarakan harapan teman-teman lain, ingin undang lo datang saat Arunika sedang ngejam yang kebetulan di cafe ini. Datang ya! Jadi nanti bisa disampaikan ke paman lo soal band ini, bagaimana penampilannya, musik yang dimainkan atau apapun. Tapi yang pasti, kita sih ingin lo bantu Arunika tembus label rekaman. Ya salah satunya melalui rekomendasi ke paman lo.” Melodi masih terdiam, ia menatap Rere di sebelahnya. Kemudian membalikkan pandangan kembali pada Andra. “Oh iya, iya! Rere sih sudah cerita sebelumnya, Ndra. Termasuk soal dia jadi manager band. Apa nama bandnya? Anurika ya? Eh maaf, Arunika. Iya itu,” ujar Melodi, disambut tawa kecil dari Andra dan Rere yang mendengar salah ucap dari Melodi. “Hihihi. Arunika Mel. Ingat ya, Arunika! Kalau Anurika, beda nanti artinya,” timpal Rere dengan masih tertawa. “Hahaha. Iya Arunika Band. Maaf ya, Ndra, Re!” “No problem, Re!” sahut Andra. “Jadi bagaimana, bisa akhir pekan ini?” “Gue usahain ya, nanti gue komunikasi sama Rere kalau bisa atau ga bisa datang. Tapi pasti gue prioritaskan kok untuk penuhi undangan kalian.” “Terimakasih ya Mel!” Andra melemparkan senyum kepada Melodi yang dibalas dengan senyum pula dari Melodi, Rere ikut tersenyum. Dering handphone kemudian melepaskan tautan senyuman antara tiga orang yang kini membaluri diri dengan ikatan pertemanan. Andra memeriksa handphonenya, ada panggilan masuk. Nama Gilang tertera di layar handphone. Singkat berbicara, Andra pamit mendahului Melodi dan Rere yang tampak masih ingin menghabiskan waktu lebih lama di cafe ini. “Re, Melodi, gue cabut duluan ya. Ada teman menunggu di basecamp, katanya mau bahas beberapa hal. Rere nanti pulang sama Melodi ya.” Rere mengangguk, tak berusaha menahan sekaligus memberi tanda persetujuan. Begitu pula dengan Melodi yang memberi pertanda tak jauh berbeda. Andra pun bangkit dari kursinya setelah memastikan Rere memiliki teman untuk pulang bersama. Sambil beranjak dari kursinya, Andra berseloroh kembali kepada Melodi agar hadir di acara musik yang diisi oleh Arunika Band.  “Eh Mel, jangan lupa lho akhir pekan di cafe ini,” pinta Andra sekali lagi sambil lalu berjalan menuju anak tangga. Melodi hanya membalasnya dengan senyuman kembali. Terkadang senyuman, justru bisa menjadi bagian paling meyakinkan dari sebuah penjajakan akan kepastian, atau mungkin kepalsuan. Namun Melodi tidaklah menyerupakan diri dengan kepalsuan, ia jauh dari kata itu. Kecantikan wajahnya serupa dengan ketulusan di dalam hatinya. Di lantai bawah Imaji Cafe, Andra tidak langsung beranjak keluar. Ia terlebih dahulu bertanya dengan seorang pelayan cafe tentang Giska. Apakah Giska sudah datang atau belum. Ternyata sudah sejak sepuluh menit lalu Giska tiba di cafe. Ia sedang membantu kru dapur menyiapkan beberapa pesanan dari tamu cafe di lantai bawah. Meski Giska merupakan anak dari pemilik cafe, hal itu tak lantas menjadikan Giska seperti bos besar di cafe ini. Tak jarang, Giska justru melakukan pekerjaan selayaknya pelayan cafe seperti membersihkan meja atau mencuci piring. Bahkan saat Andra mengenal Giska pertama kali, melalui kesan sebagai pelayan cafe. Ia tidak tahu sebelumnya jika Giska adalah anak pemilik cafe ini yang otomatis menjadikannya pemilik cafe. Ketidaktahuan Andra nyatanya membuka mata Giska, jika Andra memang benar mencintainya sebagai seorang perempuan, bukan sebagai anak dari pemilik cafe yang memiliki banyak materi. Mereka pun menjalin kasih, sudah hampir tiga bulan lamanya. Selayaknya anak SMA, hubungan kasih antara Andra dan Giska lebih banyak diiisi oleh perdebatan. Namun yang membedakan, mereka tak saling memberi penekanan terhadap hubungan dengan suatu keharusan. Terkadang, jika ada waktu luang, mereka manfaatkan sebaik mungkin untuk bertukar pikiran mengenai segala hal, seperti masa depan, karir, atau bahkan ketersinggungan antar keduanya. Jika tidak memiliki waktu pun cukup tegur sapa dengan dua atau tiga kalimat. Seperti hari ini, tidak perlu berlama waktu dihabiskan untuk melepas kerinduan antara keduanya, karena Andra harus beranjak lagi menemui Gilang di basecamp Arunika. Andra melepas kepergian sesaat dari Giska melalui kecupan hangat di kening, tanda cinta yang disemaikan. Giska pun tak memiliki tuntutan kepada Andra agar lebih lama menghabiskan waktu dengannya. Meski seusia anak SMA, Giska tak seperti gadis seumurannya. Ia kadung dewasa, hingga sangat bijak menghadapi segala hal, termasuk mengenai reguk rasa atas kasih sayangnya kepada sang kekasih, Andra Sastra Gumilang. Perlahan, perangai seperti itu juga menular kepada Andra. Meski telah memiliki bibit kebijaksanaan, tetapi melalui Giska, bibit itu mulai tumbuh menjadi akar yang menjuntai di atas rahim kasih sayang. Dari kebijaksanaan pula lah rimbun daun kepercayaan, dahan-dahan pengertian dan buah dari kesabaran muncul di antara mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN